
Acara lamaran pun telah selesai dan Rombongan calon mempelai pria telah pulang.
Setelah selesai makan malam, Rili langsung masuk ke kamarnya. Dia merasa badannya sakit semua dan kepalanya juga pening. Dia sepertinya mengalami setres.
Dia tiduran di ranjang empuknya dengan memiringkan tubuhnya sambil membuka galeri handponenya. Di galeri handponenya masih banyak tersimpan foto Yasir atau pun foto mereka berdua.
Diusapnya foto Yasir, air mata kini nampak jatuh dipipi putihnya.
"Malam ini terakhir kalinya aku memandang fotomu. Aku sangat mencintaimu sampai detik ini. Allah yang maha membolak-balikan hati ummatnya. Ku harap kelak aku tidak akan pernah membencimu." Gumamnya dalam hati dan kemudian Rili mendelete semua fotonya dan juga foto Yasir yang tersimpan di galeri handponenya tersebut.
Rili turun dari tempat tidurnya Dia berjalan menuju lemari pakaiannya. Dia mengambil kotak perhiasan. Isi kotak perhiasan itu adalah kalung pemberian teman kecilnya yang bernama Andre yang akhir-akhir ini jarang dipakainya. Dulu sebelum jadian dengan Yasir Rili selalu memakai kalung itu.
Selain kalung, di kotak itu juga ada cincin dan gelang pemberian Yasir. Dia ingin mengembalikan cincin dan gelang itu melalui asisten Yasir yaitu Yusuf. Mungkin Rili akan menitipkannya kepada Windi. Dan Dia akan meminta Windi untuk memberikannya pada asisten Yasir.
Kalau Dia sendiri yang akan memberikannya kepada Yusuf, itu tidak mungkin. karena Yusuf sebulan sekali datang ke kota mereka.
Karena kesempatan kedua belah pihak. Pernikahan akan diadakan 10 hari lagi. Dan Rili diminta cuti selama 3 miggu. Selama tiga Minggu penuh Rili akan berada di kampung tempat Rival tinggal. Karena Rili selama bekerja tidak pernah cuti, maka cuti bersama, cuti tahunan dan cuti alasan penting digabung, sehingga Dia diberi izin oleh atasannya cuti selama 3 Minggu.
Rili tidak banyak protes lagi. Dia hanya menjalankan yang disepakati kedua belah pihak. Dia sudah pasrah.
Setelah habis masa cuti. Maka, Rili akan kembali ke kota kecil dia tinggal sekarang. Dan Rival tetap di kampungnya. Ya, setalah menikah mereka akan LDRan. Karena Rival belum punya kerjaan di kota Rili tinggal.
Rili sebenarnya tidak terima dengan ini semua. Dia merasa pernikahan ini aneh. Menikah secara mendadak, terus setelah menikah pisah, walau Rival akan datang ke kota Rili seminggu sekali atau dua Minggu sekali, tergantung kesibukan Rival dikampungnya.
Tapi, tetap saja aneh menurutnya. Harusnya Rival ikut tinggal bersama Rili, karena Rival hanya kerja serabutan dan pengutip jasa pasar. Tapi, keluarga Rival belum setuju kalau Rival ikut tinggal di kota Rili. Karena itu katanya famali. Bisa menurunkan harga diri keluarga dari pihak mempelai pria.
"Beginikah nasibku Ya Allah?' ucap Rili sambil memasukkan kotak perhiasan tersebut ke tas kerjanya. Yang terlebih dahulu kalung pemberian teman masa kecilnya dipindahkan ke kotak lainnya.
Dia kemudian membaringkan tubuhnya di ranjangnya. Walau mata sulit diajak terpejam, Dia harus tidur karena besok Dia harus bugar untuk melaksanakan tugasnya dikantor.
Rili sudah siap untuk berangkat kerja, Dia mengeluarkan motornya dan berpamitan kepada orang tuanya yang kebetulan sedang duduk di kursi teras rumah.
"Ma, Rili berangkat ya!" ucapnya sambil menyalami kedua tangan orang tuanya.
"Cepat sekali nak berangkatnya, belum setengah tujuh. Kamu sarapan dulu!" ucap mamanya.
"Belum lapar ma, nanti sarapan di kantin kantor aja." Ucapnya dan kemudian memakai helmnya.
"Baiklah, jangan lupa sarapan. Jaga kesehatan. dan nanti pulang kerja jangan lupa langsung cetak surat undangannya. Bilang sama percetakan itu besok harus selesai. Karena, kita hanya punya waktu membagi undangan hanya seminggu." Ucap mama Rili.
"Iya ma," ucap Rili dan kemudian melajukan motornya.
🌻🌻🌻
Waktu pulang kerja pun tiba, kini Rili dan Windi akan pergi ke tempat percetakan. Semalam Rili sudah menelpon Windi, untuk menemaninya ke percetakan. Makanya Rili jemput Windi ke rumahnya dan pergi bersama ke tempat kerja mereka.
Rili dan Windi nampak memilih jenis undangan yang akan disebar. Rili hanya memilih model undangan yang sederhana. Dia membuat dua jenis undangan. Satu undangan dengan harga Rp.500 dan satu jenis lagi dengan harga Rp.1000. Total semua undangan hanya 350 lembar.
"Koq pilih yang murah sich Rili?" tanya Windi.
__ADS_1
"Gak punya uang, ngapain cetak undangan yang mahal-mahal yang penting isi undangannya jelas. Ada nama kedua pengantin, waktu acara dan tempat acara." Ucap Rili dengan sedikit tersenyum." Ya Dia sedang menertawai nasibnya.
"Sudah ku bilang jual aja itu perhiasan pemberian si Yasir. Anggap saja itu ganti rugi atas perasaanmu yang disakitinya." Ucap Windi serius.
