
"Kita makan di restoran aja ya Dek?" ucap Rival setelah mereka selesai sholat Dzuhur. Rival melipat sajadah dan meletakkannya di atas meja.
" Lagi malas lihat orang dan keramaian. Pinginnya lihat Abang saja." Ucap Mely tersenyum. Rival pun membantu Mely membuka mukenanya.
"Segitu cintanya sama Abang. Emang tidak bosan lihat Abang terus?" tanya Rival dengan mengedipkan mata dan tersenyum, tingkah Rival membuta Mely semakin manja saja. Dia pun langsung menjatuhkan kepalanya di dada Rival yang bidang dan keras itu. Rival pun mengelus kepala Mely.
"Sudah tahu nanya lagi? jangan buat Adek malu dong?!!" Mely cemberut. Dia kesal dengan Suami nya itu yang terlalu percaya diri.
Rival terkekeh, sungguh kehadiran Mely dalam hidupnya, seperti nano-nano sajo. Manis asem asin, rame dech rasanya.
"Kalau mau lihat Abang saja, ngapaian kita lanjutkan liburan di sini Sayang? mending kita ikut pulang sama Ayah dan Mama. Abang juga lagi banyak pekerjaan." Ucap Rival, Dia masih mengelus-elus puncak kepala istrinya itu Dengan sayang.
Mely mendengus, Dia mendongak melihat wajah suaminya itu.
"Adek juga lagi banyak kerjaan. Lagi mengejar target agar bisa cepat ujian skripsi." Ucapnya datar, yang membuat Rival menatap lekat wajah Mely.
"Oh ya? Abang senang, Adek semangat untuk dapat gelar. Jangan seperti Abang hanya lulusan MA." Ucap Rival tidak semangat. Mereka nampak berjalan menuju balkon. Rival duduk di bangku besi yang memanjang. Dan Mely langsung meletakkan kepalanya di atas paha Rival.
"MA?" tanya Mely bingung. Setahu Dia 'MA' itu gelar untuk S-2. Dia menatap lekat wajah Rival dihadapan nya. Rival menunduk menatap istrinya itu. Dan membelai pipinya Mely.
"Iya dek, Abang hanya tamatan MA." Rival menangkap ekspresi tidak percaya di wajah istrinya itu.
"Hebat dong MA. Itu berarti abang sudah S-2"
"S-2?" tanya Rival? Mely mengangguk.
"S-1 aja belum dapat, koq sudah S nya 2. Yang ada tu Abang sudah punya S Mambo." Ucap Rival terkekeh.
Mendengar ucapan suaminya itu, Mely gemes. Dia pun menyeruduk perut Rival. Dia menggelitik perut Rival dengan kepalanya.
Rival tertawa lepas. " Stop, stop Dek. Abang jadi lapar banget ini. Kita pesan makanan dulu ya?" ucapnya mengangkat kepala Mely dengan masih ngos-ngosan karena kelamaan tertawa. Rival berjalan ke dalam kamar, menelpon pihak Restoran dan meminta mengantarkan makanan ke kamar mereka.
__ADS_1
Pasangan suami istri itu, makan dengan dengan romantis nya bahkan saling suap menyuap. Ternyata, kejadian Mely diculik, bisa menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi diantara kedua nya.
"Adek yakin kita ke Tomok lagi?" tanya Rival dengan nada kurang setuju.
"Iya sayang. Aku masih ingin belanja dan menjenguk Pak Firman." Ucapnya di dekapan Rival. Kini mereka sedang menikmati indahnya hamparan Danau Toba dan semilir angin yang sejuk yang menerpa kulit di atas balkon.
"Ini sudah terlalu kesorean. Besok saja ya sayang, kita kesana. Hari ini kita istirahat saja. Biar tanganmu cepat sembuh." Ucap Rival menatap lekat wajah istrinya itu. Alhasil mereka pun habiskan waktu menonton di dalam kamar dan saling bercumbu sekedarnya. Rival sedang mencari titik-titik sensitif yang sangat disukai istrinya itu. Sehingga Dia akan merasa bangga apabila nantinya bisa membuat istrinya terpenuhi nafkah bathin nya.
Curhat dari hati ke hati, sebelum mereka siap untuk bercocok tanam.
Rival turun dari ranjang dengan hanya menggunakan sarung. Entahlah Rival suka sekali memakai sarung.
Dia berjalan menuju lemari tempat penyimpanan berbagai macam VCD. Sudah dua jenis film yang mereka tonton sampai saat ini.
