
Rival bener-bener dipindahkan ke ruang rawat inap lainnya. Bahkan jarak ruangannya dengan Mely begitu jauh. Mely dirawat di lantai dua, sedangkan Rival di lantai empat.
Dia tidak bisa berkutik untuk tetap bertahan di ruangan itu. Karena Dia memang takut juga virus yang menyerangnya terjangkit kepada Mely.
Saat bed Rival didorong keluar dari kamar rawat inapnya Mely. Tidak ada interaksi pasangan suami istri itu. Niat untuk menjelaskan semuanya pupus sudah. Karena Mely hanya diam, tanpa bertanya kepadanya. Apa yang terjadi. Sedangkan Ribal sendiri, tidak bisa untuk menjelaskannya. Karena kondisinya yang sedang lemah.
Rival menatap langit-langit kamar rawat inap nya dengan tatapan kosong. Walau begitu, Dia ingin cepat sembuh. Agar bisa melihat Mely wanita yang sangat dirindukannya. Begitu juga dengan anak-anaknya. Dia yakin sakit ini terjadi karena daya tahan tubuhnya yang lemah. Disebabkan Dia sudah dua malam kurang tidur. Apalagi tadi malam Dia tidak tidur sama sekali.
Kamar itu sepi, hanya ada dirinya di ruangan itu. Televisi saja dimatikan. Karena Dia memang merasa kepalanya sangat sakit. Seumpama Dia tetap satu ruangan dengan Mely. Mungkin rasa sakit itu akan terasa berkurang. Karena Dia masih bisa menatap wajah istrinya yang cantik dan imut.
Sementara di ruangan Mely dan Mama Maryam dirawat. Mama Maryam nampak sedang menelpon.
"Sari, kamu Sekarang ke rumah sakit." Titah Maryam. Mendengar Mama Maryam bicara dengan Sari ditelpon. Mely yang kini duduk bersandar di bed nya. Menoleh ke arah Mamanya.
"Ke rumah sakit? jangan Aku ya Nyonya. Setrikaanku masih banyak." Ucapnya Sari ngeles, Dia malas menjaga orang sakit. Apalagi kalau menjaga Nyonya dan Nonanya Mely.
"Baiklah kalau kamu tidak mau, minta Pak Ujang ke sini. Dia harus menjaga Rival di rumah sakit." Ucap Mama Maryam. Yang ingin memutuskan panggilan. Tapi, karena suara Sari yang melengking karena berteriak membuat kuping Mama Maryam sakit mendengarnya. akhirnya tidak jadi memutuskan panggilan itu.
"Nyonya, Nyonya Saya yang akan ke rumah sakit. Saya yang akan jaga tuan Rival dengan baik. Dijamin sembuh hari ini juga." Ucapnya semangat dan penuh kebahagiaan. Ini yang ditunggu-tunggunya. Dekat dengan Rival. Sari pun langsung mematikan ponselnya.
Langsung lari ke kamar mandi dengan berdendang ria.
"Kenapa Mama minta si Sari jagain Abang Rival. Nanti bisa jadi panjang urusannya." Ucap Mely sedikit kesal, setelah Mamanya itu selesai bertelepon.
"Emang kenapa? kamu cemburu? jangan-jangan kamu masih mencintainya. Jangan bilang iya. Mama tidak akan mengizinkan kalian bersama lagi. Rival itu tidak baik untuk hidupmu. Kalian sama-sama egois. Kalian tidak cocok." Ucap Mama Maryam, entah kenapa penilaian Mama Maryam 180 derajat berubah. Dia yang dulunya begitu simpatik dengan Rival. Sekarang jadi muak semuak-muaknya.
Mama Maryam kembali memilih istirahat. Berbaring membelakangi Mely. Saat ini hanya Bi Ida di ruangan itu.
Mely sejenak terdiam. "Kita bisa minta perawat untuk menjaganya Ma. Mak Ujang juga tidak usah disuruh kesini. Banyak kerjaan di rumah." Ucap Mely, yang membuat Mama Maryam menoleh kepadanya setelah berbaring di bed. Ucapan putrinya itu ada benarnya juga.
