Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Nasibku


__ADS_3

Hening...


Suasana ruangan dapur dipagi itu bener-bener sangat mencekam. Rival tidak bisa lagi mentolerir sikap ibunya yang tidak menghargai istrinya.


Selera makannya tiba-tiba hilang, mulutnya tercekat, nasi yang sempat dikunyahnya tidak bisa lagi ditelannya. Akhirnya Dia meneguk banyak air untuk melancarkan makanan yang dimulutnya agar bisa bergerak ke kerongkongan dan lanjut ke lambung.


Rival pergi meninggalkan ruangan dapur dengan begitu kesal. Mulai dari shubuh sampai makan Pagi Ibunya seolah-olah mencari kesalahan istrinya saja.


Ya, Rival sangat tahu alasan Ibunya membenci Rili.


Alasannya adalah, Ibunya Rival ingin Rival menikah dengan Rayati. Seorang gadis yang menyukai Rival, tapi Rival tidak menyukainya.


Rayati tipe wanita yang barbar, genit dan masih banyak sifat jeleknya. Sehingga Rival tidak sreg kepada Rayati. Rival hanya mengganggap Rayati sebagai teman.


Rayati dan Rival sama-sama berkerja di pengutipan retribusi pasar. Rayati sering main-main ke rumah Rival untuk mengambil hati Ibu Rival.


Sifat Ibu Rival yang frontal itu dimamfaatkan Rayati untuk mempengaruhi Ibunya, Agar Rumah tangga Rival hancur, sehingga Dia akan mencoba merayu Rival dan Ibunya untuk bisa menikah dengan Rival.


Rayati pernah berbicara kepada Ibu Rival disaat pernikahan Rival di Rumah Rili.


"Bu, kalau Abang Rival menikah dengan gadis yang dari kota itu. Maka Ibu akan ditinggalkan Abang Rival karena Dia akan ikut istrinya.


"Pasti Abang Rival akan melupakan Ibu, Dia juga tidak akan pernah lagi memberikan uang kepada Ibu, seperti selama ini. Tapi, Kalau Aku yang jadi menantu Ibu, pasti Ibu akan bahagia saya buat. Aku akan sering kasih Ibu uang, dan Abang Rival juga tetap disini bersama kita." Ucap Rayati di sore hari tepat di hari Minggu saat hari pernikahan Rival dan Rili.


Hasutan Rayati lah yang membuat sifat Ibu Rival semakin menjadi-jadi. Walau memang aslinya sifat Ibunya Rival sangat menyebalkan. Bahkan di kampung yang sedikit warganya itu sering menghindari perbincangan dengan Ibu Rival.


Orang di kampung, masih menghargai keluarga Rival karena Ayah Rival termasuk toko adat yang bijak. Rival juga sangat disegani orang kampung. Karena sifatnya yang baik dan Sholeh.


Setelah Rival meninggalkan dapur, maka Ayah dan Ibu Rival pun pergi dari dapur tersebut setelah selesai sarapan.


Rili memberesi dapur dan menyiapkan bontot Rival serta mengisi air minum ke jerigen plastik warna putih bervolume 5 liter.


Rival nampak menunggu Dua rekan kerjanya. Di bale-bale halaman rumahnya. Yang sudah siap dengan kostum kerjanya. Pakai topi dan sepatu boot.


Ya, mereka 3 orang dalam satu tim. Dimana dua orang nantinya bertugas memanen sawit (Dodos) dan satu orang bertugas melansir sawit TBS ke jalan produksi.


Upah bekerja memanen buah kelapa sawit dibayar oleh pemilik kebun rata-rata Rp 200/Kg atau sebesar Rp 200 ribu/ton, dan ongkos tersebut sudah termasuk dengan biaya gendong TBS dari dalam kebun dikeluarkan ke badan jalan produksi.


Usai dipanen, TBS itu diangkut lagi ke jalan dengan menggunakan sepeda motor. Kalau cuaca bagus maka tim Rival akan bisa memanen sawit 6 ton dalam satu hari. Jadi satu hari mereka akan mendapat upah 200 rb/orang.

__ADS_1


Tapi, ajakan untuk mendodos sawit tidak tiap hari ada, satu Minggu Rival hanya dua kali mendodos.


2 hari lagi dalam seminggu. Yaitu hari Rabu dan Sabtu Rival bekerja mengutip jasa retribusi pasar. Dan 3 hari lainnya digunakannya untuk berkebun sayur serta bersawah bersama ibunya. Rival dan Ibunya menyewa sawah orang, dan jika panen maka akan berbagi hasil.


Terkadang Dia juga menerima pekerjaan untuk jasa supir. Karena Dia bisa bawa mobil. Dia bisa juga sering kerja bangunan.


Intinya Rival dari kecil sudah terbiasa bekerja. Dia memang lelaki pekerja keras. Sehingga Dia bisa membantu Ayahnya mencari nafkah dan mengkuliahkan adik-adiknya.


Kadang di malam hari Rival pergi menembak ikan di sungai. Hanya butuh 2 jam kalau lagi rezeki bagus. Dia bisa dapat ikan sungai sebanyak 3-4 kg.


