
Rival beranjak dari tempat duduknya, tapi Mely dengan cepat menarik lengan Rival. Hingga kini Rival kembali terjatuh di atas tubuh Mely. Keduanya bersitatap penuh dengan gejolak nafsu membara, dada keduanya naik turun karena debaran jantung yang semakin cepat saja.
Rival menghela nafas berat, mencoba kembali bangkit dari atas tubuh Mely. Dimana tangannya bertumpu di sofa. Tapi, Mely malah memeluk Rival dengan cepat. "Biarkan seperti ini ya sayang!" ucap Mely memeluk Rival dengan eratnya. Tubuh Rival yang menimpanya seolah tidak berat dirasa Mely.
Rival Berontak, mencoba melepas pelukan Mely. "Jangan begini, ini di kantor. Nanti ada orang yang masuk bagaimana? kita itu harus punya adab." Ucap Rival tegas dan serius menatap wajah Mely. Mendengar ucapan Pak Ustadz Rival itu, akhirnya Mely melepas belitan tangannya dari tubuh Rival. Dia malu sekaligus merasa tidak diinginkan.
Rival duduk kembali di sofa dengan frustasinya. Dia bukannya tidak senang, Mely agresif, tapi Mely sungguh tidak tahu kondisi tubuhnya sekarang yang mulai dari semalam menahan diri. Apalagi Mely menstruasi. Main solo membuat Rival merasa berdosa, meminta Mely untuk membantunya pelepasan, rasanya malu sekali. Secara mereka kan baru dekat dua hari ini secara intim.
Melihat suaminya tidak menyukai sikapnya. Mely bangkit dan duduk disebelah Rival, Dia merapikan pakaiannya. Dimana kancing kemeja ketatnya sudah pada lepas.
Mereka lama terdiam, Rival merasa bersalah juga kepada Mely. Sikapnya yang menolak sentuhan Mely, membuat Mely jadi sedikit segan kepada suaminya itu.
"Kenapa datang ke kantor? bukannya tadi katanya mau ke kampus?" ujar Rival lembut dan menatap Mely yang berusaha menutupi dadanya dengan kemeja ketatnya.
"Dosen pembimbingku tidak datang, jadi Aku ke salon dan berbelanja." Ucap Mely dan tidak mau menatap suaminya itu. Dia sangat malu, merasa tidak diinginkan.
"Bukannya perut Adek katanya sakit, tapi kenapa seolah-olah tidak terjadi apa-apa." Rival masih menatap lekat wajah Mely, walau Mely tidak mau melihat ke arahnya.
"Masih sakit, tapi tidak sakit sekali. Aku masih bisa beraktivitas." Tiba-tiba mata Mely berkaca-kaca. Dia menyayangka sikapnya yang selalu membuatnya malu sendiri. Dia juga tidak mau begini. Tapi, entahlah. Dia pun heran dengan dirinya. Dia ingin sekali mempraktekkan ilmu yang didapatnya untuk membahagiakan Rival.
Setelah mendengar penjelasan Mely, Rival masuk ke dalam kamar mandi. Dia mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Menghilangkan panas didalam dirinya, karena menahan birahi. Otaknya berfikir keras, sanggup kah Dia bertahan dengan sikap Mely yang terus menggodanya? Entahlah, semoga Dia bisa. Kalau Dia tidak bisa pasti Dia akan mimpi basah.
Saat sedang asyik menikmati guyuran air dibawah shower. Terdengar suara ketukan yang keras dari luar pintu kamar mandi. Siapa lagi kalau bukan Mely.
Sungguh Rival mengumpat kesal, mau apalagi istri resenya itu.
"Bang, buka dong." Aku mau mandi juga, gerah nih." Teriaknya sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Sabar, antri. Selesai Abang baru kamunya mandi." Ucap Rival dari dalam kamar mandi. Dia masih memijat-mijat kepalanya dibawah guyuran air.
Tapi Mely yang keras kepala itu bukannya mendengarkan ucapan Rival, Dia terus menggedor pintu kamar mandi. Sehingga Rival pun akan mengalah. Dia dengan cepat menyelesaikan acara mandinya. Padahal Dia masih menikmati guyuran air menerpa tubuhnya.
Dia membelit handuk di pinggangnya dan handuk kecil berada menggantung dileher kokohnya. Dia membuka pintu kamar mandi. Mendapati Mely sudah berdiri diambang pintu, dengan hanya menggunakan dalaman.
Mata Rival melotot penuh melihat tubuh indah dihadapannya. Bagian sensitif dibawah sana langsung bereaksi, Dia pun menelan ludahnya secara kasar. Sambil memandangi istrinya itu. Otak Rival berfikir, apa sebenarnya yang ada di otak istrinya ini. Kenapa kelakuannya aneh dan seolah ingin membuat Rival sebagai bahan prakteknya.
