Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Tidak mau berpisah


__ADS_3

"Malam Senin, malam Selasa, malam Rabu, malam Kamis dan sekarang malam Jumat." Yasir, menghitung jumlah malam yang sudah mereka lalui, dengan jari-jari lentiknya Rili. Yasir yang yang bersandar di head board tempat tidur, sedangkan Rili dipeluknya dari belakang dengan posesifnya. Tentunya bibir dan tangan Yasir tidak pernah diam, menyentuh organ-organ sensitif milik Rili. Yang terkadang membuat Rili kegelian sekaligus tertawa.


"Sayang berbalik dong! duduk di paha Abang ya?" Yasir berbisik genit dan meniup pelan telinga Rili yang membuat bulu Roma Rili kembali meremang.


Pasti Dia minta buat anak lagi, tidak ada bosan-bosannya Yasir ini.


Rili masih belum bergerak, Dia masih membelakangi Yasir, dimana punggungnya menempel di dada Yasir.


Rili memutar lehernya, hingga Dia bisa melihat Yasir yang dibelakangnya. Cup... dengan cepat Yasir menyambar bibir Rili yang menoleh kesamping itu. Tangan Yasir pun langsung menerkam bukit kembar Rili dan memainkannya. Kadang meremas dan memilin pucuk bukit kembar yang sudah menegang itu, yang membuat Rili menggeliat.


Setelah mereka menghabiskan satu ronde tadi. Setelah bersih-bersih, kedua pasangan itu memutuskan untuk tidur. Saat mau tidur pun, masih terjadi perbedaan pendapat yang membuat keduanya mengerti keinginan pasangannya.


Yasir menginginkan saat tidur, Rili harus polos. tubuhnya tidak boleh mengenakan sehelai benangpun. Dan Rili tidak mau. Dia tidak bisa tidur, jika tidak berpakaian lengkap. Bahkan jikalau Dia memakai daster atau gaun, Dia pasti pakai leging.


Akhirnya Yasir mengalah. Dia beranggapan Rili belum terbiasa. Tapi, Yasir meminta jikalau tidur. Rili tidak boleh pakai Bra. Karena Dia selalu kesusahan membuka Bra Rili, saat ingin beraksi. Dan permintaan yang satu ini Rili setujui.


"Berbalik dong sayang?" Yasir kembali berbisik di daun telinga Rili. Akhirnya Rili menuruti permintaan suaminya itu. Kini keduanya bersitatap.


Rili duduk di paha Yasir, sedangkan kedua tangannya diletakkannya dibahu Yasir.


"Adek tahu ini malam apa?" tangan sudah tidak bisa dikondisikan lagi, menelusup ke dalam piyama Rili. Mengelus pelan perut Rili yang datar dan halus itu.


"Ta..hu, lah." Jawab Rili dengan berat, karena sudah mulai keenakan dengan sentuhan Yasir.


"Malam apa?" masih menyentuh bagian sensitif Rili yang membuat geli-geli enak.


"Malam Jumat!" Rili sudah tidak tahan dengan kelakuan Yasir. Dia pun akhirnya melu*mat bibir Yasir yang mengajaknya tebak-tebakan itu.


Sikap Rili sukses membuat Yasir terkejut. Debaran jantungnya tiba-tiba berdetak cepat. Sungguh, sikap Rili kali ini diluar perkiraannya.


Bukan Yasir namanya jikalau Dia tidak bisa mengimbangi permainan istrinya itu. Asisten Jef, sudah memberi suplemen herbal khusus untuk stamina pasutri itu, makanya mereka tidak kenal lelah dan bergairah terus.


"Emang kenapa kalau malam Jumat?" Yasir menatap wajah istrinya itu dengan ekspresi bahagia sekali, setelah pangutan kedua terlepas. Karena, Rili merasa kehabisan oksigen.


"Kata orang malam Jumat itu, malam sunah Rosul." Rili memeluk erat Yasir dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Yasir.


Yasir mengelus pelan punggung istrinya itu.

