
POV Rival
" Aa..bang Rival?" ucap pria itu dengan suara bergetar. Matanya seolah mencari-cari seseorang disekitar ku. Entahlah Aku jadi bingung melihat ekspresi pria dihadapan ku sekarang yaitu Yasir Kurnia.
Aku kembali berusaha melepaskan tanganku yang digenggamnya. Tapi Yasir seolah tidak ingin melepas tanganku dari digenggamnya.
Kenapa Dia ada di pesta pernikahan ku ini? kenapa Dia sendiri, dimana Rili? apakah Rili sedang hamil besar dan tidak ikut dengannya ke pesta ini? Hatiku menduga-duga, tentang keberadaan Rili yang tidak kudapati disisi Yasir. Mataku terus saja mencari sosoknya Rili disekitar Yasir dan juga para tamu undangan. Aku berharap bisa melihat Rili di pesta pernikahan ku ini. Tapi, lama Aku berdiri dihadapan Yasir yang juga seolah syok melihatku. Tapi, sosok Rili tidak pernah muncul dihadapanku.
"Abang apa kabar?" ucap Yasir lemah, Dia pun melepas tanganku yang digenggamnya.
Aku diam terngungu. Bingung sekaligus terkejut bisa bertemu dengan Yasir di acara ini. Inilah mungkin yang saya takutkan dari tadi. Aku ternyata bertemu dengan sainganku di pesta pernikahan ku sendiri.
"Mana Rili Bang?" tanya Yasir lagi kepadaku dengan ekspresi bingung sekaligus tidak tenang.
Pertanyaannya membuat jantungku lepas dari tempatnya. Tapi kembali lagi. Sungguh ucapan Yasir seperti terapi syok buatku.
"Kenapa kamu menanyakan Dia kepadaku? Bukannya kalian sudah bersama?" ucap ku dengan mencoba menenangkan diriku yang sudah mulai hilang akal itu. Kenapa Dia malah menanyakan Rili kepada ku. Bukannya mereka sudah bersama. Aku sudah lama menceraikan Rili.
"Aaa...paaaa maksud Abang?" ucapnya marah kepadaku. Keterkejutan jelas terlihat di wajahnya. Aku juga tidak kalah terkejutnya mendengar Dia menanyakan Rili kepada ku. Aku merasa susah bernafas mendengar ucapan Yasir. Jantungku berpacu sangat cepat. Karena diriku yang syok mendapati kenyataan bahwa Rili tidak bersamanya.
"Sayang, kamu disini. Ayo ke podium, Ayah dari tadi mencarimu. Acara akan segera dimulai." Dalam ketercengangannya kami berdua, Mely menegurku. Membuyarkan lamunanku sesaat yang memikirkan Rili. Aku tersenyum kepada Mely. Aku tidak tahu lagi harus melakukan apa.
Mely merengkuh lengan kiriku. Dia tersenyum dan bergelayut manja kepadaku. Sepertinya Dia tidak mengetahui bahwa Aku sedang bicara serius dengan Yasir.
Aku melirik Yasir yang seperti kesetanan menatapku. Sepertinya Dia akan menelanku bulat-bulat. Mata Yasir melotot tajam itu seperti menelanjangi ku. Aku merasa telah melakukan kesalahan besar yang tidak bisa dimaafkannya.
"Kita perlu bicara!" Ucap Yasir kepadaku dengan intonasi sedikit tinggi, tegas dan tatapannya masih sama, mematikan. Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku, pertanda bahwa Aku juga sangat tertarik berbicara dengannya. Mely yang masih merengkuh lenganku tidak ku hiraukan, karena pikiran ku sibuk menerka-nerka, apa yang terjadi kepada Rili. Hingga suara Mely pun menyadarkanku. Kalau Dia masih merengkuh tangan kiriku.
