
Refleks Rili berlari, kemudian wanita itu terjatuh tepat dihadapan laki-laki yang baru keluar dari mobil Jaguar warna hitam tersebut. Hendrik dengan cepat membantu Rili berdiri disusul Windi yang ikut membantu nya.
Rili memandang Hendrik dengan wajah penuh tanda tanya. Hendrik meminta Windi untuk memapah Rili ke kursi Yang ada di dalam loby hotel.
Hendrik dan pria yang datang untuk mengevaluasi kinerja karyawan hotel milik Yasir adalah asisten Yasir sendiri.
Rili dan Windi yang sudah mendudukkan bokongnya di kursi panjang empuk tersebut, kini hanya bisa terdiam. Mata Rili nampak sudah berkaca-kaca. Harapannya untuk berjumpa dengan pria yang sangat dicintainya tidak terwujud.
Rili yang tidak bisa membendung air matanya lagi, langsung berjalan cepat dengan terpincang-pincang keluar dari Hotel. Praduga-praduga negatif dan mengasihani diri sendiri berkecamuk dihati dan pikirannya.
Windi mengikuti sahabatnya tersebut dan membantu Rili untuk berjalan. Mereka berdua nampak singgah disebuah pondok yang menghadap ke arah hamparan laut luas.
Rili nampak mendudukkan tubuhnya dengan kaki berselonjor dan kedua telapak tangannya nampak menutupi wajahnya sedangkan kedua paha wanita itu digunakan sebagai penopang kedua sikunya.
Wanita itu kembali menangis sejadi-jadinya dengan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Windi yang melihat tingkah sahabatnya tersebut hanya diam saja dengan posisi duduk bersandar dipojok pondok tersebut.
Windi sudah malas menasehati sahabatnya itu. Lebih baik Dia diam saja. Toh orang yang lagi galau sulit sekali untuk menerima nasehat, karena orang yang lagi patah hati tidak bisa berpikir jernih.
Akhirnya Rili mengeluarkan kembali unek-uneknya. "Dia pergi kemana? apa Dia mengetahui bahwa aku akan mencarinya dan ingin bertemu, sehingga Dia mengutus hanya asistennya saja?" Ucap Rili dengan suara isakan dan kedua telapak tangannya kini nampak meremas rambutnya.
"Kalau aku kasih nasehat. Apa kamu akan mendengar dan melaksanakannya?" tanya Windi dengan lembut dengan posisi masih tetap bersandar di pojok pondok.
"Aku mengerti maksudmu Windi
Aku juga ingin bisa melupakannya. Tapi, semakin aku berusaha untuk melupakannya, maka aku semakin mengingatnya." Ucap Rili masih dengan menangis dengan merubah posisi tubuhnya menghadap Windi.
"Maka dari itu jangan berusaha melupakannya. Mulailah dengan perasaan tentram terhadap diri sendiri. Berdamailah. Jika ada kenangan indah sewaktu kalian bersama, jangan lari dari kenangan itu. Peluk erat kenangan itu."
"Bilang ke diri sendiri saya punya kenangan masa lalu seperti ini. pernah dekat dengan seseorang yang sangat menyakiti hatiku. Saya terima semua kenyataan tersebut. Akan saya ingat dengan lega, karena saya tahu, besok lusa saya bisa jadi lebih baik, dan semua orang berhak untuk memperbaiki diri." Ucap Windi dengan sendunya memperingati sahabatnya itu.
"Kita sama Rili, aku juga punya masalah. Orang tuaku juga akan menjodohkanku dengan putra sahabatnya, apabila dalam dua bulan ini aku tidak mendapatkan kekasih yang akan mengajakku menikah." Ucap Windi dengan menatap sahabatnya tersebut yang kini sudah berada dihadapannya.
"Apa? kamu juga akan dijodohkan? Rili begitu terkejut dengan pernyataannya sahabatnya itu.
"Kenapa nasib kita begitu menyedihkan. Coba kamu bayangkan kita akan menikah dengan orang yang tidak kita sukai. Pasti hari-hari yang akan dilalui terasa membosankan dan canggung sekali." Ucap Rili.
