Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Belum siap


__ADS_3

"Dek, rileks ya! nikmati ya sayang,!" ucap Rival dan menatap wajah istrinya yang sedang berada dibawah tubuhnya itu.


Rili diam saja kemudian Dia memalingkan wajahnya, Dia tidak sanggup menatap wajah suaminya itu.


Gejolak nafsu yang begitu besar membuat Rival lupa Diri, Dia bahkan tidak menyadari kalau dari tadi Dia hanya bermain sendiri. Wanita yang dicumbunya tidak ada respon.


Rival tidak mempedulikan sikap Rili yang cuek tersebut, dorongan nafsu ingin segera dituntaskan membuat Rival lupa diri.


"Eemmmuaachh.....eemmmmuaaahhhh!" Rival nampak berisik menjalankan aksinya itu.


Seandainya Rival dan Rili saling mencintai. Mungkin malam ini akan menjadi malam yang sangat panas dan menghebohkan, tapi nyatanya malam ini permainan mereka hanya ada aksi tanpa ada reaksi dari lawan mainnya.


Rival sudah tidak tahan. Sudah hampir satu jam Dia merangsang tubuh Rili, bahkan semua tubuh Rili sudah dikecupnya. Bokong, punggung, pinggang bahkan jari-jari kaki Rili diciumi Rival dengan gemas dan penuh cinta. Tapi Dia heran, Rili tidak mendesah, Rili tidak terangsang.


Hal itu membuat Rival beranggapan. Mungkin dengan melakukan penyatuan tubuh maka Rili akan merasakan nikmat.


Akhirnya Rival dengan cepat membuka baju Koko serta kaos dalamnya dan mencampakkannya. Kemudian Dia melepas sarung serta celana dalamnya. Dia langsung menempelkan tubuhnya ke tubuh Rili dengan menindihnya, yang membuat Rili terkejut. Karena dari tadi Rili seperti mayat hidup saja. yang pandangannya lurus ke langit-langit kamar tanpa mempedulikan aksi suaminya terhadap tubuhnya yang kaku itu.


Dia memeluk tubuh Rili dan mengangkat kepala Rili sedikit, sehingga kepala Rili mendongak.


Rili semakin takut saja setelah melihat benda pusaka Rival. Tubuhnya kaku karena syok.


Rival kembali membaringkan tubuh Rili dibawah Kungkungannya. Ya Rili akui tubuh Rival sangat atletis dan tubuh Rival juga wangi. Tapi pesona Rival yang waaawww itu belum bisa membuat Rili terangsang.


Rival kemudian melanjutkan aksinya mencumbu istrinya yang seperti batang pisang itu. Rival merasa aset berharganya sudah siap untuk masuk menerobos gua milik Rili.


"Dek, buka matanya. Lihat Abang sayang!" ucap Rival lembut sambil mengelus lembut pipi istrinya itu.


Dengan perlahan Rili membuka matanya. Dia melihat Rival sudah berdiri dihadapannnya dengan benda pusakanya yang mengacung keras dan tegak ke atas.


Rili malu dan syok, dengan cepat Dia meraih selimut disampingnya dan menutup semua tubuhnya sampai kepala.


Rival pun berjongkok di atas tubuh Rili dan kemudian menarik pelan selimut yang menutupi tubuh Rili.


"Dek.....!" Abang lakukan ya?" tanya Rival dengan lembut.


Rili menggeleng pelan sambil menggigit bibir bagian bawahnya. Rili takut serta khawatir.


Rival membaringkan tubuhnya disamping Rili, Dia membelai kepala Rili.


"Sayang, kita lakukan sekarang ya? Abang tidak tahan lagi sayang!" ucap Rival dengan mata sayu penuh mendamba.


Rili menatap lekat mata Rival. Dia bingung dan sangat takut, karena Dia sedikitpun belum terangsang. Dia tidak basah sama sekali.


Benda pusaka Rival sudah sangat panas. Lahar yang terperangkap disaluran spermanya berontak ingin di muncratkan.


"Sekarang ya sayang?" rayu Rival.


yang akhirnya Rili menggangguk pelan.