"Iya." Jawab Mama Maryam. Walau Dia benci kepada Rival. Dia juga tidak tega melihat Menantunya tidak ada yang mengurus. Secara keadaan Rival memang nampak lemah sekali. Bicara aja nampak susah, Karena tenggorokannya terasa terbakar.
"Sari telepon balik Bi Ida, tidak usah datang kemari." Ucap Mely datar. Bi Ida pun melakukan perintah majikannya itu. Menelpon Sari, agar tidak jadi datang ke rumah sakit.
"Ma, Ayah Firman kemana ya?" dari tadi setelah sarapan tidak nampak?" tanya Mely penasaran.
"Ada urusan yang harus diurusi Ayahmu. Ayo kita istirahat lagi. Semoga sore ini kita sudah diperbolehkan Dokter untuk pulang." Ucap Mama Maryam dengan berpikir. Semoga rencananya berjalan lancar. Dia tidak ingin melihat putrinya itu menangis lagi.
__ADS_1
🌄🌻🌻
Di ruang rawat inap Rival.
Rival mendengar suara pintu kamarnya dibuka. Dia menoleh ke arah pintu. Ada perawat wanita yang masuk membawakan makanan dan obat untuknya. Tak berselang lama Pak Rudi masuk ke ruangan itu. Karena diminta Mama Maryam untuk melihat apa Rival sudah ditemani perawat atau belum.
Supirnya itu, menyusul Rival ke rumah sakit. Saat melihat Rival melajukan mobilnya dengan cepat. Pak Rudi begitu mengkhawatirkan majikannya itu.
"Sudah saatnya minum obat Bang." Ucap perawat muda itu dengan ramah. Tentu saja, Dia semangat menjaga Rival yang tampan itu.
"Tapi, Abang makan dulu." Ucap Perawat itu sedikit centil. Memang pesona Rival itu sangat memikat, walau sedang sakit.
"Perawat mulai menyuapi Rival. Rival merasa sangat kesakitan saat menelan makanan itu. Tapi, karena Dia ingin cepat sembuh. Dia pun berusaha menelannya dengan dibantu air minum yang banyak.
"Dek, Bagaimana caranya agar demamku cepat turun." Tanya Rival lemah. Dia benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan tubuhnya yang terasa sakit semua.
"Abang harus banyak istrirahat. Agar sel darah putih bapak, mampu melawan virus dan bakteri itu." Ucap Perawat masih menyuapi Rival yang nampak susah menelan itu.
"Berikan Aku obat tidur. Aku tidak bisa mengistirahatkan tubuhku ini." Rival menolak sendok yang berisi nasi Dengan tangannya, yang disodorkan oleh perawat.
"Iya, kami sudah memberi obat tidur di obat Abang ini. Abang harus habiskan makanan ini. Biar ada tenaga dan nutrisi dari makanan akan mengganti sel-sel yang rusak dan mati di tubuh Abang." Jelas Perawat, seperti Dosen yang menyampaikan materi pelajaran.
Setelah makan, Perawat itu pun membantu Rival minum obat. Dan meminta Rival untuk istirahat. Rival pun mengikuti saran perawat itu.
Satu jam berlalu Rival tidak bisa tidur. Malah Pak Rudi dan perawat itu ya g tertidur di sofa dengan pulas.
Rival terus saja memikirkan Mely. Kenapa juga Dia harus ikutan sakit. Seandainya Dia tidak sakit. Mungkin Dia sudah bercengkrama dengan isteri nya itu saat ini. Karena Dia yakin, Mely akan percaya kepadanya.
Dia punya bukti yang kuat. Bahwa Dia dijebak. Ada SMS Rayati yang memerasnya. Dia juga ada saksi yang melihat kejadian itu semua, yaitu Dodi dan Jelita.
Masalahnya sekarang, oke lah Mely mau menerima penjelasan kalau Rival dijebak. Tapi, mengingat tayangan Rival yang mencumbu mesra Rayati, akankah bisa dilupakan Mely dan menganggap itu, tidak ada? sepertinya Mely tidak bisa menerima itu.
