Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Cah kangkung


__ADS_3

"Stopp.... Jangan ada yang bergerak. Kita bicarakan baik-baik. Kami tidak niat mencuri." Ucap Yasir tegas dengan menghalau anak tukang kebun dan tiga orang lainnya yang berniat menyeret Yasir dan Rili.


Anak tukang kebun dan tiga kawannya terdiam di tempat, saat Yasir merogoh dompetnya.


"Ini saya bayar kerugiannya." Yasir menyodorkan lima lembar uang pecahan 100.000." Anak tukang kebun tersenyum devil. Sedangkan Ayahnya tersenyum bahagia.


Harga sayurnya dihargai Rp. 500.000. Padahal jikalau pun Dia panen semua sayur daun ubinya paling uangnya Rp. 50.000. Dimana sayurnya diharga gopek alias lima ratus rupiah per ikatnya pada zaman saat itu.


"Waahh... ada orang yang bodoh. Sepertinya ini orang bisa diperas." Anak tukang kebun membathin.


"Kamu pikir kami bisa dibayar dengan uangmu itu. Tindak kriminal harus diproses dengan hukum." Ucap anak pemilik kebun, mencoba menekan Yasir dan menakut-nakuti nya.


Rili semakin takut, Dia semakin menyembunyikan dirinya dibelakang Yasir. Yasir tidak tega melihat istrinya yang merasa bersalah itu.


"Baiklah, ayo ke kantor polisi. Tapi, jauhkan tangan kalian, tidak usah sentuh kami. Dan ku pastikan setelah diproses hukum. Kamu akan mendekam di penjara." Ucap Yasir dengan tatapan mematikan. Kepada anak pemilik kebun. Yasir tahu, Anak muda itu ingin memerasnya.


Bapak pemilik kebun mulai panik, Dia yang kena provakasi anaknya mulai tersadar. Kalau Dia ngeyel tidak mau berdamai. Dia juga pasti akan kalah diproses hukum. Karena pasangan suami istri dihadapannya sudah mengaku salah, bahkan kasih uang damai yang banyak.


"Hhahaha...!" anak pemilik kebun tertawa.


"Kamu yang mencuri, kenapa pula saya yang mendekam dipenjara?" ucapnya dengan suara keras, tapi wajahnya pucat, Dia mulai berakting sok berani untuk menutupi ketakutannya. Karena cara Yasir berbicara penuh amarah dan kesal.


"Nak, sudahlah. Jangan diperpanjang. Mereka sudah mau berdamai." Bisik pemilik kebun kepada anaknya.


Anak muda itu menatap Ayahnya,


"Jangan buat masalah baru, lihat cara bicaranya. Dia itu bukan orang bodoh. Mereka orang kaya. Ayah tidak mau kamu nanti masuk penjara. Ayah bisa baca situasi. Sepertinya Dia tahu kalau kamu mau memerasnya. Sudah kamu diam saja." Bisik pemilik kebun kepada anaknya. Sedangkan orang-orang yang ingin main hakim sendiri kepada Yasir dan Rili sudah mundur teratur. Tidak mau ikut campur lagi.


"Saya mau berdamai, mana uangnya." Ucap anak pemilik kebun.


Yasir merogoh kembali dompetnya, mengeluarkan uang lima lembar lagi.


"Saya rasa itu sudah lebih dari cukup." Yasir meraih tangan kanan Bapak pemilik kebun dan meletakkan yang satu juta ditelapak tangan kanan Bapak itu.


Seketika Bapak pemilik kebun Memeluk Yasir. Rili pun sedikit melonggarkan dekapannya pada suaminya itu.


"Terimakasih, terimakasih banyak. Akhirnya saya dapat uang juga. Istri saya sedang sakit, dan butuh uang untuk berobat. Jikalau pun kebun sayur saya ini saya panen semua. belum tentu dapat uang sebanyak ini. Apalagi saat ini, sayur lagi banjir dipasar." Ucap Bapak pemilik kebun dengan terisak.

__ADS_1


Rili jadi ibah, tapi Dia terlanjur kesal. Sehingga Dia diam saja. Apalagi anak pemilik kebun sok preman.


"Saya tadinya kesal, karena disaat butuh uang, kenapa ada orang yang ingin merusak tanaman saya. Maaf ya Nak, kalau sudah membuat istrimu takut." Ucap Bapak pemilik kebun dan melepas pelukannya dari Yasir.


"Iya sama-sama Pak. Lain kali jangan langsung emosi dan main hakim sendiri." Ucap Yasir tersenyum. Dia meraih tangan istrinya.


"Ayo sayang,!" ucap Yasir. Rili pun mengekori Yasir.


Karena Yasir kurang respect kepada Bapak-Bapak itu. Dia merasa sudah cukup disitu saja Dia bicara dengan Bapak itu. Tidak perlu lagi Dia mengecek, apakah benar istrinya sakit atau tidak. Yasir manusia biasa, Dia juga bisa kesal dan marah. Setidaknya Dia tidak merugikan pemilik kebun.


