
"Kamu anakku, kamu anakku… Anakku…!" ucap Pak Ali Histeris yang membuat penghuni ruangan itu heran dan sangat terkejut melihat Pak Ali dengan posesifnya memeluk tubuh Rival, sehingga Rival sampai susah bernafas. Istrinya yang sedang berdiri disisi ranjang, menarik tubuh suaminya itu dari tubuh Rival. Karena Dia melihat perlakuan suaminya itu akan membahayakan nyawa Rival.
“Ayah kenapa? Ayah sehat kan? Kenapa Ayah ngomongnya seperti berkumur-kumur dan teriak tidak jelas. Ayah tadi bilang apa?” tanya Mama Mely dengan begitu khawatirnya. Dia menopang tubuh suaminya itu untuk duduk di sofa.
Pak Ali merasa tiba-tiba saja tubuhnya menjadi lemas. Dia juga seperti susah bicara, sehingga Dia menaikkan intonasi bicaranya tadi saat memeluk Rival. Mama Mely yang melihat suaminya seperti tidak sehat. Dia meminta putrinya memanggil dokter atau perawat.
Mely pun menekan tombol yang ada di dekat Bed. Sedangkan Rival menjadi tidak tenang. Kenapa Pak Ali teriak-teriak sambil memeluknya. Tapi, ucapannya tidak jelas. Yang mendengar tidak tahu apa yang diucapkannya.
Pak Ali merasa susah bicara, ternyata yang keluar dari mulutnya adalah igauan semata. Dia merasa seperti bermimpi buruk, ditimpa makhluk ghaib. Dia merasa sudah mengatakan pengakuan bahwa Rival adalah anaknya. Tapi, nyatanya suara yang keluar dari mulutnya adalah igauan.
Perawat pun datang, Pak Ali diminta berbaring di Bed yang ada juga di ruangan itu. Perawat memeriksa tekanan darah dan detak jantung Pak Ali. “Bapak rileks ya, tarik nafas pelan dan hembuskan.” Ucap Perawat, sambil meletakkan alat medisnya di atas meja yang ada di dekat bed tersebut. Kemudian Dia mengajak istri Pak Ali keluar ruangan.
“Bu, sepertinya Bapak ada gejala struk ringan.” Ucap perawat.
“Apa?” ucap Mama Mely tidak percaya dengan menutup mulutnya. Dia juga merasa takut, apabila sesuatu terjadi pada suaminya itu.
“Cepat panggilkan Dokter, suami saya tidak boleh kena struk.” Ucapnya dengan berurai air mata.
“Iya Bu, tenang. Masih gejala ringan. Mudah-mudah tidak menjadi parah. Usahakan Bapak jangan banyak pikiran. Baiklah Bu, saya akan beri tahu Dokter dulu.” Perawat pun pergi meninggalnya istrinya Pak Ali di koridor rumah sakit.
Mama Mely masuk ke ruang inap itu kembali, berjalan lemas ke arah suaminya, dimana Mely sudah duduk disisi ranjang Ayahnya, memijat-mijat kaki Ayah itu. Sedangkan Rival hanya bisa menoleh ke arah Pak Ali dengan penasarannya.
“Ayah mikirin apa?” tanya Mama Mely dengan lembut, Dia membelai kepala suaminya itu dengan sayang. Suaminya tersenyum, tangannya bergerak memegang tangan istrinya itu yang membelai kepalanya.
“Aaooo..aaooooaoo…” Pak Ali kembali bicara tidak jelas. Tapi, Pak Ali merasa yang diucapkan itu sudah jelas. Melihat Ayahnya seperti itu Mely langsung berlari keluar dari kamar inap itu, Dia akan memanggil Dokter. Baru saja Mely melangkahkan kakinya dari pintu kamar, Dia sudah melihat Dokter datang ke arahnya.
“Kita cek lagi ya Bu, Bapak Ali nya.” Ucap Dokter ramah. Perawat pun melakukan pengecekan kadar gula darah.
“Dok, Gula darahnya rendah 60 mg/dL.” Ucap perawat.
__ADS_1
“Ok, berikan Pak Ali minum teh manis, atau air gula saja pun boleh.” Perintah Dokter kepada perawat.
“Bu, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Mungkin Bapak ini tidak sarapan tadi pagi. Ditambah Bapak tadi mendapat kabar yang begitu membahagiakan buatnya. Sehingga mungkin tubuhnya sangat terkejut.” Pak Dokter tersenyum.
Sedangkan Mama Mely heran dengan ucapan Dokter. Apa yang membuat suaminya itu bahagia sekali. Setahu Dia kabar buruk yang akan buat down. Ini kabar bahagia, tapi kenapa down.
“Baiklah Pak Ali, semangat. Lihat itu yang berbaring disana. Dia juga masih membutuhkanmu.” Ucap Dokter tersenyum, menoleh ke arah Rival yang juga saat ini sangat bingung dengan kejadian yang menimpa Pak Ali.
Pak Ali pun tersenyum. Kebahagiaan hidupnya sekarang bertambah, ternyata anaknya masih hidup.
