
Dua minggu sudah Rival dirawat di Rumah sakit. Operasi nya pun sukses, Dokter menjamin dalam enam bulan, Rival sudah bisa berjalan normal. Pak Ali, istrinya dan Mely setiap hari selalu menemaninya di Rumah sakit. Walau terkadang keseringan Meli dan Mamanya yang menjaganya.
Selama di rumah sakit, disaat Pak Ali datang menjeguk. Dia pasti selalu menanyakan semua tentang Rival. Tempat tinggalnya lebih detail dimana, bagaimana kehidupannya waktu kecil.
Jawaban yang diberikan Rival membuat Pak Ali begitu penasaran dengan jati diri Rival, Sehinnga Dia pun mentest DNA Rival secara diam-diam, dan hasilnya akan keluar hari ini.
“Terima kasih banyak ya Pak, kalian sekeluarga begitu baik kepadaku. Menemaniku di rumah sakit ini.” Ucap Rival dengan tersenyum, walau rasa sakit masih diirasakannya di kaki dan kepalanya.
“Bapak yang harus berterima kasih dan meminta maaf Nak Rival. Gara-gara istri liar mu itu, kamu jadi cidera.” Ucap Pak Ali berseloroh. Seloroh Pak Ali membuat Rival jadi sedih, dan dihantam merasa bersalah kepada Rili..
“Istri liar? Apa Pak Ali mengetahui bahwa Rili menjumpai Yasir di Hotel, sehingga Dia menyebut istriku liar? Tapi, mana mungkin Dia mengetahui tentang Rili.” Gumam Rival dalam hati. Dia benar-benar sudah lupa kalau pernah menikah dengan Mely di kantor Polisi.
“Istriku tidak liar Pak. Dia sangat baik. Aku sebagai suami yang tidak bisa membahagiakannya. Aku begitu banyak memberi luka kepadanya.” Ucap Rival dengan sedih. Matanya sudah berembun. Dia teringat Rili yang menangis dengan wajah babak belur di rumah Yasir. Karena dihajar Ibunya.
Pak Ali yang mendengar ucapan Rival dibuat tercengang. Ternyata Rival salah mengartikan ucapan Pak Ali. Pak Ali ingin membahas Mely. Sedangkan Rival mikirnya Pak Ali membahas istrinya Rili. Banyak tanda tanya dibenak Pak Ali mengenai Rival. Dia pun tidak ingin meluruskan maksudnya, sebenarnya Pak Ali ingin membahas Mely. Bukan istri sah nya. “Aku akan menyelidiki semua tentangmu.” Pak Ali membathin.
Percakapan keduanya pun terhenti disaat Pak Dokter datang memeriksa Rival.
“Bagaimana keadaannya Dokter?” tanya Pak Ali.
__ADS_1
“Keadaan Bapak Rival sangat banyak peningkatan. Sepertinya Bapak ini punya semangat untuk cepat sembuh. Kalau mau di rawat di rumah, sudah boleh Pak. Mau disini pun boleh juga.” Ucap Pak Dokter dengan tersenyum.
“Di rawat disini aja Pak Dokter. Berikan yang terbaik.” Ucap Pak Ali dan menatap ke arah Rival.
Rival keberatan dengan ucapan Pak Ali. Menginap di ruangan ini satu malamnya saja mungkin di atas dua jutaan. Kalau berlama-lama disini, sudah berapa banyak uang yang akan dikeluarkan. Rival tidak mau membebani Pak Ali. Yang nantinya membuat Rival tidak enakan.
“Kalau sudah boleh pulang, Aku ingin pulang Pak. Aku bosan di ruangan ini terus.” Ucap Rival, melihat ke arah Pak Ali.
Pak Ali melihat ke arah Dokter. “Menurut Dokter bagusan mana, Nak Rival dirawat disini atau di rawat di rumah?” Tanya Pak Ali.
“Sesuai dengan permintaan Bapak Rival sebaiknya di rawat di rumah saja Pak Ali. Perawat nanti kami tugaskan di rumah Pak Ali. Tapi, semua keputusan tergantung kalian.” Ucap Pak Dokter. Dia pun pamit dari ruangan tersebut.
Setelah kepergian Pak Dokter, Rival dengan segan meminta bantuan Pak Ali untuk membawanya ke kota S. Kota tempatnya Rili. Pak Ali setuju deanga permintan Rival. Rival sangat senang mendengar Pak Ali akan mengantarnya ke rumah mertuanya.
