
gluk....gluuk....Yasir menelan ludahnya secara kasar. Sungguh pemandangan yang ada dihadapannya sukses membuat suhu tubuhnya endodermnya naik.
Rili yang terduduk dikursi meja Rias, mendongak untuk melihat wajah Yasir yang tersenyum kepadanya. Penampilan Rili yang setengah tela*njang itu, membuatnya sangat malu. Karena tatapan mata Yasir sangat mendamba.
Yasir membungkukkan tubuhnya dan bibirnya langsung mel*umat bibir Rili yang sedang mendongak itu. Tentunya tangan kanan Yasir menahan kepala Rili bagian belakang. Sedangkan tangan kirinya beraksi di bukit kembar Rili. Yang membuat Rili mendesah dan menggeliat, darahnya berdesir hebat yang bermuara dibawah pusatnya. Seerrrr..... Rili menggeliat lagi, Dia sudah terangsang, bagian sensitif bawahnya sudah terasa basah.
"Eeummmm...!" Rili melepas pangutan bibirnya dari bibir Yasir. Karena Yasir melu*mat bibirnya dan menelusup ke rongga mulutnya. Rili belum mahir dalam mengontrol ritme berciumannya. Dia masih perlu belajar, agar bisa mengatur pernafasannya saat berciuman.
Nging.....nging.... nging...... Suara ponsel dan getarannya terdengar nyaring dan terasa geli di paha Yasir. Sehingga Dia mengumpat dalam hati. Dia sangat kesal, gejolak nafsu yang lagi hot-hotnya terganggu, karena ada yang menghubunginya. Dia menuntun Rili bangkit dari duduknya dan dengan cepat Rili memeluk tubuh Yasir yang masih berpakaian lengkap itu. Rili sangat malu melihat tubuhnya yang setengah Bu*ngil itu, sehingga Ia ingin menyembunyikannya dengan mendekap Yasir erat.
Yasir tersenyum bahagia melihat tingkah Rili yang malu-malu itu. Sungguh Rili sangat menggemaskan. Ingin rasanya Yasir menggigit-higit pelan pipi Rili saking geramnya. Dia sampai ingin tubuh Rili menempel terus dengan tubuhnya.
"Ada apa?" Yasir menjawab telpon yang dari tadi ponselnya menggelitik pahanya dikantong celananya. Tanpa melihat siapa yang menelpon.
Sedangkan Rili masih memeluk Yasir dengan posesif. Dia ingin menyembunyikan bagian dadanya dengan menempelkan tubuhnya dipelukan Yasir. Rili tidak sadar tingkahnya itu malah semakin membuat Yasir terangsang. Karena, punggung Rili yang mulus jelas terlihat dipantulan cermin.
"Besok aja deh Ma." Jawab Yasir dengan malas, setelah Dia mendengar suara Mamanya yang meminta masuk ke kamar Hotel.
"Mama ingin memberikan sesuatu kepadamu, kamu pasti menyukainya." Terdengar suara Mamanya yang sedikit memelas. Karena Yasir menghidupkan speaker ponselnya.
Mengetahui Mama Melati yang menghubungi suaminya, Rili mendongak, dan dengan cepat Yasir menyambar bibir Rili dan tersenyum.
"Mama." Ucap Yasir pelan, Rili mengangguk.
Gara-gara Mamanya yang menelpon, keduanya yang sudah tersulut nafsu membara itu, sebagai umpan balik dari rasa cinta dan kerinduan yang besar, akhirnya harus ditahan dulu.
Yasir mengambil kebaya Rili dengan jari kakinya yang tergeletak tepat didekat kakinya itu. Dia mengambil dengan cara itu, karena Rili sangat malu untuk melepas pelukannya dari Yasir. Dia tidak sanggup melihat bagian dadanya yang tidak disanggah itu.
Yasir pun akhirnya menutupi tubuh Rili kembali dengan kebaya yang diambilnya dengan kakinya. "Abang buka pintu dulu." Bisik Yasir ditelinga Rili yang membuat Rili menggerakkan bahunya kedekat kupingnya, karena geli. Dia pun mencium puncak kepala Rili dan berjalan menuju pintu kamar. Sedangkan Rili berlari menuju kamar mandi.
Ceklek,
"Ini terimalah!" Mamanya Yasir yang berdiri diambang pintu menyodorkan Dua Pacs paperbag.
