Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Aku ingin makan, Aku ingin memakanmu!


__ADS_3

Mata Rili membulat Dia sangat terkejut dengan informasi yang didengarnya dari suaminya tersebut. Dia kembali meneguk teh manis yang dibuatkan suaminya itu, kemudian menundukkan wajahnya. Rili menggigit bibirnya. Dia nampak khawatir, cemas, dan stres.


Selera makan Rili pun menjadi hilang. Perutnya rasanya seperti diaduk-aduk. Dari tadi Dia menahan gejolak perutnya yang meminta ingin dimuntahkan. Tapi dia tidak bisa menahannya lagi.


"Huooeeekk....oeekk....!" Rili menutup mulutnya menahan muntahannya agar tidak tumpah dan berlari ke belakang Rumah. Dimana pencahayaan di belakang Rumah Rival yang remang-remang.


Rival nampak bergerak cepat mengikuti istrinya yang sedang muntah tersebut.


"Huuuwweeekkkk..... huuuuoooeekkkk!" Rili memuntahkan semua isi perutnya. Rival menepuk pelan punggung istrinya dan memijat tengkuk istrinya dengan lembut.


Rival nampak sangat mengkhawatirkan istrinya itu. Dia juga merapikan rambut Rili yang menutupi sebagian wajahnya saat muntah.


"Bentar ya dek, Abang ambilkan air minum dulu," ucap Rival sambil berjalan cepat untuk mengambil air minum untuk istrinya itu.


"Adek berkumur dulu!" ucap Rival dan mendekatkan air yang berada di gelas ke dalam mulut Rili.


Rili berkumur, sedangkan Rival masih terus mengusap lembut punggung istrinya.


Setelah memuntahkan semua isi perutnya, Rili merasa lebih lega. Dia berdiri sambil menarik napas sedalam-dalamnya. Sedangkan Rival melap keringat istrinya yang cukup banyak di bagian kening Rili. Rili keringat dingin.


"Adek masuk angin ini." Ucap Rival sambil terus melap keringat Rili yang nampak bercucuran dari sela-sela rambut istrinya itu.


"Ii..iya bang." Ucap Rili dengan napas sedikit ngos-ngosan. Rili masih canggung terhadap suaminya.


Rival langsung membopong tubuh Rili, dan menutup pintu dapur dengan kakinya.


Rili tidak berontak dalam dekapan Rival, walau Dia merasa sangat canggung. Berontak pun tidak bisa dilakukannya, Dia memang seperti kehabisan tenaga.


Rival langsung masuk ke kamar mereka yang pintunya memang dalam keadaan terbuka.


Rival membaringkan tubuh istrinya itu dengan telentang.


"Bentar ya sayang, Abang racik dulu minyak untuk memijatmu." Ucap Rival dan berlalu pergi ke dapur.


Mendengar Rival akan memijatnya membuat Rili semakin gugup dan setres, sehingga keringat nampak muncul lagi di dahi dan telapak tangannya.


Kini Rival sudah memasuki kamar mereka, Rival membawa tapak kaca yang berisi minyak tanah dicampur sedikit minyak goreng dan berbagai macam bawang. Ada bawang merah, bawang putih dan bawang Batak atau bawang daun. Serta sebiji cabai rawit.


"Apa Adek punya minyak kayu putih?" tanya Rival sambil duduk di bibir tempat tidur.


"Ada bang, itu di dalam tas selempang yang ku pakai tadi." Ucap Rili lemas yang masih dalam keadaan telentang, matanya bergerak ke arah tas selempangnya yang tergantung di balik pintu kamar.


Rival nampak bangkit dari duduknya dan mengambil minyak kayu putih dari tas selempang Rili, kemudian menuangkannya ke ramuan yang diraciknya tadi.


"Abang pijitin ya dek?" tanya Rival meminta izin kepada istrinya yang masih terlentang itu.


Rili bingung dan takut mendengar permintaan suaminya tersebut. Dia nampak sedikit gemetaran lantaran gugup.


"Abang pijit ya? biar cepat keluar anginnya. Setelah Abang pijit nanti adek makan lagi terus minum obat. Abang ada obat generik untuk masuk angin." Ucap Rival dengan begitu khawatirnya. Matanya nampak sedikit sayu.


Rili mengangguk pelan.


Rival mengulurkan tangannya Dia memulai memijat telapak kaki Rili.


Seerrr........ Darah Rili berdesir mendapat sentuhan lembut dari suaminya di kakinya tersebut.


Rival sangat mengagumi keindahan kaki dan jari-jari kaki Rili yang bersih dan mulus tersebut.


Ingin rasanya Rival menciumi setiap jari-jari kaki Rili yang sangat indah dimatanya.


