
"Bou----" ucapnya sambil menangis, Yasir dan keluarga Ibu Durjanna mendekat ke Bed tempat Ibu Durjanna berbaring. Dengan tangan gemetar Rili mengusap wajah Ibu Durjanna, sehingga kedua kelopak matanya tertutup sempurna.
Rili turun dari Bed, memeluk Yasir suaminya yang berdiri di sebelahnya. Pasangan itu menjauh, memberi ruang kepada anak-anak nya Ibu Durjanna untuk menumpahkan kesedihan karena ditinggalkan untuk selamanya.
Mila menangis dengan histerisnya, memeluk dan menciumi wajah Ibunya yang sangat disayanginya itu. Mila merasa sangat kehilangan, karena Mila memang satu jiwa dan sepemikiran dengan ibunya itu.
Begitu juga dengan Sekar. Dia sangat sedih harus kehilangan ibunya untuk selamanya, disaat Dia masih gadis.
Sedangkan Ayah mereka berusaha tegar dan sabar. Dia hanya berdiri disebelah istrinya tanpa suara, tapi kesedihan jelas terlihat di wajahnya yang hitam dan keriput itu.
"Sudah ya Dek, jangan menangis lagi. kita harus sabar dan ikhlas." Ucap Rival, mengelus pelan punggung Sekar yang masih memeluk jasad Ibunya itu.
"Firman, beri tahu kepada perawat. Dan kamu siapkan semua keperluan kita. Malam ini juga jenazah Ibu harus kita bawa ke kampung." Ucap Rival dengan air mata yang sudah menggenang yang siap tumpah ruah. Bagaimanapun jahatnya Ibu angkatnya ini. Wanita inilah yang menyelamatkannya dan membesarkannya.
*
*
*
Setengah jam kemudian, Jenazah Ibu Durjanna, sudah berada didalam mobil Ambulance. Di dalam mobil itu ada perawat dan Mila. Dia ngotot ingin berada di mobil Ambulance, menemani Ibunya sampai ke kampung.
Yasir dan Rili masih menemani Rival mempersiapkan semuanya. Hingga mereka pun berangkat ke kampung. Yasir dan Rili memberangkatkan nya juga.
"Terimakasih ya Yasir, Rili." Ucap Rival menatap Yasir dan Rili. "Aku sudah banyak menyusahkan kalian. Sekali lagi Terimakasih." Ucap Rival, Dia bingung mau berkata apa lagi. Dia tidak mungkin bicara panjang lebar lagi. Mengungkit kesalahan dimasa lalu.
"Iya Bang. Maaf kami tidak bisa ikut ke kampung." Jawab Yasir, langsung memeluk Rivalnya itu. Mereka lama berpelukan. Seolah ingin memberi penguatan satu sama lain
__ADS_1
Ambulance yang membawa Ibu Durjanna, langsung melaju menuju kota G. Kampungnya Rival. Begitu juga mobil yang dikendarai Firman, yang membawa Ayahnya, Amrin dan anak kembarnya, langsung bergerak menuju kampung mereka.
Sedangkan Rival dan Sekar, pulang ke rumah Rival. Mengemasi barang-barang mereka.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Rival yang sudah sampai di rumahnya. Langsung masuk ke dalam kamar mereka.
Dia akan mengemasi pakaiannya, karena Dia akan ke kota G bersama Sekar.
"Mas," ucap Mely dengan perasaan takut, melihat Rival masuk ke kamar dan menyamperin si kembar yang tertidur di box bayi.
Di kamar itu juga ada Mama Maryam dan dua Babysitter nya si kembar. Semua penghuni kama itu sudah tertidur, kecuali Mely yang tidak bisa memejamkan mata sama sekali. Dia menunggu Rival.
"Bagaimana keadaan Ibu? kata Mama, Ibu jatuh di rumah Ayah Ali." Ucapnya, menatap Rival yang mengelus-elus pipi kedua anak kembarnya. Hatinya merasa sakit, diabaikan suami nya itu. Tapi, Dia harus sabar, karena semua ini terjadi karena ulahnya juga.
Rival sedang malas komunikasi dengan Mely. Dia tidak mau bertengkar. Ataupun merayu dan membujuk. Dia sedang lelah hati dan pikiran.
