Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
-


__ADS_3

Dengan frustasinya Yasir berteriak dan terduduk di tengah jalan yang tidak diaspal itu. Kaki kanannya ditekuk sedangkan kaki kirinya diseloncorkannya. Kedua tangannya menarik rambutnya sampai ke belakang.


"Rili...... Rili....Rili.......!" napasnya sudah mulai tersengal-sengal karena Dia sudah lelah dan panik. Bagaimana tidak lelah, Dia sangat emosional dan berlari sangat cepat untuk menyusul Rili.


Maura datang menghampirinya dengan sedikit pincang dan ngos-ngosan. Kakinya sedikit keseleo, saat ingin menyusul Yasir. Kakinya kesandung, karena Dia memakai sepatu hak tinggi.


"Ayo bangun. Ayaah menelponku. Kita disuruh cepat sampai. Ini sudah jam tiga, rapat sudah dimulai." Ucap Maura dan berusaha menarik tangan Yasir untuk bangun.


"Aku mau disini, Aku akan mencarinya hari ini juga. Kamu kalau mau pulang, pulang saja." Ucap Yasir dengan dengan tatapan dingin dan menghempaskan tangan Maura yang memegang lengannya.


Rili yang masih berada disemak-semak, mendengar percakapan Yasir dan Maura yang diyakininya sebagai istri Yasir. Rili terus saja menutup mulutnya, Dia menahan dirinya yang ingin berontak dan berteriak itu. Dadanya rasanya begitu sesak dan sakit.


Dia sudah tidak tahan lagi dengan permainan Takdir ini. Disaat pria yang ditunggu2nya untuk datang selama 3 bulan, ternyata Dia melihat pria itu dengan seorang wanita dengan mesranya


Kenapa Dia harus bertemu dengan Yasir dalam kondisi yang sangat memalukan ini. Rili tidak habis pikir. Setelah Yasir menghilang tanpa jejak selama 6 bulan. Kenapa pula pria itu sehisteris ini mencarinya dan memanggil-manggilnya.


Ponsel Yasir bergetar lagi disaku celananya.


"Ayolah sayang...! Jangan kekanak-kanakan begini. Itu pasti telpon dari Ayah. Kamu angkat dulu." Ucap Maura dengan sedikit kesal. Dia berdiri disamping Yasir dengan selalu berdecak dan menggaruk kepalanya. Dia berdiri, jongkok, berdiri lagi, sesekali menarik tangan Yasir, agar pergi dari tempat itu.


Bagaimana tidak kesal, sejak kedua keluarga itu bekerjasama dalam bisnis. Maura sudah menyukai Yasir. Tapi, usahanya untuk mendapatkan Yasir tidak kunjung berhasil.


Maura, iri kepada Rili, karena Yasir begitu mencintainya. Dia tahu karakter Yasir, semakin dipaksa maka akan berontak. Yasir tipe pria setia dan teguh pendirian.


Akhirnya Ayah Maura menelpon putrinya.


"Ya Ayah. Baiklah." Maura memberikan ponselnya kepada Yasir.


"Kamu dimana Yasir, cepatlah kesini. Pertemuan ini sangat penting nak." Ucap Ayah Maura dari sambungan telepon.


Yasir memberikan ponsel Maura. Tapi, Dia masih tetap terduduk di tengah jalan tersebut.


"Jangan emosional, Kalau Abang tidak mengikuti pertemuan itu. Karir Abang akan hancur. Kalau sudah hancur, mau menjadi gelandangan? Kalau Aku tidak mau!" Ucap Maura, Dia kembali menarik lengan Yasir, agar bangkit dari tempat duduknya.


"Abang bukan orang bodoh, yang tidak bisa membuat usaha sendiri. Asal kamu tahu dari 5 tahun yang lalu Abang sudah tidak ingin bergabung dalam usaha keluarga tersebut." Ucap Yasir tegas. Dia pun berdiri dan berjalan cepat tanpa menghiraukan Maura yang ketinggalan dibelakang.


