Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Sama-sama keras


__ADS_3

"Kamu... kamu kasar sekali!" ucap Windi ketus sambil berdiri dan memegangi kepalanya yang terbentur dengan ember plastik. "Kepalaku sakit tahu!" ucapnya kesal.


Kini Yusuf juga nampak menegakkan tubuh kekarnya. Wajahnya memancarkan kemarahan, ditandai dengan matanya yang melotot menatap Windi.


"Apa kamu tidak bisa menggunakan kakimu itu untuk melangkah dengan benar?" ucap Yusuf kesal dengan suara yang intonasinya lebih tinggi dari Windi.


"Karena ulahmu lihat, baju saya jadi kotor!" ucap Yusuf dengan garangnya.


Windi yang punya karakter garang, malah menantang Yusuf, sehingga Yusuf nampak makin kesal dengan wanita yang sudah menimpa tubuhnya tadi.


"Makanya punya kuping itu difungsikan. Aku sudah tiga kali memanggilmu, tapi memang kamu dasar budeg!" ucap Windi lebih emosi lagi.


"Apa? kamu bilang saya budeg?" ucap Yusuf sembari menantap lekat-lekat wajah Windi.


Dia merasa dirinya diolok-olok seorang wanita. Seandainya seorang pria yang sedang berada dihadapannya kini, mungkin pria itu akan babak belur dihajar Yusuf.


Kini Yusuf nampak melangkah dengan pelan mendekati Windi. Windi yang melihat Yusuf mendekatinya berangsur memundurkan tubuhnya.


Windi terus mundur, dia tidak tahu sekarang tubuhnya sudah mentok di dinding bangunan Hotel. Windi tidak bisa kemana-mana lagi.


Yusuf terus saja melihat wajah cantik Windi. Sekilas matanya menatap bibir Windi yang sempat mendarat dengan terpaksa dan Dengan pendaratan darurat. Walau mendarat dengan tidak sempurna, tapi Yusuf bisa merasakan bibir hangat Windi.


Mengingat kejadian tabrak bibir itu, mendadak jantung Yusuf dag Dig dug. Ada suatu getaran yang terjadi dirongga dadanya tersebut. Tubuhnya bereaksi seperti itu karena baru kali ini bibirnya bertemu dengan bibir wanita. Jadi, Yusuf belum pernah ciuman sebelumnya.


"Kamu harus mengganti kerugian saya!" ucap Yusuf dengan dingin dan matanya fokus menatap mata Windi dan kemudian mata itu turun ke arah bibir Windi. Ingin rasanya Dia kembali merasakan manisnya bibir Windi. Tapi, Yusuf masih bisa mengontrol diri. Dia bukan pria maniak. Dia adalah sosok pria sopan. Pikiran negatif yang singgah di otak dan hatinya, langsung ditepisnya dengan menggelengkan kepalanya.


Jarak keduanya sangat dekat, sehingga mata Windi juga memperhatikan bibir tipis Yusuf yang tadi sempat mengambil sekilas keperawanan bibirnya tersebut. Tiba-tiba wajah Windi bersemu merah mengingat insiden takbir (tabrakan bibir) tersebut. Wanita itu menutup matanya dan akhirnya, Dengan cepat Windi mendorong tubuh Yusuf yang nyaris mengungkung tubuhnya.


"Kerugian apa? malahan saya yang kamu rugikan!" ucap Windi dengan posisi berdiri bersandar di dinding bangunan Hotel tersebut.


Rili dan Hendrik yang melihat tontonan bak drama Korea dihadapan mereka, hanya bisa diam menikmati tontonan yang mereka anggap lucu tersebut.


"Masih nanya lagi? kamu itu sudah sangat merugikan saya. Gara-gara tingkah bodohmu, waktu saya habis. Pakaian saya jadi kotor, ini terpaksa saya ganti dan itu memakan waktu lagi. Saya harus mandi lagi. Paham kamu!" ucap Yusuf keras. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa kerugian lainnya yaitu Takbir (tabrakan bibir? tadi.


Akan sangat malu rasanya di zaman modern sekarang ini seorang pria tampan, ternyata belum pernah ciuman.


Windi hanya diam saja, kini kepalanya berputar melihat ke arah Rili dan Hendrik yang berada tak jauh dari TKP(tempat kejadian perkara ) tersebut.


Dari tatapan mata Windi, sepertinya dia sedang butuh pembelaan.

__ADS_1


Kini Hendrik nampak berjalan ke arah Yusuf dan Windi.


"Maafkan sepupu saya pak. Mari pak ke ruangan saya. Bapak silahkan bersih-bersih. Biar saya suruh anggota saya mengambil baju ganti bapak di mobil." Ucap Hendrik sopan.


"Apa Dia sepupumu? kenapa tingkahnya seperti wanita bar-bar?" ucap Yusuf dan bergerak memasuki kamar mandi yang ada di ruangan Hendrik tersebut.


Rili dan Windi nampak duduk di sofa panjang yang terdapat di dalam loby hotel.


Hendrik yang sedang menunggu asisten Yasir selesai bersihkan tubuhnya dan berganti pakaian akhirnya mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya sambil memeriksa beberapa laporan dari bawahannya.


Ceklek... pintu kamar mandi di ruangan Hendrik nampak terbuka. Yusuf nampak keluar dari kamar mandi tersebut celingak-celingukan, seperti sedang mencari seseorang.