Rival memijat kedua kaki Rili dan menekuk jari-jarinya sampai terdengar suara Tek...Tek...Tek...Tek..Tek..Tek. tek. tek. Tek. Tek. Semua jari kaki Rili mengeluarkan suara.


"Dek, Pakai sarung aja. Biar Abang lebih gampang memijat punggungnya." Ucap Rival yang kini memijat betis Rili. Dia nampak menaikkan rok celana yang dipakai Rili guna memudahkannya memijat betis istrinya tersebut.


"Haaahhh!" Rili kaget mendengar ucapan suaminya itu. SehinggaDia menerjang Rival dengan kakinya yang sedang dipijit.


Syukur Rival jago silat, sehingga Dia bisa menangkap dan menahan kaki Rili yang mau menerjangnya.


"Aduuhh... ini KDRT namanya." Ucap Rival dan masih memegang kedua kaki Rili.


"Lepasin kaki Rili bang, Rili tidak sengaja. Tidak ada Mak...Sud..ku untuk melakukan itu." Rili mencoba duduk agar Rival melepaskan kakinya.


"Rili sudah baikan, tidak usah dipijit lagi bang. Lagian Abang mijitnya terlalu keras, sehingga Aku kesakitan." ucap Rili berbohong. Padahal Dia sangat menikmati pijatan Rival.

__ADS_1


"Masak sich pijitan Abang sakit? kalau sakit kenapa Ayah dan Ibu sering minta dipijitin sama Abang?"


"Itu, mana Rili tahu, pokoknya sakit!" ucap Rili ketus.


"Abang tahu kamu malu kan?


"Malu? Aku tidak malu."


"Adek itu malu sama Abang, malu bercampur merasa tidak nyaman kan?" tanya Rival sambil mendekatkan wajahnya ke Rili dengan menaikkan alisnya sebelah kanan.


"Kita ini pasangan suami istri. Kita juga menikah dengan umur yang sudah sangat matang. Jadi, Abang harap adek bijak dan dewasalah. Jangan tingkahnya seperti anak ABEGE yang dipaksa nikah dengan kakek-kakek.


"Abang tahu, adek itu selalu berusaha menghindar dari sentuhan Abang. Mau sampai kapan adek menghindar? Abang juga punya perasaan, hati Abang sakit melihat istri Abang tidak suka Abang sentuh."


Rili diam saja dan menundukkan kepalanya, Dia tidak berani melihat wajah Rival yang sedang memberi ultimatum itu.


Rival berdiri dan membuka lemari pakaian mereka. Dibagian atas adalah tempat sebagian pakaian Rival. Dia mengambil sarung dan memberikannya kepada Rili.


"Pakailah sarung ini!" ucapnya.


Rili menerima sarung tersebut. "Abang keluar dulu!"


"Kenapa mesti keluar?"


"Aa.kuu..malu,"


"Baiklah, kalau itu keinginan adek. Tapi, gunanya Abang keluar apa coba? siang tadi bahkan Abang sudah melihat dan menikmatinya." Ucap Rival dengan menatap wajah Rili yang malu-malu itu.


"Buka aja disini, bila perlu tidak usah pakai sarung." Ucap Rival mencoba menggoda Rili. Dia meraih dagu Rili yang menunduk.


"Aku tidak mau!" ucap Rili kesal dan memalingkan wajahnya.


Sungguh Rival saat ini gemes sekali melihat tingkah istrinya itu. Ingin rasanya Dia menerkamnya saat itu juga


"Cepat buka pakaianmu, Abang akan berbalik dan tidak melihatnya." Ucap Rival dan membalik badannya membelakangi Rili.


Rili membuka pakaiannya dengan begitu waspada, Dia sesekali melirik Rival untuk memastikan bahwa Rival tidak melihatnya saat berganti pakaian.


"Dasar istri aneh!" gumam Rival dalam hati.


"Suuddahh...!"


Rival berbalik, sungguh pemandangan didepan matanya sangat indah. Rili nampak mengikat dan menggulung rambutnya, sehingga tampaklah leher jenjang Rili yang mulus dan tulang selangka Rili yang putih. Dan cara Rili mengikat sarungnya kurang bagus, sehingga menampakkan belahan dada Rili yang putih dan mulus.


Rival menelan ludahnya dengan kasar, Dia merasa tenggorokannya kering. Jantungnya berdetak cepat. Darahnya berdesir hebat yang membuat Yasir juniornya menegang.


Dia tidak bisa menjamin dirinya tahan dengan godaan di depan matanya. Kalau tidak mengingat Rili dalam keadaan kurang sehat. mungkin Dia sudah melahap Rili bulat-bulat.


