
"Mely Anisah Ajib.” Panggil Pak Polisi yang sedang duduk di kursi kerjanya itu.
“I..ya, saya Pak.” Ucap salah satu wanita, pasangan mesum itu.
“Tolong kemari!” Ucap Pak Polisi dengan sopan dan ramah. Wanita yang bernama Mely Anisah Ajib itupun akhirnya mendekat ke arah Pak Polisi, Dia berdiri di sisi Meja kerja Pak Polisi.
“Silahkan duduk Dek!” Ucap Pak polisi dengan tersenyum. Pak Polisi terpana dengan wanita yang dihadapannya. Cantik dan sedikit menantang wajahnya. Tapi, malam ini bahasa tubuh wanita itu seperti kucing yang baru kena siram air. Menyedihkan dan pingin dilindungi.
Wanita yang bernama Mely Anisah Ajib itupun duduk di kursi yang dimaksud Pak Polisi, Dia memang yang lagi takut itu, *******-***** tangannya yang berada di atas pahanya. Tepatnya dihadapan Pak Polisi. Dia masih ketakutan, sungguh satu hari ini nasibnya sial.
“Dek Mely, pasanganmu sudah melakukan kesalahan. Dan Dia akan diproses secara hukum. Jadi, besok setelah kalian ijab kabul, Dia masih berada di kantor polisi ini.” Pak polisi menerangkan prosedur yang akan mereka jalani besok.
Mely bertambah panik mendengar ucapan Pak Polisi. “Pak Polisi, Aku tidak mengenal pria itu, jadi mana mungkin kami dinikahkan Pak.” Ucapnya dengan menangis tersedu-sedu. Seumur hidup baru kali ini Mely menangis dihadapan orang banyak.
“Kamu jangan mengarang cerita dengan air mata palsumu itu.” Ucap Pak Polisi geram. Dia tidak percaya dengan ucapan Mely. Pak Polisi menganggap ucapan Mely itu karangan semata, agar mereka tidak dinikahkan.
“Benar Pak, Bapak juga lihat kan bagaimana bersihkukuh nya Abang itu tidak mau menikah dengan saya. Bahkan tadi petugas yang disini sudah dihajarnya. Pak, saya tidak mengenal pria yang akan kalian nikahkan kepada saya. Tolong Pak, bebaskan Dia. Gara-gara menyelamatkan saya, Abang itu sampai rela mengorbankan nyawanya menghajar empat penjahat.” Ucap Mely serius, sehingga Pak Polisi terpengaruh. Cerita Mely sepertinya menarik untuk didengarkan.
“Pak, izinkan saya menceritakan semuanya. Yang ku katakan ini benar, saya tidak sedang membela diri saya.” Ucap Mely dengan menyeka air matanya dengan lengan bajunya.
“Iya coba kamu ceritakan.” Ucap Pak Polisi dengan meletakkan tangannya yang bertautan di atas meja kerjanya.
“Saya ceritakan dari awal, atau Pas digrebek Pak?” tanya Mely serius.
“Ceritakan semuanya.” Ucap Pak Polisi.
“Kalau saya ceritakan semuanya, sampai besok cerita saya ini tidak selesai Pak.” Ucap Mely dengan polosnya.
__ADS_1
“Kenapa seperti itu?” Pak Polisi tambah bingung.
“Ceritanya panjang Pak. Apalagi kalau saya ceritakan alasannnya kenapa saya sampai melarikan diri ke kota G.”
“Ceritanya singkat dan padat saja.” Ucap Pak Polisi.
“Pada suatu hari tepatnya dua yang hari yang lalu, saya sedang melarikan diri dari rumah. Mama saya memaksa saya menikah. Padahal saya belum mau menikah.” Ucapnya dan menghentikan sejenak ceritanya. Badan dan tangan Mely bergerak sesuai dengan kata yang diucapkannya.
Sudut Bibir Pak Polisi terangkat, Dia merasa cara Mely bercerita sangat lucu. Seperti membaca sebuah dongeng kepada anak yang mau tidur.
“Terus..!” ucap Pak Polisi penasaran banget.
“Saya lari dari rumah dengan membawah mobil, bersama dengan dua teman pria saya."
"What?" ucap Pak Polisi terkejut, satu wanita denhan dua pria pikirnya. Mely melanjutkan ceritanya.
"Kami pergi ke kota G, untuk trekking. Bapak tahu apa itu trekking kan? Kami mau trekking loh Pak, bukan mau hiking, Aku singkat ajalah Pak ceritanya.” Nada bicara Mely mendadak berubah, jadi datar. Tidak seperti mendongeng lagi.
"Singkat ceritanya, saat kami sudah berjalan sekitar 2 km menembus hutan, Aku baru teringat, kalau beberapa hari lagi Aku akan menstruasi. Jadi, Aku pamit sama kedua temanku untuk ke luar dari Hutan, untuk membeli pembalut atau sering orang hilang softex. Aku takut saat kami trekking, Aku menstruasi, padahal Bapak tahu sendiri kalau kita trekking, kita tidak tahu berapa hari bisa sampai ke tempat tujuan, Karena kalau trekking kan Pak, kita melalui jalur yang tidak resmi yang minim petunjuk arah.” Ucap Mely, Dia dengan serius dan mendetail menceritakan awal mulanya bertemu dengan Rival. Tapi, cara berbicara Mely yang tidak tahu malu itu menjadi sebuah hiburan tersendiri untuk Pak Polisi.
