
Mely sangat penasaran, sehingga Dia mempercepat langkahnya. Karena Dia mengenal betul suara laki-laki itu. Saat berada di ambang pintu, betapa terkejutnya Mely melihat pemandangan dihadapannya.
Rival sedang dipapah Sekretarisnya, dari dalam kamar mandi dengan penampilan yang kacau. Kemeja warna mint lengan panjang motif garis putih kecil itu sudah tidak terkancing lagi.
"Mas,..!" ucapnya lirih, Dia membuang pikiran negatif yang sempat singgah di otaknya tadi, saat mendengar suara Rival yang ngos-ngosan, dan suara wanita yang juga nampak kelelahan. Mungkin Sekretaris nya Rival kehabisan tenaga memapah tubuh kekarnya Rival.
Rival yang melihat Mely di ambang pintu dengan tercengang. Hanya bisa menelan ludahnya secara kasar. Dia berharap semoga istrinya itu, jangan membuat kegaduhan, melihatnya dipapah oleh sekretarisnya sendiri.
"Maaf Non Mely, saya hanya membantu Pak Rival. Tadi saat saya masuk ke ruangan ini. Saya mendengar Pak Rival muntah-muntah. dalam keadaan tergeletak di lantai." Ucap Indah Sekretaris Rival, mencoba menjelaskan apa yang terjadi, sebelum istri Bos nya itu menginterogasinya. Itu dilakukannya, karena tatapan Mely begitu mematikan kepadanya.
Mely berjalan cepat menghampiri Rival yang dipapah Sekretarisnya. Dia ikut membantu untuk membaringkan Rival di ranjang.
"Kamu keluarlah, Aku yang akan mengurusnya." Ucap Mely sedikit kesal. Dia tidak terima, tubuh suaminya disentuh wanita lain.
"Baik Non, permisi." Indah keluar dari ruangan itu, dengan menahan jantungnya yang mau copot. "Syukur Non Mely tidak marah. Kalau Dia marah dan Aku dipecat bagaimana?" ucapnya berjalan cepat keluar dari ruangan Rival dengan memegangi dadanya yang masih berdebar-debar karena ketakutan kepada istri Bos nya itu.
Rival yang sudah tidak berdaya, hanya bisa pasrah disaat Mely melap keringat yang muncul di dahi dan pelipis nya. Mely juga menghadiahi wajah Rival yang pucat dengan ciuman yang penuh dengan cinta. Yang membuat Rival, semakin merasa terpuruk.
Untuk kali ini, sentuhan Mely dianggapnya sebagai sentuhan seorang Adik yang begitu mengkhawatirkannya.
Mely yang melihat keadaan Rival tak berdaya, akhirnya mengurungkan semua pertanyaan yang hendak dilontarkannya. Tidak tepat waktunya berdebat, menanyakan kenapa tidak pulang, kenapa tidak mengaktifkan ponsel. Karena keadaan suaminya sekarang, yang lemah.
__ADS_1
"Melihat Mas seperti ini, Adek tidak tega. Harusnya Adek saja yang ngidam. Kenapa mesti Mas." Ucapnya terisak mulai melap keringat Rival kembali, yang tidak henti-hentinya keluar. Sepertinya Mely mengira Rival seperti itu, karena masih ngidam.
Rival menutup matanya, Dia sungguh tidak sanggup menatap wajah Mely. Status Adik, terus saja terngiang-ngiang dipikirannya. Yang membuat Rival semakin down saat ini.
"Mas mekantuk?" tanya Mely dengan penuh khawatirnya. Dia pun melepas kemeja Rival yang sudah basah karena keringat dan sebagian karena air saat sekretarisnya membantunya muntah di kamar mandi.
Rival masih diam membeku, dengan perlakuan Mely. Entah bagaimana caranya untuk menghentikan aksi Mely sekarang, yang nampak ingin mengganti celana yang dikenakan oleh Rival, karena bagian bawahnya sudah basah.
"Celana Abang, jangan dilepas. Biarkan saja. Tolong Carikan makanan. Abang lapar." Ucapnya dingin, menahan gejolak sakit di dalam hati. Dia harus bisa bersikap biasa saja kepada Mely. Karena Mely adalah saudara perempuannya. Kebiasaan dikeluarga Rival, hubungan dengan saudara perempuan, tidak boleh terlalu dekat.
Mely terhenyak dengan sikap dingin Rival, panggilannya pun tidak pakai Mas lagi. Rival sudah ingin dipanggil dengan sebutan Abang.