Rili sadar, Rival sudah dipenuhi gejolak nafsu yang membara. Seumpama Rival meminta hak nya malam ini. Dia pun tidak bisa menolaknya lagi. Karena Malaikat akan mengutuk istri yang menolak untuk digauli suaminya.


"Adek tengkurap aja, biar Abang pijat punggung adek!" Ucap Rival dengan suara berat menahan gejolak nafsu.


Rili menelungkupkan tubuhnya, sedangkan wajahnya diletakkan di atas bantal dan menyamping. Dia juga melonggarkan sarungnya bagian punggung.


Rival menuangkan minyak urut yang telah diraciknya itu dipunggung Rili. Tangan Rival gemetar disaat ingin mendarat di punggung mulus Rili.


Rival memulai pengurutan dari otot pinggang yang membuat Rili sedikit kegelian yang berlanjut ke atas dan memutar di bawah tulang belikat. Rival melakukan pengurutan berulang pada tempat yang sama sehingga Rili merasa otot pinggangnya rileks.


Selanjutnya Rival mulai melakukan pengurutan punggung yang dimulai dari bawah tulang belikat keatas kemudian memutar di atas pundak, pengurutan dilakukannya berulang dengan cara yang sama.


Rival memijat Rili sudah hampir satu jam. Dia menggunakan kedua jempol dan jemari tangannya untuk memijat Rili.


Rival juga ternyata memijat bokong Rili, paha, betis dan juga telapak kaki Rili. Rili merasa sangat nyaman dan Rileks. Dia pun tertidur.


Rival yang melihat istrinya sudah terlelap itu, akhirnya menghentikan kegiatan memijat istrinya itu. Dia menutup tubuh Rili dengan selimut. Dia pun mencium puncak kepala Rili.


Dia keluar dari kamar dan memberesi meja makan bekas mereka tadi makan. Kemudian Dia menunaikan sholat isya di Mesjid.


Setelah sholat Isya Dia kembali ke kamar dan merebahkan tubuhnya disamping istrinya tersebut.


Rival memandangi wajah Rili yang tertidur pulas. Dia membelai lembut pipi Rili. Dia sangat bersyukur bisa berjodoh dengan wanita sebaik Rili. Rival kemudian mencium kening Rili dan melingkarkan tangan kanannya di pinggang Rili. Dia pun akhirnya tertidur.


💗💗💗

__ADS_1


Setalah tiga jam tertidur Rili terbangun. Saat Dia membuka matanya, Dia terkejut melihat wajah Rival tepat dihadapannya yang tertidur dengan begitu damai.


Dia memperhatikan wajah Rival dengan sangat dekat. Dia baru menyadari bahwa wajah Rival sangat tampan. Jari telunjuknya menelusuri Alis rival yang tebal, Hidung yang mancung, bibir sensual dan rahang yang kokoh.


Jari telunjuk Rili kembali mendarat dibibir Rival yang sensual itu. Dia mengusap pelan bibir Rival yang lembut itu. Entah kenapa setelah mendapat pijatan dari rival. Rili seolah punya gairah.


Sepertinya Rival memijat bagian tubuh Rili yang dapat merangsang gairah. Rival memang cocok jadi tukang urut.


Rili tersadar dan Dia menarik tangannya dari wajah Rival, dan dengan cepat Rival menggenggam tangan Rili yang tadinya bermain-main dengan organ-organ di bagian wajahnya.


Rival mengecup tangan Rili, "Abang masih ingin merasakan tangan ini menyentuh wajah Abang." Ucap Rival dan menuntun tangan Rili membelai wajah Rival kembali.


Rili sangat terkejut mendengar ucapan suaminya itu, berarti dari tadi suaminya itu sudah bangun.


Rili menarik tangannya dengan kuat. Dia ingin bangkit dari tidurnya, tapi Rival memegang lengan Rili. Sehingga Posisi Rili sekarang terduduk sembari memegangi sarung dan selimutnya yang hampir lepas dari tubuhnya.


Rival pun bangkit dan terduduk sedikit dibelakang Rili.


Rival langsung mengecup kecil-kecil tengkuk Rili yang membuat darah Rili berdesir hebat. Jantungnya pun dag Dig dug. Dia gemetar menahan rasa malu serta takut.


"Dek, Abang sangat menginginkanya!" ucap Rival dengan suara yang sangat berat di telinga Rili, karena menahan gejolak nafsu birahinya.


Rili merinding dan kegelian mendengar ucapan Rival. Tubuhnya bergetar dan bergoyang pelan, bahunya bergetar kembali karena Rival menggigit pelan telinga Rili dan menghembuskan nafas dengan lembut, yang membuat bulu roma Rili bergedik.


