Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Terpleset


__ADS_3

Rili terbangun karena mendengar suara adzan yang sangat merdu. Dia langsung mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidur tersebut. Karena suara adzan yang kita dengar harus kita indahkan. Dimana adzan yang dikumandangkan itu mengajak kita untuk sholat.


"Rina, Rina..... Bangun dek! udah dapat waktu sholat shubuh." Ucap Rili sambil menggoyang-goyangkan badan adik sepupunya tersebut.


"Aku masih ngantuk kak," ucapnya menguap dan malah mengambil bantal yang dipakai Rili untuk dipeluknya.


"Ayo bangun! tidak boleh menunda sholat." Ucap Rili tegas sambil terus menggoyang-goyangkan tubuh adiknya tersebut, tapi tidak mau bangun juga malah Riki ngorok.


Rili yang sudah capek bangunkan Rina, dan tidak kunjung mau bangun, akhirnya keluar kamar meninggalkan Rina di kamar tersebut. Dia mengambil peralatan mandinya lalu bergegas pergi ke kamar mandi yang terdapat dibelakang Mesjid.


Di jalan Rili berpapasan dengan ketiga tantenya.


"Tante mau berjamaah di mesjid?" tanya Rili.


"Iya nak, kamu cepetan mandinya. Siapa tahu masih bisa berjamaah." Ucap Tante Rukyah.


"Iya Tante, kalau gitu Rili ke kamar mandi dulu." Ucapnya dan langsung mempercepat langkahnya menuju kamar mandi umum. Sedangkan tantenya langsung masuk ke dalam mesjid.


Di kamar mandi umum kali ini sangat ramai, karena selain orang kampung yang ingin mandi atau sekedar berwudhu, ternyata sanak famili Rival banyak juga di kamar mandi umum tersebut.


Rili malu dan bingung harus melakukan apa di kamar mandi itu, secara mata orang dikamar mandi itu selalu tertuju kepadanya.


"Cantik banget ya, istrinya Abang Rival." Ucap salah satu anak gadis kepada temannya yang juga sedang mandi yang ternyata warga setempat.


Rili yang menjadi pusat perhatian hanya melemparkan senyuman saja.


"Kapan aku selesai mandinya, kalau aku canggung begini," gumam Rili dalam hati.


Akhirnya Rili membuka pakaiannya dengan sangat lambat dan memakaikan kain salin.


Lagi-lagi Dia mendengar bisik-bisik yang memuji kecantikannya dan kulitnya yang putih dan mulus itu.


"Aku harus cepat, aku tidak nyaman melihat tatapan orang kampung dan bisik-bisiknya." gumam Rili dalam hatinya.


Dia dengan cepat mengguyur tubuhnya dari atas kepala, kemudian memakai sampo, mencuci muka dan menggosok giginya.


Ternyata orang-orang dikampung Rival masih sangat kolot. Orang baru akan menjadi topik yang hangat untuk dibahas.

__ADS_1


Setelah selesai mandi, Rili memakai baju gantinya di dalam kamar mandi tersebut.


Dia memakai stelan berwarna lime dimana atasannya seperti tunik dan bawahannya rok celana. Rili nampak anggun dan pakaiannya terkesan sopan.


Dia keluar dari kamar mandi menuju mesjid, ternyata sholat shubuh berjamaah telah selesai.


Di saat Dia hendak masuk ke dalam Mesjid, Dia berpapasan dengan Rival di teras Mesjid.


"Dek," ucap Rival dengan tersenyum. Pria itu nampak sangat tampan dengan baju Koko berwarna putih yang bawahannya Rival memakai sarung. Penampilan Rival udah seperti penampilan bapak-bapak saja.


Rili tidak menjawab, panggilan Rival. Tapi, Rili tersenyum dan langsung masuk ke mesjid.


Rili nampak melaksanakan sholat shubuh sendirian di mesjid itu. Setelah sholat Dia keluar dengan merapikan selendang yang dipakainya.


Ternyata, Rival masih menunggunya duduk di lantai teras Mesjid.


Rili yang melihat Rival duduk di teras Mesjid tersebut, tidak menyapa Rival. Dia melewati Rival begitu saja. Tapi, sebelum langkahnya keluar dari teras mesjid Rival menyapanya.