"Aku sangat Yakin, itu kamu Rili. Aku akan menemukanmu hari ini juga." Gumam Yasir dalam hati. Dia kemudian melajukan mobilnya menuju perkebunan dengan kencang di jalan yang tidak mulus itu. Sehingga kepala Maura tidak terhitung lagi berapa kali terceduk.


Setelah merasa aman dari kejaran Yasir, Rili keluar dari persembunyiannya sambil mendorong sepedanya. Dipakaiannya sudah menempel daun-daun kering. kepala dan wajahnya juga sudah dikerumuni serangga jenis Agas. Sesekali Dia menggaruk wajah, kepala dan badannya yang digigit nyamuk dan Agas.


"Kalau Aku melewati perkampungan dalam keadaan begini, sudah pasti orang akan mengataiku orang gila. Seperti yang dikatakan Istrinya Abang Yasir.


Air mata Rili kembali jatuh dipipinya yang penuh dengan lumpur kering. "Ya Allah, Kenapa dengan cara seperti ini, Aku bertemu dengannya. Begitu tidak pantaskah Aku untuk mencintainya? Sehingga dalam keadaan kotor dan menjijikkan inilah diriku tampil dihadapannya." Gumam Rili dalam hati. Dia masih berdiri dibawah pohon sawit yang batangnya sudah tinggi tersebut.


"Apa Abang Yasir dijodohkan? Kenapa Dia memanggil-manggil namaku, padahal Dia bersama istrinya? Apa istrinya itu, mengetahui bahwa kami pernah menjalin hubungan?" Gumam Rili dalam hati.


"Eehhhh.... Makhluk apa itu?" Ucap Ibu Ida, yang melihat Rili berjalan ke arah sungai. Sungai yang didatangi Rili ini, sungai yang berada dihulu. Bukan sungai yang sering didatanginya bersama Rival.


Ibu Ida Ternyata, baru pulang dari kebunnya yang terdapat didekat persembunyian Rili.


Bu Ida, mengekori Rili dari belakang. Dia heran kenapa ada seorang wanita penuh dengan lumpur, berjalan menuju sungai yang tidak pernah dikunjungi warga.


"Eehhh... Kamu.. kaaammmu siapa?" ucap Ibu Ida gugup menegur Rili.


Rili berbalik, Dia melihat ibu Ida ketakutan. Mungkin penampilan Rili yang membuat Ibu Ida ketakutan. Dengan jantung yang berdebar-debar. Ibu Ida semakin dekat kepada Rili.


Rili sudah melap lumpur diwajahnya dengan tangannya. Lumpur yang dirambutnya yang sudah kering pun. Digerainya perlahan-lahan saat berjalan menuju sungai.


"Kaaammuuuuu... Kamu Rili kan? Istrinya Rival?" tanya Ibu Ida, Rili mengangguk.


"Kenapa kamu penuh dengan lumpur?" Rili tidak menjawab, Dia hanya menunduk. Tapi, air matanya jatuh begitu saja.


"Apa ini kelakuan mertua gila mu itu?" tanya Bu Ida, dengan memegang lengan Rili.


Rili menggeleng, "Kenapa badanmu berlumpur semua?" Rili tetap tidak menjawab.


"Baiklah, Kamu mau kemana?" tanya Bu Ida.


"Mau ke sungai Itu." Jawab Rili.


"Jangan ke sungai itu. Disitu angker. Dulu Ada anak gadis yang bunuh diri di pinggir sungai itu." Jawab Bu Ida.


"Aku ingin membersihkan tubuhku Bu." Jawab Rili dengan sedihnya. Lagi-lagi air mata jatuh luber dipipinya.


"Jangan menangis. Ayo ke Irigasi yang dekat kebun Ibu."Ucap Ibu Ida. Mereka pun berjalan ke irigasi yang dimaksud.


Rili menceburkan dirinya ke dalam Irigasi. Hatinya masih sangat sakit. Ingin rasanya Dia menangis sekencang-kencangnya. Tapi, Dia menahannya. Karena, Dia malu terhadap Ibu Ida.