“Next.” Ucap Pak Polisi.
“Aku meminta temanku menungguku, dan melanjutkan perjalanan setelah Aku kembali. Baru satu kilo meter Aku melangkah dari posisi kawanku. Aku terkejut, melihat seorang pria sedang tergeletak di jalan tikus yang ku lalui, tepat dihadapanku. Tubuh pria itu penuh dengan darah, tetapi Dia belum meninggal saat itu, tapi sudah sekarat, Dia hendak bicara banyak. Tapi, tidak jadi. Hanya dua yang ku dengar. Bawa ini, katanya dan menyentuh tas ranselku. ” Ucap Mely, pasangan mesum lainnya yang ada di ruangan itu akhirnya tertarik mendengar cerita.
“Aku ingin menolongnya, tapi ku dengar suara kaki berlari ke arah kami. Dengan cepat aku sembunyi di semak-semak. Bapak tahu?” Tanya Mely dengan tangannya yang ikut bergerak.
“Mana Bapak tahu kalau kamu tidak melanjutkan.” Jawab Pak Polisi.
__ADS_1
“Saat itu Aku sangat ketakutan Pak. Pria yang tergeletak di jalan tikus itu korban pembunuhan. Aku tidak bisa menahan ketakutanku, disaat pria itu kembali dihadiahi peluru ke dadanya. Saat itu aku teriak, karena terkejut. Saat itu juga, ketiga penjahat itu berjalan ke arahku bersembunyi. Merasa jiwaku terancam. Aku berlari sekencang-kencangnya. Aku tidak tahu lagi mau berlari kemana. Sudah dua jam Aku berlari, berusaha menyelamatkan diri. Dan terkadang Aku bersembunyi di semak-semak. Karena lelah berlari. Disaat penjahat itu mengetahui keberadaanku, Aku kembali berlari.
“Asal Bapak tahu, Aku jago berlari loh.” Ucap Mely di sela-sela ceritanya. Disaat orang pada serius mendengarkan ceritanya.
“Next.” Ucap Pak Polisi.
“Akhirnya Aku sudah sampai di pemukiman warga. Aku berlari terus mencari tempat berlindung. Tapi, Aku yang saat itu sedang panik dan ketakutan bukannya mencari perlindungan ke rumah warga atau berlari ke tempat ramai. Aku malah terus berlari, berusaha lolos dari kejaran penjahat. Hingga Aku sampai di Terminal yang baru dibangun itu Pak. Terminalnya tidak di pusat Kota.”
“Next.” Ucap Pak Polisi dengan bersandar di kursi sambil mengangkat kakinya satu ke atas pahanya. Tangan kanannya bertopang insang.
“Aku melihat Bus hendak berangkat, Bus itu sudah bergerak, tapi masih pelan. Aku berteriak meminta kepada kernek untuk berhenti, setelah Bus berhenti Aku pun masuk ke dalam Bus. Aku mencari tempat duduk kosong. Hanya ada satu tempat duduk yang kosong, yaitu di sebelah Abang Yang bersama ku itu pak.” Ucap Mely, Dia memegangi tenggorokannya.
“Next.” Ucap Pak polisi, karena Mely menghentikan ceritanya.
“Pak bolehkah ceritanya dilanjut setelah Aku dikasih air minum? Aku haus sekali Pak.” Ucap Mely, masih memegangi batang lehernya. Pasangan mesum yang mendengar cerita Mely mendengus kesal. Pasalnya lagi seru-serunya mendengarkan cerita, Si Mely nya malah minta minum.
“Lamhot, bawakan juice jeruk buat Adek cantik ini.” Ucap Pak Polisi. Dia tertarik dengan kasus pembunuhan yang diceritakan Mely. Setelah mely bercerita, Pak polisi berniat menghubungi Polres di kota G.
Juice jeruk dinginpun tergeletak di atas meja Pak Polisi, dengan cepat Mely menyedotnya langsung habis.
“Next.” Ucap Pak Polisi.
“Para penjahat itu juga ternyata, berada di Bus yang ku tumpangi. Mereka mencari keberadaan saya. Semua wajah penumpang mereka perhatiin satu-satu. Tiba giliranku, Aku langsung…. Eh maaf ya pak, Aku langsung mencium pria itu.” Ucap Mely dengan perasaan malu, sambil memegangi bibirnya. Dia teringat dan masih merasakan manis dan kenyalnya bibir Rival yang diciumnya.
“Ok stop, ceritanya Adek ku sayang. Sekarang Bapak simpulkan, Bahwa setelah insiden ciuman itu. Maka kalian memilih menginap di hotel jenis melati tadi dan langsung melakukan itu kan?” Ucap Pak polisi geram.
Mely jadi bingung dan menjadi kalut mendengar kesimpulan Pak Polisi itu. “Bu…BUK..Bukannn seperti itu Pak.” Ucap Mely terbata-bata. Panjang lebar Dia bercerita, akhirnya kesimpulannya mereka tetap terjaring razia mesum.
__ADS_1
TBC.
Mohon like, coment dan vote nya ya kak.