"Entahlah, kalau niatnya ikhlas untuk menjalani sebuah pernikahan maka dengan bergulirnya waktu dan seringnya bersama mungkin akan timbul rasa cinta dan sayang." Ucap Windi dengan menatap kehamparan laut yang luas.
"Apa kamu sudah mengenal pria yang akan dijodohkan denganmu?" tanya Rili, sepertinya Dia sedikit tertarik dengan masalah sahabatnya Windi.
"Belum."
"Apa kamu akan menerima perjodohan itu Windi?
"Iya."
Rili terdiam mendengar jawaban sahabatnya itu. Tiba-tiba wajah Rival melintas dipikirkannya.
__ADS_1
"Apakah sudah keputusan yang tepat apabila aku menerima perjodohan ini? Hatiku menolaknya, aku takut kami berdua tidak bahagia." Gumamnya dalam hati.
Windi kini memegang tangan sahabatnya itu.
"Menurutku sudah saatnya kamu melupakan Yasir dan cobalah buka hatimu untuk menerima perjodohan yang kamu ceritakan kemarin." Ucap Windi dengan menatap lekat wajah sahabatnya itu.
"Aku ragu, aku belum kenal keluarganya dan dia tinggalnya sangat jauh. Aku tidak mau membuat keputusan tergesa-gesa dengan menjalin hubungan dengan seseorang padahal hatiku belum sembuh total." Ucap Rili dengan wajah sudah lebih tenang dia sudah tidak menangis lagi.
"Berdoalah minta petunjuk sama Allah, mungkin ini yang terakhir kali aku ikut-ikut nemenin kamu cariin Yasir. Sepertinya memang Dia sudah melupakanmu." Ucap Windi.
Rili yang mendengar kalimat yang diucapkan sahabatnya tersebut membuat hatinya perih dan nyeri. Seperti luka yang ditetesi air asam.
Air mata tampak jatuh dipipinya tanpa ada suara tangisan.
"Aku akan menelpon Abang Hendrik!"
"Untuk apa kamu menelpon Dia?" tanya Rili dengan mengusap air matanya dengan punggung tangannya.
"Aku ingin berbicara dengan asisten Abang Yasir tersebut." Ucapnya sembari mengambil ponselnya dari tas selempangnya.
Windi nampak menelpon Hendrik. Windi nampak dengan serius saat berbicara dengan Hendrik di telpon.
"Kamu ikut kedalam Hotel lagi atau menunggu disini?" tanya Windi dengan memegang bahu sahabatnya itu.
"Aku ikut denganmu!"
"Ayok, turunlah dengan pelan-pelan." Ucap Windi dengan membantu memapah sahabatnya tersebut.
Rili tidak tahu kalau Yasir punya perkebunan di tempat Rili tinggal. Memang perkebunan itu memakan waktu tempuh sekitar 1,5 jam dari pusat kota.
"Pak, bisakah luangkan waktunya sebentar. Karena ada teman saya yang ingin berjumpa dengan Bapak?" tanya Hendrik dengan hati-hati.
"Teman? ada perlu apa Dia sama saya? apa aku mengenalnya?" tanya Yusuf secara beruntun dengan muka sedikit bingung.
"Akupun kurang tahu, tentang keperluan Dia terhadap Bapak?" jawab Hendrik sopan.
"Yang akan ketemu denganku pria atau wanita?" tanya Yusuf dengan mengubah posisi tubuhnya yang sedang duduk di sofa warna hitam tersebut dengan mengangkat salah satu kakinya dan menyilangkannya.
"Wanita pak." Jawab Hendrik.
"Mana orangnya suruh masuk cepat, aku hanya ada waktu lima menit. Lewat dari lima menit, Dia tidak muncul, aku tidak bisa menunggu lagi, karena masih ada tempat yang harus saya supervisi." Ucap Yusuf dengan menyeruput kopi hitam miliknya.
Lima menit berlalu windi belum datang juga. Hendrik mencoba menghubungi ponsel Windi.
"Kalian dimana? cepetan? Pak Yusuf akan segera pergi." Ucap Hendrik dengan ketus di sambungan udara dengan Windi.
"Bentar bang, udah mau sampai. Ini Rili lama kali jalannya." Jawab Windi.
__ADS_1
"Cepetan...!" ucap Hendrik dan langsung mematikan ponselnya.
