
"Aku harus menghubunginya. Kami harus bertemu.!" Yasir menekan tombol memanggil.
Belum satu detik memanggil no Rili, Yasir langsung mematikan ponselnya. Jantungnya dag dig dug......Dia tidak tenang. Bahkan tangannya ikut gemetar. Sehingga ponsel ditangannya lepas, dan dengan cepat ditangkapnya, tetapi ponselnya yang mendarat ditangannya memantul lagi dan akhirnya jatuh dilantai. Syukur ponselnya pakai safety yang canggih sehingga tidak rusak.
"Telpon gak ya? Telepon gak ya?" Yasir mondar-mandir di dalam kamarnya.
Kegugupan yang dirasakan Yasir begitu luar biasa. Jantungnya terus saja berdebar-debar. Dia sangat takut, Rili tidak meresponnya dan lebih parah lagi Rili mengatakan tidak kenal. Pikiran-pikiran negatif itu, akhirnya membuatnya tidak berani menelpon Rili.
Kemarin Yasir ke kota PSP. Di kota itu ada Rumah Sakit khusus Penyakit dalam. Rival memeriksa keadaan saraf otak dan tulang belakangnya. Dokter mengatakan Dia sudah sembuh total dan sudah diperbolehkan bebas menggunakan ponsel.
Yasir akhirnya terduduk dibibir tempat tidur. Pagi ini kerinduan yang dipendamnya terhadap Rili tidak bisa dibendung lagi. "Berdosakah merindukan istri orang?" Yasir berbicara sendiri sambil memandangi fotonya bersama Rili di galeri ponselnya.
"Aku sangat merindukanmu, senyumanmu, tingkah polosmu. Aku suka caramu menepis tanganku yang mulai jahil untuk memelukmu, membelaimu. Ternyata hanya diriku yang begitu besarnya mencintaimu.
"16 tahun bukan waktu yang singkat. Sampai sekarang pun dihati ini hanya namamu. 15 tahun mencari keberadaanmu, hampir membuatku putus asa. Dan pada akhirnya tetap, kamu tidak bisa kumiliki." Yasir berbicara sendiri dengan mata yang berkaca-kaca. Dia memandangi dan mengusap lembut layar ponselnya yang menampakkan fotonya bersama Rili.
Saat memandangi fotonya bersama Rili, ada panggilan masuk ke ponselnya. "Kenapa lagi Maura menelpon. Bukannya Dia sudah pulang ke Jakarta." Ucap Yasir dan mengabaikan panggilan mantan tunangannya tersebut.
Maura terus saja menghubungi no Yasir, dan akhirnya Yasir pun menerima panggilannya.
"Ada apa?" Jawab Yasir dengan malasnya.
"Jam berapa Abang mau ke Perkebunan?"
"Jam 12 siang."
"Aku ingin nebeng sama Abang. Aku juga di kota PSP sekarang, tempat bibi."
Rival diam, Dia malas berkomunikasi dengan Maura.
"Abang Yasir, kamu dengar kan? Aku ingin ikut Abang ke perkebunan. Ayah juga disitukan? Nanti siang ada pertemuan dengan Dewan Komisaris independen kan?" tanya Maura dengan genitnya.
"Dari mana Maura tahu, kalau nanti ada Rapat para Dewan Komisaris. Apa paman mengatakannya?" gumam Yasir dalam hati.
"Bang... Yasir!"
"Iya,"
"Nanti Abang jemput ke rumah bibi. Sekalian bilang sama bibi disiapkan buah Salak Sibakkua 5 karung besar." Ucap Rival.
"Banyak banget itu salak, Abang mau jual salak?"
"Iya." Jawab Yasir malas. Dia pun langsung mematikan panggilan suara dari Maura.
"Dasar, udah punya banyak uang pun, masih mau bisnis salak." Ucap Maura kesal, karena telponnya dimatikan secara sepihak.
🌻🌻🌻
"Rili... Rili.... kamu dimana?" ucap Bounya yang baru datang dari rumah Mila putrinya.
Mendengar suara Bounya. Rili langsung ketakutan. Dug.... dug... dug... tangannya dingin dan tubuhnya gemetar.
"****** Aku, Ya Allah..... Tolong lindungi Aku. Di rumah ini hanya kami berdua. Amangboru pun sedang berkunjung ke rumah sanak famili dan hari Jumat baru pulang." Ucap Rili dengan perasaan was-was.
"Rili..."
"Iya Bou." Rili sudah keluar dari kamar dan menghampiri Bounya di dapur.
"Bou mau ke sawah. Nanti antarkan makan siang Bou. Kamu masak ikan ini. Bou tidak mau makan telor dadar yang sudah dingin." Bou Rili memberikan Ikan Mas hasil tembakan Amrin menantunya semalam.