"Aku tidak bisa meninggalkan Mas disini. Aku akan telepon Pak Budi. Memintanya membeli kan makanan untuk kita. Adek juga belum makan. Anak kita seperti nya juga sudah lapar." Ucap Mely, menarik lengan Rival, dan menempatkannya di perut datarnya.
Mengingat fakta, Dia sudah menghamili Adiknya, membuat Rival semakin takut. Dia sangat membenci skenario yang dijalaninya ini. Dia kembali ingin muntah, keringat pun bermunculan di pori-pori tubuhnya.
"Mas, kita ke Dokter saja. Kondisi Mas sangat memprihatinkan." Ucap Mely penuh ke khawatiran. Dia membantu Rival turun dari ranjang. Berusaha memapah suaminya itu, yang seolah enggan bersentuhan dengannya. Sikap Rival membuat hati Mely sakit. Tapi, Dia tetap membantu suaminya itu berjalan ke kamar mandi. Untuk memuntahkan, isi perut yang tidak mau keluar.
Mely memijat-mijat tengkuk suaminya itu, sesekali Dia melap keringat Rival di dahi dan keningnya dengan tisu. Dia memperhatikan wajah Rival yang sangat pucat. Tapi Rival, tidak mau menatapnya.
Setelah merasa baikan, Mely menuntun Rival berjalan menuju tempat tidur. Mely pun membantu nya kembali untuk berbaring. "Kita ke rumah sakit saja ya Mas." Ucap Mely menatap wajah suaminya itu sendu.
__ADS_1
Rival pun mengangguk, "Tapi bagaimana kalau Mas dirawat di rumah saja." Ucap Mely kembali memperhatikan wajah Rival, yang selalu membuang muka. Tiba-tiba saja, Mely tidak ingin Rival dirawat di Rumah sakit. Karena, kalau Rival di rawat di rumah sakit, Dia akan merasa tidak nyaman. Entah kenapa akhir-akhir ini Mely hanya ingin di rumahnya saja.
"Di rumah sakit saja." Ucap Rival lemah. Mungkin kalau dirawat di rumah sakit. Rival bisa menjaga jarak dari Mely.
"Tapi anakmu tidak ingin kita ke rumah sakit." Ucap Mely menatap lekat wajah Rival, yang enggan menatapnya. Dia pun mengelus lembut kepala Rival. Yang membuat Rival bergidik ngeri. Entah kenapa, Rival menjadi merasa sangat berdosa, membiarkan Mely menyentuhnya.
Rival menggerakkan kepalanya seolah, tidak ingin dibelai oleh istrinya itu. Tentu saja sikap Rival membuat Mely bertanya-tanya. Sekaligus sedih.
"Mas kenapa sih? sepertinya Mas sengaja menghindar. Tidak biasanya Mas mengabaikan ku. Walau terkadang Aku yang mengabaikan, Mas pasti selalu bersikap baik. Tapi hari ini, kenapa Mas seolah tidak ingin melihatku." Ucap Mely dengan beruruai air mata. Dia sangat sedih dengan sikap Rival kepadanya. Padahal Dia sedang mengandung anak mereka. Dia juga ingin dekat dengan suaminya itu. Bagaimana pun kondisinya.
"Kenapa diam, jadi benar Mas sengaja menghindar?" ucap Mely yang kini intonasi suaranya naik satu oktaf.
Inilah yang dikhawatirkan Rival. Dia merasa belum siap dengan kenyataan yang ada. Ditambah Mely yang banyak menuntut dan ingin penjelasan, membuatnya semakin terpuruk saja. Haruskah Dia mengatakan sekarang, kalau mereka adalah saudara.
"Diam terus, Mas sebenarnya kenapa sih? Aku tidak yakin, ini karena Mas mengidam. Pasti ada sesuatu hal yang Mas simpan. Jangan membuatku semakin bingung. Mas mau, Aku setres dan akan mempengaruhi perkembangan anak kita." Lagi-lagi Rival menjadi semakin down, disaat Mely menyebutkan anak-anak mereka.
"Abang lagi sakit Dek, tolong jangan marah-marah dan banyak tanya." Ucap Rival yang kini Dia sudah berani menatap istrinya itu.
"Baiklah, tapi jangan cuekin Adek lagi ya? kalau ada sesuatu hal yang terjadi, ceritakan kepadaku. Bukankah Mas yang bilang, jangan memendam perasaan yang tidak enak, atau Masalah. Semuanya harus diungkapkan." Ucap Mely, Dia kembali mencoba mengelus kepala Rival.
"Haruskah Aku mengatakannya?" gumam Rival dalam hati.
__ADS_1
"Dek, sebenarnya... "