Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Merasa tidak bisa memuaskan


__ADS_3

Keesokan harinya.


Yasir dan Rili kini tengah berada di dalam mobil mewahnya. Pagi ini mereka keluar dari rumah sakit. Rili merengek ingin pulang saja. Padahal Yasir masih ingin istrinya itu dirawat sampai pulih total.


"Yachay, kita mau ke mana ini?" tanya Rili dalam dekapan Yasir. Rili merasa jalur yang mereka lalui berbeda dengan jalan mau ke rumah mereka yang di kota M.


Yasir mencium jemari Rili yang terpaut dengan jemarinya. "Kita akan menginap di Hotel kita yang baru dilaunching di Brastagi." Ucap Yasir tersenyum bahagia. Setelah menikah dengan Rili, usaha mereka semakin meningkat pesat.


Yasir merasa bersyukur memperistri Rili. Dia tidak salah mencintai wanita ini mulai dari remaja. Rili membawa hoki dalam hidupnya.


"Nginap di Hotel? Adek pinginnya kita ke rumah saja." Rengek Rili. Dia sudah bosan tidur di Hotel. Lima bulan menikah, Yasir selalu membawa Rili kemanapun Dia pergi. Yang membuat Rili merindukan suasana rumah. Maklum lah Rili tipe wanita sederhana, yang tidak silau dengan kehidupan mewah atau pun glaomur.


Yasir jadi bingung, Dia ingin mengajak istrinya berlibur ke tempat yang hawanya sejuk, dengan pemandangan yang indah. Tapi, Rili malah menolak.


"Dua hari saja ya Sayang, Abang ada pekerjaan penting besok di Hotel itu. Asisten Jef minta cuti pulang ke kampungnya. Ayah, semalam minta berlibur juga tidak mau diganggu. Dia katanya mau pensiun saja. Mau menikmatinya masa tuanya bersama Mama. Padahal Mama selalu sibuk dengan teman arisannya." Ucap Yasir, menatap Rili yang beringsut dari pelukannya.


"Lagian Mama masih di kota M. Tahu Dia kita di rumah, pasti Mama akan ajakin kamu ikut kumpul dengan Ibu-ibu teman arisannya. Apa Adek mau diajakin kumpul sama istri-istri pengusaha dan pejabat-pejabat itu lagi?" tanya Yasir, menatap Rili dengan terseyum sekaligus kasihan. Rili paling sebel, apabila diajak Ibu mertuanya mengikuti arisan Ibu-ibu sosialita itu.


Terakhir, Ibu Mertuanya Rili mengajak Dia arisan di dalam kapal pesiar. Saat itu acaranya Ibu-ibu sosialita itu bermalam di pulau. Jadi mereka menggunakan kapal pesiar untuk menyeberang. Rili sangat menyesal mengikuti acara tersebut. Karena Dia tidak terlalu suka dengan gaya hidup berfoya-foya begitu. Walau sebagian uang tarikan arisan akan disumbangkan.


"Semalam Mama cerita besok mereka arisan di dalam jet pribadinya Ayah. Dari kota M, mereka akan ke Negara Australia. Saat diperjalanan maka arisan itu akan berlangsung. Sungguh, pemikiran Ibu-ibu yang halunya sangat tinggi." Ucap Yasir, menatap Rili yang menampilkan ekspresi tidak suka.


"Kata Mama kali ini mereka akan buat tarikan 1 Milyar. Adek ikut saja, pas Adek menarik, Kali sepuluh peserta uang Adek jadi 10 Milyar." Ucap Yasir dengan semangat, dengan wajah yang sudut matanya mulai keriput karena menahan diri untuk tidak tertawa. Dia sedang menggoda Rili yang tidak suka gaya hidup Ibu-ibu Sosialita.

__ADS_1


Rili memutar lehernya menatap Yasir. " Setiap orang 1 Milyar? banyak banget?" Ucap Rili tidak percaya. Emang ya orang kaya yang 1 milyar, dirasa seperti daun saja.


"Ho..oh...!" jawab Yasir masih menatap Rili yang melongok itu.


"1Milyar, Adek mana ada uang sebanyak itu. Sejak berhenti bekerja. Adek mana pernah pegang uang." Jawabnya polos. Memang sejak menikah, Rili merasa tidak pernah pegang uang . Kemana-mana Dia selalu bersama Yasir. Dan semua keperluan, Yasir yang handle.


"Gak punya uang?" tanya Yasir, kenapa pula istrinya itu mengatakan tidak punya uang. Bahkan semua hartanya sudah dibalik nama atas Istrinya. "Buku tabungan yang jumlah digit 15 angka itu, tidak Adek anggap uang?" Yasir menatap Rili yang masih cemberut.