"Sayang, Dia siapa? ada apa ini sayang? kenapa wajah pria yang dihadapan kita ini seperti banteng marah yang siap menyeruduk. Iiiiiihhh..... taaakyuttt.....! Aku Takuttt sayang, Aku lagi memakai gaun warna merah." Ucapan Mely yang to the point itu membuatku sadar.
Aku menatap Mely, kemudian mengalihkan pandangan ku ke Yasir yang nampak emosi melihatku. Mata elangnya, seolah sudah siap menerkamku. Wajah Yasir nampak merah padam. Sepertinya Dia sedang berusaha menahan emosinya.
“Ayo sayang,” Mely terus saja mengajakku pergi dari hadapan Yasir. Dia menarik lenganku dengan kuat.
__ADS_1
“Adek duluan aja ya, Mas ada urusan dengan Dia.” Ucapku melirik Yasir yang menampilkan ekspresi marah sekaligus kecewa itu. Perlahan Aku melepaskan tangan ku dari rengkuhan istriku.
“Nanti Ayah bisa marah, Kalau Mas tidak ikut naik ke podium.” Mely menampilkan ekspresi merajuk dan memayunkan bibirnya. Sikap Mely yang manja kepadaku. Jelas membuat Yasir geram dan kesal. Itu jelas terlihat diwajahnya.
Aku bingung harus berbuat apa, sungguh tingkah Mely dihadapan Yasir, membuatku semakin merasa bersalah. Sepertinya Yasir berfikiran buruk kepadaku. “Ayah tidak akan marah, nanti Mas jelasin kepada Ayah. Mas tinggal dulu ya, sana Adek kumpul sama keluarga.” Aku membujuk Mely, agar meninggalkanku bersama Yasir. Aku mengelus pelan punggung istriku, agar Dia menurut dan memberi kode dengan menggerakkan kepalaku ke arah podium. Meminta Mely agar duluan ke podium bergabung dengan keluarga besar kami.
Aku sedikit legah, Mely mau menuruti perkataanku. Dengan kode dari tanganku. Aku berajalan ke luar Ballroom yang diikuti oleh Yasir. Aku mengajaknya ke kamar tempat kami menginap. Membawanya ke ruang terbuka yang ada diluar kamar.
“ Dimana Rili?” ucap Yasir kepadaku. Pertanyaannya itu membuat jantungku berdetak cepat. Aku ketakutan, bingung dan kalut. Ternyata Rili tidak bersama Yasir.
Untuk percakapan seterusnya, silahkan dibaca lagi episode 120 ya sayang.
💔💔💔
"Aku memang salah. Aku yang salah. Rili.... Rili.... Maafkan Aku....!"
Setelah Yasir meninggalkanku sendirian di teras kamar hotel. Aku merutuki kebodohanku. Aku seperti orang gila, menangis meraung-raung. Terduduk dengan bodohnya dengan membusungkan dadaku sambil memukul-mukulnya dengan keras.
Di dalam dada ini terasa sangat sakit dan nyeri. Seperti ditancap oleh belati dan membuat lubang yang perih sekali. Puas memukul-mukul dada yang rasanya begitu sakit itu. Aku mencoba menenangkan diriku, dengan mengelus-elus lembut dadaku yang terasa sesak dan sakit itu. Berharap sakitnya menghilang.
Aaarrgghh...... Ku puaskan kekesalanku dengan berteriak sekuat tenaga. Aku telah melakukan kesalahan besar yang akan ku sesali seumur hidupku.
"Rili.... Maafkan Aku. Kenapa kamu tidak kembali kepada Yasir? Apa kamu menungguku? Apa kamu mengharapkan Aku kembali?" Aku bermonolog, menyimpulkan sendiri, kenapa Rili tidak menikah dengan Yasir. Apa Dia masih menungguku.
Pertanyaan bodoh itu terngiang-ngiang dipikirkanku. Ya, sepertinya Rili memang menungguku.
