
"Hantu .... Hantu...... Hantu......
"Setan..... Setan..... Ada setan......!
Ucap Rina kuat sambil berlari terbirit-birit ke arah rumah Rival dan membuka pintu dapur samping lalu masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa.
Kini Rili dan Rival masih berdiri di halaman Mesjid.
Rili hendak pergi meninggalkan Rival untuk menyusul Rina, tapi sejurus kemudian langkahnya terhenti. Karena Rival meraih tangan kanan Rili.
Rili yang merasa tangannya di genggam Rival diam saja di tempatnya. Sedikit pun Dia tidak menoleh ke belakang.
Kedua manusia yang sudah berstatus suami istri tersebut, diam seribu bahasa dalam keadaan berdiri dibawah cahaya bulan purnama ditemani semilir angin malam yang dingin menusuk ketulang.
Rili yang sudah merasa kedinginan, akhirnya berusaha melepaskan genggaman tangannya dari Rival. Dia sudah tidak tahan lagi diluar kena angin malam.
Rival bukannya melepaskan genggaman tangannya dari jemari Rili, Rival malah membuat gerakan cepat dan sedikit kuat, sehingga Badan Rili berputar 180 derajat, sehingga tubuh Rili terbentur ke tubuh Rival, yang membuat tas peralatan mandi yang sedang di pegang tangan Rili sebelah kiri terjatuh di tanah.
Kini Rival nampak langsung meraih pinggang Rili, sehingga tidak ada jarak lagi diantara keduanya. Dug....Dug...Dug.... suara detakan jantung Rival yang keras itu, jelas sekali dirasakan oleh Rili, karena kedua tangan Rili berada tepat di dada Rival yang bidang.
Rival benar-benar sangat gugup. Dia seperti sedang melakukan kejahatan saja dan dipergoki. Sehingga detakan jantungnya kencang sekali. Dug....dug....dug... Rili kembali merasakan detakan jantung Rival yang tidak normal itu, Dia tidak mengetahui kalau Rival sekarang nervous.
Rili hendak marah dengan perbuatan Rival tersebut karena menghentikan langkahnya untuk masuk ke rumah, tapi niatnya untuk marah diurungkannya. Karena detakan jantung Rival yang dirasakan Rili dan tatapan Rival yang mematikan itu membuat Rili menjadi diam seribu bahasa.
Dia juga pernah mengalami detakan jantung yang tidak normal dan tubuh serasa kena sengatan aliran listrik, saat bersama Yasir.
"Apa mungkin Abang Rival menyukaiku sehingga jantungnya berdebar apabila dekat denganku atau mengingatku?" Gumam Rili dalam hati.
Rili memalingkan wajahnya sebelah kiri, Dia tidak mau bersitatap dengan Rival. Sedangkan Rival ingin selalu memandangi wajah istrinya yang sangat cantik dan putih bersih itu. Wajah Rili makin nampak semakin cantik dan indah dibawah cahaya bulan purnama.
__ADS_1
Rival terus saja memandangi dan mengangumi kecantikan Rili. Dia tidak menyangka bahwa Rili akhirnya bisa dinikahinya.
Setelah sekian lama Dia mencari pendamping hidup, bahkan kota yang dilaluinya sudah begitu banyak, sebagai salah satu usahanya untuk mendapatkan jodoh, tapi hasilnya selalu nihil.
Rili sudah tidak nyaman dengan tatapan Rival, walau sebenarnya Dia masih memalingkan wajah. Dia berusaha melepas dirinya dari rengkuhan Rival. Tangan kanannya meraih tangan Rival yang merengkuh pinggangnya tersebut, tapi usahanya tidak berhasil. Karena, Rival tidak mau melepaskan tangannya dari pinggang Rili.
"Izinkan Abang melihat wajah istri Abang yang cantik ini dibawah cahaya bulan purnama." Ucap Rival lembut, kemudian pria itu meraih wajah Rili yang memalingkan wajahnya dengan tangan kirinya.
Kini wajah Rili tepat berada di depan mata Rival. Rili tidak memalingkan wajahnya lagi, Dia membalas tatapan Rival.
Dug...dug...dug.... Jantung Rival kembali bermasalah karena tatapan keduanya bertemu. Pipi Rival pun nampak memerah. Ya, Rival memang dasarnya memiliki warna kulit yang putih, walau Dia pekerja lapangan. Wajahnya bersih putih, mungkin itu khasiat dari air wudhu yang selalu membersihkan wajah Rival.