Rival kembali menciumi kening, mata, hidung, pipi dan ******* bibir Rili yang tidak ada perlawanan.


"Dek, baca Doa ya!" ajak Rival sambil mulutnya nampak komat-kamit.


Rili membaca Doa dalam hati.


Kini Rival nampak memposisikan benda pusakanya


Rival berusaha memasukkan benda pusakanya. Kepalanya saja belum masuk. Tapi Rili sudah histeris.


"Saa..Kit... saakiiittt!" ucap Rili dengan menangis.


Rival bingung, Dia jadi panik dan merasa bersalah melihat Rili kesakitan.


"Dek, tahan ya, Kepalanya saja belum masuk dek. Ini punya Abang masih menempel aja di bibir Senggama adek!" ucap Rival berusaha menenangkan istrinya yang kesakitan.


Rival kembali mencumbu istrinya sedangkan benda pusakanya masih berada di pintu masuk gua. Dia terus mencobanya, semakin diterobos semakin mentok. Dan Rili malah menangis sambil mencengkram seprei menahan sakit dan pedih yang dirasakannya.


"Perih.... sakit ... saakiiittt!" ucap Rili berteriak dan menjauhkan tubuhnya dari Rival. Dia bergerak mundur dan mendudukkan tubuhnya yang bersandar di kepala ranjang dan meraih cepat selimut untuk menutupi tubuhnya. Dia saja sangat malu melihat tubuhnya yang polos dibawah pencahayaan lampu yang terang.


Rival tercengang melihat sikap Rili yang menolak penyatuan mereka. Dia masih terjongkok diatas tubuh Rili.


Air mata nampak membanjiri pipi Rili.


"Sakit.... perih... Rili tidak bisa melakukannya!" Ucap Rili sambil menangis tersedu-sedu.


Rival ikut sedih melihat istrinya yang seperti itu. Dia mendekati Rili dan menarik Rili kedalam pelukannya, Rili diam saja. Rival nampak menenangkan Rili dengan mengusap-usap pelan kepala istrinya yang berada di dekapannya. Rili kembali takut melihat Mr.P Rival masih mengacung tegak. Urat-urat nampak jelas menonjol di Mr.P Rival.


"Tenang ya sayang? kalau adek merasa sakit. Nanti kita coba lagi ya!" ucap Rival sambil mengelus-elus rambut Rili dan mencium kening istrinya itu.


Rili melepas pelukan Rival dan menjauhkan tubuhnya. Dia masih belum bisa menerima perlakuan Rival yang menyentuhnya.


"Nanti?" tanya Rili terkejut.


"Iya sayang, adek istirahat dulu, atau kita makan dulu. Nanti kita lanjutkan lagi!" ucap Rival dan menatap lembut wajah istrinya itu. Dia memang sangat menginginkan kehangatan tubuh istrinya.


"Sa...akit bang, sakit sekali. Rasanya seperti luka yang ditetesi air jeruk. Perih." Ucap Rili dan menjauhkan pandangannya dari Rival.


"Iya, itu sakit karena adek tidak menikmatinya."


"Gimana mau menikmati, orang belum cinta." gumam Rili dalam hati.


"Lihatlah punya Abang ini, dari tadi tidak mau tidur. Ini harus dikeluarkan dek. Please....!" ucap Rival memohon dengan muka sedih dan mesum.


Rili melirik punya Rival, Dia bergidik ngeri. Membayangkannya saja masuk ke bagian intinya membuat Dia ngilu.


"Sakit bang!"


"Kalau begitu, bantuin Abang keluarkannya!"

__ADS_1


"Haahh... Maksud Abang apa?" tanya Rili panik.


"Ya bantu Abang dek, Rangsang punya Abang dengan tangan dan mulut adek!" ucap Rival dengan wajah memelas.


"Apa.....? Tiiidaakkk! Aaa...kuu, tidak bisa melakukan itu.!" jawab Rili ketakutan.


"Jadi bagaimana ini dek?" tanya Rival seperti anak kecil.


"Rili tidak tahu bang!" jawabnya dan berbaring membelakangi Rival dan menarik selimut menutupi tubuhnya.


Rival menghembuskan napasnya kasar dan ikut berbaring disamping Rili dengan tubuh polosnya.