Rili diam kaku. Kaki dan tangannya sudah dingin karena grogi dan canggung terhadap suaminya itu.


Rival kembali menciumi tengkuk Rili secara bertubi-tubi, Dia juga menciumi bahu Rili serta punggung Rili, yang membuat Rili mati kutu. Sungguh Rival sangat lihai merangsang.


Masih dalam posisi dibelakang Rili. Tangan kanan Rival meraih tangan Rili yang memegang sarungnya yang hampir lepas. Rival menarik keras sarung tersebut, sehingga dada Rili terpampang tanpa sehelai benangpun.


Rival langsung meraup buah dada Rili sebelah kanan dan merem*as-rem*asnya, sedangkan bibirnya masih menciumi tengkuk dan bahu Rili.


"Bang,"


"Ya sayang," jawab Rival dengan suara yang sangat berat dan dengan napas yang tersengal-sengal.


"Aku sangat lapar!" ucap Rili. Dia sengaja mengatakan itu. Agar Rival menghentikan aksinya. Dia memang lapar, tapi Dia masih bisa menahan laparnya. Dia takut melakukan malam pertama dengan Rival yang katanya orang sangat menyakitkan.


"Sama, Abang juga sangat lapar. Abang lapar akan dirimu sayang, Abang ingin memakanmu malam ini juga!" ucap Rival asal, Dia hanya mengikuti gairahnya sehingga akal sehatnya sepertinya tidak berjalan baik malam ini.


Dia nampak egois, tidak mengindahkan keinginan istrinya untuk makan. Malah Dia ingin memakan dan menjilati istrinya saat itu juga.


Rival menarik pelan tubuh istrinya sehingga Rili sekarang dalam posisi berbaring. Dia nampak menarik sarungnya untuk menutupi dadanya kembali yang aksinya digagalkan Rival.


Wajah Rival memerah, suaminya itu memang sudah dipenuhi gejolak nafsu yang tidak bisa ditahan lagi. Matanya menatap intens wajah istrinya yang malu-malu itu.


Jangan tanya. Detakan jantung Rival juga tak kalah kacaunya saat Dia menjalankan aksi mesumnya ini. Dia harus mengeyampingkan egonya apabila istrinya menolak sentuhannya.


Dia kembali melanjutkan aksinya.


Rival mencium kening Rili dengan sangat lama. Dia sepertinya menghayati dan menikmati ciuman itu, yang membuat tubuh Rili merinding. Kedua tangan Rili pun nampak tergeletak di kasur, tubuhnya seolah kaku. Dia tidak ada pergerakan.


Dari kening, kini Rival menciumi kelopak mata Rili yang otomatis Rili menutup matanya. Dia tidak berani lagi menatap wajah suaminya itu.


Rival menciumi hidung dan kedua pipi Rili dan tangan kanannya bergantian meremas-rema*s buah dada Rili yang memang montok dan padat. Sedangkan tangan kiri Rival dibuatnya sebagai penopang tubuhnya agar tidak menindih tubuh Rili dengan kuat.


Dengan rakusnya Rival melum*at bibir Rili, sedangkan tangan kanannya masih terus memainkan buah dada Rili.


Rili yang seperti batang pisang itu hanya bisa pasrah, Dia berdoa dalam hati. Semoga Allah memberi kebahagian kepadanya dengan pernikahannya dengan Rival dan Dia bisa mencintai suaminya. Sehingga ada keikhlasan dalam melayani suaminya.


Rival masih terus menikmati lembut dan hangatnya bibir Rili. Rival sangat lama bermain-main dibibir Rili yang menurut Rival rasanya sangat manis dan aromanya sangat wangi.


Sambil terus mengecup bibir Rili, tangan Rival bergerilya ditubuh mulus dan putih Rili. Dari dada, tangan Rival turun ke perut mengelus-elusnya. Aksi tangan Rival berlanjut ke paha, Dia mengusap pelan paha Rili yang sangat halus tersebut, sedangkan bibirnya masih bertautan dengan bibir Rili.


Rival sangat menikmati permainannya walau Rili sedikitpun tidak membalas rangsangan yang diberikan suaminya itu.


Dia malah semakin ketakutan. Sedikitpun Dia tidak bisa menikmati sentuhan lembut dari suaminya. Takut bercampur grogi membuat Rili bernapas cepat dan detak jantungnya sangat kencang.


Dug....Dug....Dug...


Rival merasakan detakan jantung Rili tersebut, disaat Dia dengan begitu rakusnya mencumbui gunung kembar istrinya.


Bersambung...

__ADS_1


Mohon beri like, coment positif, vote, rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.


Terima kasih


__ADS_2