Jangankan sentuhan fisik yang dilihatnya dengan nyata. Rival yang menyebut nama Rili saja dalam alam bawah sadarnya, Mely sudah cemburu buta. Entahlah, semoga Mely dewasa kali ini. Tidak mempermasalahkan hal yang tidak penting. Dan melupakan hal-hal yang membuat hati sakit.
"Dek, Dek---!" Rival memanggil Perawat yang tidur lelap di sofa. Tapi, Perawat tak kunjung bangun juga. Malah Pak Rudi yang terbangun.
"Apa tuan?" Pak Rudi mendekati Rival, masih menahan kantuk. Wajar Pak Rudi Kantuk
__ADS_1
Dia juga tidak tidur semalaman ini.
"Tolong Bapak Carikan tukang pijat yang bagus. Tubuh saya rasanya sakit semua Pak. Aku rasa aku masuk ini." Ucap Rival, meringis kesakitan.
"Oohh Baiklah tuan." Pak Rudi pun pergi meninggalkan ruangan itu, menanyakan kepada perawat, siapa tahu ada tukang pijat yang mereka kenal.
Tak butuh lama, Pak Rudi pun sudah membawa tukang pijat berjenis kelamin laki-laki. Tukang pijat itu pun memijat semua tubuh Rival dari kepala sampai ujung kaki.
"Abang ini masuk angin, saya sarankan Abang ini dipijat lagi, nanti malam." Ucap tukang pijat ramah kepada Pak Rudi. Jelas saja Dia ramah, upah yang Rival kasih sangat fantastis. Sehingga tukang pijat itu ketagihan untuk memijat Rival.
Rival memberi bayaran mahal, karena Dia merasa pijatannya enak dan membuatnya bisa tidur.
"Iya Dek," Ucap Pak Rudi. Dia pun mengantar tukang pijat itu ke tempatnya. Kemudian Pak Rudi masuk ke ruang rawat inap nya Mely.
Melihat Pak Rudi masuk ke ruangan. Membuat Mely antusias. Dia yang tadinya berbaring telentang, kini nampak sudah terduduk.
"Bagaimana keadaan suami saya pak?" tanya Mely. Mama Maryam yang mendengar pertanyaan Mely dibuat kesal. Tapi, Dia lebih memilih untuk diam kali ini.
"Masih seperti itu Non. Suhu tubuh tuan Rival masih tinggi. Tapi, sepertinya akan turun. Karena Tuan Rival baru dipijat." Ucap Pak Rudi.
"Apa perawat jadi menjaganya Pak?" tanya Mely lagi, kepo tentang keadaan Rival.
"Iya non, ada dua perawat yang datang. Tapi, satu perawat hanya datang sekali dua jam
Dan satu perawat lagi. Tetap berada di ruangan menjaga tuan Rival." Ucap Pak Rudi, memberi laporan.
"Perawatnya laki-laki atau perempuan?" tanya Mely, mulai penasaran siapa teman Rival di ruangan itu.
"Perempuan Non." Jawab Pak Rudi.
Mely berpikir sejenak. Entah kenapa ada rasa takut kehilangan dihatinya. Walau Dia benci pengkhianatan. Entahlah, Dia benci rasa plin plan yang dirasakannya seperti ini. Rasa ego masih mendominasi.
Kalau sudah benci, harusnya jangan peduli lagi. Ini Dia malah sangat peduli kepada Rival.
"Kenapa tidak perawat laki-laki saja yang merawat nya?" tanya Mely berdecak kesal.
"Perawat nya cantik gak Pak?" tanyanya lagi, penuh kekhawatiran.
__ADS_1
"Cantik Non, manis plus bening." Ucap Pak Rudi apa adanya. Bagaimana pun tuanya seorang laki-laki. Dia masih bisa menilai perempuan.
"Jangan bilang kamu cemburu. Kamu memang tidak pernah belajar dari pengalaman. Apa kamu mau memaafkan Dia, Setelah apa yang dilakukannya?" tanya Mama Maryam kesal kepada Mely. Melotot kepada putrinya itu.