Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Hadirkan Rili


__ADS_3

Sepeninggalannya Mama Maryam. Kini Rival bingung harus berbuat apa. Jadilah Dia hilir mudik sambil garuk-garuk kepala di kamar itu. Dia lagi berfikir keras bagaimana caranya untuk bisa bicara dengan Mely.


Capek hilir mudik, Dia pun mendudukkan bokongnya dibibir ranjang dengan pelan. Dia takut Mely terbangun. Padahal sebenarnya Mely tidak tidur. Bahkan Dia bisa mendengar semua isi percakapan Rival dan Mama Maryam.


Rival menjulurkan tangannya dengan bergetar, hendak menyentuh pipi Mely yang nampak semakin putih bersih dan halus itu.


Dia tidak sanggup, Dia takut Mely marah karena menyentuhnya. Akhirnya Rival menarik kembali tangannya. Dadanya semakin bergemuruh, karena jantungnya berdetak cepat. Karena takut dimarahi lagi istrinya itu.


Dia bangkit dari ranjang tempat Mely berbaring. Seketika matanya tertuju kepada layar datar yang ada dihadapannya, yang mempertontonkan seorang pria, sedang merayu wanitanya dengan memberikan satu buket mawar merah.


Setelah selesai menonton tayangan di TV itu, wajah Rival langsung sumringah. Dia sepeerti mendapatkan ilham. Dia melirik Mely yang nampak tertidur itu. Dengan terseyum.


"Baiklah, Aku akan coba memberikannya bunga. Tapi, apa ada toko bunga masih buka sudah larut begini?" Ucapnya pelan, sambil menggaruk-garuk kembali kepalanya. Dia melirik jam yang bertengger di dinding kamar itu, sudah menunjukkan pukul 22.15 Wib. Sungguh, Rival merasa seperti baru pertama kali berkencan saja dengan wanita. Rasanya begitu menegangkan dan harap-harap cemas.


Mely sudah bosan yang berpura-pura tidur itu. Merasa sesak pipis dan juga merasa haus. Dia malu memintanya kepada Rival. Jadilah, Dia menahan pipis dan hausnya. Karena menuruti ego dan gengsi.


Merasa mendapat ide, Rival keluar dari kamar, berjalan cepat menuju taman samping rumah mereka. Dia akan memetik bunga mawar yang selalu dirawat tukang taman mereka.


Mely menggerutu dalam hati, kenapa suaminya itu meninggalkan nya sendirian di kamar itu.


"Dasar suami edan, aku yang tak berdaya ini ditinggal sendiri di kamar ini." Ucapnya kesal, Dia pun memiringkan sedikit badannya, agar lebih mudah untuk duduk.


Setelah terduduk, dengan kaki sudah tergantung menyentuh lantai. Mely meraih ikat rambut yang ada di nakas meja dekat tempat tidurnya. Dia pun mengikat rambutnya. Sambil meringis menahan sakit bagian bawahnya. Sepertinya bagian bawahnya Mely sangat banyak jahitan. Walau menggunakan benang jahit yang paling bagus, nyatanya Mely masih merasakan sakit.


Setelah Rival memetik sekuntum bunga mawar merah, yang baru merekah itu, Dia pun berlari menuju kamarnya. Dia merasa bahagai sekaligus gelisah.


Dia memegangi dadanya yang bergemuruh, karena nervouse. Dia mencoba menenangkan dirinya dengan olah raga pernapasan. Menghirup udara dan menghembuskannya pelan. Kegiatan itu berulang kali dilakukannya. Sampai Dia merasa tenang dan percaya diri.


Ceklek...

__ADS_1


Mely melihat Rival tersenyum sambil memegang bunga dan mengunci pintu kamar mereka. Rival yang teesenyum-senyum itu, tidak menyadari bahwa Mely sudah terduduk di pinggir ranjang dan memperhatikannya. Karena Rival merasa Mely masih tertidur.


Saat Rival berbalik badan, habis selesai mengunci pintu. Dia kaget, karena melihat Mely dihadapannya sedang menatapnya. Dengan cepat Dia menyembunyikan tangan kanannya ke belakang yang sedang memegang bunga mawar.


"Sa--yang.., ka---mu sudah terbangun?" ucapnya dengan terbata-bata. Rival merasa suaranya hilang dan habis.


"Sudah," jawab Mely jutek. Berusaha untuk berdiri sendiri.


Melihat istrinya itu ingin berdiri. Rival pun berlari mendekat. "Mau kemana sayang?" tanya nya menatap Mely dan tidak berani menyentuh istrinya itu.


Mely meliriknya sekilas, "Mau ke kamar mandi." Ucapnya datar dan mencoba untuk berjalan.