__ADS_1


"Kalau malam Jumat malam sunah Rosul. Berarti malam lainnya, malam wajib dong sayang." Ucapan Yasir, membuat Rili menghentikan aksinya menciumi bahu Yasir. Dia mengangkat kepalanya dan menatap Yasir yang sedang tersenyum itu. Dia tidak habis pikir dengan suaminya itu, yang seolah tidak pernah bosan untuk melakukan itu dan itu.


Apa Dia tidak takut tempurungnya jadi kosong.


"Dasar mesum!" Ucap Rili jutek. Dia dengan cepat turun dari pangkuan Yasir dan berbaring membelakangi Yasir. Dia pura-pura kesal, sebenarnya hatinya ketawa. Bisa-bisanya suaminya itu membuat pernyataan selain malam Jumat adalah malam wajib. Itu artinya apabila tidak dilaksanakan maka berdosa dan apabila dikerjakan akan mendapat pahala.


Yasir memeluk istrinya yang pura-pura merajuk itu dari belakang. Dia dengan gemes menciumi tengkuk Rili dan menghirup aroma rambut Rili yang wangi.


Jelas saja wangi, sampo Rili sekarang harganya satu botol 1 jutaan. Rili tidak tahu harga sampo yang ada di kamar mandinya itu. Sempat Dia tahu harganya segitu, pasti Dia tidak akan mau memakainya. Tapi, jangan salah. Ada harga ada kwalitas dong. Harga yang mahal tentu mempunyai khasiat yang bagus.


"Gak jadi sunah Rosul nya?" tanya Yasir, Dia masih setiap menciumi rambut, memeluk erat dengan menenggelamkan wajahnya ke ceruk leherΒ Rili.


"Tadikan sudah bang." Jawab Rili, dengan menguap. Tiba-tiba saja, Dia mengantuk sekali.


Sama kayak author yang juga sudah ngantuk. Tapi, tanggung dapat 300 kata lagi setor dech.


"Adek mengantuk?" Tidak ada jawaban dari Rili, Dia ternyata sudah tertidur.Yasir semakin mempererat pelukannya dengan menarik tubuh Rili, kepala Rili berbantalkan bahu dan lengannya. Ciuman penuh cinta bertubi-tubi Yasir hadiahkan dikepala istrinya itu. Sungguh Dia merasa sangat bahagia sekali.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Adzan subuh telah menggema ditelinga.


Yasir membuka matanya, Dia bersyukur bisa bangun saat Adzan shubuh baru dikumandangkan. Semalam Dia janjian sama Ayah Mertuanya untuk sholat shubuh berjamaah di Mesjid.


Bibir Yasir yang sensual tertarik . Dia tersenyum melihat istrinya yang ternyata, memeluknya dengan erat bahkan wajah Rili berada tepat dibawah ketiak Yasir.


Yasir melepas pelan pelukan Rili dan memindahkan kepala Rili ke atas bantal. Dia mencium kening dan bibir Rili sekilas. Dia turun dari ranjang barunya dengan pelan. Dan langsung mandi junub dengan cepat.


Setelah mandi, Dia memakai baju Koko warna putih, sarung motif kotak warna hijau dan lobe warna putih. Dia keluar rumah dan berlari cepat menuju Mesjid. Karena Mesjid dari rumah Rili kira-kira 50 M. Syukur Dia tidak terlambat. Dan kali Sholat shubuh ini ternyata yang jadi Imamnya adalah Ayah Mertuanya.


Yasir merasa mendapat hidayah yang besar menikahi Rili. Walau Rili bukan sosok wanita yang berpenampilan islami seutuhnya, tapi sejak menikah dengan Rili. Hati Yasir terpanggil untuk tidak meninggalkan rukun Islam kedua itu.


Rili terbangun dan tidak mendapati suaminya disebelahnya. Dia tidak berpikiran macam-macam. Dia pun mandi dan melaksanakan sholat shubuh. Setelah selesai sholat shubuh Rili membantu ibunya memasak di dapur.