Setelah merasa bersih, Rili dan Ibu Ida pulang bersama. Akhirnya Rili membonceng Bu Ida. Bu Ida, penasaran kenapa tubuh Rili berlumuran dengan lumpur. Tapi, Rili tidak mau menceritakannya.


😤😤😤


Rili sedang berbaring di tempat tidurnya. Setelah sampai di Rumah. Rili kembali mandi di kamar mandi umum. Dia mencuci bersih tubuhnya yang bau lumpur tersebut. Diapun langsung Sholat Ashar. Entah karena lelahnya, Karen menangis. Rili tertidur.

__ADS_1


Sementara di dalam pondok, Ibu Rival dan Rayati sedang membahas rencana liciknya untuk mengusir Rili malam ini dari rumah.


Sejak pertempuran Rili dan Rayati. Rayati masih disawah. Setelah membersihkan Diri dan berganti pakaian. Ibu Rival memijat tangan Rayati yang terkilir. Ya, Rayati membawa baju ganti. Karena memang mereka sudah merencanakan untuk menyingkirkan Rili saat Rival dinas keluar kota. Ibu Rival tahu kalau putranya itu akan keluar kota.


"Bu, percaya kepada saya. Jika Abang Rival menikah dengan saya. Gaji Abang Rival yang besar itu. Setengahnya ku beri sama Ibu. Makanya kita usir dan ancam aja Dia, agar Dia pergi dan bercerai dari Abang Rival.


"Jangan sampai mereka tetap bersatu. Karena, Aku menerawang. Abang Rival itu sudah kena Cirit Barandang (Ilmu pelet ).


Nanti Abang Rival akan dirayunya sehingga Abang Rival akan tinggal di kotanya. Sehingga Ibu akan dilupakan Abang Rival. Tapi, kalau saya yang menjadi menantu Ibu. Maka, itu tidak akan terjadi." Ucap Maura dengan begitu seriusnya, sehingga Ibu Rival pun mengikuti sarannya untuk mengusir Rili malam ini.


🐝🐝🐝


Sementara Yasir yang ikut dalam rapat para Dewan Komisaris, Direktur, Manager. Hanya bisa termenung dan otaknya terus berpikir. Dia sangat yakin yang dilihatnya tadi adalah Rili. Keadaan Rili sangat memprihatinkan yang membuat Dia geram. Yasir nampak mengepal tangan kanannya dibawah meja yang berbentuk bundar tersebut. Sedangkan tangan kirinya yang sedang berpangku insang, nampak menekan dan menarik-narik bibirnya, sedangkan otaknya sibuk memikirkan Rili.


"Pak Yasir.... Pak Yasir....!" Salah satu Dewan Komisaris independen menegur Yasir, tapi Yasir yang hanya memikirkan Rili, tidak mendengarnya. Hingga Ayah Maura, menepuk pelan bahu Yasir. Ya, Ayah Maura duduk disebelah Yasir.


"Ada apa om?" tanya Yasir kepada Ayah Maura, dengan muka bingung. Dia pun mengubah posisi duduknya lebih tegap lagi.


"Pak Yasir, Para pemegang saham sangat kagum dengan hasil kerja Bapak dalam satu Minggu ini. Pendapatan perusahaan langsung meningkat 20%. Bapak sangat hebat." Puji Bapak Susilo Bambang Yudhoyono.


"Ooh, Iya Pak Bambang. Ini semua tak lepas dari kerja keras Asisten Saya. Pak Rival Youman. Dia dalam dua hari kerja, bisa menyelidiki dan membereskan, aksi penyelundupan hasil panen sawit yang ternyata didalangi oleh mandor." Ucap Yasir dengan tersenyum.


Akhirnya rapat pun selesai menjelang pukul 18.00 wib. Karena keuntungan yang didapat perusahaan sangat besar dalam laporan bulan ini. Maka petinggi-petinggi perusahaan mengadakan pesta setelah habis sholat Isya. Yasir sangat malas untuk mengikutinya. Dia sangat penasaran dengan wanita yang berlumuran lumpur yang diyakininya adalah Rili.