"Iya Bou." Ucap Rili dengan tersenyum.
"Kamu masak Ikan Mas Arsik ya!"
"Ikan Mas Arsik itu seperti gulai Asam kan Bou?" tanya Rili. Dia harus bertanya. Karena Dia sangat takut melakukan kesalahan.
"Iya, Nanti kamu masukkan kacang panjang disitu. Potong panjang-panjang." Ucap Bou Rili, Dia kemudian mengisi air minum ke jerigen warna putih bervolume 2 liter dan berangkat ke sawah.
"Rival sudah melarang Ibunya kesawah, karena Rival merasa sudah mempunyai penghasilan yang besar. Jadi Rival ingin. Pekerjaan sawah sampai panen diupahkan saja. Tapi, Ibu Rival menolak. Dia ingin bersawah, agar tubuhnya sehat. karena setiap hari keluar keringat saat bekerja.
Saat Rili memasak ikan Arsiknya, ternyata Rival menelpon.
"Assalamualaikum.... ! Dek, Ini Abang akan berangkat. Abang minta Doanya? Hati-hati di rumah. Salam sama Ibu." Ucap Rival dengan lembutnya.
"Iya Bang!
Kadang Rili kagum melihat sifat suaminya yang baik dan tidak egois itu. "Dia pandai sekali mengambil hati." Gumam Rili Dan panggilanpun terputus.
__ADS_1
Di Sawah, Disaat Bou Rili asyik bekerja. Ternyata Dia kedatangan tamu yaitu Rayati.
Rayati sengaja datang hari ini, sesuai janjinya semalam kepada Ibu Rival.
Semalam Rayati menelpon Ibunya Rival. Dia mendapat informasi mengenai Rili. Dimana informasi yang didapatnya itu, mengatakan bahwa Rili wanita gampangan. Dia sering keluar masuk hotel dengan om-om. Bahkan Rayati punya bukti berupa foto Rili sedang berpelukan dan berciuman dengan lelaki.
Karena cerita Rayati itulah, makanya Mamanya Rival. Marah-marah tadi shubuh.
Rayati juga mengatakan bahwa kemungkinan besar Rili tidak perawan lagi, makanya Dia mau menikah dengan Rival pria yang tidak dikenalnya. Karena pria di kotanya tidak ada yang mau menikah dengan Rili.
🐝🐝🐝
Pertemuan Yasir dan rekan bisnisnya telah selesai, Dia tancap gas menuju Rumah bibinya Maura.
Satpam dan pembantu bibinya Maura, memasukkan 5 karung salak ke bagasi mobil Yasir Fortuner tersebut.
"Bang, kenapa tidak pakai supir. Abang baru sembuh. Berkendara selama dua jam nanti bisa membuat Abang lelah." Ucap Maura yang duduk di jok sebelah Yasir.
"Kalau Aku lelah, nanti kamu gantinya."
"Aahh... malas. Nanti pinggangku encok."
"Masih muda, sudah encok." Ucap Yasir dan menambah kecepatan menjadi 100km/jam.
"Aduuhhhh bang, jangan ngebut bawa mobilnya. Aku takut ini." Ucap Maura dengan wajah ketakutan sambil memegang handle grip.
"Kita harus ngebut, dalam waktu 90 menit kita harus sampai. Kalau tidak ngebut, Abang akan kehabisan waktu sholat Dzuhur."
"Kan sholat Dzuhur bisa di jalan. Itu banyak Mesjid di pinggir jalan." Ucap Maura masih dengan ketakutan.
"Kamu diam saja, Abang ada Rapat jam 2. Kita harus cepat sampai." Ucap Yasir dan menambah kecepatannya lagi.
🌹🌹🌹
Rili sudah selesai memasak dan beres-beres rumah. Setelah sholat Dzuhur Dia akan mengantar makam siang Bounya. Karena kata Bounya tadi bawa makan siangnya diantar setelah dapat waktu Dzuhur.
Dia mengayuh sepedanya menuju sawah. Setelah sampai dibatangan sawah yang lumayan luas. Rili memarkir sepedanya.
Dia berjalan menuju pondok. Betapa terkejutnya Rili melihat Bounya bersama seorang wanita duduk dipondok dengan muka begitu tegang dan menakutkan. Seolah-olah kedua wanita itu ingin menerkam Rili.
Rili tersenyum dan menyapa gadis yang duduk disebelah Bounya tersebut.
"Selamat siang kak. Bou, Ini makan siangnya." Ucap Rili dengan begitu ramahnya, senyumannya selalu mengembang. Dia ingin mengakrabkan diri dengan Bounya, walau hatinya was-was dan jantungnya berdegup kencang.
"Iya kak, perkenalan. Nama saya Rili." Rili mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan wanita yang tidak diketahuinya namanya itu.