"Ibu sudah berpulang ke Rahmatullah." Jawab Rival sedih dengan raut wajah datar. Masih memberi sentuhan sayang kepada kedua anak kembarnya. Tapi, Dia tidak menatap MeLy. Rival juga manusia biasa, yang perasaannya bisa berubah jadi dingin, karena kesal kepada seseorang. Seperti Dia begitu kesalnya kepada Mely.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un." Ucap Mely dengan suara keras, karena terkejut dengan berita yang didengarnya. Dia memenangkan dirinya, dengan menghelas napas. Dia sedih, tapi tidak nampak air mata akan jatuh di pipinya.
Mendengar suara Mely yang sedikit keras, membuat Mama Maryam dan kedua Babysitter terbangun.
"Rival, bagaimana keadaan Ibu kamu?" Mama Maryam mengekori Rival ke kamar ganti.
"Ibu sudah meninggal Ma. Malam ini Rival dan Sekar akan berangkat ke kampung." Ucap Rival, mengemasi pakaiannya ke koper kecil. Dia tidak suka membawa banyak barang.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un..!" Mama Maryam menutup mulutnya dengan telapak tangannya karena terkejut mendengar berita dari menantunya itu.
__ADS_1
"Mama tidak menyangka, Ibu Kamu datang kesini hanya untuk mengejar mautnya." Ucap Mama Maryam polos. Ucapan Mama Maryam, membuat Rival tidak habis pikir. Kenapa Ibu mertuanya itu berkata demikian.
"Iya Ma, titip Mely dan anak-anak." Mungkin disana Rival akan sedikit lama. Bisa Sampai tiga hari." Ucap Rival menatap Mama Maryam yang masih bingung.
"Koq sampai tiga hari?" tanya Mama Maryam.
"Iya Ma, Rival akan ikuti takziah dan acara kendurinya." Jadi biasanya di hari ketiga kematian. Maka akan ada acara kenduri namanya di kampung Rival.
"Ooohh, kamu baik-baik disana. Mama berharap setelah kamu pulang dari kampung. Masalah kalian selesai. Jangan lupa berdoa. Doakan istrimu, agar dapat hidayah. Sehingga bisa berubah jadi lebih baik." Ucap Mama Maryam, ternyata Mely mendengar percakapan Rival dengan Ibunya. Karena Dia sedang berjalan menuju kamar mandi yang dipapah oleh Febri.
Bagi Mely, sangat sakit mendengar ucapan Ibunya itu. Ibunya saja menilai nya buruk. Wanita yang melahirkannya. Apalagi orang lain.
Sesaat dia tersadar bahwa orang-orang disekitarnya, tidak suka kepadanya Karena sifatnya yang barbar.
Pantesan Si Rival tidak Suka kepadanya. Ternyata sikap Mely yang terlalu childist membuat orang yang mengenalnya, mengatakan Dia sombong.
"Mas mau kemana?" tanya Mely melihat Rival menyeret sebuah koper ukuran kecil, menuju pintu kamar. Kali ini Mely lebih banyak untuk bertahan dan sabar. Walau tidak diopeni oleh Rival. Dia harus berubah jadi lebih baik. Wanita yang sabar dan penuh kasih sayang. Agar Rival menoleh kepadanya lagi.
Rival berbalik, menatap Mely yang kini matanya sudah berkaca-kaca. Sebegitu bencilah Rival kepadanya. Sehingga dari tadi. Setiap pertanyaan nya tidak dijawab oleh Rival.
Dengan tatapan mata penuh kekecewaan dan langkah yang tidak semangat. Rival mendekat kepada Mely yang kini duduk di atas tempat tidur dengan berderai air mata.
"Mas beri waktu berpikir selama tiga hari. Pikirkan baik-baik, Adek maunya apa. Kejadian yang beruntun ini membuat Mas menyerah. Mas merasa tidak bisa membahagiakanmu. Jadi, selama tiga hari kita berpisah, mari intropeksi diri masing-masing." Ucap Rival dengan tegas, tidak mau berlama-lama menatap Mely yang sedang menangis itu.
"Mas, tidak perlu waktu tiga hari. Sekarang Adek akan berubah." Ucap Mely menangis. Mama Maryam dan kedua Babysitter nya ikut mewek melihat Mely.
"Pikirkan selama kita sedang berjauhan. Mungkin kita perlu menyendiri, merenung." Ucap Rival, Dia masih membelakangi Mely. Kemudian keluar dari kamar.
__ADS_1