Dia tidak bisa menolak acara itu, sehingga Dia memutuskan akan melewati kampung itu malam ini juga. Dia akan bertanya kepada warga dan mencari keberadaan Rili. Menunggu untuk besok pun Dia tidak sabar lagi.


Kalau benar Rili bahagia dengan suaminya. Dia ikut bahagia. Tapi, seumpama Rili menderita dan sangat memprihatinkan seperti yang dilihatnya tadi. maka, Dia tidak akan tinggal diam.


Rili terbangun, karena mendengar suara Adzan. Dia bangkit dari tidurnya. Mungkin karena kebanyakan menangis, dan pertempurannya dengan Rayati yang menguras tenaga, sehingga Rili merasa badannya sakit semua. Dia juga demam dan pilek.


Dia mengambil ponselnya dari dalam lemari. Ternyata ada 50 panggilan dari Rival suaminya. 20 SMS. Terus no ibunya ada 3x panggilan tak terjawab.


Windi tadi menelpon juga. Dia mengirimkan SMS. Rili pun membukanya. Isi SMS Windi, menanyakan alamat lengkap dari kampung Rival. Karena Dia tidak tahu alamat lengkapnya. Jadi Dia tidak membalas SMS Windi.


Semua panggilan itu Diabaikan, Dia pun bergegas ke kamar mandi umum dan melaksanakan sholat Magrib di dalam kamarnya.


"Ya Allah, yang Maha membolak-balikan hati. Ampuni Hambamu ini, yang sudah menjadi istri Durhaka. Dimana hamba masih memikirkan pria lain padahal hamba sudah bersuami.


"Ampuni Aku Ya Allah...! Keluarkan Aku dari masalah ini. Tolong Aku, tolong tutup hatiku kepada Abang Yasir. Dia sudah jelas punya istri, tapi kenapa hati ini selalu berharap bisa bersama dengannya. Padahal hamba pun sudah mempunyai suami yang baik, walau di rumah tangga yang kujalani ini, ada cobaan dari Ibu mertua yang tidak menyukaiku. Beri Aku petunjuk Ya Allah...!" Ucap Rili dengan berurai air mata sambil tangannya menengadah, meminta dan memohon dengan bersungguh-sungguh.


Lelah menangis diatas saja, ternyata membuat Rili ketiduran.


Tok...tok....tok....


Dug....dug... dug.... Dia kembali ketakutan. Dia membuka mukenanya. Dia mengambil ponselnya. Ternyata sudah jam 10 malam. Dia ketiduran selama 3 jam dan melewatkan makan malam.


Rili mondar-mandir dikamar yang sempit itu. Jantungnya makin kencang saja berdetak. Tangan dan telapak kakinya dingin. Tubuhnya gemetar. Dia sungguh takut kepada Mertuanya. Karena Dia tidak ingin dimarahi atau tidak ingin bertengkar dengan mertuanya.


"Rili....Rili.... Buka pintunya. Ini sudah jam 10 malam. Kenapa kamu tidak keluar." Ucap Ibu Rival dengan nada mulai tinggi. Dia juga sudah nampak kesal dengan sikap Rili yang mengurung diri.


"Rili....!"


Duarr... duarr...duar.... suara petir saling bersahutan, menambah suasana di rumah itu semakin mencekam. Saking terkejutnya mendengar suara petir berkolaborasi dengan suara Mertuanya, membuat Rili sangat terkejut, sehingga Dia berjingkat dan memegangi jantungnya yang hendak copot dari tempatnya.


"Rili..... ! buka pintunya. Kamu memang selalu sukses memancing Ibu marah.! Buka pintunya.!" Duarr..... suara petir yang kuat diiringi derasnya hujan. Membuat suara berisik dari atap rumah.


Ponsel Rili berdering lagi, ternyata Rival menelpon. Dia ingin mengangkatnya. Tapi, suara Mertuanya, membuat Dia terkejut sehingga tertekan panggilan menolak.


"Buka pintunya!" Teriak Ibu Rival, yang ternyata sudah ada Rayati disebelahnya.


Dengan tangan gemetar, Rili membuka pintu kamar. Dug.....dug....dug.... Jantung Rili berdegup kencang.


