Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 LDR an


__ADS_3

Dua hari sudah Rival dan Mely di Kota Canberra. Selama dua hari itu mereka lebih banyak habiskan waktu di rumah saja. Hanya sekali Rival keluar rumah untuk menemani Ayahnya ke gedung perkantoran mereka yang bergerak di bidang import eksport itu. Sekaligus Pak Ali memperkenalkan usaha mereka di Negara itu.


Tapi hari ini Mely tidak mau berkurung di rumah lagi. Mamanya yang lebay itu yang tidak mengizinkannya beraktivitas di luar rumah. Padahal Mely sudah sangat ingin jalan-jalan menikmati Kota Canberra di musim gugur ini.


"Lama banget sih beres-beres nya?" ucap Mely kepada Rival yang sekarang lebih lama memperbaiki penampilan nya di cermin. Rival seolah berubah jadi pria perlente.


"Iya sayang, sudah mau selesai." Ucapnya kembali menyisir rambutnya untuk ketiga kalinya. Mely geram, pasalnya Rival sudah hampir satu jam yang bersiap-siap itu.


"Mas itu sudah ganteng. Ganteng banget malah. Kenapa hari ini lama sekali bergayanya. Terus ini model rambut kenapa cara sisirnya berubah. Biasanya juga rambut plontos cepak. Ini kenapa jadi disisir model RBT (Rambut belah tengah)" Mely merepet mencomentari penampilan Rival yang seolah berubah.


"Iya biar nampak lebih fres aja. Sesekali model rambut diubah dong. Jangan model rambut tentara terus." Jawab Rival.


"Gak mau aach, Mas itu ganteng kalau model rambutnya cepak. Nanti kita potong rambut Mas ya?" ucap Mely mengacak rambut Rival yang gaya sisirnya berubah jadi RBT.


"Bukannya kalau istrinya hamil, suami tidak boleh potong rambut?" tanya Rival menatap lekat wajah Mely yang berdiri di hadapannya.


"Kata siapa?" tanya Mely sedikit bingung. Dia juga baru dengar ada peraturan seperti itu. Istri hamil suami tidak boleh potong rambut.


"Kata emak-emak di kampung Abang. Dan juga dulu sering Abang dengarnya saat Abang kerja di pengutipan jasa retribusi pasar. " Ucap Rival, kembali menyisir rambutnya yang sempat diacak-acak Mely.


Mely berfikir, berarti selama sembilan bulan ini suaminya tidak akan potong rambut, jadinya gondrong dong. Sudut bibir Mely tertarik, sehingga terbentuk sebuah senyuman jahil. Lucu juga tradisi itu ya. Istri hamil, suami tidak boleh potong rambut. Tapi, apa hubungannya?


Mely jadi penasaran, kalau rambut suaminya gondrong. Kira-kira penampilan Rival makin Kren atau malah makin hancur? Mely membayangkan rambut Rival panjang, terus Dia akan menjahili suaminya itu. Dia akan mengepang rambut Rival menjadi ekor kuda.


"Pasti jadi lucu." Ucapnya sambil tertawa.


"Adek kenapa tertawa?" tanya Rival bingung, Melihat Mely yang senyam-senyum sendiri sambil matanya menerawang.


"Tidak ada, kalau Mas percaya dengan tradisi itu. Ya sudah panjangin saja rambut Mas." Ucap Mely tersenyum, menggandeng tangan Rival dengan manjanya. Mereka pun keluar kamar.


"Ma, kami jalan dulu ya?" ucap Mely kepada Mama Maryam yang sedang duduk bersantai di ruang keluarga.


Mama Maryam melirik Rival yang penampilannya nampak berubah jadi lebih muda.


"Model rambut kamu kren banget Nak Rival." Ucap Mama Maryam, menyoroti penampilan Rival dari atas sampai bawah.

__ADS_1


Rival hanya tersenyum, menanggapi Ibu mertuanya itu.


"Ma, apa harus ya seorang suami memanjangkan rambutnya saat istrinya hamil?" tanya Mely.


"Siapa yang bilang?" tanya Mama Maryam lagi.


"Mas Rival yang bilang."


"Mama kurang tahu juga soal itu. Tapi menurut Mama itu hanya kepercayaan atau tradisi yang dipercayai oleh beberapa orang. Mana ada hubungannya istri hamil dengan suami dilarang potong rambut." Jawab Mama Maryam.


"Tapi Ma, waktu itu Rival pernah dengar. Katanya kalau suaminya potong rambut, bisa jadi anak yang dilahirkan istrinya cacat." Jelas Rival bergidik ngeri. Dia tidak mau itu terjadi kepada anaknya.


"Mana ada hubungannya potong rambut membuat anak yang dilahirkan cacat. Bayi dalam kandungan bisa cacat, mungkin karena kelainan genetik atau kurang gizi." Jelas Mama Maryam.


"Iya juga sih." Jawab Mely.


