Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Sama-sama sensitif


__ADS_3

Firman dengan cepat menghidangkan kelapa muda kehadapan Abangnya itu. Dimana ditengahnya sudah dibolongi.


Rival pun sudah tidak sabar untuk meneguk langsung air kelapa tersebut. Tapi, aksinya terhenti disaat Firman menanyakan Kakak iparnya yang tak lain adalah Mely.


"Kenapa kak ipar masuk ke dalam rumah?" ucap Firman, yang masih memegang parang, hendak mengelupas kelapa berikut nya.


"Abang kurang tahu." Ucap Rival meneguk air kelapa muda sampai habis satu kelapa.


"Tadi sepertinya kak Ipar menangis. Apa Abang memarahinya." Firman masih membuka kelapa muda.


Rival diam sejenak, Dia tidak merasa memarahi istrinya itu. Tapi, Dia sedikit kesal kepada Mely yang tidak mau memanjat pohon kelapa untuknya.


"Entahlah, mungkin Dia marah kepada Abang. Karena Abang meminta memanjat pohon kelapa. Abang ingin sekali minum air kelapa muda yang diambilnya sendiri dari pohonnya." Ucap Rival apa adanya, mengatakan dengan jujur keinginannya yang harus dituruti itu.


Firman menghentikan kegiatannya membuka kelapa muda tersebut. "Abang gila," ucapnya sedikit keras. Bisa-bisanya Abang nya itu meminta wanita memanjat kelapa.


"Gila, kamu yang gila." Ucap Rival sewot.


"Ya Abang memang gila. Masak istri sendiri disuruh manjat kelapa. Yang ada suami yang harus manjat kelapa." Ucap Firman dengan terherannya. Dia pun menggeleng kan kepalanya. Dia tidak habis pikir dengan permintaan Abang nya itu.


"Abang tidak gila, jangankan pohon kelapa, tebing yang terjal saja Dia bisa daki. Ini hanya pohon kelapa yang tingginya 10 Meter . Tentu itu hal yang mudah buatnya." Rival membela diri. Dia tidak mau keinginannya itu disalahkan.


Firman masih bengong mendengar ucapan Abangnya itu. Dimana harga dirinya sebagai laki-laki meminta wanita untuk memanjat kelapa untuknya.


"Abang sudah habiskan air kelapa satu buah kan?"


Rival mengangguk.


"Sekarang Abang masuk ke kamar, bujuk Kakak Ipar untuk datang kemari. Dia juga harus meminum air kelapa ini." Ucap Firman kesal. Kenapa Abangnya itu jadi bodoh saat ini.


Rival pun menuruti perkataan Adiknya itu. Entah kenapa setelah meminum air kelapa muda. Dia merasa suasana hatinya sedikit membaik.

__ADS_1


Ceklek...


Rival masuk ke dalam kamarnya, mendapati Mely sedang tidur telungkup dan membenamkan wajahnya di bantal. Dia pun naik ke atas ranjang dengan hati-hati.


"Dek," Rival yang sudah duduk di sebelah Mely membelai kepala istrinya itu.


"Ke belakang yuk, minum air kelapa muda." Ucapnya masih berusaha membujuk Mely yang merajuk.


"Tidak, Aku kantuk." Jawabnya kesal, melap air matanya yang membasahi pipinya dengan menggosok wajahnya ke bantal.


"Oh..!" Rival pun tidak mau memaksa Mely lagi, Dia pun turun dari ranjang dan meninggalkan kamar itu. Sepeninggalan Suaminya itu, Mely mendumel. Dia tidak suka sikap Rival hari ini.


*


*


*


Sore harinya.


"Jadi, Abang dan Kak Mely menikah di kantor Polisi?" ucap Sekar tak percaya disaat, Rival menceritakan kisah perjalanan hidupnya saat merantau ke Kota M dan akhirnya menikah dengan MeLy.


"Iya Dek, seperti cerita Abang tadi." Jawab Rival dengan sedikit tersenyum. Dia teringat kejadian, disaat Mely mencium bibirnya di dalam Bus.


Tiba-tiba saja mata Sekar berembun. "Aku sangat menyayangkan kejadian yang menimpa keluarga kita. Kak Rili, apa kabarnya Dia? Aku merindukannya." Ucap Sekar, kini matanya yang merembun akhirnya meneteskan buliran air yang jatuh membasahi pipi putihnya. Sesak di dadanya masih terasa sampai saat ini, mengetahui fakta memilukan yang dialami mantan kakak iparnya itu.