Rival menatap langit-langit kamar. Dengan kedua tangannya berada di bawah kepalanya Dia nampak frustasi.


"Apakah Aku terlalu egois memaksa istriku untuk melakukannya sekarang ini? Aku sudah mencoba melakukan pendekatan. Berusaha berkomunikasi, mengajaknya jalan-jalan. Sampai kapan Aku harus menunggunya siap menerima hubungan ini?" gumam Rival dalam hati.


Rili nampak bergerak, Dia berniat melirik suaminya yang berbaring disampingnya, apa sudah tidur apa belum. Betapa terkejutnya Dia saat Dia melirik kesampingnya, Rival juga sedang menatap Dirinya, dengan posisi berbaring dimana kedua tangan diletakkan di kepalanya Rival.


Rili sangat malu, ternyata tubuh Rival masih polos. Sehingga Rili membelakangi Rival kembali.


"Dek, Abang rasa mulai saat ini kita harus saling terbuka." Ucap Rival dengan memiringkan tubuhnya menghadap Rili yang membelakanginya.


Kemudian Rival meraih selimut yang dikenakan Rili, sehingga mereka nampak berbagi selimut.


"Dek, berbaliklah. Kita perlu bicara dari hati kehati." Ucap Rival sambil memegang bahu istrinya, Dia menarik pelan bahu Rili sehingga sekarang mereka sudah berhadap-hadapan dalam posisi miring.


Rili menatap lekat wajah Rival, Dia melihat ada rasa kecewa diwajah Rival yang membuat Dia menjadi merasa bersalah dan takut.


"Jujurlah Dek!"


"Jujur? jujur tentang apa?" tanya Rili gugup. Dia sangat takut, apabila Rival menanyakan tentang masa lalunya dan dirinya yang masih mencintai pria lain padahal Dia sudah berstatus istri Rival.


"Tentang hubungan kita ini. Adek ingin nya bagaimana?" ucap Rival dengan mengelus lembut kepala Rili.


Rili lega, Dia menarik napas. Ternyata Rili salah tanggap dengan perkataan Rival yang memintanya jujur.


Sungguh Rili mati gaya mendapati sikap Rival yang nampak menyayangi itu.


"A...aku tidak mengerti maksud Abang?" ucap Rili dengan gugup.


Rival nampak mengubah posisi tubuhnya dengan duduk dan bersandar dikepala ranjang dan Rili juga melakukan hal yang sama. Di mana Rili masih memegang selimut untuk menutupi dadanya. Sedangkan Rival dadanya terbuka menampakkan dada yang bidang dengan perut yang seperti roti sobek itu.


"Abang ingin kita menjalani hubungan ini seperti pasangan suami istri lainnya. Kamu mengerti kan dek maksud perkataan Abang?" tanya Rival dan memutar lehernya menghadap Rili.


Rili mengangguk.


"Abang tahu kamu merasa canggung dan tidak nyaman sama Abang, perasaanmu itu jelas. Karena, memang kita belum kenal satu sama lain.


"Jawab jujur, apa Adek belum siap kalau kita melakukannya?" ucap Rival langsung ke inti permasalahan.


Dug...dug...dug...


Jantung Rili kembali berdetak keras. Dia tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan suaminya itu.


"Jawab sayang! biar Abang mengerti maunya adek apa?" desak Rival.


"Rili belum siap bang? Rili takut, tadi itu rasanya sangat sakit." Ucap Rili dengan berurai air mata. Entah kenapa Dia jadi sangat sensitif.


Rival mendekatkan dirinya ke wajah Rili. Dia melap air mata Rili dengan jempolnya.


"Iya Abang mengerti. tapi itu terjadi karena adek takut sama Abang. Tubuh adek menolak penyatuan kita." Ucap Rival dan merangkum wajah Rili dengan kedua telapak tangannya.


Rili diam saja, Rival memang sangat baik memperlakukannya. Rasanya Dia seperti istri yang durhaka yang tidak bisa menyenangkan dan melayani keinginan Suaminya.