"Bapak sedang mencari apa?" tanya Hendrik


"Sepupumu kemana? apa sudah pulang?" tanya Yusuf.


"Belum pak, saya menyuruh mereka menunggu di loby Hotel tadi. Saya takut Bapak emosi melihat sepupu saya. Dan sepupu sayapun emosi lihat Bapak dan akhirnya bertengkar. Maafkan sepupu saya pak! Dia memangnya orang seperti itu, tapi Dia wanita yang sangat baik pak." Ucap Hendrik mencoba membela sepupunya yang cerewet itu.


"Panggil Dia kesini, Dia tidak boleh lari begitu saja. Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya." Ucap Yusuf dengan senyuman kecil dibibirnya. Sepertinya Dia sedikit tertarik dengan karakter Windi.


"Apa pak? tolong maafkan sepupu saya pak? Biar saya yang akan menanggung kesalahannya." Ucap Hendrik dengan sedikit terbata-bata. Dia tidak menyangka, pria yang nampak Sholeh tersebut menyimpan dendam terhadap seorang wanita.


"Aku ingin Dia yang melaksanakan hukuman dari saya!"


"Iya, cepat hubungi sepupumu itu agar datang kemari. Bukankah Dia wanita yang ingin bertemu juga denganku kan?" tanya Yusuf dengan penasaran.


Hendrik nampak menelpon Windi. "Cepat jalannya ya, Tiga menit kalian harus sampai ke ruangan Abang." Ucap Hendrik dan langsung mematikan ponselnya tersebut.


Tok....tok...tok..


Terdengar suara ketukan dari pintu ruangan Hendrik. Kini Hendrik membuka pintu ruangan kerjanya tersebut dan mempersilahkan Rili dan sepupunya masuk dan duduk di sofa yang ada diruang itu.


"Ini, terimalah." Ucap Yusuf menyodorkan kantong plastik yang diikat yang berada di dalam paper bag, dengan ekspresi jahil dan menyembunyikan gelak tawa dihatinya.


"Ini apa pak?" tanya Windi kebingungan.


Rili yang ditatap Windi, hanya bisa menaikkan bahunya pertanda Dia tidak tahu isi di plastik dalam paper bag tersebut.


"Itu pakaian saya yang kotor karena ulahmu, Bulan depan saya kesini kamu harus menyerahkan pakaian saya tersebut dalam keadaan bersih dan wangi." Ucap Yasir.

__ADS_1


"Apa? aku tidak mau!" jawab Windi ketus dan menyodorkan kembali paper bag yang berisi pakaian Yusuf yang kotor.


"Baiklah kalau kamu tidak mau, maka saya bisa memberikan hukuman yang lebih parah." Ucap Yusuf mengancam.


"Hukuman apa?" tantang Windi.


Rili yang melihat kedua manusia yang sama keras kepala itu, akhirnya membisikkan sesuatu di telinga Windi.


"Iyakan saja, kita lagi perlu informasi dari Dia. Jadi, jangan menentang Dia lagi Windi!" ucap Rili pelan ditelinga Windi.


"Baiklah!" ucap Windi.


Kini Hendrikpun nampak bergabung dengan ke tiga orang tersebut duduk di sofa yang ada di ruangannya itu.


"Ayo Windi, tanyakan cepat apa yang ingin kau tanyakan sama pak Yusuf." Ucap Hendrik.


"Apa? namanya Yusuf? namanya bagus, nama Nabi. Tapi, kenapa nama Dia berbalik dengan aslinya ya?" ucap Windi dengan sedikit suara keras. Windi mengejek Yusuf, tapi hatinya mengakui ketampanan pria yang pernah bersentuhan dengan bibirnya tersebut.


Yusuf yang mendengar ucapan Windi, merasa harga dirinya diremehkan.


"Tidak usah sok meremehkan orang lain. jangan sok cantik ya jadi wanita! disedekahkan saja kamu sama saya, saya tidak Sudi menerimanya." Ucap Yusuf kesal.


"Siapa juga yang mau samamu!" jawab Windi ketus sambil memalingkan wajahnya menghindari tatapan Yusuf.


"Sudah Windi, mengalah lah dulu." Ucap Rili pelan.


"Itu pakaian saya yang kotor karena ulahmu, kamu harus mencuci sendiri pakai tangan. Tidak boleh di loundri atau kamu mesin cuci." Ucap Yusuf dengan tegas. "Sempat ku tahu kamu tidak mencucinya dengan tanganmu, maka hukumannya akan lebih parah lagi."


Rili yang melihat pertengkaran kedua manusia itu tidak kunjung selesai akhirnya buka suara.


"Pak Yusuf, maafkan teman saya. Ini semua gara-gara saya." Ucap Rili dengan sopan dan lembut.


"Begini pak Yusuf. Ada yang ingin saya tanyakan tentang Abang Yasir? " Ucap Rili dengan insten menatap wajah Yusuf.


Yusuf yang mendengar ucapan Rili mendadak tidak tenang. Perkataan Ayah Yasir Kembali terngiang di pikirannya. Ayah Yasir meminta


.


Meminta....

__ADS_1


Di like, coment, vote dan favorit novel ini


Terimakasih.


__ADS_2