Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Aku anak siapa?


__ADS_3

"Berakhir sudah,...!" ucap Mely dengan terisak.


Rival meraih kertas yang berisikan hasil test DNA istrinya itu dengan pasrah dan ikhlas akan melepaskan Mely. Karena Dia mengira Mely adalah anaknya Pak Ali juga.


Belum sempat Rival membacanya Mely sudah menghambur memeluk Rival yang masih bengong itu.


"Berakhir sudah kegelisahan keresahan yang menyesakkan dada. Aku sangat mencintaimu, kita akan selalu bersama. Aku bukan anak Ayah." Ucap Mely sambil memeluk Rival dalam keadaan duduk itu. Air mata kebahagiaan bertumpah ruah membasahi pipi nya yang sedikit pucat.


Mendegar ucapan istrinya yang masih memeluknya, membuat Rival tidak yakin. Dia pun menyempatkan kembali membaca hasil test DNA itu. Benar saja, hasil Test DNA Mely tidak cocok dengan Pak Ali. Seketika, Rival merasa legah dan terharu. Ini artinya, Dia tidak perlu bercerai dengan Mely. Dia akan menjadi suami yang baik dan siaga untuk anak kembarnya.


"Terimakasih Ya Allah... KAU membuat skenario yang begitu dramatis untukku. Tapi, sangat membahagiakan. Aku menemukan orang tuaku dan KAMU masih memberiku bonus istri yang begitu mencintaiku. Ini sungguh nikmat yang tiada Tara." Ucap Rival dalam hati, Air mata kebahagiaan menetes dari ujung matanya yang terpejam.


Lama keduanya berpelukan, meluapkan perasaan lega dan bersyukur. Mereka seolah lupa tempat. Mereka tidak menyadari lagi, kalau sekarang mereka di ruang kerja orang lain.


"Eehhmmmm..... Pak Rival, sebaiknya mesra-mesraan nya dilanjutkan di rumah saja. Saya juga ingin pulang. Ini sudah pukul enam sore." Ucap Petugas medis, dengan nada sedikit segan. Melihat sikap Mely yang agresif. Membuat petugas medis itu jadi merindukan istrinya di rumah.


Akhirnya pasangan suami-istri itupun melepaskan pelukannya.


"Maaf pak, kami terlalu bahagia. Jadi mengabaikan Bapak. Sekali lagi kami minta maaf." Ucap Mely malu, Dia pun menundukkan kepalanya. Perwakilan dari minta maaf nya.


"Tidak apa-apa Bu. Saya mengerti." Ucap Petugas medis. Berjalan cepat menuju meja kerjanya. Dia nampak memberesi meja tersebut.


Rival mendekat ke petugas medis, lalu menjulurkan tangannya. Yang ternyata sudah ada amplop yang menempel lagi di telapak tangannya.


"Terimakasih banyak Pak atas bantuannya." Ucap Rival, setelah pria itu menyambut tangannya dan amplop yang ditangan Rival kini beralih ke tangan petugas medis tersebut.


Pasangan itupun berjalan menuju parkiran dengan bergandeng tangan, sesekali Mely bergelayut manja di lengan suaminya. Perasaan mereka saat ini begitu bahagia. Apalagi Rival, Dia tidak menyangka. Akhirnya Dia bisa menemukan keberadaan keluarganya.


"Kita harus merayakan ini." Ucap Mely dengan wajah sumringah. Menatap Rival yang duduk di sebelah nya dengan tatapan penuh dengan percikan api cinta.


"Setuju." Jawab Rival, menghadiahi kening Mely dengan kecupan sayang. Yang membuat Mely malu dan senang.


"Kita rayakannya dengan makan malam di tempat yang romantis." Ucapnya menatap suaminya itu. Rival mengangguk. Mobil pun melaju ke restoran mewah yang dimaksud Mely.

__ADS_1


🌿🌿🌿


Malam Harinya di rumah baru mereka.


"Mulai sekarang, panggilannya kembali ke Mas ya sayang?!" ucap Rival mengecup kening Mely. Mereka akan bersiap-siap tidur. Mereka sudah lelah, karena baru selesai melakukan pemupukan bibit yang mereka kebuni.


Mely terkekeh melihat suaminya itu. "Kemarin aja, tidak mau dipanggil Mas. Sekarang minta dipanggil Mas lagi." Ucapnya, memeluk gemes Rival dan mengendus ketiak Rival yang menurut nya sangat wangi. Mungkin wangi deodorantnyaa Rival disukai nya.


"Iya, kemarin2 Mas terlalu terbawa perasaan." Ucapnya mulai mengangkat kepala Mely dari ketiaknya. Rival merasa geli dengan tingkah Mely yang memainkan ketiaknya dengan bibirnya.


"Apaan sih sayang, kenapa bulu ketek dimain-mainkan?" ucapnya merasa tidak nyaman. Perlakuan Mely membuatnya tidak percaya diri. Karena, Rival merasa keteknya tidak macho, soalnya bulu ketek Rival tidak terlalu lebat.


"Suka aja, ini bulu keteknya buat geli-geli gitu kena kena ke wajah." Ucapnya sambil tertawa.


"Sudah...!" Rival tambah kesel, karena Mely tidak bisa dibilangin.


