Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Terobos


__ADS_3

"Bos, jadwal penerbangan tidak ada lagi malam ini ke Jakarta." Asisten Jef, menghubungi Yasir.


"Cari sampai dapat." Yasir marah.


"Bos ngapain naik penerbangan komersial. Kitakan punya jet pribadi?" ucap Asisten Jef, masih dari sambungan telpon. Sedangkan Yasir diperjalanan menuju pulang ke Apartemen.


"Bukannya Ayah sedang memakainya?" masih berkomunikasi melalui sambungan telpon.


"Tuan besar, sudah pulang tuan. Ini sedang berkunjung ke Apartemen." Tuuutt.... Asisten Jef langsung melihat layar ponselnya yang panggilannya sudah terputus. Karena, Yasir langsung mematikan panggilannya.


"Apa yang terjadi? kenapa Bos ingin kembali ke kota S?" Asisten Jef bicara sendiri. Dia pun keluar kamar dan menjumpai tuan besarnya yang sedang duduk di sofa ruang tamu Yasir.


Yasir yang sudah sampai ke apartemennya, langsung masuk ke kamar. Ayahnya yang memanggilnya dan berniat berbicara, diabaikannya.


ceklek....


Dia langsung merebahkan tubuhnya di ranjang king sizenya. Dia menatap langit-langit kamarnya yang diukir itu dengan tatapan kosong. Hanya pikirannya yang bekerja. Dia tidak habis pikir, pengorbanannya selama satu tahun ini, sia-sia.


Pikiran-pikiran negatif bermunculan di otaknya. "Apa Rili bunuh diri, disaat Abang Rival meninggalkannya. Sehingga, Dia tidak ada kabar. Padahal Dia sudah berpisah dengan si rival manusia munafik itu? Atau, Apakah Rili sudah menikah lagi? Aaaachhhh.... Shhiiiittt....!" Yasir menjambaki rambutnya, karena kepalanya sakit sekali memikirkan semuanya.


"Aaaaahhhhh..!" Yasir kembali berteriak.


Ceklek...


Nampak Asisten Jef memasuki kamar Yasir yang luas dan mewah itu. Dia berdiri, disisi ranjang. Dia masih menonton adegan yang dilakukan Bos nya yaitu, berguling-guling dan menjambaki rambutnya sambil teriak-teriak. Yasir setres. Satu tahun, sudah waktu sia-sia.


Kalau toh Rival ingin bercerai. Harusnya saat Di taman Dia mengalah. "Satu tahun, kita berpisah. Harusnya kita sudah punya anak." Yasir berteriak, dan akhirnya mendudukkan tubuhnya di atas ranjang dengan posisi bersila.


"Sudah kamu atur semuanya?" Ucap Yasir dan menatap tajam ke arah Jef. Kekesalan Yasir berimbas kepada Jef.


"Sudah tuan, perlengkapan tuan mulai dari pakaian dan lainnya sudah beres. Tapi, ada sedikit kendala tuan." Ucapnya gugup.


"Apa itu?" Yasir menggaruk-garuk kepalanya. Entah kenapa kepalanya rasanya gatal semua. Sepertinya Dia kutuan.


"Bandara di Kota Sibolga yang bernama Bandara Ferdinand Lumbantobing, tidak beroperasi 24 jam tuan. Jadi, kita tidak bisa berangkat malam ini. Tapi, kalau tuan mau ke Jakarta malam ini, kita bisa berangkat." Ucap Jef dengan gugup. Dia pasti kena sembur oleh Yasir, yang lagi sensitif.


"Aku mau ke Kota Sibolga, bukan mau ke Jakarta." Ucap Yasir kesal. Dia pun melempar bantal ke arah Jef. Yang langsung ditangkap Asisten Jef dan memeluknya.


"Kembalikan bantalnya!" seru Yasir dan menatap tajam ke arah Asisten Jef.


Dengan refleks karena terkejut mendengar suara Yasir. Jef melempar bantalnya dengan kuat dan tepat mengenai kepala Yasir.

__ADS_1


"Kau... Berani sekali melempar bantal ke kepalaku. Ku potong gajimu 50%." Melotot kepada Jef. Jef tidak mengambil hati kemarahan Yasir, Dia malah cengar-cengir.


Ya, Yasir satu tahun terakhir ini berubah menjadi sosok pemarah. Jangan ada sedikit pun tidak sesuai dengan keinginannya, maka Dia akan berang.


"Ayo kita berangkat sekarang." Ucap Yasir, Dia bergegas dari tempat tidurnya.