Dengan cepat Rival berlutut dengan menekuk satu kakinya dihadapan Mely. Menghadang Mely yang ingin ke kamar mandi.


"Saaayanggg, maafkan Mas.! Mas mengaku salah dan khilaf. Maafkan Mas ya?!" pintanya dengan wajah memelas. Mendongak dan memberikan satu tangkai bunga mawar merah kepada Mely.


Saat Rival melakukan ide gilanya itu. Dia merasa takut sekali. Dia takut Mely marah dan tidak mau memaafkannya. Saat itu juga Dia terkena serangan jantung. Dentingan Jantungnya bertalu-talu.


"Adek gak kenapa-napa kan?" tanya Rival, dengan penuh ke khawatiran, melihat Mely kembali terduduk dengan lemah.


Mely tidak menjawab pertanyaannya suaminya itu, jawabannya harusnya bisa dilihat Rival dari matanya yang berkaca-kaca.


Rival yang berlutut dihadapan Mely kembali menyodorkan bunga mawar merah itu kepada Mely, berharap Mely menerimanya dan memaafkannya.


"Mas salah, mas memang tidak pantas disebut suami. Tapi Mas mohon, maafkanlah Mas?" Ucapnya dengan suara menahan tangis. Dia menggenggam tangan Mely, merangkumnya dan bunga mawar itu terjepit diantara tangan pasangan suami-istri yang labil dan kekanak-kanakan itu.


Mely berontak, dan ingin melepas genggaman Rival. Tapi, Rival tidak mau melepas genggamannya.


Mely sebenarnya tidak kesal lagi kepada suaminya itu. Dia ingin memaafkannya. Tapi, Dia takut. Rival Kembali berulah dan selalu mengingat mantan istrinya itu.

__ADS_1


"Empat bulan, kita berpisah. Empat bulan Adek menghukum Mas. Ku mohon, jangan hukum Mas lagi. Maafkanlah Mas. Izinkan Mas, melakukan tugas Mas sebagai suami dan Ayah yang baik untuk anak-anak kita." Ucapnya memelas kepada Mely. Sungguh Rival sudah membuang semua rasa ego dan malunya.


"I am sorry, dear..!" ucapnya tak tahan lagi, membendung air mata yang dari tadi ditahannya.


"Tidak secepat itu Mas. Kalau Mas bisa menghadirkan kak Rili besok dihadapanku. Maka aku akan mempertimbangkan permintaan maaf Mas itu." Ucapnya dingin, mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Rival.


Mely berbalik badan, setelah Rival melepas tangan Mely. Dia sengaja mengatakan itu. Dia ingin bicara dengan Rili. Apa sebenarnya yang suaminya katakan kepada Rili


Saat suaminya itu menjumpainya.


Rival tercengang mendengar permintaan Mely. Kalau Rili tidak mau datang lagi kesini. Bagaimana? Sepertinya Rival harus sedikit memaksa agar pasangan suami istri itu, datang lagi ke rumahnya.


"Baik, Mas akan turuti permintaanmu sayang. Diantara kami berdua tidak ada apa-apa lagi. Dia pasti mau menjumpaimu." Ucapan Rival membuat Mely menatapnya. Benarkah suaminya itu bisa mendatangkan pasangan itu lagi?


"Tapi, setalah Mas bisa membuatnya datang kesini. Mas tidak mau lagi mendengar banyak alasan atau ungkapan kekecewaan. Yang membuat hati sakit mendengar nya. Apa Adek bisa berjanji, tidak akan marah-marah setelah berjumpa dengannya?" Ucap Rival, Dia harus memastikan dulu. Bahwa mempertemukannya dengan Rili, adalah keputusan yang tepat.


Mely bengong, Dia pun bingung. Kenapa Dia ingin berjumpa dengan Rili. Tapi, hatinya bilang begitu.


"Iya," jawab Mely lemah.


Rival menggerakkan kepalanya, ingin melihat Mely yang menunduk.


"Iya apa?" tersenyum manis kepada Mely.


"Kalau kak Rili datang kesini besok. Adek akan maafkan Mas." Jawabnya malu-malu.


Sebenarnya tidak usah pun mendatangkan Rili. Mely sudah mau memaafkan Rival. Tapi, Dia ingin melihat kesungguhan Rival. Jadi, apa salahnya memberinya syarat.


"Adek kenapa?" tanya Rival melihat Mely memegangi perutnya. Dia khawatir sekali, Mely kenapa-napa. Rival pun menyentuh bagian yang disentuh Mely.

__ADS_1


"Adek kebelet." Jawabnya, dengan ekspresi muka kusut.


Dengan cepat Rival menggendong Mely ke kamar mandi. Saat dalam gendongan suaminya itu. Mely merasa grogi.


__ADS_2