Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Anak Orang Hilang


__ADS_3

Rival yang kehilangan jejak Mely tersebut, tetap berusaha mencari keberadaan istrinya itu. Dia menyusuri setiap lorong pasar. Mulai dari lorong penjual pakaian, acesoris, bahkan kuliner. Tapi Dia tidak kunjung melihat istrinya itu.


Sudah lebih dari satu jam Rival mondar mandir, hilir mudik mencari Mely. Bahkan Dia kembali berlari ke tempat patung Sigale-gale, mencari Mely ke setiap sudut, tapi Mely tidak ada. Dengan napas yang tersengal-sengal Rival Kemudian kembali berlari ke tempat Makam Raja Sibutarbutar, berharap Dia menemukan istrinya itu di tempat itu, tapi tidak ada.


Rival semakin takut, was-was, bingung, dan sangat mengkhawatirkan Mely. Rival menatap nanar keramaian di hadapannya. Dia sudah lelah, kepalanya juga terasa pusing. Dia mendudukkan bokongnya di bangku tempat mereka duduk sebelum bertengkar.


Saking paniknya, Dia selama satu jam berlari-lari mencari Mely dan melupakan untuk menghubungi nya.


"Aku akan menelponnya, siapa tahu Dia sekarang sudah bersama Ayah." Dengan tangan sedikit gemetar, Rival mengambil ponsel dari tas selempangnya yang ukurannya kecil itu. Dengan terburu-buru Dia mencari kontak istrinya itu dan Dia pun melakukan panggilan suara.


Sambungan telepon masuk, tapi tidak diangkat. Rival mencoba untuk kedua kalinya dan kali ini, no ponsel Mely sudah tidak aktif.


Rival prustasi, dan memukul bangku beton yang didudukinya. Dia mengusap wajahnya kasar. Sungguh Dia menggerutu dalam hati. Dia sangat kesal dengan istrinya itu yang selalu membuat ulah dan membuat hidup Rival tidak tenang.


Rival berusaha menenangkan dirinya, dengan berfikir positif. Mungkin Mely sedang ingin menyendiri. Sehingga Dia mematikan ponselnya.


Rival menarik napas dalam, Dia melakukan itu berkali-kali, hingga Dia merasa sedikit tenang. Dia pun mencoba memejamkan kedua kelopak matanya. Kepalanya sudah terasa pusing saat ini.


Baru saja mencoba untuk Rileks, ponsel Rival berdering. Dia sangat senang, Dia mengira Mely menghubunginya. Dengan tergesa-gesa Dia merogoh ponselnya dari tas selempangnya. Dia melihat di layar ponselnya Pak Ali memanggil.


Rival berusaha untuk tenang dan mengangkat telepon dari Pak Ali.


"Assalamualaikum Aa..yah." Ucapnya dengan rasa takut dan sedikit cemas. Bagaimana kalau Pak Ali menanyakan Mely. Tidak mungkin kan Rival mengatakan kalau Mely sedang tidak bersamanya.


"Walaikumsalam, kalian di mana? kami sudah di tepi dermaga. Ini sudah sore, kita pulang saja. Cuaca juga sepertinya tiba-tiba mendung. Sepertinya akan terjadi hujan deras." Ucap Pak Ali dengan datar. Dia juga merasa perjalanan hari ini tidak memuaskan. Soalnya tadi cuaca sangat cerah, mereka belum mengelilingi pulau Samosir. Mereka hanya baru bisa berkunjung ke rumah saudara istrinya itu.


Sudah belasan tahun, istrinya itu tidak berkunjung ke rumah keluarganya itu. Karena ada sedikit perselisihan dan kesalahpahaman. Dan kunjungan kali ini semuanya membaik.

__ADS_1


"Iya Ayah." Panggilan pun terputus. Rival dengan langkah berat dan perasaan takut berjalan menuju Dermaga. Jelas saja, Dia sudah melihat semua anggota keluarga disitu berdiri menunggunya, kecuali Mely.


Deg...


Untuk kali ini Rival tidak bisa berfikiran positif lagi. Sepertinya istrinya itu hilang.


"Mana Mely Abang Rival?" tanya Mamanya Mely. Ya, Mamanya Mely tidak mau memanggil Nak kepada Rival, secara Mamanya Mely kan masih muda.


Rival menampilkan wajah bingungnya, dengan dahi yang mengkerut. Yang membuat semua orang bertanya-tanya.


"Apa kalian bertengkar lagi?" Mama Mely kembali bertanya dengan nada khawatir. Dia yakin pasti pasangan suami istri yang terpaut usia 15 tahun ini bertengkar lagi.


Rival mengangguk.


"Jadi ke mana Dia?" kali ini Pak Ali yang membuka suara.


Pak Ali dan istrinya serta Sari dibuat terkejut dengan penjelasan Rival. Pak Ali kemudian menghubungi no ponsel Mely. Hasilnya tetap sama dengan yang dilakukan Rival. No ponsel Mely tidak aktif.


