
Kreeekkkk...... Rival membuka pintu dapur, Dia melihat Ibunya sedang menyalakan api ditungku. Ya, walau sudah punya kompor gas. Ibu Rival tidak berani menghidupkan kompor gas. Dia takut meledak.
Rili merasa takut melihat tatapan mertuanya, sehingga Dia memilih masuk ke kamar dan melaksanakan sholat dikamar yang sempit itu. Sedangkan Rival memilih sholat di Mesjid samping rumahnya.
Rili tidak berani keluar dari kamar, Dia sangat ketakutan dengan Ibu mertuanya. "Kalau Abang Rival keluar kota dalam dua hari. Bagaimana Aku akan melewati hari-hari dengan Bou. Aku sangat takut kepadanya. Melihatnya saja, jantungku rasanya copot." Gumam Rili dalam hati.
Ceklek.
Rival masuk ke dalam kamar. "Perutnya masih sakit dek?" tanya Rival, Dia mendudukkan bokongnya disebelah Rili dibibir tempat tidur.
"Iya bang, mules. Sepertinya Aku masuk angin." Ucap Rili.
"Ya udah, Adek istirahat aja. Biar Abang aja yang masak ya."
"Tapi, Aku takut nanti Ibu makin membenciku. Kalau, Abang yang masak." Ucap Rili dengan menahan tangan Rival yang hendak pergi dari kamar mereka.
"Adek lagi sakit, mana mungkin dipaksa memasak."
"Hanya mules bang."
"Iya, nanti Abang sekalian mau bicara sama Ibu. Abang juga merasa tidak tenang meninggalkanmu di Rumah ini.
"Sudah Adek istirahat aja." Ucap Rival. Dia pun pergi menuju dapur.
Di dapur, Ibu Rival sedang duduk di bangku pendek tanpa lengan. Dia nampak menghangatkan tubuhnya.
"Kita masak Telor dadar aja ya Bu. Rival udah kangen banget makan telor dadar bebek di campur dengan daun bawang. Ehhmmm.. Pasti enak dimakan dengan nasi yang hangat." Ucap Rival. Dia ingin menenangkan Ibunya, sebelum Dia masuk ke topik pembicaraan.
"Istrimu mana? Ibu perlihatkan, Kamu terus yang memasak."
"Dia lagi sakit Bu."
"Dia berakting itu, Dia memang pemalas."
"Bu, sikap Ibu ini bisa menghancurkan pernikahan Rival. Tolonglah Bu, sayangi Dia. Anggaplah Dia seperti putri Ibu."
"Tidak akan pernah. Dari dulu kan Ibu pinginnya kamu menikah dengan Rayati."
"Stop Bu, cukup sudah. Aku tidak ingin Ibu membenciku. Karena Ibulah yang melahirkanku. Rival tidak ingin ribut dengan Ibu.
"Hari ini Rival akan dinas keluar kota. Rival harap, Ibu bersikap baik kepada Rili, selama Rival tidak ada."
__ADS_1
Rili mendengar semua percakapan antara suami dan Ibu mertuanya. Hatinya sedikit tersentuh mendengar ucapan Rival yang membelanya. Setelah mengeluarkan unek-unek dihatinya tadi, Rili merasa sedikit lega.
Dert...Dert....Dert...
Ponsel Rival berdering
Ibu-ibu, bapak-bapak, siapa yang punya anak bilang aku
Aku yang tengah malu sama teman-temanku
Karena cuma diriku yang tak laku-laku
Pengumuman-pengumuman, siapa yang mau bantu tolong aku
Kasihani aku, tolong carikan diriku kekasih hatiku, siapa yang mau? Begitulah lirik lagu dari nada dering ponsel Rival.
Ponsel Rival terus saja berbunyi dari dalam lemari pakaian.
"Dek, tolong ambilkan handpone Abang, sepertinya ada yang menelpon." Ucap Rival sedikit keras dari dapur.
"Iya bang." Jawab Rili. Dia bangkit dari tidurnya, Dia mengambil ponsel Rival dari dalam lemari tanpa melihat siapa yang menelpon.
"Siapa yang menelpon?" tanya Rival disaat Rili sudah Spain di dapur, Rili celingak-celingukan mencari sosok Ibu mertuanya yang tidak dilihatnya di dapur itu.
Riki melihat layar ponsel Rival. "Bos Abang." Ucap Rili, Dia memperhatikan no yang menelpon tersebut. "No nya seperti no ponsel Abang Yasir." Gumam Rili dalam hati.
Rili memberikan ponselnya kepada suaminya itu, kemudian Rili mengambil alih melanjutkan memasak.
"Walaikum salam Bos." Ucap Rival menjawab salam dari Yasir.
"Jadwal keberangkatan kalian berubah menjadi pagi ini. Karena kalian harus memeriksa laporan cabang perkebunan kita yang lain di dua kota sebelum ke Pekanbaru." Ucap Yasir.