"Aapppaa.... Bou!" Ucap Rili setalah membuka kamar, tangannya masih memegang ponselnya.


"Cepat kamu beresi pakaianmu. Kamu harus pergi dari rumah ini, saat ini juga." Ucap Ibu Rival sambil berkacak pinggang. Matanya melotot ke arah Rili.


"Maksud Bou Apa?"


"Kamu tuli ya? Kamu harus pergi dari rumah malam ini juga. Dengar kamu!"


"Taa...pi.. Bou, Ini sudah malam. Hujan deras sekali. Bagaimana bisa Aku pulang. Aaa....kuu... naik kenderaan apa Bou ke simpang?" Ucap Rili dengan begitu gugup dan takutnya.


"Kamu jalan kaki, jarak ke simpang hanya 3 km. Dekat itu, cepat kemasi barang-barangmu."


"Bou, jangan Bou, jangan usir saya malam ini. Besok saya janji, akan pergi."


"Tidak ada besok-besok. Rayati cepat kemasi barangnya-barangnya. Ini harus dikasari baru mengerti."


"Mam*pus kau, tadi di sawah berani sekali kau melawanku. Rasakan wanita genit!" Ucap Rayati dan memasukkan pakaian Rili ke kopernya.


Ponsel Rili kembali berdering....


"Oohh... Kamu masih mau bertelepon Ria. Rasakan ini." Ibu Rival menarik paksa ponsel Rili dan melemparkannya ke dinding rumah. Duar....prakkk... plang... Ponsel Rili hancur berkeping-keping.

__ADS_1


Rili sangat geram, kedua tangannya dikepal. Dadanya nampak naik turun, menahan emosi. Matanya begitu tajam menyorot mertuanya. Dia seperti hewan predator yang sedang bersiap menerkam mangsanya.


"Bou....!" Rili hendak menampar Bounya. Tapi, tangannya yang mengatung di udara diturunkannya lagi. Mana mungkin Dia berani menampar Ibu mertuanya. Karena itu sama saja dengan menampar orang tuanya sendiri.


"Ooohhh... Kamu berani mau menampar saya. Sebelum itu terjadi. Rasakan ini." Plak... plak... Ibu Rival menampar kedua pipi Rili dengan begitu kuat.


"Keluar kamu dari rumah ini." Ucap Ibu Rival dengan menunjuk pintu.


"Bou, Kau kuanggap sebagai Ibuku. Tapi, kau tidak menghargai Aku sebagai menantumu. Aku melakukan semua perintahmu. Berharap kamu menyukaiku dan menerimaku. Apa salahku Bou?" Ucap Rili, Dia beringsut dan terduduk di hadapan mertuanya.


Air mata tak henti-hentinya jatuh membasahi pipinya. "Pergi kau!" Ucap Bou Rili dan menendang Rili yang sedang terduduk dihadapannya.


Rili masih diam terduduk, sambil menangis. Hatinya seperti diiris-iris. Sakit...... sekali.


"Susah sekali kamu dibilangin. "Ucap Rayati. Dia menjambak rambut Rili dan menarik tubuh Rili, kemudian Dia membenturkan kepala Rili ke tiang pintu yang keras itu.


"Auuww.... sakit... Ibu... tolong?!!!" Ucap Rili meringis kesakitan dalam keadaan terduduk di dekat pintu. Jidat Rili nampak Benjol dan mengeluarkan darah. Sepertinya Rayati melakukannya cukup keras.


Rili masih diam, yang membuat Ibu Rival dan Rayati geram. Mereka berdua menarik tubuh Rili dan membenturkannya kembali ke tiang pintu yang sama. Kalo ini pelipis Rili yang terbentur dan mengeluarkan darah.


Rili merasa kepalanya sangat sakit. Dia merasa sedang berputar-putar. Dia memegang keningnya. Ada darah segar yang mengalir.


Teriakan-teriakan Rili tidak didengar tetangga, karena derasnya hujan.


Ibu Rival dan Rayati menyeret tubuh Rili hingga ke luar dari rumah. Mereka menyeret Rili sekitar 10 m dari rumah Rival. Rayati mencampakkan koper Rili dihadapannya.