"Kamu pikir aku ini wanita apaan? Aku masih punya harga diri!" ucap Rili.
"Yuk aahh, cabut. Sebelum pulang kita ngebakso dulu ya, Aku yang traktir." Ucap Rili.
"Ok!" jawab Windi.
Kini Rili dan Windi sedang menikmati bakso rudal ditempat favorit mereka.
Setelah selesai menyantap Bakso Rudal, Rili merogoh tas nya dan memberikan kotak yang berisi cincin dan gelang pemberian Yasir kepada Windi.
"Apa ini?" tanya Windi dan menerima kotak perhiasan tersebut dari Rili.
"Itu cincin dan gelang yang diberikan Abang Yasir." Jawab Rili.
"Kenapa kamu kasih samaku?"
"Iya, aku minta tolong sama kamu untuk memberikan cincin dan gelang ini kepada asisten Yasir dan bilang sama Dia agar dikembalikan kepada Abang Yasir." Ucap Rili.
"Aaacckkk.... Aku gak mau!" ucap Windi sewot. Suasana hatinya akan berubah menjadi buruk apabila mendengar nama Yusuf.
"Hanya kepadamu aku bisa menitipnya." Ucap Rili.
"Kamu saja yang kasikan langaung."
"Kalau kamu tidak mau memberikannya kepada Yusuf, kamu berikan saja melalui perantara Abang Hendrik." Ucap Rili.
"Please....!" ucap Rili sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Aku akan memulai hidup baru. Aku tidak mau melihat lagi pemberian Abang Yasir. Bahkan gaun-gaun pemberiannya sudah ku singkirkan." Ucap Rili.
"Kamu bakar?" tanya Windi heboh.
"Tidak!"
"Terus?"
"Aku sumbangkan kepada tetangga yang mau." Jawab Rili.
"Oohh.. sayang banget itu, padahal pakaian yang di berikan Yasir itu mahal-mahal loh." Ucap Windi.
"Iya, kita pulang aja yuk? Uda mau Magrib." Ucap Rili.
"Ayokk!" jawab Windi.
Kini mereka pun keluar dari tempat makan tersebut. Rili mengantarkan Windi dan kemudian langsung pulang tanpa singgah lagi di rumah Windi.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Rili segera membersihkan dirinya dan akan melaksanakan sholat magrib. Rili tidak lupa berdoa, agar diberi kebahagiaan nantinya setalah menikah dengan Rival.
🏵️🏵️🏵️
Hari pernikahan tinggal satu hari lagi. Semua undangan sudah disebar. Semua saudara dikampung mamanya Rili dan saudara jauh orang tua Rili sudah diberi kabar. Persiapan pernikahan sudah hampir 99%. Teratak sudah siap dipasang, rumah Rili sudah dihias indah. Sedangkan untuk makanannya sudah ditanggung jawab i oleh tetangga dan keluarga besar untuk memasaknya.
Malam ini adalah malam ba inai. Kedua calon mempelai akan dipakaikan Inai.
Rombongan calon mempelai pria sebagian sudah datang sekitar pukul 17.00wib. Dan sebagian lagi akan datang besok disaat hari pernikahan tiba. Rombongan calon mempelai pria yang datang hari ini untuk sementara menginap di rumah tetangga Rili.
Windi yang baru datang langsung masuk ke kamar Rili.
"Waahhhh.... dekorasinya sangat indah." Ucap Windi lalu duduk disisi ranjang empuknya Ri
Rili yang sedang mempacking pakaiannya ke koper diam saja.
"Akhirnya sahabatku ini akan menikah juga. Tapi, sayang sekali aku tidak bisa menyaksikan moment indah itu." Ucap Windi dengan sedihnya.
"Maksudnya apa Windi? Apa besok kamu tidak datang kesini?" tanya Rili dengan sedikit kecewa. Dia nampak menghentikan aktifitasnya mempacking pakaiannya ke koper.
"Aku akan usahakan datang. Tapi, aku tidak bisa menyaksikan acara sakralnya yaitu ijab kabul." Ucap Windi.
Rili yang sudah menghentikan aktifitas mempacking pakaiannya berjalan ke ranjang dan duduk disamping Windi.
"Emangnya kamu mau kemana?"
"Tidak kemana-mana, di rumah saja. Keluarga yang akan dijodohkan samaku itu datang besok. Aku sudah bilang sama mama kalau bisa lain hari saja. Tapi, tidak bisa karena mereka bisanya besok." Ucap Windi dengan melihat Rili dan memegang kedua tangan sahabatnya itu.
Tiba-tiba terdengar suara deringan ponsel Rili di meja yang terletak didekat pintu kamar.
Rili tidak mengangkat panggilan tersebut. Dia malah menghujani Windi dengan banyak pertanyaan.
"Ayo angkat telponnya, jangan aku saja yang kamu interogasi mengenai calonku. Aku aja belum pernah lihat fotonya." Ucap Windi.
"Aku lagi malas ngomong di telpon. Kamu saja yang angkat. Aku lelah mau rebahan sebentar sebelum dapat waktu sholat magrib." Ucap Rili.
Kini Windi berjalan untuk mengambil handphone yang tidak berhenti berdering.
"Siapa yang nelpon?" tanya Rili masih dalam posisi telentang dan menatap langit-langit kamar yang dihias.
"Entah, ini tidak ada namanya." Ucap Windi.
"Coba kamu angkat!" jawab Rili.
"Baiklah," ucap Windi dan langsung menekan tombol menerima panggilan.
"Assalamualaikum.... Dek Rili....!" Terdengar suara cowok dari sambungan telepon.
__ADS_1
Jangan lupa like, coment positif dan vote ya kak.
Terima kasih.