
Tiinn...tiinn....tiinnn...
Rili mendengar suara klakson mobil, saat Dia melaksanakan sholat shubuh. Khusuk atau tidaknya sholatnya kali ini. Dia pun tidak tahu. Dia tetap melanjutkan sholat shubuhnya.
"Pak supir, tidak usah diklakson-klakson terus. Mengganggu orang yang masih tidur. Di rumah kami tidak ada orang." Ucap Mamanya Rili, yang masih duduk di mobil angkutan antar kabupaten sejenis L300.
"Oh iya Bu." Jawab Pak supir. Dia pun turun dari mobil, berjalan menuju bagasi untuk menurunkan barang-barang orang tuanya Rili.
"Bapak Ibu, sudah pulang?" ucap Seorang pria yang berjalan dari arah Mesjid. Yang tak lain adalah Rival.
"Nak Rival?" Mamanya Rili, langsung berjalan mendekat ke arah menantunya dengan terseyum bahagia, setelah turun dari mobil.
"Iya Bu." Rival menyalami tangan kedua mertuanya. Dia pun mengangkat barang-barang orang tua Rili.
"Kalian sudah kembali? bukannya seminggu lagi masa cutinya Rili?" ucap Ayah mertuanya. Mereka berjalan bersama menuju pintu depan rumah.
"I...ya Aayah," ucap Rival dengan gugup. Dia tidak menyangka, mertuanya akan datang seminggu lebih cepat. Pasti akan banyak pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan kepada Rival. Yang pasti Dia merasa belum siap menceritakannya.
"Ayah, Mama." Rili yang baru selesai melaksanakan sholat shubuh di ruang sholat, langsung memeluk kedua orang tuanya yang sedang duduk di ruang tamu.
"Wajahmu kenapa nak?" Mamanya Rili, memlerhatikan dengan seksama wajah putrinya, yang lukanya mulai kering itu.
Dug.... jantung Rili berdetak cepat dan keras. Dia langsung merasa takut dengan pertanyaan wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Rili terjatuh Ma." Ucapnya, kemudian menunduk menyembunyikan wajahnya.
"Pasti Ayah dan Mama, capek banget kan? Bentar Rili buatin Teh manis dulu ke dapur." Rili dengan cepat berjalan menuju dapur.
Rival yang duduk di sofa yang berhadapan dengan kedua mertuanya, juga tak kalah nervousenya. Tentu, kejadian yang menyakitkan yang dialami Rili adalah karena kelalaiannya sebagai suami.
"Minum dulu Ayah Mama." Rili meletakkan 3 gelas teh manis di atas meja.
"Apa yang terjadi? kenapa kalian pulang ke sini dan tidak mengabari Mama?" Mama Rili mencium sesuatu yang tidak beres.
Rili diam saja dan tertunduk. Entah kenapa, setiap mengingat kejadian-kejadian yang dialaminya di kampung Rival sungguh sangat menyakitkan.
"Nak Rival, kalian ada masalah. Kalian bertengkar?" tanya Mamanya Rili dengan suara bergetar. Mendapati wajah putrinya luka-luka padahal baru menikah dua Minggu, adalah suatu hal yang mengejutkan buatnya.
__ADS_1
"Sudah Ma, kita sholat shubuh dulu. Nanti setalah selesai sarapan. Interogasinya baru dilanjutkan." Ayah Rili meninggalkan ruang tamu. Yang diikuti oleh istrinya. Sedang Rili berjalan menuju dapur, untuk menyiapkan sarapan. Sedangkan Rival, memilih membersihkan setiap sudut ruangan di rumah itu.
Setelah Rili selesai menyiapkan sarapan di atas meja makan, Dia masuk ke kamar untuk mandi. Mamanya yang keluar dari kamar, melihat putrinya masuk ke kamar langsung menyusulnya. Dia melihat putrinya itu sedang duduk di sisi ranjang.
"Apa yang terjadi. Ceritakan kepada Mama?" Ucapnya setelah wanita tua itu. Duduk di sebelah kiri Rili. Dia pun menggenggam tangan putrinya.
Rili tidak tahan menahan kesedihan dihatinya. Dia memeluk Mamanya, air mata langsung bercucuran membasahi pipinya, serta ikut membasahi pakaian mamanya.
Mama Rili mengelus pelan punggung putrinya itu. Dengan hati tak tenang, Dia berusaha menenangkan putrinya itu.
"Ma, Rili tidak bahagia Ma. Rili sangat menderita Ma." Dia masih memeluk Mamanya, dengan tersedu-sedu.
"Apa maksudmu nak? Apa Nak Rival yang memberikan luka-luka ini?" Mamanya memperhatikan dengan seksama wajah Rili.
Rili menggeleng. "Ceritakan, kenapa wajahmu bisa terluka dan kenapa kalian sudah pulang kesini. Bukannya cutimu masih ada satu Minggu lagi.
"Mama juga, kenapa sudah pulang. Bukannya Mama akan pulang, seminggu lagi." Rili mengalihkan pembicaraan.
"Urusan di kampung Ayah sudah selesai. Apa kamu bertengkar dengan Nak Rival?"
"Ma, apakah pernikahan yang tidak membahagiakan harus dipertahankan?" Rili menyeka air matanya dengan jarinya yang lentik.
"Pernikahan tidak ada yang mulus, semuanya punya cobaannya masing-masing. Kebahagiaan suatu ikatan pernikahan, tidak bisa disimpulkan bahagia atau tidaknya dalam waktu dua Minggu."
