
Akhirnya Pak Firman pun kembali melajukan mobilnya, setelah Mely mengambil keputusan yang sangat sulit itu.
Dia pergi meninggalkan Rival, pria yang sangat dicintainya dan cinta pertamanya.
Semoga kepergiannya kali ini benar-benar bisa membuatnya bahagia. Seperti yang dikatakan Mamanya. Melupakan suaminya itu, dan memulai hidup baru dengan anak-anaknya serta kedua orang tua kandungnya.
Sepanjang perjalanan menuju kota B. Yang membutuhkan waktu sekitar dua jam. Air mata Mely tidak henti-hentinya, mengalir deras dari sudut matanya. Mata yang bulat dan indah itu. Sudah berubah jadi mata sembab dan bengkak, Karena Dia terus saja menangis tanpa isakan.
Tidak ada yang buka suara di dalam mobil itu, semuanya larut dalam pikiran masing. Bahkan Bi Ida juga yang masih bingung, karena baru mengetahui bahwa mereka akan pindah ke B.
Benar kata Mamanya Dia harus pergi dari pria munafik itu. Kalau ingin merasakan hidup bahagia dan ceria seperti dulu. Rival sering membuat keputusan tidak terduga yang membuat orang sekelilingnya menderita.
Jikapun Rival itu pria baik. Tapi, Dia tidak baik untuk kehidupanmu. Kata-kata Mama Maryam itulah yang terngiang-ngiang di telinga Mely. Sehingga Dia akhirnya, mengikuti saran Mamanya untuk pertama kalinya. Yaitu meninggalkan suaminya itu.
Air mata Mely semakin deras saja keluar, disaat kebersamaan dengan Rival melintas lagi dipikirannya. Dalam kebersamaan itu, air mata lebih dominan keluar daripada senyum dan tawa ceria. Jadi, sudah tepat keputusannya dengan meninggalkan Rival.
❤️❤️❤️
Yasir dan Rili masih setia duduk menunggu kabar dari Dokter tentang kondisi Rival saat ini.
Rili memasrahkan kepalanya bersandar di pundak Yasir, sedangkan tangan kanan Yasir memeluk Rili. Sesekali Yasir mengusap perut Rili yang buncit, yang sembunyi didalam dres motif sultan yang dikenakannya. Dan setelah Yasir mengelus-elus perut istrinya. Maka, tangan kirinya akan meraih jari jemari Rili. Untuk dikecupnya. Sungguh Yasir, tidak akan barang sedetikpun tidak mencium organ tubuh istrinya itu.
Tiga puluh menit berlalu Dokter pun keluar dari ruang Instalasi gawat darurat itu.
Melihat Dokter keluar, Yasir melepas rangkulannya dari tubuh Rili. Bergegas menghampiri Dokter.
"Bagaimana kondisi Abang Rival Dok?" tanya Yasir dengan penasarannya.
"Kondisinya kembali drop. Padahal tadi pagi, sudah mulai baikan. Kalau Dia putus asa begitu. Aku takut bakteri Salmonella tifosa, Jika tidak segera ditangani dengan baik, dapat terjadi komplikasi seperti pendarahan internal atau pecahnya sistem pencernaan (usus). Risiko komplikasi juga akan berkembang menjadi membahayakan nyawa jika situasi tersebut tidak segera ditangani dengan baik.
"Tapi, syukurlah Pak Rival sudah kita tangani dengan cepat. Yang dibutuhkannya sekarang adalah dukungan dari orang terkasihnya dan keluarga besar. Pak Rival jangan sampai Kembali setres. Agar saya tahan tubuhnya tidak down." Ucap Dokter panjang lebar. Yasir sampai bingung dan terheran-heran. Kenapa Rival orang kaya bisa kena tifus?
Tidak mungkin kan, Dia makan di tempat yang kumuh dan kotor. Sehingga Bakteri Salmonella tifosa itu masuk ke dalam tubuhnya.
Sebenarnya, Sejak Mely kabur dari rumah saat hamil besar. Rival jarang makan di rumah. Dia lebih sering makan di luar. Karena Dia merasa kesepian, kalau makan di rumah ya yang megah itu.
Rival yang sudah lama hidup miskin. Merasa lebih asyik, jikalau makan di warteg atau warung pinggir jalan. Mungkin disinilah Rival kena bakteri itu.