"Dek, kalau ada perlu apa-apa nanti. Hubungi Abang ya? Karena pagi ini masih ada acara di Rumah kita. Yaitu acara makan bersama dengan warga kampung." Ucap Rival dengan lembut Dia menatap punggung istrinya yang membelakanginya tersebut.


"Iya bang," ucapnya dan melanjutkan langkahnya.


Rili melewati orang-orang tersebut dan tersenyum.


Kini Rili nampak masuk ke dalam kamarnya, di kamar itu sudah ada ketiga tantenya sedang duduk di atas tempat tidur, sambil menggunakan make up. Sedangkan Rina masih tertidur.


"Tante, kenapa Rina tidak dibangunkan?" tanya Rili sambil menyisir rambutnya yang basah.


"Dia lagi datang bulan, jadi Dia malas bangun," ucap Tante Rukyah.


"Nak, tadi kata ibu mertuamu. Kamu harus menggunakan jilbab, atau selendang. Terus nanti pas acara. makan bersama dengan orang kampung kamu juga harus memakai sarung. Kalau bisa sarung yang mewah dan bermotif mewah." Ucap Tante Rukyah.


"Oohh iya Tante," ucap Rili dan melanjutkan aktivitasnya merias wajahnya.


"Kalau begitu, kami ke dapur dulu, bantu-bantu orang kampung memasak." Ucap Tante Rukyah.


"Iya Tante." Ucap Rili.

__ADS_1


Rili yang tengah serius memoles wajahnya, dikagetkan oleh tepukan dari Rina yang mendarat di punggung Rili.


"aauuwww...kamu ngagetin aja," ucap Rili kesal terhadap adik sepupunya tersebut.


"Kak, aku kebelet ini." Ucap Rina dengan muka sedikit cemberut karena menahan BAB nya yang hendak keluar.


"Ya udah, kmau pergi sana ke toilet," ucap Rili asal sambil terus melanjutkan aktivitasnya memoles wajahnya.


"Di mana toiletnya, mana ada toilet disini." Ucap Rina kesal. Dia sekarang sudah nampak berdiri dan berjalan mondar-mandir di ruangan kamar yang sempit itu.


"Kamu jangan mondar-mandir, nanti keluar lagi itu eekmu. Ayok, kita tanyain orang diluar." Ucap Rili.


Mereka nampak keluar menuju dapur.


"Bu, toilet di mana ya?" tanya Rili kepada ibu mertuanya yang sedang duduk di kursi meja makan yang terdapat di sudut ruangan dapur tersebut.


"Di rumah ini gak ada toilet, kita orang miskin. Jadi gak punya uang buat kamar mandi." Ucap mama Rival dengan ketusnya, dan beranjak berdiri meninggalkan Rili di dekat meja makan tersebut.


Saat Rili bengong dalam keadaan berdiri, Rili dikejutkan dengan suara yang memanggilnya kakak ipar.


"Kakak ipar, ayo saya temani ke sungai, kalau kakak ipar mau BAB." Ucap adik ipar yang masih gadis dan sekarang sedang kuliah di kota P yang jaraknya sekitar 60 km dari tempat keluarga Rival tinggal sekarang.


Ya, walau keluarga Rival tergolong miskin. Dua adik Rival berkuliah dan itu semua Rival yang menanggung biayanya.


"Nama saya Sekar Nila kak, adik bontotnya Abang Rival." Ucapnya tersenyum sambil mengulurkan tangannya kepada Rili dan akhirnya mereka berjabat tangan.


"Ayo kak, lewat dari dapur aja." Ucap Sekar sambil berjalan menuju pintu dapur belakang.


Kini Rili, Rina dan Sekar nampak berjalan melewati rumput-rumput menuju sungai.


"Jauh gak dek sungainya?" tanya Rili sambil menarik sedikit ke atas celananya, agar jangan kotor.


"Gak koq kak. Hanya sekitar 100 M dari rumah kita, tapi itu kak,Jalan mau ke sungainya nanti habis jalan datar ini adalah turunan kak. Jadi kita harus hati-hati saat jalan ya kak." Ucap Sekar.


Kini tibalah mereka harus melewati jalanan yang terjal tersebut. Saat berjalan, karena tidak hati-hati dan memang hari masih nampak gelap maka Rili terpleset dan berguling-guling dan akhirnya amblas ke dasar sungai.


Bersambung.

__ADS_1


Mohon beri like, coment, vote dan rate bintang 5.


Terima kasih


__ADS_2