Mata Rival sedikit membelalak melihat VCD yang ada lemari itu. Melihat ekspresi suaminya yang bingung dan heran, membuat Mely penasaran.
"Kenapa Bang?" tanya Mely masih di atas ranjang.
Mely mengangguk dan sedikit merasa tidak enak hati. Pasalnya Dia juga pernah menonton seperti itu sekitar 2 Minggu yang lalu bersama teman kuliahnya di kos an. Saat sedang berkunjung ke kos an temannya itu. Saat itu temannya lagi menonton.
Efek dari itu, sehingga Mely jadi liar dan ingin bereksperimen kepada Rival.
"Apa Abang pernah menonton seperti itu?" tanya Mely dengan ragu dan sedikit takut.
"Jujur belum pernah, tapi kalau menyenggol-nyenggol kesitu pernah." Ucap Rival, Dia kini memasukkan VCD yang berisi lagu-lagu nostalgia.
"Menyenggol-nyenggol kesitu? maksud Abang apa?" tanya Mely penasaran.
"Maksud Abang, seperti kita menonton film India, atau film barat yang ada adegan hot nya. Kalau lihat adegan seperti itu langsung Abang tidak pernah." Jawabnya. Dia pun naik ke atas ranjang. Duduk bersandar pada head board tempat tidur di sebelah Mely.
"Kalau Adek pernah?" Rival melirik ke arah Mely.
__ADS_1
Mely diam, Dia malu mengakuinya.
"Kenapa tidak dijawab?" tanya Rival semakin penasaran dengan jawaban Mely.
"Eehhmmm... Gimana ya?" Mely ragu mengakui nya. Apalagi Rival mengaku tidak pernah menonton seperti itu. Dia takut, jika mengatakannya Rival jadi ilfeel kepada nya.
"Tidak usah dijawab." Ucap Rival datar mengalihkan pandangannya ke arah monitor dihadapannya.
"Pernah." Mely menunduk, Dia malu.
Rival menoleh ke arah Mely, melihat sekilas istrinya itu. Kemudian kedua bola matanya kembali melihat tontonan di depannya.
"Abang kecewa, atau marah? kenapa tanggapannya dingin begitu?" ucap Mely dengan perasaan was-was dan takut, jika Rival kecewa kepada nya.
"Abang tidak marah." Ucap Rival datar.
"Terus?" Mely cemberut.
"Wajar aja sih, orang yang sudah dewasa pingin lihat yang begituan. Tapi, kalau tidak kuat iman jangan lah coba-coba. Kecuali kalau sudah punya pasangan yang sah." Ucap Rival menatap lekat wajah Mely yang cemberut. Dia mencubit gemes pipi Mely yang putih, yang membuat Mely mengaduh kesakitan dan pura-pira ngambek.
"Iya, tapi Adek kan nontonnya setelah kita menikah." Benar-benar ngambek. Rival menarik Mely ke dalam pelukannya.
"Iya sayang. Sudah jangan dibahas lagi. Intinya kita sebagai manusia harus menjaga mata kita dan melawan hawa nafsu. manusia itu diberi Fitrah nafsu yang besar. Dan apabila kita tidak bisa mengendalikannya. Jangan coba-coba di pancing." Ucap Rival dengan tegas dan menatap lekat wajah Mely dalam dekapannya, yang membuat Mely grogi. Setelah Rival mendaratkan bibirnya di kening istrinya itu.
***
Setelah makan malam di Restoran. Rival mengajak Mely berjalan-jalan menyusuri Kota Parapat. Mereka bahkan menyewa motor bebek, sebagai transportasi mereka. Mely memaksa harus naik motor. Padahal banyak mobil yang bisa dirental di Hotel itu.
"Cuacanya dingin banget sayang." Ucap Mely, Dia semakin mengencangkan pelukan nya. Di mana kedua tangannya melingkar di pinggang Rival, dan Mely memasrahkan kepalanya di punggung Rival.
"Adek sih maksa banget naik motornya. Ngomong-ngomong tangan Adek sudah sembuh? koq meluknya kencang banget?" ucap Rival sedikit kuat, agar didengar Mely. Kemudian tangan kirinya bergerak menyentuh tangan Mely yang tertaut memeluk pinggang nya. Rival mengelus-elusnya, memberi kehangatan kepada tangan Mely yang dingin, walau sudah memakai jaket yang tebal.
__ADS_1
TBC