"Yuk Mas, nanti festivalnya selesai lagi." Mely menarik lengan Rival. Melambaikan tangan kepada Mama Maryam, pertanda pamit.


Sepanjang perjalanan menuju tempat yang ingin mereka kunjungi, mata Rival tidak berkedip menikmati pemandangan yang disuguhkan. Saat ini di kota itu sedang musim gugur.


Canberra mulai pagi hari sampai dengan sore hari di musim gugur memang menyajikan tayangan  keindahan alam yang luar biasa. Pergantian warna dedaunan dari warna hijau ke warna kuning merah, coklat jingga membuat kota ini seolah seperti lukisan.


"Biasa saja kali ekpresinya." Ucap Mely. Dengan cepat mengusap wajah suaminya yang masih bengong melihat tatanan kota yang rapi dan bersih itu.


"Ini sih Kren banget sayang. Abang suka kota ini." Ucapnya dengan wajah sumringah.


"Ya sudah, kita menetap saja disini." Ucap Mely memasrahkan kepalanya di pundak Suaminya itu. Kini mereka sedang duduk di bangku panjang di taman kota.


"Pingin sih, tapi Ayah kan menyerahkan tanggung jawab buat Abang mengurus perusahaan yang di Indonesia." Jawab Rival.


"Iya sich." Jawab Mely malas, Dia jadi mekantuk. karena kekenyangan. Mereka habis wisata kuliner.


"Adek kantuk?" tanya Rival melirik Mely yang bersandar di bahunya. Dia pun mengelus lengan istri yang dirangkulnya. Mely mengangguk.


"Sebentar lagi kita pulang nya ya, Mas masih mau menikmati senja di kota ini. Ini indah sekali." Ucap Rival merasa takjub. Dia tidak menyangka hidupnya berubah drastis. Dia juga tidak menyangka, bahwa Dia anak orang kaya.

__ADS_1


Dalam hati pun Rival bersyukur, hidup yang susah sedari kecil. Kini terbayar sudah dengan kemewahan.


"Sayang sumpah ini indah sekali." Ucap Rival, mengulangi kalimat ketertakjubannya. Ya


Menjelang senjapun  mata akan dimanjakan oleh alam yang sangat menarik memukau. Dimana Pada saat saat tertentu kombinasi warna langit biru, sinar jingga dan redupnya warna pepohonan menjadikan penutup hari yang sangat istimewa.


🌄🌄🌄


Dua bulan kemudian.


Rival nampak sibuk di kantornya. Tiba-tiba saja ponselnya berdering di atas meja kerjanya itu.


"Ya sayang, bagaimana anak-anak kita. Masih rewel? iya, iya, malam ini Abang akan terbang ke sana pakai sayap." Ucapnya seloroh yang membuat Mely kesal di sambungan telpon


Pasalnya dari semalam Rival berjanji akan mengunjungi istrinya di kota Canberra. Tapi, karena pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan sehingga Rival tidak jadi mengunjungi Mely di Canberra.


"Adek tidak mau tahu, Mas harus sampai malam ini juga." Ucap Mely merajuk. Sudah dua Minggu Rival meninggalkannya bersama Mama Maryam di Canberra.


"Iya Sayang." Jawab Rival lembut.


"Harus pulang. Adek sudah kangen." Ucapnya manja, yang membuat bulu Roma Rival meremang. Sungguh suara lembutnya Mely menyulut birahinya.


"Iya sayang, Mas juga kangen. Kangen banget malah. Sudah dua Minggu berpuasa." Jawabnya tertawa ringan. "Sudah ya, kalau bertelepon terus kapan Mas nya Sampai di sana." Ucap Rival. Kini Dia menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya. Dia sangat lelah, lelah sekali selama dua bulan ini. Apalagi Dia sering terpaksa terbang ke Canberra, karena Mely merengek minta dikunjungi karena rindu. Walau kadang Mely yang datang tiba-tiba ke Indonesia, memberikan surprise kepada Rival.


"Mas tidak lupakan, acara resepsi pernikahan kita yang akan diadakan disini, tinggal dua hari lagi. Mas belum nyobain bajunya." Ucap Mely dari sambungan telepon.


"Iya sayang, sudah ya. Mas matikan, ini Mas mau langsung ke Bandara." Ucap Rival.


"Iya Mas, hati-hati di jalan. Eemmeuuacchh...!" ucap Mely menghadiahi Rival dengan kecupan udara.


Setelah panggilan terputus, Rival pun diantar supirnya ke bandara. Menuju kota Canberra.


Selama dua bulan ini, Mely lebih sering tinggal di kota Canberra negara Australia bersama Mamanya. Sedangkan Rival harus bisa membagi waktu, untuk mondar- mandir Indonesia - Canberra disela-sela kesibukannya di Indonesia mengurus perusahaan mereka.


Dua hari lagi, mereka akan mengadakan resepsi pernikahan di Negara yang terkenal dengan hewan berkantung itu.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2