
Bukannya tak saling cinta, namun bukankah setiap kita butuh ruang masing-masing untuk memperbaiki diri saat ini?
"Ya sekarang Aku sedang ujian. Aku sedang mengevaluasi diriku. Pantaskah Aku bersanding dengannya. Baikkah Aku untuk kehidupannya. Itu yang sedang ku pikir kan sekarang." Ucap Rival dengan penuh penghayatan, Dia memegangi dadanya yang terasa sesak. Rasanya semakin sesak setelah curhat kepada Jelita. Dia malu kepada mantannya itu.
Jelita hanya bisa terdiam dan terngungu mendengar curahan hati Rival. Rival nampak begitu tertekan dan terluka. Kesedihan yang dirasakan Rival begitu mendalam.
"Aku sangat ingin berkomunikasi dengannya. Ingin memperhatikannya. Jujur Aku sangat merindukannya. Empat bulan kami berpisah. Dan disaat perpisahan itu, Aku baru menyadari Dia sangat berarti buatku. Tapi, jikalau Aku mengangkat teleponnya. Pasti kami akan bertengkar. Aku takut, hatiku tidak kuat lagi mendengar kata-kata tuduhan yang keluar dari mulutnya. Aku ini selalu salah dimatanya." Ucap Rival dengan perasaan tertekan. Raut wajah kesedihan jelas nampak di wajahnya. Sungguh Jelita semakin kasihan melihat Rival.
"Kalau menurut mu itu yang terbaik. Ya sudah, kamu tidak usah angkat teleponnya. Tapi, saranku. Akan lebih baik kamu angkat teleponnya. Jikalau Dia marah-marah. Kamu diam saja. Anggap radio yang rusak-rusak." Ucap Jelita, menatap wajah Rival yang nampak sedih itu. Rival malu, Dia membuang pandangannya.
Jelita memang sosok wanita, yang dari sejak mereka duduk di bangku sekolah, adalah orang yang paling bisa diandalkan untuk teman curhat. Dia pandai sekali memposisikan dirinya. Sehingga Orang yang curhat kepadanya akan merasa benar-benar didengar dan dipahami.
"Aku merasa sedang tidak bisa. Banyak masalah yang datang silih berganti membuqt pikiran ku kalut. Ditambah dengar Mely nanti marah-marah. Aku takut terpancing." Rival masih kekeuh tidak mau mengikuti saran Jelita. Yaitu berkomunikasi melalui udara.
"Aku sudah beri Dia waktu berpikir tiga hari. Aku ingin Dia juga berubah. Tapi belum satu hari Dia sudah menerorku. Karena aku tidak mengangkat dan membalas telponnya. pesan yang dikirimnya, benar-benar memancing amarah. Inilah sifatnya yang tidak bisa diubah. Dia tidak sabaran dan egois. Merasa paling benar.
"Kalau kamu sudah tahu sifat buruknya. Berarti itu sudah kemajuan yang sangat bagus. Kamu tinggal mengubahnya, kalau tidak bisa diubah. Ya terima saja kekurangan nya itu. Tidak ada orang yang sempurna dan tidak semua orang akan sesuai dengan kehendak yang kita mau. Jadi, kita harus memaklumi karakternya." Ucap Jelita masih menatap wajah Rival yang kusut itu.
Rival menarik napas dalam, Dia kembali membuang pandangannya kearah Danau yang luas. Tak jauh dari pandangan matanya nampak seorang nelayan sedang mengayuh perahu untuk mencari ikan.
"Aku sudah mencoba menerima sifat buruknya itu. Tapi, Aku juga manusia biasa. Aku juga bisa merasa jenuh dan kesal. Aku bukan malaikat yang tidak punya emosi dan perasaan. Aku memilih menghindar, memberinya waktu berfikir selama tiga hari. Agar Dia juga menyadari kesalahannya." Ucap Rival dengan lemah. Dia pun berjalan kembali ke pendopo, yang diikuti oleh Jelita. Nampak hijab yang dikenakan Jelita, melambai-lambai karena ditiup angin.
__ADS_1
Mereka berdua kembali duduk di pinggir pendopo. Dimana kaki mereka menginjak tanah.