Mamanya Mely langsung kalut dan takut, Dia langsung menangis dan memohon-mohon kepada yang lain untuk kembali mencari putri semata wayangnya itu. Yang selalu buat masalah. Tapi, bagaimana pun Dia itu putrinya, tentu Dia sangat mengkhawatirkannya.


"Mely itu bukan anak kecil Ma. Dia itu bahkan anak pecinta alam. Ini nih yang Ayah sangat tidak suka dengan kelakuan anak satu itu. Dari dulu, tahunya buat masalah saja. Dia selalu berprilaku sesuka hatinya. Tidak pernah berpikir sebelum bertindak. Ayo pulang, Dia juga sering menghilang, nanti juga pulang dengan sendirinya." Emosi Pak Ali kembali terpancing, Dia memang sudah sangat putus asa dengan putrinya itu.


Dia merasa sedikit tenang, disaat kedatangan Rival dikehidupan Mely. Banyak perubahan dilihatnya dalam diri Mely. Tapi, Dia juga kasihan kepada Rival. Sampai kapan Rival akan sabar menghadapi istri seperti itu.


"Tidak usah mencari Dia. Biarkan Dia menghilang saja. Hidup pun tidak ada gunanya. Tahunya buat susah orang saja." Pak Ali benar-benar emosi.


"Ayah...!" teriak Mamanya Mely, kini air mata sudah membanjiri pipi putihnya yang mulus. Tega sekali suaminya itu mengatakan itu.

__ADS_1


"Setelah Ayah pikir-pikir, akan lebih baik Rival menceraikan Mely. Aku tidak mau, Rival akan setres mempunyai istri seperti Mely. Dia sungguh tidak bisa dibina, biarkan Dia binasa saja. Ayo kita naik ke kapal. Kapalnya sudah mau berangkat." Ucap Pak Ali dengan emosinya. Dia pun melangkahkan kakinya ke dalam kapal. Sedangkan Mama Mely terduduk lemas di tepi Dermaga, dimana orang banyak lalu lalang masuk ke dalam kapal.


Sari yang melihat tontonan itu merasa sedih sekaligus bahagia, raut wajahnya langsung sumringah, disaat Dia mengingat ucapan Pak Ali, untuk memisahkan Mely dari Rival.


"Aku ada kesempatan untuk mendekati Abang Rival sayang." Gumamnya dalam hati. Sambil tersenyum tidak jelas dan menggoyang-goyang nadanya. Tangannya saling terpaut, dan Dia menatap ke atas, seolah Dia ingin berbicara dengan Sang Pencipta. Dengan mengucapkan terima kasih.


..."Aku yakin, Abang Rival adalah jodohku." Gumam Sari dalam hati. Dia cangar cengir di samping Mamanya Mely yang masih menangis....


Melihat tingkah Sari, Rival heran. Tapi, Dia tidak menanggapinya. Dia membantu mertuanya itu untuk tenang. Mama Mely memeluk Rival dan mereka pun berpelukan dalam keadaan terduduk.


"Sabar Ma, tenang. Mely itu kuat dan pintar. Dia pasti ketemu. Kita cari lagi Dia sekarang." Rival mengelus pelan punggung Mama Mertuanya. Dia harus menampakkan sikap tenang, agar Mama mertuanya juga tenang. Walau sebenarnya Rival sangat mengkhawatirkan istri liarnya itu.


"Nyonya, tuan Rival, Sari. Ayo naik, tuan besar memanggil. Kapal akan segera berangkat." Pak Budi bicara dengan keras dari kapal.


Rival hanya melihat Pak Budi bicara, tanpa menanggapinya. Tidak mungkin, Dia tega meninggalkan tempat itu sebelum Mely ketemu.


Pak Budi masuk ke dalam menemui majikannya. Pak Budi mengatakan istri dan Rival tidak mau ikut pulang ke Parapat. Sehingga mau tidak mau Pak Ali keluar lagi dari kapal. Dan memerintahkan supirnya itu kembali mengeluarkan mobil mereka dari dalam kapal.


Melihat suaminya itu keluar, Mama Mely langsung berhambur menghampiri nya dan memeluknya. Dia memohon-mohon kepada suaminya itu, agar Mely kembali dicari keberadaannya.


"Ayah, kita cari Mely ya?" ucap istrinya itu dengan mengibah. Pak Ali pun mengangguk.


Mereka Kembali masuk ke pusat pasar Tomok, untuk mencari Mely. Mereka berpencar. Dimana Pak Ali bersama istri nya. Sari dan Pak Budi satu kelompok, sedangkan Rival sendirian.


TBC


Mohon beri like coment positif dan Vote bunga dan kopinya kak. Poin rekomendasi juga boleh.❤️😍

__ADS_1


__ADS_2