Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2. Biarlah miskin harta, tapi kaya hati.


__ADS_3

"Iya." Ucapnya cepat, saat Dia melihat Rival sudah berdiri tak jauh dari hadapan Mereka. Penampilan Rival sangat rapi dengan baju Koko dan sarung, serta memakai peci.


"Suamiku...!" gumam Mely dalam hati. Dia bingung sekali harus berbuat apa? haruskah Dia meminta Ary menurunkannya atau Dia melewati Rival. Asyik berfikir, Motor yang membawa Mely melaju, meninggalkan Rival berdiri bengong di pinggir jalan, Dia baru saja pulang dari Mesjid. Mely tidak berani menatap ke belakang, Dia takut melihat ekspresi wajah Rival yang tidak bisa diartikannya itu. Ditambah memang, wajah Rival terlihat, hanya diterangi oleh lampu jalan.


Ary berhenti tepat di depan gerbang Rumah Mely yang megah. Dia mengklakson, sehingga Pak Satpam pun membuka gerbang.


"Ayo turun kamu, malahan bengong diboncengan." Ucap Ary dan melirik Mely yang masih mematung di boncengan. Mely tidak mendengar ucapan Ketua Gengnya itu. Dia benar-benar tidak fokus. Dia memikirkan sikap apa yang harus diambilnya, saat bertemu dengan suaminya itu.


Secara Dia masih kesal dengan Rival, yang masih belum move on dari mantan istrinya.


Ary menggoyang kuat lutut Mely yang masih setia duduk mengangkang di boncengan.


"Woiii sadar, kita sudah sampai." Teriak Ary, yang membuat Mely terkejut dan langsung memegangi telinganya. Suara Ary benar-benar membuyarkan lamunannya.


"Mesti kali teriak-teriak. Ini masih shubuh." Ucap Mely kesal, Dia memukul pundak temannya itu. Dia melihat sekitar, yang ternyata sudah sampai di depan rumahnya.


"Sudah sampai ya?" tanyanya dengan bingung, Dia turun dari motor dengan wajah kusut dan bingung.


"Sudah dari tadi kali." Ucap Ary, Dia pun menyalakan motornya.


"Terimakasih banyak ya Bang. Salam sama kak Tari." Ucap Mely dengan tersenyum. Ary mengangguk.


"Aku cabut nih."


"Ok. Kabar-kabari kalau kita mau Touring atau Hiking atau apalah." Ucap Mely.


"Ok." Ucap Ary Dia pun melajukan motornya, dan berpapasan dengan Rival di dekat gerbang.


Mely yang sudah melihat kedatangan Rival saat Dia hendak masuk gerbang. Dibuat nervouse, tiba-tiba saja jantungnya bermasalah. Dia pun jadi bingung. Apakah Dia menunggu Rival menghampirinya, atau langsung masuk saja.

__ADS_1


Akhirnya Dia memilih untuk masuk ke rumah, tanpa menegur suaminya itu.


Mely melangkahkan kakinya cepat, karena Rival mengejarnya.


"Mely.... Mely....!" ucap Rival sambil berusaha mengejar Mely yang dengan cepat masuk ke kamarnya. Setelah masuk ke kamarnya, Dia pun menguncinya.


Dia berjalan dengan tubuh bergetar ke ranjangnya. Dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Sungguh, tidak melihat Rival selama seminggu, membuatnya merindukan pria yang dewasa dan sabar itu. Tapi, mengingat kejadian saat di kantor, membuat Mely membenci Rival.


Mely membaringkan tubuhnya di ranjang, sedangkan Rival dengan tidak sabaran ya, mengetuk-ngetuk pintu kamar Mely.


Mely semakin takut saja, mendengar namanya dipanggil-panggil oleh Rival dari balik pintu kamar. Dia takut untuk membukanya, tapi kalau tidak dibukanya. Nanti tambah masalah.


Akhirnya Dia pun memutuskan untuk membukanya. Dengan langkah pelan, sambil memegangi dadanya. Dia pun menekan handle pintu, setelah pintu terbuka, Dia tidak melihat Rival di situ.


"Apa Aku salah dengar ya? perasaan tadi, Dia masih disini dan menggendor-endor pintu. Tapi, sekarang kenapa tidak ada?" Mely membatin, kemudian Dia kembali menutup pintu dan berjalan ke ranjangnya. Dia mau istrirahat sebentar. Nanti jam 9 pagi Dia harus ke kampus.


Dia teringat ucapan Mely yang selalu memuji masakannya. Dengan wajah sumringah, Rival kembali memasak nasi goreng extra pedas. Sesuai dengan kesukaan Mely.


Setelah selesai memasak, Dia menatanya di meja makan yang dibantu oleh ART mereka. Rival pun dengan langkah lebarnya, berjalan menuju kamarnya. Berganti baju dan bersiap-siap hendak bekerja.