"Jujur, Abang sangat menginginkannya. Abang tidak bisa menjamin tidak akan menyentuh istri Abang yang cantik ini!" ucap Rival sambil membelai pipi Rili yang halus. Yang membuat Rili tersipu malu.


Rival meraih tangan Rili sebelah kanan dan menempatkannya di organ sensitifnya.


"Dia masih tegang Dek, Abang juga tersiksa." Ucap Rival sambil menggesek-gesekkan tangan Rili ke milik Rival yang ditutupi selimut, tapi Rili bisa merasakan milik Rival yang sedang ereksi itu.


Rili menghempaskan tangan Rival. Dia membuang wajahnya.


Rival sepertinya harus lebih bersabar. Sepertinya Dia juga harus menuntaskannya sendirian. Karena Rili tidak mau membantunya.


"Maafkan Abang!" ucap Rival dan Dia pun keluar dari kamarnya. Dengan menyambar sarung dan baju Kokonya.


Sudah 30 menit Rival meninggalkan Rili sendirian di rumah itu. Tiba-tiba Rili ketakutan. Dia bangkit dari tempat tidurnya dengan melilitkan selimut ditubuhnya.


Dia mengambil handponenya yang berada di dalam tas selempangnya, yang tergantung di dinding kamar.


Dia ingin buang air kecil. Dia takut keluar rumah, sedangkan Rival tak kunjung datang.


Prang....Gedebukkkk.....


Terdengar suara benda jatuh disamping kamarnya. Rili menjadi semakin ketakutan.


dengan cepat Dia memakai baju tidur yang diambilnya dari lemari pakaian.


"Siapa itu?" ucap Rili dengan suara gemetar karena merasa ketakutan.


Prang....prang....


Terdengar lagi suara yang menurut Rili sangat mengerikan itu.


Dia kemudian mencari kontak Rival. Dia menghubungi no ponsel Rival. Ternyata ponsel Rival berada di dalam lemari pakaian mereka.


Klangg....prraang....


Suara itu terdengar lagi. Yang membuat Rili menangis dan ketakutan. Dia menaiki tempat tidur kemudian berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut. Dia menangis sambil memanggil-manggil mamanya.

__ADS_1


"Ma, Rili takut. Rili ingin pulang ma!" hiks...hiks...hiks...


Ceklek.....


Rival masuk ke kamar, Dia heran melihat istrinya menangis didalam selimut.


Rival naik ke tempat tidur dan duduk disamping Rili yang menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Dek," ucap Rival sambil memegang lengan istrinya yang masih didalam selimut.


Perlahan Rili menarik selimut sehingga wajahnya terlihat.


"Abang pergi kemana saja? Aku takut, tadi ada suara-suara seperti maling mau masuk ke rumah." ucap Rili sambil menangis.


"Iya, tadi itu mungkin orang yang sedang mengintip." Ucap Rival dan duduk disebelah kanan Rili dengan berseloncor dan kepala di sandarkan dikepala ranjang.


"Mengintip?" tanya Rili bingung.


"Iya,"


"Mengintip siapa?" tanya Rili penasaran. Dia nampak menyandarkan badannya dikepala ranjang seperti yang dilakukan Rival.


"Mengintip kita," ucap Rival dengan nada datar.


"Maksudnya?" Rili makin bingung.


"Maksudnya adalah bahwa di kampung ini, setiap ada pengantin baru. Maka pemuda setempat akan berusaha mengintip aktivitas pengantin baru tersebut.


"Mereka akan mengintip kita dari celah-celah dinding kamar ini." Ucap Rival sambil menunjukkan celah-celah dinding kamar mereka yang terbuat dari papan.


"Mungkin tadi Mereke berusaha untuk mengintip kita, dengan cara memanjat dinding papan rumah ini, atau pakai alat atau apalah sehingga mereka bisa mengintip." Ucap Rival sambil menguap.


Mata Rili membulat dan mulutnya menganga mendengar penjelasan suaminya itu.


"Jadi selama seminggu ini mereka akan berusaha untuk bisa mengintip kita." Ucap Rival dan berniat untuk tidur.


"Apa? Iiiiihh.... memalukan sekali!" ucap Rili sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Dia sungguh heran melihat tingkah orang dikampungnya Rival.