Dengan bingungnya, Yasir dan Rili. Memperhatikan Rival yang sudah sadar itu, kembali di dorong menuju kamar rawat inap nya.
__ADS_1
Tentu saja Yasir yang baik hati itu, akan menemani Rival. Karena tidak ada keluarganya satupun yang menemaninya.
"Kenapa tidak ada Keluarga nya yang datang sayang?" ucap Rili kepada Yasir. Yang membuat Yasir tersenyum kepada istrinya itu.
"Kamu kan Keluarga nya. Ya udah kita saja dulu yang mengawaninya. Sebelum keluarganya datang." Ucap Yasir. Mereka masih mengekori pergerakan perawat Yudha yang mendorong bed tempat Rival berbaring.
"Keluarga?" tanya Rili melirik Yasir di sebelahnya dengan sebel.
"Mantan keluarga, mantan suamimu yang baik hati." Ucap Yasir tertawa cekikikan. Dia sedang menggoda Rili, agar terpancing kemarahannya. Jadi disaat Rili marah. Maka itulah kesempatan Yasir membujuknya dengan segala tingkah konyolnya.
Rival sudah berbaring tidak berdaya di Bed nya. Sakit kepalanya sungguh luar biasa. Sehingga ingin rasanya Dia mati saja. Karena, tidak tahan dengan sakitnya.
"Bapak, bersyukur sekali dengan cepat ditangani oleh Dokter." Ucap Perawat Yudha.
Yasir mendekat ke arah Rival. "Semangat Bang, Ayo lawan penyakitnya. Jangan K.O." Ucap Yasir penuh semangat. Sedangkan Rili hanya terdiam disebelah Yasir. Dia sedang bingung dan penasaran nya. Dimana keluarga Rival? kenapa tidak ada yang menjaganya.
"Iya terima kasih." Jawabnya tidak semangat. Yang dipikirannya kali ini adalah. Di mana keberadaan istrinya. Pulang ke rumah kah? atau kabur lagi meninggalkannya.
Melihat Rival tidak menampilkan ekspresi senang, menanggapi ucapannya. Yasir, malah bertingkah aneh. Dengan menaik turunkan tangannya yang diabaikan Rival saat ingin memberikan selamat. Dengan kepalan tangannya.
"Assalamualaikum... " Jawaban penghuni ruangan terdengar serentak dan semangat menjawab ucapan salam itu. Ternyata Asisten Rival sudah datang.
Rili mencolek pinggang suaminya dan membisikkan sesuatu tepat di daun telinga Yasir.
"Mana buah dan bakery yang kita beli tadi sayang?" Yasir berbisik ke telinga Rili.
Rili refleks menutup mulutnya yang tiba-tiba, menganga. Karena kepanikan mereka. Sehingga buah tangannya masih tertinggal di dalam mobil.
"Masih di mobil sayang." Jawab Rili tersenyum.
"Kamu tunggu disini. Abang ambilkan sebentar." Ucap Yasir hendak melangkah kakinya. Tapi langkah nya ditahan oleh Rili. Dengan menarik tangannya keras. Dia tidak mau ditinggalkan di ruangan itu. Apalagi ada Rival di ruangan itu. Dia takut terjadi salah paham lagi.
"Kalau kamu ikut, yang ada kita pulang namanya." Bisik Yasir kembali ke telinga Rili.
"Ya udah kita pulang saja. Buah tangannya dititip saja kepada perawat yang lewat di parkiran nanti. Aku merasa ada yang tidak beres dengan keluarga Abang Rival. Adek tidak mau disalahkan lagi nanti." Bisik Rili kembali.
Yasir menoleh kepada Rival yang nampak serius bicara dengan Asistennya. Mereka seperti tidak diacuhkan di tempat itu.
Yasir mendekat kepada Rival. "Bang, kami pamit ya. Moga Abang cepat sembuh." Ucap Yasir, menyalami Rival yang nampak kacau itu. Rili juga melakukan hal yang sama. Kali ini, Rival hanya menanggapi ucapan sepasang suami istri itu dengan terseyum. Dia tidak punya tenaga lagi untuk banyak basa - basi
__ADS_1
Dengan langkah lebar, Yasir dan Rili keluar dari ruangan, tapi mengendap-endap. "Kenapa kita seperti pencuri, yang keluar dari rumah jarahan dengan cepat, tapi mengendap-endap." Ucap Rili setelah mereka sampai di koridor rumah sakit menuju parkiran.