"Apa ini Ma?" tanya Yasir bingung.
__ADS_1
"Kalau Mama tidak dibolehkan masuk, ya udah kamu periksa aja sendiri. Ingat, jangan main paksa. Jangan membuat Rili kesakitan." Ucap Mama Rili ketus dan meninggalkan Yasir yang mematung. Dia memikirkan ucapan Mamanya.
"Panduan Malam Pertama." Ucap Yasir membaca buku yang ada di paperbag pemberian Mamanya.
"Mama ada-ada saja, manusia itu punya naluri tersendiri untuk melakukan itu. Mesti kali pakai panduan." Gumam Yasir dalam hati, Dia meletakkan Buku tersebut di atas ranjang. Kini tangannya beralih ke paperbag satunya lagi. Ternyata, ada lingerie warna merah darah dan 2 set jubah tidur dan sebotol parfum.
Yasir menggeleng melihat pemberian Mamanya. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Dia bahagia sekali. Akhirnya Dia bisa mengekspresikan rasa cintanya kepada Rili.
Yasir membaca sekilas Buku tersebut, ternyata isinya sangat bagus. Ada step-step yang harus dilakukan agar keberkahan didapat dalam ritual yang sangat dinantikan pasangan yang baru saja menikah itu.
"Apakah Adek Rili masih akan merasakan sakit? benarkah Abang Rival belum menyentuh Rili? Kenapa waktu itu, Rili sangat terkejut mendapati darah ditempat tidur? Apakah perlu Aku menanyakannya?" Gumam Yasir dalam hati. Matanya kini tertuju ke pintu kamar mandi, menunggu Rili keluar. Tapi nyatanya sudah 20 menit Rili bekum keluar juga, yang membuat Yasir khawatir.
"Dek, kenapa lama sekali. Adek tidak usah mandi. Ini sudah larut?" Teriak Yasir dari balik pintu kamar mandi. Yang membuat Rili terkejut mendengar suara Yasir. Pasalnya Rili dari tadi, sibuk mengulangi mencuci **** ********** dan pahanya. Dia sangat ingat kejadian di pulau. Dimana Yasir betah sekali bermain-main di area itu. Jadi, Rili ingin tubuhnya harum mewangi.
"Iiiyyaaa bang." Jawab Rili dengan sedikit gugup. Dia pun dengan cepat menyelesaikan mandinya dan memakai jubah mandi, serta melilitkan handuk putih dirambutnya yang basah.
Rili keluar dengan waspada, "Astaghfirullah...!" Ucapnya dengan memegangi dadanya yang jantungnya terasa mau copot, saat membuka pintu, Yasir sudah terpampang jelas dihadapannya.
"Adek kenapa mandi malam-malam. Adekkan masih kurang fit. Nanti Adek masuk angin. Ini kenapa lagi mesti keramas." Yasir dengan posesifnya menuntun Rili kekursi meja rias. Dia membantu mengeringkan rambut Rili.
"Kita itu mau tidur, rambut tidak bagus basah-basah dibawa tidur." Ucap Yasir Sambil terus mengeringkan rambut Rili dengan hairdryer yang ternyata ada di meja rias itu.
Dia akan menahan rasa sakit itu, jikalau Yasir memaksanya melakukannya.
"Emmmmuuuaaaccchh...!" Yasir mencium dengan gemes puncak kepala Rili yang wangi. "Abang sangat suka wangi rambut Adek, membuat Abang merinding." Ucap Yasir, dengan menggerakkan tubuhnya seperti orang yang sedang menahan pipis.
Tingkah Yasir membuat Rili tertawa kecil, hatinya begitu bahagia.
"Abang bersih-bersih dulu ya. Ini pakaian Adek, tidak mau pakai baju akan lebih bagus. Apalagi kalau Adek tidak pakai Bra. Abang tidak mengerti nanti cara membuka Bra." Ucap Yasir, Dia tidak sadar ucapannya membuat Rili jadi grogi.
Yasir masuk ke kamar mandi, sedangkan Rili memeriksa paperbag yang berisi pakaian yang tadi diberikan oleh Yasir.
"Hadeuhhhhh.... ini pakaian kenapa modelnya begini semua. Aku tidak nyaman untuk memakainya. Aku lebih suka pakai piyama atau daster." Rili berbicara sendiri, sambil memilih-milih pakaian yang akan dipakainya.