"Iya dech." Mely ngambek. Tapi Malah membenamkan wajahnya di dada bidangnya suaminya itu.


"Kalau Ayah Ali bukan Ayah kandunganku. Jadi, Ayahku siapa ya sayang?" tanya Mely sedih, masih memasrahkan kepalanya di dada bidangnya suaminya. Fakta yang diketahui mereka bahwa Dia dan Suaminya bukan saudara adalah berita bagus. Tapi, Dia juga jadi bersedih ternyata, Dia tidak punya Ayah selama ini.


"Sayang," ucap Rival, masih mengelus punggung Mely yang seputih salju, sehalus sutera itu.


"Ehhhmmmm ..!"


"Soal Mas adalah anaknya Ayah, sebaiknya kita rahasiakan saja ya?" ucap Rival dengan sedih. Dia yang masih mengelus-elus punggung istrinya itu menatap langit-langit kamar dengan hampa.


"Kenapa begitu?" tanya Mely dengan bingungnya. Dia pun mendongak untuk melihat suaminya yang masih memeluk nya.


"Iya, Mas tidak mau Ayah salah paham. Nanti Ayah tidak percaya dan beranggapan Mas mengarang cerita lagi." Ucap Rival sedih. Rasa percaya dirinya hilang sudah.


"Kan ada hasil test DNA. Kita tunjukin aja sama Ayah." Mely merasa heran dengan sikap suaminya kali ini. Kenapa suaminya itu, tidak mau berterus terang.


"Lucu saja Mas rasa. Cara ngomongnya ke Ayah gimana?" ucapnya sedikit frustasi.

__ADS_1


"Eehhh tunggu dech, jangan-jangan Ayah sudah tahu dari awal. Kalau Mas adalah anaknya." Ucapnya semangat. Kini Mely bangkit dari tidurnya yang memeluk suaminya itu. Dia duduk menghadap Rival yang berbaring dihadapannya.


"Adek kenapa duduk masih polos begitu." Rival pun akhirnya duduk. Meraih baju tidur Istri nya yang tergeletak di atas ranjang mereka. Lalu memakaikannya. Mely tersenyum, Dia bahagia sekali. Perlakuan hangat dan sayang dari Suaminya Kembali didapatkan nya yang sempat tidak dirasakannya selama tiga hari.


"Kalau itu Mas tidak yakin, dari mana Ayah tahu kalau Mas anaknya coba." Ucap Rival, Dia menghela napas dalam, kemudian bersandar di headboard tempat tidur yang diikuti oleh Mely.


"Karena Ayah tahu Mas itu anaknya. Makanya hartanya diberikan semua kepada Mas. Sampai disini Mas ngeh gak sih?" ucap Mely menatap Rival, yang kini sedikit bingung menatap istrinya itu.


Mely mengangkat-angkat alisnya. Dia ingin menunggu persetujuan dari suaminya itu. Kalau opini Dia itu benar. Pak Ali sudah sejak awal tahu kalau Rival adalah anaknya.


"Tapi, dari mana Ayah tahu?" ucap Rival makin bingung. Dia pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Dan memasrahkan kepalanya di paha Mely.


"Mungkin Ayah curiga, karena wajah Mas sama Ayah mirip. Atau jangan-jangan Ayah sudah duluan melakukan test DNA." Ucap Mely, mengelus puncak kepala Rival. Sedangkan Rival mengelus-elus perut datar istrinya itu.


"Iya kah? coba Adek tidak bakar tas ransel Abang. Jadi, Mas tidak akan kehilangan kalung sebagai penanda untuk Mas." Ucapnya.


"Maaf Sayang, gara-gara kecemburuan ku kalung Mas jadi hilang." Ucapnya sedih, Dia menunduk dan mengecup bibir suaminya sekilas.


"Iya tidak apa-apa Dek." Ucap Rival, masih melanjutkan kegiatannya mengelus- elus perut Mely.


"Yang jadi masalah sekarang, Aku ini anaknya siapa? Ayahku yang tidak bertanggung jawab itu masih hidup gak ya?" ucapnya sedih, tapi ekspresi wajah nyeleneh. Dia menertawakan. nasibnya yang malang.


"Eehhmmm... sabar Sayang, kalau Ayah dan Mama pulang kita tanyakan. Tapi, tentang Mas yang anak kandung Ayah. Tidak usah kita bicarakan ya? Biarlah Mas seperti ini. Mas takut, Ayah menilai Mas ingin hartanya." Ucap Rival, masih tidur di paha istri nya itu.


Mely mengangguk. " Kerjaan Mas banyak gak sih seminggu ini?" tanya Mely, berusaha mengangkat kepala Rival dari pahanya. Rival pun memindahkan kepala nya dan tidur terlentang.


"Tidak." Jawab Rival.


"Besok kita susul mereka ke Australia yuk?" tanya Mely menatap wajah Rival.


Rival mengubah posisinya menghadap ke arah Mely.


"Nanti Ayah marah, kerjaan Mas tinggalin." Jawab Rival.

__ADS_1


"Tidak akan marah. Mely jamin, Ayah disana sakit. Kita jengukin lah." Pinta Mely.


__ADS_2