“Untuk sementara, Aku akan merahasiakannya. Aku akan mendekatinya pelan-pelan. Kalau Aku mengatakannya sekarang Dia adalah Anakku. Mungkin Dia tidak akan percaya.” Gumam Pak Ali dalam hati. Dia pun meminum teh manis yang dibawakan perawat, dengan disuapi istrinya mengunakan sendok.
Pak Ali dirawat juga satu malam di ruangan yang sama dengan Rival. Pak Ali merasa bahagia sekali. Dia tidak menyangka anaknya tumbuh menjadi manusia yang punya akhlak yang bagus. Setelah Dia sehat, Dia akan ke kampung tempatnya Rival tinggal. Dia akan berterima kasih kepada keluarga yang sudah membesarkan Rival, mendidik Rival hingga punya kepribadian yang baik.
Mengetahui fakta Rival adalah anaknya. Maka, Dia tidak akan mengantarkan Rival ke tempat Rili, sebelum Rival sembuh total.
🌻🌻🌻🌻
Rival selalu meminta janji Lak Ali untuk mengantar nya ke rumah Rili. Tapi, Pak Ali selalu memberi alasan yang masuk akal. Rival sehat dulu, baru mereka akan bersama-sama ke kota S. Akhirnya Rival pun setuju. Setidaknya , Dia harus bisa berdiri dulu, walau berjalan masih menggunakan penyangga.
Ceklek...., pintu kamar tempat Rival berada dibuka seseorang yang tidak lain adalah Mely.
“Suamiku, apakah Aku boleh masuk?” ucap Mely dengan gaya anehnya, berada dibalik pintu dengan memegang handle pintu sambil tersenyum.
Rival pun membalas senyuman Mely sambil mengangguk. Mely berjalan pelan menuju ranjang Rival. Dia pun mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada disisi ranjang Rival.
Dia mengupas buah Apel, sambil terkadang melirik Rival yang tidak mau menatapnya. Ya, tatapan Rival lurus saja.
“Buka mulutnya suamiku!!!?” ucap Mely cekikikan. Rival sekarang dibuatnya menjadi bahan lelucon. Melihat tingkah Mely yang lucu, Rival pun tersenyum dan membuka mulutnya. Dia menguyah Apel yang diberikan Mely dan kembali memalingkan pandangannya, saat Mely terus saja memandanginya.
__ADS_1
“Abang cakep banget ternyata, Aku jadi suka.” Ucapnya ceplas ceplos, yang membuat Rival tersedak saat mengunyah buah Apel.
Dengan cepat Mely menyodorkan air minum di gelas yang sudah ada penyedotnya. Setelah minum Rival kembali terbatuk-batuk. Sungguh tingkah gadis yang sudah menabraknya ini, membuatnya ingin muntah saja. Selama dua minggu ini Mely terus saja menggoda Rival dan membuat Rival sebagai candaan.
“Eehhmmm… tidak disangka, aku jadi istri kedua.” Ucapan Mely terhenti saat Rival melototkan mata kepadanya.
Mata Rival yang melotot itu pertanda, Mely harus menutup mulutnya. "Hanya bercanda, walau benar. Aku sudah tahu koq sedikit banyak tentang Abang." Ucap Mely dan .e.asukkan potongan buah Apel ke mulutnya.
Suasana jadi hening.
“Ayah kemana Dek, sudah dua hari tidak Abang lihat?” tanya Rival mencairkan suasana.
“Tugas keluar mungkin Bang.”Jawab Mely, Dia pun meletakkan buku yang dipegangnya di atas meja disamping tempat tidur.
“Apa kamu sudah menuliskan yang Abang suruh?” tanya Rival, masih berbaring dan melirik ke arah Mely.
“Sudah, tapi tulisanku jelek banget. Aku saja malu melihatnya.” Ucapnya malas.
“Ayah tidak ada di rumah, boleh ya tidak setor ayat dan tulisan aksara nya.” Ucap Mely mengibah, dengan wajah puppy eyes nya. Rival mengangguk.
“Setoran ayatnya juga boleh tidak disetorkan?” Rival mengangguk lagi.
“Terima kasih suamiku sayang. Kalau Aku cium boleh gak?” ucap Mely dengan memonyongkan bibirnya sambil menutup mata, Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Rival dan pukkk… Rival menepuk jidatnya Mely. Yang membuat Mely berakting kesakitan, sambil memegangi jidatnya. "Kasar kali kau Bang!" ucap Mely dengan logat Batak yang membuat Rival tertawa.
Seminggu yang lalu Pak Ali meminta Rival untuk mengajari Mely mengaji. Pak Ali tidak memaksa, Dia hanya ingin mendekatkan Mely dengannya. Mely yang memang bandel, sampai usia 20 tahun belum bisa mengaji. Pak Ali juga mengancam, apabila Mely tidak menurut kali ini maka, semua fasilitas yang diberikan Pak Ali akan di tarik, Bahkan kartu kredit pun akan diblokir. Maka dari itulah, seminggu terakhir ini. Mely membuat Rival sebagai bahan leluconnya.
TBC
Mampir juga ke novel ku yang berjudul
__ADS_1
Dipaksa menikahi Pariban.