"Tadi Abang kemana?"


"Abang ke sungai." Jawab Rival sambil menutup mata. Sebenarnya Dia ingin sekali bermesraan dengan Rili, tapi Rili pasti menolaknya. Tidak bisa MP


setidaknya saling mencumbu.


"Abang ngapain ke sungai tengah malam begini?" tanya Rili heran.


"Ke sungai mau jumpai penghuni sungai." Ucap Rival asal. Padahal Dia ke sungai untuk menuntaskan gejolak nafsunya yang meronta untuk di muncratkan.


Rili merinding mendengar penjelasan Rival.


"Aku lapar, Aku juga ingin buang air kecil." Ucap Rili sedikit takut, enggan dan malu. Seandainya ada kamar mandi di rumah ini, mungkin Rili tidak akan melapor untuk buang air.


Rival menoleh ke arah Rili.


"Mau ke kamar mandi dulu atau mau makan dulu?" tanya Rival dengan menatap Rili.


"Mau makan dulu." Ucap Rili lembut.


Ya, Dia makan dulu baru ke kamar mandi untuk mencuci muka, gosok gigi.


Rival dan Rili sedang makan tengah malam di ruang dapur. Rili nampak sangat lahap. Mungkin Dia kelaparan, karena aksi Rival yang membuat Rili Dag Dig dug seerrrr.


Mereka makan dalam hening, setelah makan. Rival menemani istrinya ke kamar mandi.


Jelas saja, saat Rival membuka pintu dapur. Ada suara seperti orang berlari.


"Kamu dengar suara kaki yang lari ke arah hutan itu?" tanya Rival yang kini mereka nampak jalan beriringan menuju kamar mandi.


"Dengar bang," ucap Rili ketakutan.


"Itulah orang-orang kurang kerjaan yang mengikuti bisikan setan, agar menambah dosa dari penglihatannya." Ucap Rival tegas. Dia seperti Pak Ustadz saja memberi ceramah pada jemaahnya.


Rili diam saja mendengar ceramah suaminya itu. Perkataan Rival memang benar, jadi Rili tidak ingin mengkomplainnya.


Rili masuk ke dalam kamar mandi, dan melakukan ritual bersih-bersihnya. Setelah selesai Dia keluar dari kamar mandi. Dia melihat Rival masih setia berdiri di depan pintu kamar mandi sambil memukul-mukul nyamuk yang menggigitnya.


Kini mereka memasukinya kamar. Mereka membaringkan tubuhnya masing-masing dimana Rili menaruh bantal ditengah sebagai pembatas keduanya.


"Apa Adek begitu takutnya Abang terkam?" tanya Rival dan melirik istrinya itu.


Rili tersenyum. "Buat jaga-jaga!" ucap Rili dan menarik selimutnya dan menutupi tubuhnya sampai dadanya.


"Abang tidak akan melakukannya lagi, sebelum adek siap dan ikhlas!" ucap Rival dan menatap lekat mata Rili.


Rili terkejut mendengar kalimat itu dari mulut suaminya. Dia merasa sedang terbebas dari belenggu rantai. Ucapan Rival membuatnya tenang dan nyaman.


"Kalau Adek belum siap dan ikhlas sampai sebulan ini? apa Abang akan sabar?" tanya Rili dengan sedikit takut. Dia nampak mendudukkan tubuhnya.


"Iya, Abang akan sabar sampai kamu bisa menerima Abang dihatimu." Ucap Rival dengan tetap menatap mata Rili.


"Terima kasih banyak atas pengertian Abang! moga Allah melimpahkan rezekinya buat kita!" ucap Rili dengan penuh kebahagiaan.


"Iya, kita tidur saja. Udah jam 1 malam. Besok pagi-pagi sekali Abang mau kerja." Ucap Rival dengan tersenyum sambil mengelus rambut Rili.


Bersambung.


Part ini sudah ku revisi dengan memotong 1000 kata. kalau katanya masih vulgar. Akupun tidak pandai lagi merangkai kata-kata. hihihi...

__ADS_1


Mohon beri like, coment positif, vote, rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.


Terima kasih


__ADS_2