"Bos, ini masih pukul 11pm. Kalau kita berangkat sekarang. Bandara yang di Kota S belum beroperasi." Ucap Jef.


"Oh, begitu kah? Aku ingin cepat sampai ke Kota S." Yasir kembali mendudukkan bokongnya di kursi yang terdapat didekat ranjangnya.


"Bos, istrirahat dulu. Nanti kalau sudah saatnya berangkat, Aku bangunin Bos." Ucap Jef dengan hati-hati, Dia takut kena sembur lagi.


"Baiklah, kamu keluar sana!" ucap Yasir, Dia menggerakkan kepalanya menuju arah pintu kamar.


Jef pun pergi dari kamar Yasir dengan hati dongkol. Masih banyak yang ingin ditanyakannya, terkait tujuan Bosnya pulang ke tanah air. Tapi, karena mood Yasir sedang tidak baik. Dia pun tidak berani bertanya. Paling nanti Dia harus siap dengan segala perintah mendadak dari Yasir.


Sepeninggalan asistennya, Yasir mencoba menenangkan Dirinya. Dia yang masih duduk di kursi dekat ranjanganya meraih ponselnya di atas meja yang bisa dijangkau tangannya. Dia pun akhirnya kembali membuka akun sosmednya. Ingin mencari info mengenai Rili. Tapi, ternyata Rili sudah satu tahun terakhir tidak ada aktifitas apapun di sosmednya.


Tidak mendapati informasi apapun disosmed Rili. Akhirnya, Yasir memberanikan diri untuk menghubungi no ponsel Rili, dimana selama satu tahun ini, tidak pernah dihubunginya. Ternyata, no ponsel Rili tidak dapat dapat dihubungi. Yasir, terus saja mengulangi panggilan. Tetap jawabannya tidak dapat dihubungi.


Yasir kembali berteriak, sambil menjambak rambutnya. Sungguh, Dia merasa menyesal, kenapa dulu Dia tidak memaksa Rili, untuk ikut dengannya. Toh, Rival pria munafik itu, menceraikan Rili juga.


Masih dalam dunia yang sama, beda negara. Di Kota S waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Setelah selesai sholat Isya, Rili memasuki kamar Mamanya, Dia ingin mengecek apakah Valri sudah tidur apa belum?


Rili berjalan pelan ke arah Mamanya yang sedang menggendong, sambil memberi susu formula kepada Valri. "Apa Dia sudah tertidur Ma?" Rili mengelus-elus pelan kepala Valri dengan sayangnya.


"Sudah, jangan dicium-ciumin lagi." Mama Rili menjauhkan kepala Rili dari wajah Valri yang masih digendong Mamanya , Rili terus saja menciumi Valri.


"Malam ini Valri, tidur sama Mama aja. Udah kamu, keluar sana temani Nak Ruslan. Masak Ayahmu terus yang diapelin Nak Ruslan. Kamunya selalu anggurin Dia." Mama Rili mendorong tubuh Rili keluar dari kamar.


Rili yang keluar dari kamar Mamanya, malah masuk ke kamarnya sendiri. Entah kenapa sedikitpun Dia tidak tertarik untuk ngobrol dengan Ruslan.


"Siapa suruh tetap ngotot datang ngapelin, tadi di Hotel sudah saya bilang, lagi kurang enak badan dan tidak menerima tamu. Dasar laki-laki semuanya sama. Sebelum dapat, pasti ngotot sekali, merasa tertantang untuk mendapatkan. Setelah dapat, pasti berubah." Gumam Rili dalam hati. Dia pun membaringkan tubuhnya di ranjang empuknya yang beralaskan seprey motif polkadot berwarna pink.


Matanya langsung berkaca-kaca. Dia tidak menyangka akan menjadi janda. Dia harus menebalkan kupingnya, karena dimana-mana janda selalu menjadi perbincangan dan tingkah lakunya akan menjadi sorotan.


Rival yang meninggalkannya dan menceraikannya, seolah biasa saja dirasakannya. Terlalu sakit, terlalu kejam, Sehingga Dia menjadi kebal. Apalagi, sebelumnya hatinya sudah pernah mengalami kejadian yang sama, ditinggalkan secara mendadak oleh Yasir.


Rili seolah pasrah, Dia hanya ingin mengikuti kata hatinya sekarang. Hatinya mengatakan belum siap untuk menjalin hubungan. Dia tidak akan mendengarkan ide-ide atau permintaan dari orang tuanya. Toh, semua permintaan orang tua nya sudah dilakukannya, hasilnya Dia malah menderita.