"Apa aslinya Mely seperti ini? apa Dia sudah terjerumus dalam pergaulan bebas? karena dari cerita Pak Ali, Mely itu gaya hidupnya terlalu bebas. Suka kumpul dengan teman prianya, mendaki Gunung, treking, hiking bahkan tour motor." Rival membathin, masih berada di ambang pintu.
"Apa Mely sebenarnya sudah rusak, sehingga Pak Ali menyodorkan putrinya ini kepadanya? tidak masuk akal saja, orang kaya mau menikahkan putrinya dengan pria seperti saya." Rival terus saja membathin, sambil menatap lekat Mely yang berdiri dihadapannya.
Tapi semuanya sudah terjadi, Dia juga seorang duda. Biarlah kekurangan kami ini saling melengkapi. Begitulah kira-kira pemikiran Rival saat ini.
Mely tersenyum melihat Rival yang bengong itu. Dia mendorong tubuh Rival masuk kembali ke dalam kamar mandi. Rival hampir saja terjatuh, karena Mely mendoronganya sangat kuat.
Mely pun melancarkan aksinya bibir, lidah dan tangannya bekerja keras memberikan kenikmatan kepada suaminya itu. Yang tanpa Rival sadari Dia membalas dan sangat menikmati permainan dari istrinya itu. Hingga Dia pun pelepasan. Yang membuat Mely bersorak riang dalam hati.
Setelah bersih-bersih kini Rival nampak memakai pakaiannya yang dikenakan tadi pagi.
Mely keluar dari dalam kamar mandi, dengan tersenyum kemenangan. Dia sangat bangga dengan prestasi yang dilakukannya hari ini. Karena Dia bisa membuat Rival kejang-kejang. Syukur tidak struk.
Sedangkan Rival malu-malu untuk menatap istrinya itu. Perlakuan Mely membuatnya begitu bahagia. Rival nampak sedang berdiri disisi meja kerjanya.
"Sayang, tolong ambilkan pakaian ku dong di dalam mobil." Ucap Mely dengan muka bersemu merah. Pasalnya pikirannya masih membekas, kegiatan mereka di dalam kamar mandi.
Rival mengangguk, tidak berani menatap Mely. Rival tidak tahu lagi cara mengekspresikan perasaannya sekarang. Dia senang, mungkin karena sudah pelepasan, ditambah baru kali ini Dia punya pengalaman bagian sensitifnya di manjain.
__ADS_1
Rival dengan cepat keluar ruangan kerjanya, masuk ke dalam lift menuju basment. Dia mencari mobil Mely yang terparkir. Setelah menemukannya. Dia pun membuka handle pintu dan membawa semua paper bag yang ada di dalam mobil itu. Ada delapan paper bag.
Saat memasuki ruang kerjanya, Dia tidak melihat Mely disitu. Dia pun memanggil istrinya itu. Mely menyahut dari dalam kamar mandi. Dia ternyata masuk lagi ke kamar mandi, karena kewanitaannya sudah banjir darah haid.
"Adek kenapa masuk lagi ke dalam kamar mandi?" ucap Rival masih memegang paper bag
"Bersih-bersih, Sayang kemarikan paperbag warna coklat itu dan warna putih serta yang warna hijau." Ucap Mely dengan menjulurkan tangannya. Bersiap menerima paper bag dari
tangan Rival.
Mely pun berpakaian lengkap di dalam kamar mandi. Sedangkan Rival, turun ke bawah Dia akan sholat Dzuhur di mushollah kantornya saja. Berlama-lama di ruangan itu. Mely ada saja tingkahnya yang membuat Rival tidak bisa menolak.
Mely keluar dari kamar mandi, Dia tidak melihat Rival disitu. Tapi, Dia tidak mencarinya. Dia menunggu Rival dengan duduk di sofa. tiga puluh puluh menit berlalu Rival pun masuk kembali ke ruang kerjanya dengan membawa dua pacs nasi kotak.
Rival yang biasa hidup miskin, makan nasi kotak dengan menu rendang Padang sudah sangat mantap menurutnya.
Dia pun meletakkan dua kotak berisi nasi Padang itu di atas meja. Rival duduk dihadapan Mely. Menyodorkan satu kotak nasi kepada Mely. Kemudian Rival keluar lagi menuju pantry, mengambil gelas dan air minum.
Mely heran melihat suaminya itu, mesti kali Dia melakukan sendiri. Kan bisa minta tolong sama sekretaris atau OB.
Mereka makan dalam senyap. Tapi saling curi pandang. Kegiatan mereka tadi membuat mereka jadi salah tingkah.
TBC
Mampir juga ke novel ku yang berjudul
Dipaksa menikahi Pariban
__ADS_1