Rayati menepis tangan Rili, yang membuat Rili terkejut dengan sikap sombong yang diperlihatkan Rayati.
"Saya ini calon istrinya Abang Rival, tapi gara-gara kegenitanmu itu. Dia terjebak dan akhirnya menikah denganmu." Ucapnya dengan menunjuk-nunjuk wajah Rili yang duduk disebelah Bounya.
Rili memutar lehernya dan memandang Bounya. Kemudian Dia memandang wanita yang bernama Rayati.
"Apa maksud kakak?"
"Jangan panggil Aku kakak. Aku bukan kakakmu. Wanita genit." Ucapnya sambil mentoel bahu Rili dengan tangannya.
"Bou?" Ucap Rili, Dia merasa nyawa sudah terancam saat ini. Jadi Dia ingin pembelaan dari mertuanya itu. Rili heran, kenapa Bounya diam saja, padahal Dia sudah dibentak-bentak orang lain.
"Apa maksudmu mengatakan aku seperti itu?" Ucap Rili. Rili memberanikan Diri. Biarlah hanya di depan mertuanya Dia lemah. Tapi, kalau orang memfitnahnya Dia tidak akan terima.
"Kamu itu wanita simpanannya om-om kan? kamu sering keluar masuk Hotel di kotamu. Alahh... nampak lugu, tapi udah bolong." Ucap Rayati merendah.
"Aku tidak mengerti dengan omong kosong mu. Bou, Aku pamit pulang ya?"
"He.... Jangan main kabur aja, setelah ketahuan belangnya. Bou sudah tahu kamu siapa sebenarnya. Kamu mau menikah dengan Abang Rival kan untuk menutupi aibmu yang sudah tidak perawan itu?
"Apa maksudmu?" tanya Rili. Matanya sudah mulai panas. Bounya pun diam saja melihatnya direndahkan.
"Ini.... ini... " Rayati mencampakkan foto ke wajah Rili. Rili mengambil foto tersebut yang jatuh di pahanya.
Ya, difoto itu ada foto dirinya bersama Yasir saat Rili ulang tahun. Dimana Yasir memaksa untuk mencium kening Rili. Ada 2 foto. Foto Yasir mencium kening Rili, foto Yasir memeluk Rili.
Tapi, difoto itu wajah Yasir tidak jelas nampak, apalagi foto waktu memeluk Rili. Karena posisi yang difoto. Wajah Yasir tertutup kepala Rili.
Tangan Rili gemetar melihat foto-foto tersebut. Jantungnya berdetak sangat cepat, Tangannya berkeringat. Dan pundaknya terasa panas.
"Masih mau mengelak? tidak bisa, itu bukti sudah ada. Orang kampung pun sudah tahu. Kamu itu hanya membuat Abang Rival sebagai tameng untuk menutupi aibmu.
"Asal kamu tahu, orang kampung juga sudah tahu bahwa kalian tidak pernah melakukan hubungan suami istri. Kamu tidak mau melakukannya, karena kamu takut ketahuan sama Abang Rival bahwa lubang mu itu sudah pernah dicoblos pria. Mungkin Lubang gua mu itu sudah banyak yang mencoblosnya." Ucap Rayati dengan begisnya Dia nampak mendekatkan wajahnya ke Rili.
__ADS_1
Plak.... Plak...!
Kedua pipi Rayati dapat hadiah panas dari tangan Rili. Dia tidak tahan dituduh seperti itu. Walau memang Dia bukan wanita suci seutuhnya. Yasir pernah mengerayangi tubuhnya.
"Berani sekali kau!" Ucap Rayati. sambil tangannya hendak membalas tamparan Rili. Tapi, tangannya ditahan oleh Rili.
"Kau boleh saja menghina diriku. Tapi, ucapan mu itu sudah keterlaluan." Rili menghempaskan tangan Rayati dengan kuatnya. Hingga Rayati hilang keseimbangan saat duduk di pondok.
Mertua Rili dibuat terkejut dengan sikap menantunya itu yang ternyata tidak selemah yang Dia pikirkan.
Rili berdiri, Dia ingin pergi dari pondok tersebut. Tapi langkahnya dihentikan Rayati. Rayati menahan tangan Rili.
"Tunggu sebentar, ku peringatkan kamu. Setelah kamu pergi dari kampung ini. Maka jangan pernah kamu datang lagi ke sini. Abang Rival itu milikku." Ucap Rayati dengan menunjuk-nunjuk wajah Rili.
Rili menangkap jari dan tangan Rayati yang menunjuk-nunjuknya dan menghempaskannya.
"Kata-kata yang kamu ucapkan kepada saya, itu pantasnya kepadamu." Ucap Rili dan berbalik badan
Bruugghhh bassss...
Tubuh Rili didorong Rayati dengan kuatnya. Sehingga Rili terjatuh ke dalam sawah. Dimana padinya baru 3 Minggu ditanam.