Yusuf melihat jam yang melingkar ditangannya. "Saya tidak punya banyak waktu lagi pak Hendrik, menunggu orang yang tidak penting. Saya harus pergi sekarang. Oh ya, kinerja karyawan Hotel bulan ini meningkat ditandai dengan pemasukan pendapatan yang meningkat 10% dari bulan lalu. Ini hasil kerja yang memuaskan." Ucap Yusuf sembari berdiri dari posisi duduknya.
"Pak, mohon tunggu sebentar. Dia akan sampai." Ucap Hendrik dengan sedikit memaksa.
"Maaf pak Hendrik, aku tidak bisa buang-buang waktu. Waktu lebih berharga dari emas." Ucap Yusup dan keluar dari ruangan Hendrik.
Kini Yusuf sudah pergi dari ruangan kerja Hendrik, dan Windi nampak sampai di ruangan Hendrik. Ya, Windi dan Yusuf tidak bertemu saat Yusuf keluar dari ruangan Hendrik, karena Windi melewati koridor bagian belakang dia memotong jalan agar cepat sampai ke ruangan Hendrik.
"Mana asisten Yasir itu bang Hendrik?" tanya Windi dengan napas yang ngos-ngosan."
"Sudah pergi, kamu sich lama sekali."
"Kan sudah ku bilang ditunggu!" Jawab Windi kesal.
"Dia orang penting yang biasa ditunggu, bukan orang yang mau menunggu!" jawab Hendrik ketus, Karena Dia kesal lihat sepupunya itu yang sering bersifat arogan dan blak-blakan.
"Abang tidak bisa diharapkan!" teriak windi dan langsung berlari keluar mengejar Yusuf.
Windi berlari cepat dan meninggalkan Rili yang mematung di ruangan Hendrik, Dia tidak bisa menyusul Windi karena kakinya masih sakit.
Windi berlari cepat menuju keluar Hotel. Akhirnya Dia melihat sosok yang ingin ditemuinya berada didepannya tepatnya masih berjalan di koridor Hotel menuju loby Hotel.
"Pak, Pak..... Tunggu sebentar!" teriak Windi, tapi orang yang diteriakinya tidak menggubrisnya karena Yusuf tidak merasa dipanggil.
Jarak Windi dan Yusuf sudah hampir dekat, karena Windi memang berlari untuk bisa bertemu dengan Yusuf.
"Pak...!" Panggil Windi, Dia yang tidak hati-hati saat berlari akhirnya kakinya tersandung dengan pengepel lantai. Ya, petugas cleaning servis nampak sedang membersihkan koridor Hotel yang dilalui Yusuf.
Yusuf yang mendengar suara teriakan wanita dibelakangnya, akhirnya berbalik badan. Dan...
Bruukkkkk...
Kaki Windi yang tersandung sehingga keseimbangan tubuhnya tidak bisa dikendalikannya lagi menabrak Yusuf dengan keras. Sehingga kini Yusuf terjatuh terlentang dilantai koridor Hotel dengan posisi Windi berada di atasnya. Dan bibir Windi menempel tepat dibibir tipis Yusuf.
Windi terkejut dengan kejadian itu. Saking terkejutnya tubuhnya seolah menjadi beku. Windi nampak mengangkat kepalanya. Matanya mengerjap-ngerjap dan melotot melihat wajah tampan yang tepat dihadapannya
Yusuf pun bersikap sama, Dia bingung sambil terkejut dimana seorang wanita sekarang sedang menimpanya.
Yusuf tersadar, disaat dia merasa tubuhnya bagian bawah seperti kena air. Jelas saja, air pel yang ada di koridor itu ikut tertumpah disaat Windi tersandung.
Tiba-tiba wajah Yusuf berubah menjadi merah padam. Dia kesal, dengan cepat dan dengan sekuat tenaga dia mendorong tubuh Windi. Sehingga tubuh Windi terplanting kesamping Yusuf. Saat tubuh Rili terplanting ternyata tubuhnya bagian kepala terbentur dengan ember yang airnya tumpah dibuatnya saat tersandung.
"Kamu.......!"
Bersambung.
__ADS_1
Mohon beri like coment vote dan jadikan novel ini sebagai favorit.
Terima kasih