Duar.... Petir pun kembali menggelegar menambah suasana malam semakin mencekam.


Taak.... Listrik pun padam.


"Ayo kita masuk Bu. Sebelum ada warga yang melihat." Ucap Maura sambil menggandeng lengan Ibu Rival.


"Ya Allah..... Apa dosaku padamu? kenapa kamu biarkan Aku merasakan penderitaan ini. Apakah ini hukuman yang ku terima karena mencintai pria lain, sedangkan Aku sudah bersuami? Ampuni Dosaku Ya Allah..!" Ucap Rili sambil menangis sejadi-jadinya di jalan yang tidak diaspal itu. Karena hujan, sehingga jalan menjadi becek.


Rili meraih kopernya, Dia mulai meraba-raba jalan dibawah guyuran hujan, diterangi cahaya kilat yang cahaya nampak terang di langit.


Dia berjalan sambil 😭 tangan kanannya menyeret kopernya. "Auuuuww.. sakit. Ibu..... tolong putrimu Ini. Ibu,.....Aku tidak kuat lagi. Sakit Bu. Ini sangat menyakitkan.....!" Ucap Rili Dia meraba kakinya yang ternyata tertusuk oleh bambu yang menganga dipinggir jalan.


Rasanya begitu sakit, perih karena dibasahi oleh air hujan.


Rili sudah berjalan hampir 50 M. Dia sangat berharap ada warga yang lewat, tapi harapan tinggal harapan. Satu kenderaanpun tidak ada yang lewat. Mungkin diakibatkan karena hujan dan mati lampu.


Suara-Suara mengerikan mulai didengarnya. Ada suara anjing yang melengking. Suara burung hantu. Tubuhnya bergetar, bulu kuduknya berdiri melintasi perkebunan tersebut.


Kukkkkruyukkkukk.... Suara burung hantu kembali terdengar. Rili mencoba melawan rasa takutnya dengan membaca-baca Ayat kursi dan suroh Al-Mulk. Rasa takut harus dilawan, semakin dipikirkan, rasa takut itu akan semakin menguasai diri.


"Kalau sudah sampai dikampung atas, Aku akan mencoba menggedor rumah warga. Siapa tahu ada yang menolongku!" Ucap Rili. Dia mempercepat langkahnya. Walau Kakinya sakit dan tubuhnya sudah begitu lemas, kepalanya sangat sakit.


Karena Dia berjalan dikegelapan, akhirnya Dia kesandung yang menyebabkan Dia terjatuh dan kepala depannya membentur batu.


Dia merasa kepalanya sangat sakit, berputar- putar. Dia melihat seperti ada cahaya sorot lampu, Rili sangat senang. Sepertinya pertolongan sudah datang. Cahaya itu redup disusul dengan matanya yang sudah tertutup. Akhirnya Rili pingsan ditengah jalan.


Teettt....teett.... Sipengendara mobil mengklakson berkali-kali, karena dari jarak 10 m, Dia melihat seorang wanita tergeletak ditengah jalan.


Makin dekat, orang yang diklaksonnnya tetap tidak bergerak. "Kasihan sekali wanita itu." Ucapnya. Diapun turun dari mobilnya, tanpa mengambil payung.


Wajah Rili tertutupi oleh rambut panjangnya, sehingga sipengendara itupun menyibak rambut yang menutupi wajah Rili.


Dia sangat terkejut melihat wajah wanita yang tergeletak di tengah jalan tersebut.


"Rili...... !" Diapun mengangkat tubuh wanita itu dan memeluknya dalam posisi duduk.


"Rili....!" Pria itu berteriak histeris sambil memeluk erat tubuh Rili.


Mohon beri like, coment positif. Rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.


Jangan lupa VOTE nya kak, biar lebih semangat lagi authornya.


Author juga ada group. Silahkan gabung ke group ya kak.


Kasih penilaian bintang 5 dong kakak2 cantik dan baik hati.


Siapakah pria yang menemukan Rili?


A. Rival


B. Yasir


Terima kasih


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2