"Sudah, Mama saja yang memasak. Kamu buatin Teh atau kopi. Sebentar lagi Ayah dan Nak Yasir pulang dari Mesjid." Mama Rili benar-benar ingin putrinya melayani dan memperhatikan menantunya yang baik hati itu.


Rili berfikir, sudah 6 hari menjadi istri Yasir. Dia memang belum pernah membuatkan teh atau kopi untuk suaminya itu. Selama di Hotel, semuanya disediakan pihak Hotel. Bahkan kerjaan Rili selam 5 hari di hotel dengan Yasir adalah bercumbu dan membuat anak.

__ADS_1


Dasar mesum. Rili memukul pelan kepalanya, Dia mengusir pikiran kotor di otaknya, karena mengingat kelakuan mereka saat di hotel.


"Iya Ma. Tapi, tunggu Ayah dan Abang Yasir pulang dari Mesjid baru Rili buatkan teh." Ucap Rili, Dia membalik goreng pisang yang ada di kuali. Dua hari yang lalu Ayahnya memanen pisang kepok di kebun dan hari ini pisangnya sudah matang.


Tepat pukul 6 pagi, Yasir dan Ayah mertuanya sampai di rumah. Ternyata mereka olah raga pagi setelah sholat shubuh. Mereka berjalan-jalan di taman Mesjid. Mertua dan menantu itu sangat kompak.


"Abang mau minum apa?" tanya Rili dengan ragu dan sedikit takut. Setelah Dia meletakkan satu gelas kopi untuk Ayahnya di meja teras rumah.


Jelas Dia takut, Dia sebagai istri belum tahu kesukaan Yasir dan kebiasaan Yasir dipagi hari. Saat di hotel kemarin pun. Dia tidak melihat Yasir ngopi atau ngeteh.


Yasir tersenyum melihat istrinya yang sedikit kikuk itu. "Sama aja kayak Ayah Sayang." Jawab Yasir tenang dan tersenyum. Yang membuat Rili malu, apalagi Ayahnya disitu juga.


Rili berjalan cepat menuju dapur, membuat kopi untuk suaminya. "Terimakasih ya Dek." Ucap Yasir setelah Rili meletakkan kopi di meja kursi teras rumah itu.


Setelah sarapan, ternyata Ayah, Mama, Riswan,Valery dan Valri akan berkunjung ke rumah orang tua Valery yang berada di Tarutung. Mereka menggunakan salah satu mobil Yasir.


Yasir juga ternyata ada pekerjaan penting. Dia harus menghadiri RUPS di kota G.


"Adek ikut ya sama Abang?" Yasir membujuk Rili untuk ikut dengannya ke kota G. Sudah dua kali Yasir mengajak Rili pagi ini, tapi Rili menolak. Dia takut untuk menginjakkan kakinya di kampung mantan suaminya itu. Dia traumah.


"Adek disini saja ya bang. Adek capek, pingin


istirahat di rumah saja." Rili mengurai pelukan Yasir. Dia merapikan pakaian Yasir yang jelas sudah rapi.


"Adek bisa tidur di rumah kita yang di kota G. Nanti di mobil Adek juga bisa tidur." Masih berusaha membujuk istrinya ikut. Sungguh Yasir tidak bisa lepas barang satu jam dari Rili. Dia pasti tidak tenang dan takut ditinggalkan atau kehilangan.


Rili diam dan nampak sedikit ketakutan. Ekspresi Rili itu akhirnya dipahami Yasir. Jelas sudah Rili traumah datang ke kota itu.


Akhirnya Yasirpun mengalah. "Jangan keluar rumah, jangan matikan ponselnya. Abang usahakan cepat pulang." Yasir memeluk Rili, Semua organ yang ada di wajah istrinya tak luput dari sentuhan bibinya.


TBC


Mampir juga ke novel ku yang baru berjudul Suami pilihan Ibu. Ramaikan ya kakak-kakak cantik πŸ™‚πŸ€—πŸ€©



Mohon beri like coment positif rate 🌟 5 dan vote ya kak

__ADS_1


__ADS_2