"Kamu memang selalu menghindari masalah. Dulu juga disaat kita akan sedikit masalah, kamu langsung pergi merantau." Keluh Jelita tanpa memandang Rival.
"Aku memang mau merantau. Bukannya karena mengelak dari masalah. Buktinya saat Aku tahu kamu dijodohin, Aku kan langsung balik." Rival membela diri. Tidak terima disebut laki-laki pecundang.
"Aku bukan laki-laki pengecut. Aku tahu, apa yang ku mau. Tapi, Aku jadi lemah, kepada orang-orang yang kucintai dan ku kasihi. Aku tidak rela mereka menderita bersamaku." Ucap Rival, berusaha bersikap tenang. Walau hati bergejolak.
"Mely tidak bisa menerima statusku yang duda. Itu yang membuatku tidak percaya diri. Dia masih muda, cantik dan pintar. Sedangkan Aku, apalah Aku. Sekolahnya saja hanya tamatan setingkat SMA." Ucap Rival menyadari bahwa dirinya, tidak pantas untuk Mely.
"Koq jadi pesimis?" tanya Jelita.
"Menurut ku, kamu yang harus dewasa dan lebih banyak mengalah. Secara Dia memang masih muda. Selama Dia masih setia, kalau sifat manja dan kekanak-kanakan itu kan biasa. Lah emang wanita itu sukanya dimanja." Ucap Jelita tersenyum kecut.
"Kamu harus belajar menjadi suami lebih peka lagi dan buang itu sifat jaimnya. Wanita itu suka dipuja dan puji. Jadi, kamu jangan gengsi untuk mengekspresikan rasa cintamu. Dijamin, Dia akan nurut kepada mu. Karena Dia merasa kamu membuatnya nyaman." Ucap Jelita. Rival mendengar kan dengan serius.
Dia memang sadar, Dia sering tidak peka dengan keinginan Mely. Sehingga mereka sering salah paham.
"Wanita itu sangat senang dipuji dan diperhatikan. Apalagi saat-saat sekarang ini, katamu istrimu baru saja melahirkan. Saat wanita baru saja melahirkan. Dia sangat ingin dimanja dan diperhatikan oleh suaminya.
"Mau mandi ke kamar mandi digendong. Dimandiin dengan bersih, dibantuin berpakaian. Makan disuapin. Dijamin istrimu pasti senyam-senyum karena merasa begitu dicintai." Jelas Jelita, Dia mengungkap keinginan dihatinya. Yang sejak menikah tidak didapatkan nya. Suaminya tidak seperhatian itu, tapi Dia tetap mempertahankan rumah tangga nya.
__ADS_1
Rival sedikit tercengang melihat ekspresi wajah Jelita yang bercerita dengan penuh penghayatan.
"Kamu terlalu mendalami ucapanmu." Ucap Rival.
"Aku juga lakukan itu sama Dia, tapi Dia nampak tidak senang. Disaat Aku melakukan seperti yang kamu katakan itu." Terang Rival, mengingat sikap Mely yang dingin kepadanya saat dirinya membantu Mely mandi dan berpakaian.
"Benarkah? Aku tidak yakin. Dari cerita mu. Dia sangat mencintai mu. Wanita kalau sudah jatuh cinta. Biasanya akan senang, dapat perlakuan khusus dari suaminya.
"Nyatanya begitu, Dia malah kesal disaat ingin ku gendong." Ucap Rival, Dia kembali teringat, disaat Dia hendak menggendong Mely. Istrinya itu malah berontak.
"Istrimu malu kali." ucap Jelita tersenyum kecil
Dia kembali memperhatikan Rival dari samping. Nampaklah kuping Rival yang ukurannya lebih besar sebelah kiri sedikit dari pada sebelah kanan.
"Mungkin juga." Jawab Rival.
"Iya, Sekarang coba kamu telpon si Mely. Tanyakan dengan basa-basi Kenapa Dia tadi memiscall sampai 50 kali.
TBC
Tinggalkan jejak dengan like coment positif dan Vote. Atau hadiah bunga dan kopo
__ADS_1