
Sebelum membaca mohon like,coment dan rate 🌟 5. Semoga terhibur
Setelah seharian menjalani padatnya aktivitas, persiteruan dengan Rival, pergumulan dengan istri tercinta. Membuat diri Yasir cukup lelah. Badan terasa lemas, otak pun juga sudah lelah untuk diajak berpikir lagi. Tapi, kedua kelopak matanya tidak bisa dipejamkan. Kemarahan dan kekecewaan Rili masih belum hilang dari pikirannya.
Yasir mengutuk dirinya yang ternyata belum bisa membahagiakan Rili. Dia menyayangkan sikapnya diawal mengetahui keberadaan Rili. Harusnya Dia menceritakan dirinya siapa. Tapi, Dia masih bersikap kucing-kucingan, sehingga kisah cinta mereka menjadi rumit dan penuh dengan drama.
Yasir semakin merengkuh tubuh polos Rili, yang membuat Rili menggeliat, karena Yasir mempererat pelukannya. Tapi, wanita itu tidak bangun. Dia kembali mencium puncak kepala Rili.
"Saat cahaya bulan mulai meredup dan dunia menjadi tenang, beristirahatlah. Semoga mimpimu menjadi semanis dirimu." Ucap Yasir pelan di telinga Rili. Dia pun ikut terbang ke alam mimpi.
🌄🌄🌄
Sayup-sayup terdengar suara Azdan pertanda sholat memanggil. Suaranya menenangkan dan menentramkan hati.
Kedua insan yang saling mencintai itu sama-sama membuka mata. Ternyata panggilan Adzan membuat mereka terbangun.
Rili yang masih dalam pelukan Yasir. Tersenyum memandangi wajah suaminya yang tampan itu. Senyuman yang Yasir hadiahkan untuk istrinya tak kalah manisnya.
"Emmuuaahhh....Emmuaaahhhch...!" ucap Yasir sambil tersenyum. Dia mengecup kening dan bibir Rili lembut. Tak ada balasan dari Rili. "Morning kiss untuk Abang mana? Abang cium, Adek tidak balas." Ucapnya sedih.
"Gak selera." Ucap Rili becanda. Abang Bau iler. Aku baru tahu, Abang tidur ileran." Ucap Rili bohong. Yasir melap pinggir mulutnya, Dia refleks melakukannya. Kalau betul Dia ileran Dia akan sangat malu kepada istrinya itu.
Rili hanya mengerjai suami mesumnya itu. Mulut Yasir tidak bau. Karena Dia tidak perokok, Dia juga selalu menjaga kebersihan mulutnya. Dijamin aroma mulut Yasir, seperti aroma mulut bayi.
"Masak sich napas Abang bau?" Yasir mengendus-endus napasnya yang dihembuskannya ke telapak tangannya. Rili tertawa melihat tingkah Yasir.
"Iya tidak bau koq sayang." Rili mencium pipi kiri Yasir, yang membuat Yasir kesemsem.
"Aduhhh.... mereka Romantis sekali sich? kebahagian mereka semoga menular kepada yang baca novel ini." Ucap Author dalam hati.
Mereka pun akhirnya mandi bersama. Karena kelamaan bermesraan di kamar mandi. Akhirnya Yasir tidak bisa ikut lagi sholat berjemaah di Mesjid. Mereka pun akhirnya sholat di rumah.
__ADS_1
Setelah sholat, Yasir meminta mereka tiduran lagi di ranjang. Rili menolak, karena Rili ingin menyiapkan sarapan buat suaminya itu, tapi Yasir tidak memperbolehkan. Yasir ingin sarapan di luar. Dia ingin makan lontong sayur campur bumbu kacang dan ditambahi potongan bakwan.
Rili heran melihat selera Yasir yang kampungan itu. Tapi, Rili akhirnya memakluminya. "Istrinya aja orang kampung seperti saya. Tentulah seleranya juga sudah berubah." Gumam Rili dalam hati.
"Sudah sayang, disini aja. Abang masih pengen!" Ucap Yasir yang tidak memperbolehkan Rili turun dari ranjang. Rili yang sudah terlanjur berdiri disisi ranjang. Akhirnya naik ke atas ranjang. Tapi, Dia tidak berbaring. Dia duduk dan bersandar di dashboard tempat tidur dengan kaki berseloncor. Yasir langsung berbaring dan menempatkan kepalanya di atas paha Rili.
"Belai dong sayang, masak itu tangan dianggurin." Ucap Yasir genit. Yang membuat Rili senyum dan tertawa dalam hati. Dia merasa Yasir terlalu blak-blakan dengan kemauannya.
Rili pun melakukan keinginan suaminya itu dengan senang hati. "Sayang.... Aku suka setiap inchi tubuh ini. Otot-ototnya yang liat ini begitu hangat dipelukan dan bau tubuhmu membuat Aku candu untuk terus mengendusnya. Mari kita meraih kenikmatan surga dunia." Ucap Rili seperti wanita penggoda, matanya genit, bibirnya selalu dibasahinya dengan lidahnya tentunya tangan Rili bergrilya menyentuh organ-organ sensitif Yasir. Sebenarnya Yasir sangat menyukai sentuhan Rili. Tapi, kata-kata yang dikeluarkan Rili pagi ini membuatnya pingin ketawa.
"Ada apa denganmu sayang? sejak kapan kamu mulai lebay begini?" tanya Yasir dengan ekspresi menahan gelak tawa. Rili menatap wajah Yasir dengan tak kalah malunya. Dia ternyata tidak bisa menjadi wanita penggoda.
Rili diam, Dia malu. Tidak seharusnya Yasir memprotes ucapannya. Dia berfikir Yasir akan senang dan terbuai dengan ucapan yang memuji tubuh suaminya itu. Tapi, Yasir malah mengganggap itu lelucon.