Rili terjatuh dengan posisi tengkurap. Wajah, dan badannya penuh dengan lumpur.
"Hahahaha... Ma*mpus kau. Berani kamu melawanku." Ucap Rayati sambil tertawa kuat.
Bounya merasa sok, Dia bingung harus berbuat apa. Akhirnya Dia hanya menonton saja.
Rili mengepal tangannya dengan geram. Dia bangkit, berjalan ke arah Rayati. Dia membuat sikap seolah tidak melawan. Karena kalau Dia langsung berontak saat ingin berdiri. Pasti Rayati akan menyiapkan ancang-ancang untuk membela dirinya.
Rili sudah berdiri dibatangan sawah, dengan baju yang kotor penuh lumpur. Bahkan wajahnya sudah bermasker lumpur.
Saat Rayati menertawakannya yang terlihat lucu, karena wajah sudah ditutupi lumpur.
Bruggghhhh... bassss...... bass ...plakkk... PLAAkkkkkk...
Dengan membabi buta Rili menaiki tubuh Rayati yang sudah terjatuh dalam posisi tengkurap di sawah. Rili menarik kunciran rambut Rayati dan menghempaskan wajah Rayati ke lumpur tersebut. Rili juga menampar wajah Rayati bagian samping.
Rayati melawan dan berbalik. Akhirnya pertengkaran pun terjadi di sawah Ibunya Rival, mereka berdua bergulat didalam disawah tersebut. Berguling kesana kemari, cambak-cambakan rambut, tendang menendang. Perlawanan terakhir dipegang kendali oleh Rili.
Dalam posisi tengkurap. Rili menarik kedua tangan Rayati kebelakang. Dia masih duduk dipunggung Rayati.
"Jangan macam-macam, Saya bisa melaporkan ucapanmu itu, atas tuduhan pencemaran nama baik." Ucap Rili dan Dia menarik keras tangan Rayati. Sehingga Rayati meringis kesakitan. Kemungkinan tangannya Terkilir.
Rili keluar dari sawah, tubuhnya semua penuh dengan lumpur. Hanya matanya saja yang tidak kena lumpur. Rili melihat ke arah mertuanya yang hanya diam menyaksikan pertengkaran tersebut.
Dengan tubuh yang penuh dengan lumpur, Rili mengayuh sepedanya. Dia menangis histeris dan berteriak sekuat-kuatnya di batangan sawah yang bisa dilalui sepeda tersebut.
"Berlama-lama disini Aku bisa gila....! Ma, mama.... putrimu ini sudah menjadi wanita brutal. Seumur hidup aku tidak pernah berkelahi." Ucapnya sambil terus menangis diatas sepedanya.
Sesekali Dia hendak terjatuh ke parit
sawah karena Dia tidak konsentrasi mengendarai sepedanya.
Tangisan Rili makin kencang, Dia teringat kata-kata wanita yang mengaku calon istrinya Rival. "Iya, Aku memang wanita kotor. Tubuh ini tidak suci." Ucapnya sambil menangis.
Syukur jalan mau ke sawah sepi, karena masih siang. Orang-orang belum pulang dari sawah. Tapi, orang-orang yang melihat Rili melintas dibatangan sawah terheran-heran.
"Pak, itu siapa? Pak, lihat itu dibatangan sawah ada orang mengenderai sepeda penuh dengan lumpur." Ucap Orang yang sedang berada ditengah sawah saat bekerja.
"Orang gila itu Mak. Kalau Dia kena lumpur. Harusnya Dia membersihkan Dirinya Dulu di irigasi atau parit. Ini Dia bersepeda yang bajunya, kepalanya bahkan wajahnya berlumpur."
Rili tidak memperdulikan lagi tatapan orang yang melihatnya melintas. Dia akan keluar dari batangan sawah. Dia harus menyeberangi jembatan kecil dari papan. Hampir saja Dia terjatuh, ke dalam irigasi air, yang jembatannya dilintasinya. Tapi, masih bisa dikendalikannya.
"Bang....bang... Itu...itu... Ada orang gila sepertinya mau bunuh diri, masak mengenderai sepeda oleng-oleng gitu. Mana tubuhnya berlumpur semua.
"Bang... bang Yasir..." Ucap Maura dengan histeris.
Tet....tet....tet...
Yasir terus saja mengklakson, agar pengendara sepeda yang tak lain Rili mengetahui kalau ada mobil di depannya.
tet.... tet... tet....Ciiiiitt.........brakkk....!
Bersambung...
Mohon beri like, coment positif. Rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.
Jangan lupa VOTE nya kak, biar lebih semangat lagi authornya.
__ADS_1
Author juga ada group. Silahkan gabung ke group ya kak.
Terima kasih