Ikan itulah kadang dijual ibunya dan juga sebagai lauk mereka. Beras tidak membeli, karena mereka bersawah, sayur tidak membeli karena Rival suka berkebun. Bosan ikan air tawar, kadang-kadang Ibunya membeli ikan laut dari along-along yang lewat setiap harinya. Stok ikan asin seperti ikan teri juga selalu ada di keranjang yang digantung di dekat tungku.


Rili mendatangi Rival yang sedang duduk di bale-bale dan membawa bekal makan siang Rival.


"Terima kasih ya dek! jangan ambil hati ucapan Ibu ya?" ucap nya lembut sambil menatap Rili dan memegang tangannya.


Rili mengangguk


"Abang pulangnya agak sore. Kamu hati-hati di rumah ya!" ucap Rival dan melepas genggaman tangannya dari tangan Rili, karena temannya sudah datang dengan naik motor.


Rili mencium tangan suaminya, dimana Rival langsung menyodorkan tangannya sehingga Rili tidak bisa ngelak.


Rival senyum saja menanggapi ocehan kawannya itu. Sedangkan Rili diam menunduk.


Rival menaiki motornya dan kemudian mereka pun melajukan motornya menuju perkebunan sawit, yang jarak tempuhnya hampir satu jam dari rumah Rival.


Rili masih saja duduk di bale-bale bambu.


Sejenak Dia memikirkan nasibnya yang terperangkap dipedesaan ini.


Dia sengaja mengambil cuti 3 Minggu. Dia ingin menenangkan diri. Karena dibayangan Dia menghabiskan waktu selama 3 Minggu di desa akan sangat menyenangkan dan menentramkan. Tapi, semuanya tak sesuai dengan ekspektasi.


Ternyata Dia masuk ke kandang macan betina, yang setiap hari menerornya.


"Eehhmmmmm..... Hidupku!" ucap nya pelan.


Kring....kring....kring.... ternyata ada segerombolan ibu-ibu yang menaiki sepeda hendak pergi mengais rezeki. Ya, didepan Rumah Rival adalah jalan lintas orang kampung untuk beraktifitas.


Rili tersenyum kepada Ibu-ibu yang menegurnya.

__ADS_1


Sepertinya Ibu-ibu itu akan pergi ke sawah atau ke ladang, karena ada yang membawa semprot.


Jalannya sudah setengah beton. Walau tidak mulus, tapi sudah bisa dilewati oleh kendaraan roda dua dan empat bahkan truk. Disaat kemarau. Jalan akan banyak mengeluarkan abu. Rumah dikampung Rival hanya tersusun satu lapis berjejer dipinggir jalan sebelah kiri dan kanan.


Rili menikmati udara yang sejuk dipagi hari, waktu masih menunjukkan pukul 07.30 Wib.


Rili duduk dibibir bale-bale dengan kedua kaki menggantung. Dia menautkan kedua tangannya dan mendongakkan sedikit kepalanya. Dia menghirup udara pagi sedalam-dalamnya. Dia menutup matanya.


Dia menarik napas berulang kali sampai Dia merasa dirinya rileks.


Matahari bersinar berseri-seri. Langitpun bersih, tanpa segumpalan awan. Selain itu, burung burung berkicau bersahutan di alam bebas.


Baru saja membuka mata, Ibu mertuanya sudah berdiri tepat di hadapannya.


"Waaahhh.... sepertinya kamu menyukai tempat ini?" ucap Ibu Rival dan mendudukkan bokongnya di bale-bale sebelah kanan Rili.


"Iya Bou, u...udaaraa...nya sejuk Bou!" ucap Rili dengan gugupnya.


"Bou mau ke sawah, Karena Rival tidak membolehkanmu ikut ke sawah. Maka kamu anterkan ibu ke sawah dengan naik sepeda itu." Ucap Ibu Rival tegas dan menunjuk sepeda batang yang nangkring di samping rumah.


Rili terkejut mendengar permintaan Bou nya itu, Dia takut berboncengan dengan Bou nya. Tapi, jika Dia menolak. Maka itu akan menjadi kesalahan buatnya.


"Iya Bou," ucap Rili dengan lembut.


"Ini kunci Rumah, kamu pegang."


Rili meraihnya dari tangan mertuanya.


Rili membonceng mertuanya dengan perasaan kacau, jantungnya berdetak kencang disaat Bounya mengeluarkan suara. Ya, Bou nya ngomong, karena Rili tidak tahu jalan ke sawah. Sehingga Bou nya memberi instruksi.


"Belok Kiri!" ucap Bou nya ketus.


Rili berbelok kiri dengan gemetar syukur mereka tidak jatuh kedalam parit saat Rili berbelok melewati jembatan kecil yang tidak ada pembatasnya. Dia takut, Dia trauma. Mendengar suara Bou nya saja jantungnya mau copot.


Bersambung..


Mohon beri like, coment positif, vote, rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.


Author akan sangat senang dan semangat menulis jika dapat Vote.

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2