"Cepat tapi, mengendap-endap. Bagaimana pula maksudnya itu." Ucap Yasir bingung, menatap gemes Rili.
"Begini loh, maksudnya." Rili mempraktekkan cara mereka berjalan tadi. Dimana langkahnya lebar, tapi dalam keadaan sedikit membungkukkan tubuhnya.
Yasir tertawa melihat Rili yang mempraktekan kelakuan mereka. Kenapa istrinya itu semakin lucu saja.
Sepeninggalannya Yasir dan Rili. Asistennya yang bernama Wahid, langsung sigap melakukan tugas yang diberikan majikannya yaitu Rival.
Hal pertama yang dilakukan nya adalah menghubungi orang rumahnya Rival. Mulai dari istri, mertua, Babysitter dan para ART, serta supir baru. Yaitu Firman. Tapi, satupun no ponsel mereka tidak ada yang aktif. Sepertinya sengaja ganti nomor.
Melihat asistennya, seperti tidak mendapat jawaban. Dia pun meminta asistennya. Untuk langsung terjun kelapangan, memeriksa rumah Rival dan rumahnya Ayah Rival, Pak Ali.
🌻🌻🌻
Cuaca cerah hari ini, ditandai dengan langit biru. Tapi, bagi Mely cuaca hari ini bertolak belakang, dengan hatinya yang sedang mendung, yang akan siap luruh dengan air mata dan ingus.
Sepanjang perjalanan Dia habiskan waktunya dengan menangis. Berharap ini adalah terakhir kalinya Dia akan menagis, meratapi kisah cintanya yang tidak mulus dan penuh intrik itu.
Disaat kakinya menginjak di tempat baru, untuk dunianya yang baru. Dia tidak akan menangis lagi. Sudah cukup menangisi pria itu. Pria yang tidak menghargai cinta kasihnya.
Firman memarkirkan mobil mereka di sebuah rumah yang tergolong besar dan megah yang berlantai dua itu. Dengan warna cat pink kombinasi hijau Wardah. Kombinasi warna yang bagus, yang membuat mata betah menatap rumah itu.
Mama Maryam turun dari mobil, dengan menarik napas dalam. Meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Karena perjalanan yang hanya memakan dua jam itu. Terasa sangat melelahkan. Jelas saja melelahkan. Mereka melakukan perjalanan, tidak pernah berhenti untuk beristirahat. Mereka tancap gas. Karena di rumah yang baru di kota B. Si kembar sedang menanti mereka.
Bi Ida dan Maryam, membantu Mely turun dari mobil. Mely berusaha untuk tidak banyak gerak. Agar perutnya yang masih sakit, tidak tambah sakit.
Suasana kota B yang terkenal sejuk dan berhawa dingin itu. Cukup membuat suasana hati Mely sedikit membaik. Dia tercengang melihat, pemandangan yang disuguhkan di taman depan dan samping rumah mereka. Yang ditumbuhi oleh bunga serta kebun stroberi. Dan masih banyak tanaman sayuran lainnya.
Mely mengusap wajahnya yang sembab
Matanya sudah bengkak karena menangis dan sudah berubah warna jadi merah. Bahkan Dia merasa matanya jadi sakit. Karena sudah memerah. Mungkin disebabkan terlalu lama menangis.
Mely berusaha membuka kelopak matanya lebar-lebar. Karena ingin melihat lebih jelas keindahan alam yang disuguhkan di depan, samping dan halaman belakang rumahnya. Yang penuh dengan kebun strawberry.
Sungguh, Mely sangat menyukai yang berbau alam dan pegunungan.
Dia heran, kapan Mamanya itu punya rumah di sini? seingat Dia. Mereka tidak punya rumah atau harta disini.
__ADS_1
Melihat kedatangan mereka. Penghuni rumah lainnya keluar menyambut mereka. Ada Febri menggendong Raynan. Ririn menggendong Raina dan para ART mereka yang jumlahnya sepuluh tersenyum penuh kehangatan menyambut majikannya itu. Semua diangkut Mama Maryam. Kecuali, ART di rumah Pak Ali. Yaitu Sari, Bi Ina dan putrinya. Serta DKK nya. Tidak mereka ajak kabur.
Semoga Mely dan Anak-anaknya Bahagia ❤️🙏