"Baiklah Bos, tapi yang memimpin rapat hari ini jadinya siapa? Bos kan lagi di kota PSP." Tanya Rival sambil membantu Rili memasak.
"Aduhh..... tanganku." Ucap Rili dengan sedikit keras. Rival dengan cepat menangani jari telunjuk Rili yang kena minyak goreng panas. Saat hendak memasukkan cabai ke minyak panas.
Rival mengalirkan air ke jari Rili. Kemudian Dia bergerak cepat memetik daun lidah buaya yang ada di halaman depan Rumahnya. Dan mengoleskan getahnya ke jari Rili yang sudah melepuh itu. Sedangkan tangan kiri Rival tetap memegang ponselnya yang menempel dikuping.
"Lain kali hati-hati ya dek." Ucap Rival.
Yasir lama terdiam, Dia seperti sedang mendengar suara Rili.
__ADS_1
"Bos... Halo Bos...?"
"Iyaa, Kamu tanya apa tadi?" Ucap Yasir dengan bingungnya
"Yang memimpin rapat nantinya siapa Bos? sebelum kami berangkat biar sama buat briefing dulu." Ucap Rival.
"Oohh... Saya yang akan memimpin rapat. Jam Dua saya usahakan sampai disana. Sebelum kalian berangkat pagi ini bersama Tim. Siapkan semua dokumen untuk rapat yang akan saya pimpin." Ucap Yasir dengan sedikit bingung. Karena Dia sempat mendengar suara, seperti suara Rili.
"Ok Bos. Walaikum salam." Jawab Rival dan mematikan panggilan teleponnya.
"Keberangkatan Abang dipercepat dek. Ayo kita sarapan. Abang harus cepat ke kantor. Sebelum berangkat masih banyak kerjaan yang harus Abang selesaikan." Ucap Rival sambil membantu Rili mengambil piring, gelas dan cuci tangan.
"Abang nanti berangkatnya dari kantor, tidak pulang lagi ke Rumah ya dek." Ucap Rival.
"Iya bang." Ucap Rili sambil membantu mempacking pakaian Rival.
"Abang berangkat ya!" Cup..Cup. Rival mencium kening dan bibir Rili dengan cepat, sebelum si empunya bibir mengelak.
"Tunggu Abang, jangan pergi kemana-mana. Ibu tidak akan berani macam-macam lagi kepada adek." Ucap Rival dan memasuki mobilnya. Dia melambaikan tangannya dan kemudian tancap gas.
Sepanjang perjalanan menuju kantor, Rival merenung. Kata-kata Rili yang mengungkap semua isi hatinya, membuat dada Rival menjadi sesak dan sakit. Rival memegangi dadanya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanan fokus menyetir.
"Sampai kapan pun, Aku tidak akan bisa mencintaimu bang. Ada nama orang lain dihatiku. Dia tidak pernah pergi dari pikiranku. Dia seperti bayangan yang selalu mengikutiku." Kalimat ini terus saja melintas dipikirannya.
"Haruskah aku menanyakan siapa pria masa lalunya? Tapi, untuk apa mengetahuinya? Itu sama saja, Aku akan melukai diriku sendiri." Rival berbicara sendiri saat mengemudi. Dia kemudian menenangkan dirinya. Menarik napas sedalam-dalamnya dan membuangnya pelan.
Sementara di kota PSP, yang terkenal dengan Kota salak. Yasir akan melakukan pertemuan dengan teman bisnisnya. Dia akan membangun sebuah Hotel dikota tersebut. Tentunya usaha Hotel ini adalah miliknya sendiri. Tidak ada orang lain yang menanam saham di proyek barunya ini.
"Haruskah Aku menghubungi ponselnya? Sudah lebih dari enam bulan aku tidak mendengar suara. Aku sangat merindukanmu Rili." Gumam Yasir dalam hati. Dia kemudian mengotak Atik ponselnya.
" Bismillahirrahmanirrahim..... Aku akan mencoba menghubunginya. Walau Ibunya memohon-mohon kepadaku agar tidak pernah berkomunikasi dengannya. Aku tidak peduli itu lagi. Aku hanya ingin tahu kabarnya.
"Tapi, bagaimana nanti kalau Dia memang sudah melupakanku? benarkah kata Ibu, Dia tidak mencintaiku lagi? Kata Ibu Dia sudah bahagia. Kalau benar kamu bahagia, aku ikhlas melepas mu. Karena tujuan hidupku di dunia ini hanya untuk membahagiakanmu. Tapi, kalau kamu tidak bahagia. Aku tidak bisa melihat itu semua." Ucap Yasir sambil mondar-mandir di dalam hotel tempat Dia menginap. Dia terus memutar-mutar ponselnya di tangannya.
"Aku harus menghubunginya. Kami harus bertemu.!" Yasir menekan tombol memanggil.
Bersambung...
Mohon beri like, coment positif. Rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.
Jangan lupa VOTE nya kak, biar lebih semangat lagi authornya.
__ADS_1
Author juga ada group. Silahkan gabung ke group ya kak.
Terima kasih