Sebagai seorang wanita, Dia bisa merasakan sakitnya Rili yang diperlakukan Ibu mertuanya dengan kejam.


"Aku tidak menyangka, Ibu tega melakukan itu kepada Kak Rili." Ucapnya lagi, Sekar yang mengungkit kejadian delapan bulan lalu. Membuat dada Rival sesak. Dia merasa menjadi suami yang gagal, yang tidak bisa melindungi istrinya dan mempertahankan Rili disisinya.


"Sudah, jangan dibahas lagi. Abang juga sangat terkejut mendapat berita itu. Tapi syukurlah, sekarang semuanya sudah membaik. Ibu juga sepertinya sudah berubah." Ucap Firman dengan menghela napas berat. Ternyata lika-liku kehidupan berumah tangga ribet juga.

__ADS_1


Mereka bertiga sudah tiga jam duduk bersantai di balai-balai bambu yang ada di belakang rumah mereka. Tepatnya di bawah pohon buah Polam.


"Iya Bang. Mungkin kak Rili sudah bahagia saat ini. Begitu juga dengan Abang Rival. Iya kan Bang?" Sekar melirik kakaknya itu yang lagi memikirkan mantan istrinya. Rival yang dilirik masih bengong, Sekar pun memukul pelan paha kakaknya itu, dan membuyarkan lamunan Rival.


"A..pa...apa?" ucap Rival kaget.


"Abang di ajak bicara malah melamun." Ucap Firman, Dia pun kembali mencocol mangga muda yang sudah dipotong-potong itu ke sambal rujak yang ada di hadapannya.


"Abang tadi kenapa tidak mengajak kakak ipar makan siang?" tanya Sekar, kemudian kembali menyantap rujak mangga mudanya.


"Tadi kakak mu tidak mau makan siang, kenyang katanya." Jawab Rival sejujurnya. Karena memang tadi, Mely tidak mau diajak makan siang.


"Sepertinya Kak Mely merajuk itu Bang? Apa Abang melakukan kesalahan?" Tanya Sekar.


"Abang tidak merasa membuat kesalahan." Jawab Rival bingung.


"Aku yakin kak Mely itu sedang merajuk. Abang pigi sana bujuk kak Mely." Sekar mendorong punggung kakaknya itu, agar turun dari balai-balai. Tapi Rival ogah turun.


"Sudah Sekar, sebentar lagi juga pasti Kaka Mely keluar. Dia juga pasti ingin mandi kan?" ucap Firman. Dia belum mau Rival meninggalkan mereka saat ini. Karena Dia masih ingin bercerita banyak dengan Rival.


"Mertua Abang baik banget Ya. Kita dikasih mobil. Ibu juga dulu dikeluarkan dari penjara. Anehnya Kata Ayah, Pak Ali hanya mengatakan bahwa Dia adalah Bos nya Abang. Eehh... ternyata Mertuanya Abang. Kenapa ya dulu pak Ali tidak mengatakan kalau Abang sudah menikah dengan putrinya yaitu kak Mely." Ucap Firman, begitu penasaran nya dengan lika- liku kehidupan Abangnya itu


"Kan tadi Abang sudah jelaskan, bahwa hubungan Abang dan kakak iparmu membaik baru tiga bulan terakhir ini. Pada saat Pak Ali datang ke rumah kita. Abang baru kecelakaan, dan Abang bahkan tidak menganggap Mely istri Abang." Ucapan Rival, saat kalimat terakhir Rival yang mengatakan Tidak menganggap Mely sebagai istri . Mely sudah berada di belakang mereka. Mely yang hanya mendengar ucapan Rival yang sepotong, akhirnya salah paham.


Dia pun hendak meninggalkan tempat itu, sebelum Rival dan dua saudaranya mengetahui keberadaannya. Tapi, saat Dia melangkah Dia memijak botol bekas minuman. Yang menimbulkan suara.


Refleks Rival, firman dan Sekar menoleh ke asal suara. Mereka melihat Mely berlari ke dalam rumah dengan menangis.


"Kakak ipar kenapa berlari sambil menangis ya kak?" tanya Sekar dengan bingungnya serta khawatir.


"Entahlah, Abang tinggal dulu ya. Mau menyusul kakak mu." Ucap Rival dengan perasaan tidak tenang. Sepertinya akan terjadi badai lagi. Semoga Mely bisa menahan diri. Dan tidak berbuat aneh di kampung mereka disaat kesal seperti saat ini.

__ADS_1


TBc


like, coment dan vote.🙏❤️


__ADS_2