"Putrimu ini tersiksa Ma, Ibu mertuaku tidak menyukaiku. Dia sangat membenciku." Mengingat Bounya. Kejadian yang menyakitkan itu terekam kembali dimemorinya. Yang membuat air mata Rili semakin deras saja.
"Kamu harus belajar dan bisa mengambil hati mertuamu nak. Jangan lawan Dia."
"Semua yang terbaik sudah kulakukan Ma, Dia memang tidak menyukaiku. Disaat kaki ini menginjak tanah di depan Rumah mereka, Dia sudah menampakkan ketidak sukaannya." Ucap Rili, Dia menghentakkan kakinya ke lantai.
"Aku tidak pernah melawannya Ma, Ini hasil dari Aku yang lemah itu. Wajah yang luka-luka ini Ma. Aaa...kuu...!" Rili kembali menangis, sambil mengeluarkan uneg-unegnya. Rival dan Ayah mertuanya yang diteras terdiam mendengar jeritan hati Rili. Sungguh, Rili tidak tahan lagi. Sehingga suaranya meninggi.
"Aaakuu tersiksa lahir dan batin Ma. Apa yang harus kulakukan Ma? Mama bilang, Aku akan bahagia, jikalau menikah dengan Abang Rival. Tapi, ini hasilnya Ma." Rili kembali, menunjuk wajahnya.
"Apa maksudmu? Apa Ibu mertuamu menganiaya kamu?" Mama Rili pun akhirnya meneteskan air mata. Dia yang sudah melahirkan dan membesarkan putrinya dengan penuh kasih sayang. Mendapati putrinya babak belur ditangan besannya sendiri.
Rili menganggukan kepalanya. "Iya Ma." Rili kembali memeluk Ibunya. Dadanya terasa sesak, dan sangat sakit menjawab pertanyaan Mamanya. Dia pun menceritakan semuanya.
__ADS_1
"Astaghfirullah..!" Mama Rili berusaha menenangkan dirinya, mendapati pengakuan dari putrinya. Keduanya lama terdiam dan masih berpelukan.
Hati Ibu mana yang tidak sakit, mengetahui kebenaran bahwa anaknya disakiti. Dia sangat yakin, Rival bisa membahagiakan putrinya. Karena, Rival nampak Sholeh dan baik. Dia beranggapan keluarga Rival juga sama baiknya.
Mamanya Rili melerai pelukannya, Dia melap air mata putrinya dengan jemarinya.
"Seperti apapun sikap dan sifat mertuamu, semua itu hanya karena pola pikir yang sangat berbeda. Kamu harus sabar dan tawakal dalam menghadapinya. Doakan agar Dia bisa bahagia dan damai jiwanya sehingga tidak lagi berbuat seperti itu." Wanita yang juga terluka hatinya itu mendapati putrinya menderita mencoba tetap tenang.
"Ma, haruskah Aku menderita selamanya?"
"Apa maksud ucapanmu itu. Ini cobaanmu dalam berumah tangga, walau Mertuamu tidak menyukaimu, tapi suamimu baik."
"Aku tidak mencintainya Ma. Mama yang memaksaku menikah dengannya. Mama bilang, Aku akan bahagia. Mana kebahagiaan itu Ma? Ma, apa yang harus kulakukan? keluarkan Aku dari penderitaan ini." Tangisan Rili kembali di dengar oleh Rival. Hatinya juga sangat sakit mendengar ucapan Rili.
"Kenapa Mama tidak cerita, kalau Abang Yasir datang ke rumah kita sehari setelah pernikahanku? Kenapa kalian seolah-olah tidak menghendaki kebahagiaan untukku
"Dulu, Abang Yasir sudah datang melamar, dan meminta menikahimu. Tapi, kalian menolaknya. Dengan alasan, kalian tidak percaya Abang Yasir bisa membahagiakanku. Disaat Abang Yasir datang lagi. Kenapa, Mama malah memintanya untuk menjauhiku.
"Tapi, lihatlah Ma. Disaat Mama memintanya menjauhiku. Kami malah bertemu Ma,. Aku sangat mencintainya Ma. Aku ingin bersamanya."
"Sadar kamu, sadar. Kamu sudah menikah. Jangan mengharapkan dan memikirkan pria lain." Mamanya memegang kedua pundaknya dan menggoyangkannya. Rili sudah seperti kesurupan saja Dimata Mamanya.
"Ma, tolong tanyakan kepada Abang Rival. Apakah Dia mau menceraikan ku?"
"Tutup mulutmu, Pelankan suaramu. Kamu tidak boleh bercerai dengan nak Rival. Tidak, akan ada perceraian! Terima takdir dengan lapang dada. Berdoa, agar keluarga kalian jauh dari masalah.
"Jangan pikirkan Nak Yasir. Dia masa lalu. Dia juga sangat berbeda dengan kita. Dia sangat kaya. Mama yakin, bersama Dia juga pasti jalannya tidak mulus. Semuanya punya ujiannya masing-masing. Semoga, setelah ini. Ibu mertuamu tobat dan kamu akan bahagia bersama Nak Rival.
"Sudah, jangan dibahas lagi. Mama tidak akan membahas perceraian dengan nak Rival. Mama akan menutup masalah ini, seolah-olah tidak terjadi. Toh, Ibu mertuamu sudah diproses hukum." Mamanya Rili, menyeka air matanya. Dia pun keluar dari kamar Rili. Dengan perasaan yang kacau dan sakit hati.
Bersambung...
like, coment dan vote ya kakak2 cantik.
Cerita Rili sudah akan berakhir. Mohon tetap beri vote.
Terimakasih
__ADS_1