Rili tiba-tiba ingin mengatakan itu, karena Ibu-ibu teman Rili bekerja, pernah membahas cara menyenangkan suami. Dari hasil Rili menguping. Katanya seorang istri harus memuja tubuh suaminya. Makanya Rili ingin mempraktekkannya pagi ini. Eehhh, tidak tahunya Rili belum maksimal mempraktekkannya yang membuat Yasir terhibur, karena Dia merasa tingkah Rili lucu pagi ini.
Bukannya menjawab Rili malah melanjutkan aksinya. Dia langsung menimpa tubuh Yasir. Tingkah Rili kali ini sukses membuat debaran jantung Yasir berdetak cepat. Tingkah Rili pagi ini diluar ekspektasinya. Yasir tambah dibuat kaget dengan tingkah Rili yang langsung melu*mat bibir Yasir dengan tidak sabaran, sampai-sampai Yasir kewalahan, karena tubuh Rili tidak mau diam di atas tubuhnya, menggesek-gesekan bagian bawah Rili ke juniornya Yasir yang masih dibungkus kain itu. Dengan tak sabarannya Rili melepas kaos oblong yang dikenakan Yasir. Akhirnya permainan kali ini dikuasai oleh Rili. Yang membuat Yasir tersenyum puas.
"Dek, setujukan tidak usah bekerja lagi?" tanya Yasir dengan lembut dan fokus menyetir.
Rili melirik Yasir, "Kalau Adek tidak kerja, terus Adek ngapain dong Bang? Adek sudah biasa banyak kegiatan." Masih memperhatikan Yasir yang sangat tampan di matanya pagi ini.
"Ya, kerja Adek ngerjain Abang aja, seperti tadi pagi. Abang suka. Iiiihhh.... " Yasir menggeliat, Dia teringat tingkah Rili tadi pagi. Sehingga Dia terangsang hanya dengan mengingat kelakuan Rili pagi ini. Yasir menatap Rili dengan terseyum genit, Rili mencubit pelan pinggang Yasir, yang membuat Yasir kegelian. Dan meraih tangan Rili dan mengecupinya dan tidak melepaskan tangan itu lagi.
"Bercandanya gak lucu." Rili memayunkan bibirnya, lalu memandang keluar jendela mobil. Dan menarik tangannya, yang tidak mau dilepaskan Yasir.
"Abang tidak pingin Adek kecapean dan banyak tekanan dari atasan. Cukuplah Abang saja yang menekan-nekan dari atas." Ucap Yasir dan tertawa Dia menggelinjang lagi, mengingat aksinya Rili tadi pagi.
Rili memutar lehernya, Dia tidak habis pikir dengan lidah suaminya yang sudah keseleo itu. "Bahasannya ujung-ujungnya ke situ mulu." Ucap Rili dengan melototkan matanya.
"Namanya juga baru merasakan. Lagian tadi Adek benar-benar hebat. Abang suka." Ucap Yasir teesenyum dan kembali mencium buku-buku jemari Rili yang membuat Rili begitu disayang. Wajah Rili berubah bak tomat matang, Dia juga malu dengan tingkahnya tadi pagi. Tapi, Rili menyukainya.
__ADS_1
Seminggu menikah dengan Yasir, Rili seperti orang yang kutuan. Gatal, gatal dan pingin digarut terus.
Setelah berkendara selama dua puluh menit, tibalah mereka disebuah kedai penjual sarapan. Kedai itu menjual sarapan selera lidah orang kampung atau masakan tradisional. Tapi, pengunjung selalu ramai. Yang membeli bukan saja kalangan bawah tapi orang-orang berduit serta touris sering mampir di tempat itu.
Kedai itu tidak besar, tapi tempatnya bersih dan interiornya indah yang membuat betah duduk di dalamnya untuk sarapan. Jangan tanya, sering sekali pembeli tidak kebagian tempat duduk, Karena ramainya pengunjung.
Seperti pagi ini tepat pukul delapan pagi, semua meja hampir penuh. Hanya ada satu meja yang masih bisa ditempati oleh Yasir dan Rili untuk sarapan.
"Sayang, kita duduk disana aja ya?" ucap Yasir menunjuk sebuah meja.
"Tapi, bukannya ada orang yang makan di meja itu sayang?" tanya Rili dan tidak mau melangkah ke arah yang di maksud Yasir.
"Iya, tapi kursi panjang di depan pria itu kosong. Kita duduk di bangku yang di depan Dia. Kita jangan duduk bangku panjang sebelahnya." Ucap Yasir, meyakinkan istrinya agar mau berbagi meja dengan pengunjung lainnya.
"Tapi, kalau Dia keberatan bagaimana sayang, Aku takut Dia merasa terganggu, apabila kita berbagi meja dengannya."
"Dia tidak akan marah. Itu lihat pelanggan lain juga berbagi tempat." Yasir menarik tangan Rili Dia menggenggamnya, yang otomatis Rili nurut.
"Maaf Bang, kita boleh gabung ya?" tanya Yasir. Dia belum memperhatikan wajah pria yang sedang memakai topi yang sedang menikmati sarapannya.
Pria yang bertopi sangat mengenal suara yang mengajaknya bicara. Akhirnya Dia menoleh ke arah asal suara. Yasir dan Rili masih berdiri disebelah meja, mereka belum berani duduk, kalau pria yang sudah duluan makan di meja itu belum mengizinkannya.
Ketiganya pun akhirnya terkejut, saat mata mereka bersitatap.
TBC
Mampir juga ke novel ku yang berjudul
PARIBAN I HATE YOU
Happy reading
__ADS_1