“Apa hasilnya sudah keluar Dokter?’ tanya Pak Ali, dengan perasaan harap-harap cemas. Setelah Dia mendudukkan bokongnya di kursi yang ada dihadapan Pak Dokter. Mana mungkin DNA Rival akan sama dengannya. Tapi, Dia sangat penasaran sekali. Soalnya wajah mereka itu sangat mirip. Walau sich kata orang kita punya 7 kembaran di dunia ini.
“Sudah Pak Ali, ini hasilnya.” Ucap Dokter tersenyum, sambil menyerahkan amplop berwarna putih kepada Pak Ali. Dengan perasaan tidak tenang dan menduga-duga, Pak Ali meraih amplop tersebut.
Dia melihat amplop yang ada ditangannya dengan hati berdebar-debar. Sepertinya hasil test DNA itu akan memberi pengaruh besar untuk hidupnya. Pak Ali kembali melihat Pak Dokter sebelum Dia membuka amplop yang berisi test DNA tersebut. Dengan tangan gemetar, Pak Ali membaca hasilnya yang mengatakan bahwa susuanan DNA yang terdapat dalam tubuhnya mempunyai kesamaan 99,9% dengan Rival. Jadi bisa disimpulkan Rival adalah darah dagingnya.
__ADS_1
Pak Ali tidak bisa menahan haru bahagianya, sehingga pria yang tidak pernah menangis dalam hidupnya itu, kini air matanya keluar bercucuran dari mata tua nya. Dia menatap Dokter dengan tersenyum, tapi air mata masih menetes di pipinya yang sudah mulai keriput itu.
Pak Dokter berjalan ke arahnya, dan memeluknya. Memberi pelukan hangat untuk penyemangat Pak ali, yang tidak percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Setelah kehilangan selama 31 tahun. Akhirnya kenyataan yang begitu mengejutkan, membuatnya begitu bersyukur.
Pak Ali keluar dari ruangan Dokter, melangkah lebar menuju ruangan Rival. Saat Dia masuk ke ruangan, ternyata istrinya dan putrinya sudah berada di ruangan itu. Dimana istrinya nampak menyuapi Rival makan siang. Sedangkan Mely duduk di sofa, sibuk dengan gadgetnya.
Pak Ali berjalan mendekat ke arah Rival dengan mata berkaca-kaca. Mata habis menangis nampak jelas di wajah Pak Ali. Istrinya yang melihat ekspresi suaminya yang tidak biasa itu pun dibuat terheran-heran.
“Ayah kenapa? Ayah menangis?” tanya istrinya, Dia menatap lekat wajah suaminya itu. Tangan halusnya menyentuh pipi suaminya yang bengong dan mematung itu menatap wajah Rival yang tersenyum kepadanya. Ingin rasanya Pak Ali mengatakan bahwa Rival adalah anaknya. Tapi, Dia takut Rival tidak percaya dan akhirnya menimbulkan rasa tidak enak. Akhirnya Dia memutuskan untuk menyimpan rahasia ini.
Pak Ali akan menyewa jasa orang untuk menyelidiki kehidupan Rival di kota G. sampai dengan istrinya. Niat itu sudah bulat. Lama mematung dihadapan Rival, karena Pak Ali sibuk dengan pikiran-pikirannya. Membuat penghuni ruangan itu terheran-heran dengan bahasa tubuh yang ditampilkan Pak Ali. Mely yang tadinya sibuk memainkan ponselnya, akhirnya mengejutkan Ayahnya yang bengong menatap ke arah Rival, dengan merangkulnya.
“Ayah kenapa? Kenapa menatap Abang Rival seperti itu?” ucap Mely sambil mendekatkan pipinya ke pipi Ayahnya itu. Dia juga menggoyang-goyang tubuh Ayahnya yang mematung itu.
Tiba-tiba saja, Pak Ali memeluk Rival yang masih terbaring itu. Sehinnga rangkulan Mely terlepas. Rival yang langsung dapat serangan pelukan itu dibuat terkejut. Dia juga mrasa bahagia, Pak Ali orang kaya sikapnya begitu baik kepadanya.
“Kamu anakku, kamu anakku… Anakku…!" ucap Pak Ali Histeris yang membuat penghuni ruangan itu heran dan sangat terkejut.
TbC
__ADS_1
Mampir juga ke novel ku yang tidak kalah serunya say yang berjudul
Dipaksa menikahi Pariban