"Abang tahu, kamu terpaksa menikah dengan Abang. Awalnya saat kamu menghubungi Abang waktu itu. Abang mengira Kamu benar mau menikah dengan Abang. Tapi, melihat sikapmu sejak hantaran Sampai saat ini, baru Abang sadari semuanya, pernikahan ini tidak kamu inginkan," ucap Rival dengan sedikit kecewa dan gugup, jantungnya juga masih dag Dig dug. Hawa yang dingin tidak dirasakannya karena suhu tubuh Rival sekarang naik turun.
"Lepaskan Rili bang, disini bukan waktu yang tepat untuk membahasnya. Aku kedinginan." Ucap Rili sambil berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Rival.
"Maafkan Abang! maaf kan Abang, karena keadaan Abang yang miskin ini. Adek pasti kecewa setelah mengetahui keadaan Abang yang sebenarnyakan?" tanya Rival.
Rili tidak menjawab permintaan maaf Rival. Dia berjalan cepat masuk dari pintu samping dapur, dan kemudian menutup pintu dapur tersebut. Dia berjalan pelan melewati orang-orang yaitu family Rival yang tidur di ruang tengah itu.
Dia memasuki kamar yang diperuntukkan untuknya. Ternyata di kamar itu hanya ada Rina yang sedang tidur di tempat tidur.
"Tante tidur dimana ya?" ucap Rili sendiri.
Dia keluar dari kamarnya, Dia menatap setiap orang yang sedang tidur nyenyak di ruang tengah itu yang tersusun rapi. Dimana setiap barisan sebelah kanan dan kiri akan bertemu kepala ke kepala. Matanya kini melihat ketiga tantenya ternyata ikut bergabung tidur di salah satu sudut ruang tengah rumah Rival tersebut.
Dia kembali masuk ke kamarnya yang sempit itu dan merebahkan tubuhnya disamping Rina yang sudah tertidur pulas. Dia baru ingat kalau Dia belum sholat isya. Dia turun dari tempat tidur kayu tersebut. Kemudian mengambil peralatan sholatnya dari kopernya.
Dia melaksanakan sholat isya di dalam kamar yang sempit itu yang hanya menyisakan sedikit ruang yang pas untuk dirinya melakukan sholat.
__ADS_1
"Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku beriman kepada-Mu, aku bertawakal kepada-Mu, aku bertaubat kepada-Mu, dan aku mengadukan urusanku kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu. Aamiin...!"
Setelah selesai sholat isya Rili kembali berbaring di tempat tidurnya. Dia mengambil ponselnya, sebelum melaksanakan sholat tadi, ada notifikasi SMS.
Dia membuka handponenya. Nampak satu SMS dari Rival.
"Assalamualaikum istriku yang cantik, Met bobo. Maaf malam ini, Abang tidak bisa menemanimu tidur. Karena malam ini Abang tidur di Mesjid. Mimpi yang indah istriku sayang!"
Rili mau muntah membaca pesan dari Rival tersebut.
"Siapa juga yang mau tidur denganmu." ucapnya pelan dan meletakkan ponselnya disampingnya.
Dia mencoba memejamkan matanya, dan berkonsentrasi untuk tidur. Tapi, usahanya untuk tidur tetap tidak bisa. Dia meraih ponselnya lagi, guna melihat pukul berapa saat ini. Ternyata sudah pukul 03.00 Wib.
"Beginilah nasib yang ku terima, menikah dengan pria yang tidak pernah kuinginkan.
Setiap wanita sangat menantikan hari bahagia dinikahi pria yang dicintainya, tapi itu tidak berlaku kepadaku." Gumam Rili dalam hati.
Air matanya kini nampak merembes di pipinya yang putih. Dia berbaring miring ke kanan, Dia melap wajahnya yang basah dengan jemarinya.
Kenangan indah bersama Yasir muncul lagi di pikirannya. Seandainya Dia menikah dengan Yasir, mungkin malam ini adalah malam pertama yang begitu indah dan membahagiakan. Tapi, itu mungkin hanya tinggal khayalan semata.
Bersambung.
Mohon beri like, coment yang positif, vote dan rate bintang 5 dan jadikan novel ini favorit.
NB. penulis mengambil sudut pandang imam Mazhab Maliki. Dimana suami istri bersentuhan kulit tidak dibarengi nafsu, maka wudhunya tidak batal. Rili yang bersentuhan kulit dengan Rival tidak ada syahwat di hatinya.
Terima kasih
__ADS_1