Lama Dia berdiri didepan cermin, memandangi pantulan dirinya dengan tersenyum. Tidak dipungkiri, memakai apapun Rival selalu terlihat tampan. Kali ini Rival memakai kemeja lengan pendek warna Abu dan celana kain slimfit warna hitam. Dia pun menyemprotkan banyak parfum ke tubuhnya.


Dia bahagia sekali, ternyata Mely masih mendengar ucapannya. Rival yang mengancam Mely harus datang pagi sekali. Ternyata Mely mendengarkan ucapannya.


Merasa penampilan sudah sempurna, Rival keluar dari kamarnya, dengan perasaan campur aduk. Ada rasa bahagia, karena Mely akhirnya pulang. Ada rasa was-was dan takut. Dia tidak mau mereka bertengkar, saat Rival menanyakan alasan Mely menghilang. Ada perasaan rindu yang membuncah, Dia yang sudah mulai terbiasa dengan sentuhan Mely.


Tok....tok...tok....


"Dek, Ayo kita sarapan..!" Hati Mely bergetar mendengar suara Rival yang lembut. Ternyata Mely tidak bisa memejamkan matanya. Karena Bau khas Rival yang sangat disukainya, sudah menempel di bantalnya. Sehingga pikiran liarnya kepada suaminya itu tersulut. Tapi, mengingat kicauan Rival yang selalu menyebut nama Rili, membuat wajahnya tiba-tiba sedih.

__ADS_1


"Dek, sarapan yuk??!!!" suara Rival nampak mengiba yang membuatnya tidak tahan, untuk melihat suaminya itu. Akhirnya dengan perasaan grogi, Mely beranjak dari tempat tidurnya, Dia pun membuka pintu kamarnya. Terpampang nyata lah suami yang dirindukan sekaligus dibencinya itu dihadapannya dengan tersenyum manis, yang membuat hatinya tidak tahan, Dia ingin sekali memeluk suaminya itu.


Tapi, sikap Mely sangat berbeda dengan keinginannya. Dia malah mengabaikan ajakan Rival makan.


"Aku tidak lapar. Abang makan saja duluan. Jangan ganggu Aku. Aku mau tidur." Ucapnya dan menutup pintu kamar dengan keras yang membuat Rival mematung dengan mata melotot dan mulut menganga. Sikap Mely sungguh kejam. Sampai banting pintu segala.


Padahal Rival sudah menahan dirinya, agar tidak marah. Suami mana yang tidak akan marah, istri main minggat aja selama satu Minggu dari rumah.


"Sabar....sabar... Terima saja nasibmu Rival, yang tidak mulus dalam hal asmara." Gumamnya dalam hati sambil mengelus dadanya.


"Begini resiko orang miskin, selalu direndahkan." Ucapnya pelan, Dia hendak berbalik, meninggalkan kamar Mely. Tapi, Mely yang ternyata mendengar ucapan Rival, yang mengatakan orang miskin Selalu direndahkan. Membuatnya kembali membuka pintu.


Mendengar pintu dibuka, Rival menghentikan langkahnya. Dia berbalik menatap Mely yang berdiri diambang pintu dan memegang yang masih memegang handle pintu.


"Makanya jadi orang kaya, kerja yang rajin. Cari uang yang banyak, biar mantan istrimu yang sangat kamu cintai itu. Memilih mu bukannya kembali kepada pacarnya yang kaya." Ucap Mely dengan suara keras dengan ekspresi wajah yang menahan tangis. Dia kembali menutup pintu kamarnya dengan kuat. Yang membuat Rival terlonjak kaget sembari memegangi dadanya.


Jantungnya rasanya copot dari tempatnya mendengar suara pintu dibanting dengan sangat kuat.


Sesaat Rival belum mencerna ucapan Mely, hingga detakan jantungnya normal.Dia pun sasar, bahwa ucapan Mely itu sangat menyakitkan.


Siapa yang ingin hidup miskin. Rival juga selalu kerja keras, semua pekerjaan dilakukannya untuk menghasilkan uang, tapi kalau harus tangannya memang tertoreh menjadi miskin, mana mungkin Dia bisa berubahnya jadi kaya.


"Biarlah miskin harta, tapi kaya hati" Ucap Rival dengan mata berkaca-kaca. Sejenak Dia berfikir sambil berjalan menuju meja makannya.


Perkataan Mely, benar-benar membuat harga dirinya hancur. Haruskah Dia pergi dari keluarga ini. Melihat sikap Mely itu, membuatnya minder. Dia tidak mau dianggap pria yang memanfaatkan situasi dengan menikahi gadis keluarga kaya.


"Haruskah pernikahan ini diakhiri? tapi berapa kali lagi Aku harus menikah?" Rival membathin sambil mengaduk-aduk nasi goreng yang ada dihadapannya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2