
Dua Minggu sudah Rival dan Mely menempati rumah baru mereka. Kemewahan yang diberikan Pak Ali untuk mereka, nyatanya tidak bisa membuat pasangan itu merasa bahagia seutuhnya. Walau mereka nampak baik-baik saja.
Perasaan tidak bahagia itu sebenarnya hanya dirasakan Mely. Karena Dia yang masih belum yakin, suaminya itu sudah melupakan mantan istrinya yaitu Rili Askana.
Walau raga Rival bersamanya, tapi hati Rival belum bisa dimilikinya seutuhnya. Walau demikian Rival sangat memperlakukan nya dengan baik, layaknya istri yang sangat dicintainya.
Mely menyadari itu, karena Dia sering melihat Rival melamun seorang diri. Siapa lagi yang dilamunkan suaminya itu, kalau bukan Rili.
Posisi yang tidak aman, karena Ayahnya memberikan semua warisan kepada Rival dan ancaman mencarikan istri lagi untuk Rival. Membuat Mely berfikir realistis. Dia harus sabar menerima kenyataan untuk saat ini suaminya itu masih memikirkan mantan istrinya. Semoga suatu saat ada namanya di relung hati suaminya itu.
"Sudah cukup belajarnya, kita tidur ya!?" Rival meraih salinan Skripsi Mely yang dibacanya sambil duduk menyandar di headboard tempat tidur.
"Masih pingin mempelajarinya, biar besok saat sidang bisa menjawab semua pertanyaan Dosen Penguji." Jawabnya dengan menguap. Dan menatap sendu suaminya itu. Sebenarnya Dia sudah menkantuk sekali, tapi karena ingin lebih menguasai karya ilmiahnya. Dia kembali mempelajari nya sebelum besok sidang skripsi.
"Kamu harus cukup tidur, agar besok tubuhmu fit dan segar bugar. Abang yakin, kamu pasti lulus dengan nilai A." Ucap Rival dengan hangatnya, Dia pun membantu Mely berbaring. Mengecup cukup lama kening Mely. Perlakuan romantis Rival itu, membuat kedua mata Mely berkaca-kaca. Pandai sekali suaminya ini, menutupi perasaannya. Kedua nya pun terlelap dalam keadaan saling memeluk.
🌻🌻🌻
Keesokan harinya
Seperti biasa Rival selalu mengantar Mely ke kampus. Walau istrinya itu punya mobil sendiri, disaat Mely ingin berangkat bersama dengan suaminya, Rival tidak keberatan mengantar jemput Mely setiap hari. Sikap Rival itulah yang membuat hati Mely sedikit terobati.
"Semangat...! Abang doa kan sidangnya sukses." Ucap Rival dengan tersenyum, masih dalam mobil. Setelah mobil mewah mereka terparkir di depan Fakultas Mely.
Mely tersenyum. "Semangat...!" ucapnya, Dia pun mencondongkan wajahnya ke arah suaminya itu. Rival tahu maksud dari istrinya itu. Dia pun merangkum wajah Mely yang sangat menggemaskan itu memberi kecupan di kening dan bibir Mely dengan sayangnya. Kalau Rival sudah bersikap seperti ini, terkadang Mely meyakini bahwa suaminya itu juga mencintainya.
"I love you.!" ucap Mely dengan raut wajah sendu. Setelah suaminya itu mendaratkan bibirnya di wajah Mely. Dia masih menunggu jawaban Rival. Kalau tidak ditanyakan atau diminta, pasti Rival tidak pernah mengatakan kalimat pernyataan cinta itu kepada Mely.
__ADS_1
"I Love You Too.!" kalimat itu terlontar dari mulut manisnya Rival. Yang diyakini Mely, suaminya itu terpaksa mengatakannya.
Mely tersenyum mendengar pernyataan cinta suaminya itu, walau hatinya sedikit ngilu. Karena pernyataan suaminya itu, kebenarannya sangat diragukannya.
"Jam berapa sidangnya?" tanya Rival, menghentikan aksi Mely untuk membuka pintu mobil.
"Jam sepuluh giliran saya, kalau tidak ada waktu yang molor jam dua belas sudah selesai." Jawabnya tersenyum, menoleh kembali kepada suaminya itu.
"Kenapa Dia menanyakannya?" gumam Mely dalam hati.
"Baiklah, semangat... Jangan lupa berdoa, semoga Adek dapat nilai A." Ucap Rival terseyum.
"Iya sayang." Ucap Mely tak kalah hangatnya membalas senyuman suaminya itu.
Mely pun menekan handle pintu mobilnya, turun dari mobil mereka. Dia berdiri di parkiran menunggu mobil suaminya itu meninggalkan area parkiran.
Dia teringat kelakuannya selama kuliah, betapa seringnya Mely tidak hadir mengikuti proses perkuliahan. Karena Dia lebih sering melakukan kegiatan dengan organisasi nya mulai dari pecinta alam sampai geng motor. Tapi, karena Mely yang memang pintar, Dia pasti dapat nilai yang bagus disaat ujian.