Rili semakin mengerutkan wajahnya. Apa buku tabungan yang diberikan Yasir padanya setelah dua minggu menikah jumlahnya sebanyak itu? Rili memang tidak pernah memeriksa buku tabungannya.


"Haaahhh..... Sebanyak itu, Aku punya uang sebanyak itu?" tanyanya dengan ekspresi tidak percaya.


"Iya, Adek sih tidak pernah menggunakannya. ATM nya juga tidak pernah digesek. Apalagi kartu kreditnya." Ucap Yasir, mulai mengambil ponsel pintarnya dari tas nya.


"Abang sengaja kasih Adek black card, tahu Adek tidak akan pernah menggunakannya. Iya kan? Mesti kali kasih black card. Kartu Silver aja, Adek sudah bersyukur gak mesti gold atau platinum." Ucap Rili memperhatikan suaminya yang hanya tersenyum menanggapi ucapannya, tapi matanya serius menatap layar ponselnya.


"Ia, Adek bosan nempel terus sama Abang." Ucapnya cemberut dan memanyun-manyunkan bibirnya yang berwarna cery itu. Hati Yasir terganggu mendengar ucapan Rili. Benarkah istrinya itu bosan? atau Dia sengaja mengikuti arah pembicaraan Yasir.


Yasir menghentikan aksinya bermain ponsel, Dia menoleh ke arah Rili yang masih cemberut.


"Itu bibir kenapa monyong begitu?" tanya Yasir dengan muka mesumnya.


"Itu karena...!" Bibir Yasir sudah melahap bibir Rili. Bahkan Yasir memegang kuat tengkuk Rili agar jangan berontak. Rili terus saja protes. Dia menggerak-gerakkan kepalanya. Agar ciuman itu berhenti. Tapi, Yasir tidak akan menghentikannya sampai Dia puas melu*mat bibir Rili yang kenyal dan terasa manis untuknya. Entahlah, Dia merasa tak pernah bosan dengan istrinya itu. Bahkan rasa cinta Yasir semakin besar saja. Ditambah Rili akan melahirkan anaknya.

__ADS_1


Aksi Rili menggerak-gerakkan kepala tidak dipedulikan Yasir. Hingga kini tangan Rili ikut menjambak rambut Yasir. Rili geram, di mobil suaminya itu main sosor. Apa tidak malu sama Pak supir.


Rili megap-megap dan sedikit ngos-ngosan. Setelah Yasir melepas pangutannya yang penuh gairah itu.


"Apa Adek mau buat Abang botak? kenapa rambut Abang di Jambak?" ucap Yasir memegangi kepalanya dan merapikan rambutnya dengan sisir yang tersedia di tas nya.


Rili memukul dada Yasir. "Abang yang mau membunuhku dan anak kita. Main sosor tanpa memberi Aku ruang dan waktu untuk bernafas." Ucapnya kesal, masih meninju dada Yasir.


"Adek kapan pintarnya sih? ciuman hanya bisa 10 detik. Habis itu gak bisa lagi bernafas." Ucap Yasir, kemudian tangannya menjulur mengelus perut Rili yang sudah buncit itu.


"Maafin Ayah ya Sayang?Ayah Doain, kelak kamu dapat istri yang jago ciuman dan jago di ranjang." Yasir terkekeh dengan ucapannya sendiri. Sedangkan Rili dibuat kesal minta ampun. Apa Yasir tidak puas dengan pelayanannya di kasur? kenapa Yasir malah seperti curhat kepada anaknya. Apa Yasir sedang mengeluh secara tidak sadar?


"A---pa maksud ucapan Abang itu?" tanya Rili dengan gugup. Kalau benar Yasir tidak puas dengan dirinya. Dia merasa gagal jadi istri.


Yasir menegakkan tubuhnya, menatap mata Rili yang berkaca-kaca.


"Maksud Adek?" Yasir bingung. Dia menautkan kedua alis matanya, dengan bibir tersenyum simpul.


"Aahhhkk sudahlah, tidak jadi." Ucapnya membuang muka kearah kaca mobil. Dia tidak mungkin menanyakan urusan ranjang di dalam mobil. Pasti supir mereka mendengar nya.


Yasir merasa ada yang salah dengan dirinya. Karena sikap Rili berubah. "Adek kenapa?" Yasir meraih bahu Rili agar menghadap dirinya. Tapi Rili menggendik bahunya. Dia tidak mau menatap Yasir.


TBC.

__ADS_1


Mampir ke novelku yang paling seru


❤️ Dipaksa menikahi Pariban


__ADS_2