"Tunggu....!" teriak pemilik kebun saat Yasir dan Rili sudah memasuki mobilnya. Yasir hendak tancap gas.


"Yachay... Bapak itu memanggil." Ucap Rili memegang paha Yasir dan menatapnya.


Yasir pun tidak jadi menekan pedal gas. Bapak pemilik kebun mengetuk pintu kaca mobil sebelah Rili.


Rili menoleh kepada Yasir, seolah meminta izin untuk membukanya. Yasir pun mengangguk.


Dengan rasa takut dan penasaran Rili menurunkan kaca mobil. Memberikan senyuman, walaau pun hatinya, masih sakit karena sempat hendak dibacok.


Rili menoleh kepada Yasir. Yasir yang ditatap Rili juga ikut bingung. Untuk apa sayur itu?Mereka saat ini sedang menginap di hotel.


"Terimalah..!" desak Bapak pemilik kebun. Dengan sungkannya akhirnya Rili menerima dua ikat sayur itu.


"Terimakasih.!" Ucap Rili dengan tersenyum dipaksa. Dia masih syok, dengan kalakuan si Bapak yang marah-marah dan langsung pamer golok itu.


"Iya sama-sama." Ucap Si Bapak.


Rili menutup kaca mobilnya, Yasir pun melajukan mobilnya dengan menghela napas kasar.


Setelah mobil melaju sekitar dua kilo meter, Yasir menepikan mobilnya.


"Koq berhenti sayang?" tanya Rili dengan penasarannya. Dia menatap Yasir yang kini juga menatapnya.


Yasir meraih tangan Rili, mencium punggung tangan kanannya Rili berulang kali dan menggenggamnya. Rili dibuat terheran-heran dengan tingkah suaminya itu. Seolah-olah Yasir sedang sangat mengkhawatirkan dan merindukannya.


Yasir melepas tangan mereka yang tertaut, kemudian tangan kokoh itu bergerak mengelus perut Rili, yang sudah nampak membesar itu.

__ADS_1


"Anak Ayah, lain kali kalau ingin sesuatu, jangan yang membahayakan Mama ya sayang." Ucapnya sambil mengelus-elus perut Rili. Yang membuat hati Rili tersentuh dan terharu. Begitu khawatirnya suaminya itu kepadanya.


Yasir menunduk dan mencium sekilas perut Rili. Saat Yasir melakukan itu, Dia merasakan perut Rili bergerak pelan. Ya wajar pelan karena kehamilan Rili memasuki bulan ke lima.


"Apa Adek merasakannya? anak kita merespon ucapan Ayahnya." Ucap Yasir dengan mata berbinar-binar. Dia kembali mencium perut Rili.


"Iya." Jawab Rili dengan mata berkaca-kaca. Sungguh Dia merasa bahagia sekali. Cinta yang diberikan Yasir begitu besar. Rili merasa tidak pantas mendapatkan cinta sebesar itu. Karena Dia hanyalah wanita biasa dan dari kalangan tidak berada.


Yasir masih terus menciumi perut Rili, dengan lembut Rili membelai kepala Yasir.


"Sudah dong.... Adek jadi mewek nih." Ucap Rili mulai menitikkan air mata.


Jangan sampai air mata itu menetes dan jatuh dipipi istrinya. Maka Yasir akan merasa sangat bersalah dan tidak berguna. Karena membuat istrinya menangis.


Yasir pun menghentikan aksi lebaynya. Dia duduk dengan tegap dan menatap Rili yang sedang menyeka air matanya dengan jemarinya.


"Anak kita ini anak baik. Mungkin anak kita tahu, yang punya kebun lagi ada masalah keuangan. Jadi, anak kita pingin Adek memanen sayurnya." Ucapnya cengengesan sambil menangis. Bisa-bisanya Rili memanen sayur orang. Mungkin Dia teringat saat petik sayur di kebun Rival kali dikampung. ckckck...,


"Terus sayur itu mau diapakan?" tanya Yasir setelah melap air mata istrinya itu. Sayur itu tergeletak di atas dashboard mobil.


Rili menatap Yasir dengan sendu. Kalau sudah tatapan istrinya itu mengubah, pasti ada maunya.


"Abang mau ya masakinnya." Ucap Rili manja sambil memegang lengannya Yasir.


"Memasak? masak di mana? kita lagi nginap di hotel loh sayang." Jawab Yasir mengelus Langan Rili yang memegang tangan kanannya.


"Ya Abang bisa masak di dapur Hotel. Adek pingin cah kangkung pakai terasi." Ucap Rili dengan mupeng nya ( muka pengen makan sayur cah kangkung).


TBC.


Tinggalkan jejak dengan like coment positif dan Vote.


Mampir juga ke novel ku Yang lain


❤️ Dipaksa menikah Pariban


❤️ Guru Disabilitas Itu Suamiku

__ADS_1


__ADS_2