Itu semua tak lepas dari suport Dosen pembimbing akademiknya yang selalu mendukung dia, walau dosen lain banyak tidak menyukai Mely karena sering bolos.
Bertemu tak sengaja dengan Rival, adalah takdir buatnya sehingga Dia bisa menikah dengan pria itu. Dan sekarang Dia ingin membuktikan bahwa Dirinya itu bernilai. Dia harus lulus dan dapat gelar S-1 tahunnini juga.
Tibalah saatnya Mely mempresentasikan karya ilmiahnya. Semua perasaan membaur menjadi satu, ada senangnya, namun ada juga khawatirnya, takut tidak maksimal Dia merasa grogi, was-was. Dia demam panggung.
Padahal Dia sebenarnya terbiasa berbicara didepan khalayak ramai. Tapi, entah kenapa hari ini. Dia tidak bisa menguasai dirinya. Tangan dan telapak kakinya terasa dingin. Tapi tubuhnya panas. Kening dan telapak tangannya juga mengeluarkan keringat.
Mely merasa nyawanya sekarang terancam. Kalau Dia tidak lulus. Keluarga pasti kecewa padanya. Apalagi Ayahnya, yang selalu mencapnya tidak berguna.
__ADS_1
"Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera buat kita semua.
Selamat pagi menjelang siang." Ucapnya dengan tersenyum dan berusaha tenang, dengan menarik napas dalam, sebelum melanjutkan kalimat berikutnya.
"Nama saya Mely Anisah Ajib, sebelum saya mulai terlebih dulu saya ingin mengucapkan terima kasih kepada moderator dan dewan penguji." Ucap Mely dengan tenang dan bahasa tubuh yang sopan, Dia juga menyebutkan semua nama dosen pengujinya beserta gelar-gelarnya. Ternyata Dia sudah bisa menguasai dirinya dari rasa nervouse.
"Di sini saya juga ingin berterima kasih kepada dosen pembimbing skripsi Saya yaitu Bapak Prof. Gerhana, yang dengan sabar membimbing saya dalam mengerjakan penelitian skripsi ini.
"Baik bapak dan ibu dan hadirin sekalin, dalam presentasi ini ada tujuh poin utama yang akan saya sampaikan. Pertama adalah tentang latar belakang masalah. Kedua, tentang rumusan masalah. Ketiga, tujuan penelitian. Keempat ruang lingkup penelitian. Kelima, definisi operasional. Keenam, metode penelitian yang saya gunakan. Dan yang Ketujuh adalah tentang hasil penelitian dan pembahasan. Saya akan mulai dengan bahasan pertama." Mely dengan fasih memaparkan poin-poin dalam Skripsinya. Dia juga bisa menjawab semua pertanyaan dewan penguji. Walau ada satu dewan penguji yang ingin mengecohnya.
Ternyata Mely masih bisa memberi jawaban yang akhirnya bisa membungkam mulut dosen penguji. Untuk kali ini Mely merasa Dia akan mendapatkan nilai yang bagus.
Ada empat orang pagi ini yang ikut ujian sidang skripsi di ruangan itu. Mely adalah peserta gelombang ke tiga. Setelah semua selesai mempresentasi dan mempertahankan karya ilmiahnya dari dewan penguji. Tibalah semua mahasiswa yang ikut sidang dikumpulkan guna mendengar hasil akhir sidang skripsi tersebut.
Semua personil yang ikut sidang sudah memasuki ruangan. Keempat mahasiswa itu berdiri membentuk satu saf, dihadapan dewan penguji.
"Anggiat Namalo Siregar, saudara dinyatakan lulus ujian skripsi dengan nilai A. Bunga Melati Boru Jawa, Saudari juga lulus dengan predikat nilai A. Tulus Niroha Simamora, Saudara juga lulus dengan predikat nilai A." Ucap Dewan penguji berjenis kelamin laki-laki itu, membacakan hasil ujian sidang skripsi, sekaligus memberikan lembar hasil ujian. Ketiga mahasiswa itu senang tidak terkira mendapat nilai A. Nilai tugas akhir ini yang jumlah SKS lumayan banyak akan sangat mempengaruhi nilai IPK.
Hanya nama Mely yang belum disebut. Dan ketiga mahasiswa yang sudah mendapat nilai bagus itu sudah dipersilahkan keluar dari ruangan.
Mely semakin jantungan saja. Kenapa Dia paling terakhir diruangan ini, padahal Dia adalah peserta ketiga yang ujian di pagi ini.
Dengan perasaan tidak karuan, was-was dan penuh harap. Mely memandangi wajah-wajah dewan penguji dihadapannya dengan tatapan penasaran sekaligus khawatir. Hingga detakan jantungnya semakin cepat saja, disaat pria yang berkaca mata yang melorot dari matanya itu mengeluarkan suara Yang membuat Mely terlonjak kaget.
"Saudari Mely, kami sengaja mengatakannya terakhir. karena, kali ini ujian dalam mempertahan karya ilmiah anda belum bisa dinyatakan lulus. Anda gagal dalam mempertahankan Skripsi anda." Ucap Dewan penguji dengan tegas.
Duarrr....
__ADS_1