Akhirnya Rili memutuskan memakai Jubah tidur warna abu-abu berbahan satin yang sangat lembut dan ringan ditubuh. Dia menyemprotkan parfum yang ada di meja rias, ke leher, ketiak, pundak dan lengannya.
__ADS_1
Entah kenapa, Dia ingin memberikan yang terbaik untuk Yasir.
Ceklek.
Yasir keluar dari kamar mandi dengan hanya membelitkan handuk warna putih di pinggangnya. Rili yang sudah mendudukkan tubuhnya diranjang, melihat ke arah Yasir tanpa berkedip. Darahnya berdesir melihat tubuh Yasir yang tegap, kokoh dan otot-ototnya yang liat itu.
Bola matanya bergerak ke arah Yasir bergerak, mulutnya juga menganga. Sungguh Rili sudah merasa puas melihat tubuh Yasir. Glukkkkk..... Rili menelan ludahnya, disaat Yasir mendudukkan bokongnya disisi ranjang tempat Rili duduk.
"Sayang, bantu Abang mengeringkan rambut Abang." Ucap Yasir dengan memberikan hairdryer kepada Rili.
"Katanya tidak boleh keramas malam-malam. Eehhh Dia malah keramas." Gumam Rili dalam hati. Dia masih terus mengeringkan rambut Yasir dengan berusaha menetralkan degupan jantungnya yang kencang.
"Sudah Sayang," Yasir meraih tangan Rili dan mengambil alih Hairdryer. Dia meletakkannya Di meja rias dan ikut bergabung dengan Rili ditempat tidur.
Pergerakan Yasir yang kuat membuat ranjang sedikit bergoyang. Yang membuat Jantung Rili ikut juga bergoyang-goyang. Karena Yasir langsung memeluk tubuh Rili dengan sangat erat.
"Abang tidak pakai baju dulu." Ucap Rili lembut ditelinga Yasir. Yang membuat Yasir merasa geli.
"Untuk apa pakai baju, toh mau dibuka juga." Ucap Yasir sambil meniup pelan telinga Rili.
"Iihhh geli." Rili berusaha menjauhkan tubuhnya dari pelukan Yasir. Tapi, Yasir dengan cepat berhasil membaringkan Rili dan langsung menimpanya. Kemudian Yasir mengangkat sedikit tubuhnya, agar Rili tidak merasa berat, dengan bertumpu pada telapak tangannya.
Kedua mata mereka bersitatap, dengan sama-sama merasakan degupan jantung yang cepat dan kuat itu. Rili sangat malu, Dia tidak sanggup berlama-lama menatap mata Yasir, sehingga Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, yang membuat Yasir semakin gemas dengan tingkah Rili.
"Tuuuunggu!" Ucap Rili dengan sedikit gugup, saat Yasir hendak mencium bibirnya Rili yang ranum itu.
Kening Yasir menyergit, kenapa pula Rili menghentikan aksinya.
"Abang tadi baca Buku kan? kenapa Abang tidak menerapkan step-step yang ada di dalam buku itu?" ucap Rili dengan berusaha tenang. Kini tangannya yang tadi menyembunyikan wajahnya, tanpa sadar sudah mendarat didada bidangnya Yasir.
"Abang belum baca semua, yang Abang baca inilah mau Abang praktekkan. Yaitu harus foreplay." Ucap Yasir dengan suara berat. Dia pun mengangkat kepala Rili dengan menelusup kan tangan kanannya dan dengan cepat ******* bibir Rili. Yang membuat Rili berontak kecil dan akhirnya Yasir melepaskannya.
"Apa lagi sayang?" Wajah Yasir nampak kesal.
"Mulai sekarang kita harus belajar lebih baik lagi. Kita inginkan pernikahan yang Samawah, tentunya menginginkan keturunan yang Sholeh dan Soleha. Jadi sebelum kita melakukannya kita sholat sunah 2 rakaat dulu." Ucap Rili dengan terseyum.
__ADS_1
"Abang belum belajar sholat itu, Abang belum mengerti." Yasir kembali menciumi semua organ yang ada di wajah Rili yang membuat Rili tertawa, pasalnya Yasir menciumnya dengan menggelitik pinggangnya.
"Untuk itu kita sama-sama belajar," jawab Rili sambil terkikik geli.