Tentunya, Yasir selalu ada disetiap helaan nafasnya. Dia selalu berdoa agar Yasir bahagia. Yasir berhak mendapatkan wanita yang lebih baik, tentunya bukan janda. Dia tidak percaya diri mendampingi Yasir. Entah sampai kapan Dia akan menyendiri, Dia pun tidak tahu. Yang jelas saat ini, Dia ingin sendiri.

__ADS_1


Tidak bisa dipungkiri, saat-saat tertentu hatinya merasakan sakit yang luar biasa, atas perjalanan kisah hidupnya Yang yang tidak sesuai dengan ekspektasi.


Menyedihkan rasanya mengetahui dirimu sudah berusaha semaksimal mungkin, namun semuanya masih belum cukup. Merasakan penyesalan, perasaan di mana Aku berada di antara kasihan pada diri sendiri dan membenci diriku sendiri, tentang seluruh hidupku. Dalam hidup ini pasti ada penyesalan.


Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Berharap sepenuh hati seikhlas jiwa, yang ada hanyalah kekecewaan.


Impian tak dapat diraih


Berpisah dengan yang dikasihi, ingin merelakan tapi tak sanggup.


Ingin melupakan tapi selalu terikat dalam hati.


đź’–đź’–đź’–


Tepat pukul 1 dini hari, Yasir dan Jef asistennya, sudah lepas landas dari Canberra Airport. Yasir nampak tidak tenang dalam kabin jet pribadinya. Dia acap kali mengusap wajah dan mengacak-acak rambutnya. Terkadang Dia menarik napas dengan kasar, sebagai ekspresi dirinya yang lagi emosional.


Kedua kelopak matanya, seperti sedang disanggah batang korek api. Melotot dan tidak bisa terpejam. Disaat Dia mencoba menutup matanya. Maka wajah Rili yang menyedihkan dilihat olehnya. Sehingga Dia tidak berani menutup matanya. Sedangkan Jef sudah terbang ke alam mimpi.


Braaakk.. Dugghhh... Terdengar suara goncangan pesawat jet yang ditumpangi oleh Yasir. Ternyata jet yang ditumpanginya mengalami Turbulensi. Yasir langsung panik.


"Apa yang terjadi Pilot Kapten?" Teriak Yasir. Sedangkan Asisten Jef langsung terbangun, karena kabin pesawat jet yang mereka tumpangi bergoyang.


"Tiba-tiba cuaca memburuk tuan. Banyak awam cumulonimbus. Awan ini bisa menjadi ancaman tuan, kita harus berbalik arah dan dari data rute, kondisi cuaca yang baik, kita harus landing di bandara Polonia." Jawab Co- Pilot dengan tenang.


"Kita kan sudah dekat, balik lagi ke Bandara Polonia, akan mengulur waktu. Apa tidak bisa diterobos saja awan Cumulonimbus itu?" Yasir sudah mulai kesal, perjalanan yang direncanakannya tidak sesuai dengan ekspektasi. Dia ingin jam 8 pagi harus sampai di kota S.


Pilot, co-pilot, pramugari dan engineer serta Asisten Jef, dibuat terkejut dan hampir saja terkena serangan jantung, mendengar ucapan Yasir. Sempat Yasir memaksakan kehendaknya menerobos awan yang berbahaya itu, maka tamatlah riwayat mereka.


"Kenapa diam, terobos! Saya memilih kamu menjadi pilot saya. Karena, kamu sudah profesional. Kamu harus bisa mengendalikan pesawat dalam kondisi cuaca buruk sekalipun. Bukannya itu motto kamu. Makanya kamu terpilih menjadi pilot saya." Ucap Yasir dengan tegas dan nada memerintah.


"Tuan, saya bisa mengendalikan pesawat jet ini dari turbulensi berat sekalipun, asalkan posisi cuaca buruknya,"


"Terobos....!" Teriak Yasir. Dia memotong penjelasan pilot.


Bersambung...


Hadeuhhh.... Yasir, kalau mau mati. Mati aja sendiri. Jangan ajak orang mati berjemaah dong.


Hanya vote, like, coment yang dapat saya harapkan dari kakak2 cantik semua.


NB. : Bandara Polonia yang dikota Medan tahun 2010 masih beroperasi ya. Tapi kalau sekarang bandara sudah pindah dan berganti nama menjadi Kualanamu

__ADS_1


__ADS_2