"Rili... maafkan Aku...!" ucapku lagi sambil menangis tersedu-sedu. Mencoba meresapi sakit dihati, yang kubuat sendiri. Seandainya Aku tidak meninggalkannya. Mungkin kami sudah bahagia. Ya Dia wanita yang baik, Aku telat menyadarinya.
"Maafkan Aku, Aku yang memberi penderitaan hidup kepadamu. Kehadiranku di dalam hidupmu membuatmu sengsara." Aku menangis lagi sekencang-kencangnya. Disaat wajah nya yang babak belur dibuat Ibu,terekam lagi di otakku.
"Ya Tuhan, kenapa Aku salah ambil keputusan dengan meninggalkannya. Haruskah Aku menemuinya? Aku sungguh ingin tahu kabarnya. Aku sekarang sudah punya banyak harta, tidak miskin lagi seperti dulu. Haruskah Aku rujuk kepadanya. Aku akan membahagiakannya. Aku akan memberikan semua yang dimintanya. Aku akan memberi makanan enak untuknya." Lagi-lagi air mata bercucuran jatuh menganak sungai di pipiku. Aku teringat saat bersamanya. Aku hanya bisa memberinya lauk ikan asin dan sayur daun ubi tumbuk. Dia tidak protes, Dia menikmati penderitaan yang ku berikan.
"Ya Tuhan.... Apa yang harus kulakukan....!" Rasanya Aku tidak sanggup lagi, menahan sakit ini. Sakit yang ku ciptakan sendiri.
__ADS_1
Aaarrgghh... lagi-lagi Aku berteriak, sampai ku merasakan sebuah lengan menyentuh bahuku.
Deg...
Deg...
Deg...
Aku ketakutan, disaat tangan yang putih dan halus itu kulihat saat mata ini menoleh ke bahu yang dipegangnya. Ternyata Mely orangnya.
Aku dengan cepat menyeka air mataku, dan berbalik menghadapnya. Ku lihat Dia bingung melihatku.
"Mas kenapa? menangis?" tanyanya menyoroti wajahku yang memang baru menangis itu.
Aku bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin ku katakan baru menangisi sikap bodohku dengan meninggalkan Rili. Tentu saja Dia akan merasa disakiti. Secara Mely sekarang adalah istriku.
"Tidak, mata mas kelilipan. Seperti nya ada serangga kecil yang terbang di udara ini dan masuk ke mata Mas. Lihatlah mata Mas jadi berair dan memerah." Ucapku berbohong. Seperti nya Dia percaya dengan alasanku.
"Dari tadi Aku mencarimu Mas. Ayah juga mencarimu." Ucapnya kembali memeriksa mataku yang memerah. Seperti nya Dia percaya dengan alasan yang ku buat.
"Adek sudah lama disini?" tanyaku dengan perasaan takut dan was-was. Jangan sampai Mely melihatku menangis dan terpuruk, karena salah ambil keputusan dengan meninggalkan Rili.
"Barusan, Aku tadinya ingin mengambil ponselku yang ketinggalan. Eehh... Aku mendengar suara Abang teriak di teras ini. Makanya ku samperin." Ucap Mely, jawabannya membuat hatiku sedikit lega. Syukur Dia tidak mendengar pertengkaran ku dengan Yasir.
"Kita turun ke bawah ya Mas. Ayah masih mencarimu." Ucapnya membujukku. Walau sebenarnya Aku sudah sangat malas untuk ikut dalam acara itu. Aku saat ini hanya ingin menyendiri. Meratapi nasibku dan sikap bodohku.
Akhirnya kami pun turun lagi ke bawah. Kembali ikut larut dalam acara pesta pernikahan kami itu.
"Serius Adek tadi baru datang ke kamar kita?" tanyaku lagi, memastikan bahwa Mely tidak mendengar kegundahanku menangisi Rili.
"Eehhmmm... sebenarnya Adek.. "
TBC.
__ADS_1
Tinggalkan jejak dengan like coment positif dan Vote ya say 😍🙏❤️