Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Mencarikan istri kedua


__ADS_3

Dengan perasaan bingung serta haru, Rival mengikuti langkah Ibu mertuanya menuju ruang keluarga, yang diikuti Mely, Pak Ali dan semua ART.


Di ruang keluarga nampak Kue Ulang tahun dan makanan lainnya tersusun rapi di atas meja bentuk bundar. Kue ulang tahun itu jenis red Velvet dan ukurannya lebih besar dari yang dipegang oleh Mama Maryam. Kue ulang tahun itu dihias sedemikian cantiknya. Ada buah chery yang nangkring indah di atasnya. Serta goresan cream berwarna merah 'Happy Birth Day Rival'


Mely terhenyak dengan kejutan yang diberikan oleh orang tuanya. Dia juga bingung. Setahu Dia suaminya itu sedang tidak ber ulang tahun.


"Ayo Abang Rival tiup lilinnya!" titah Mama Maryam, sedangkan yang lainnya sudah sangat semangat menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan bertepuk tangan dengan senyuman yang melukis indah di wajah mereka masing-masing. Hanya Mely dan Rival yang bengong dengan kejadian hari ini.


"Eehhmmm.... Se..pertinya Aku sedang tidak berulang tahun Ma." Ucap Rival dengan sedikit grogi. Otaknya pun berusaha keras, mengingat tanggal lahirnya.


Mama Maryam menoleh ke arah suaminya. Pak Ali pun langsung tersadar. Wajahnya langsung menampilkan ekspresi tidak tenang.


"Iya Ma, Abang Rival tidak ulang tahun hari ini, ulang tahunnya itu sekitar tiga bulan lagi. Mely tahu betul semua tentang suamiku. Lagian, Abang Rival itu tiga bulan lagi ultah ke 37 tahun. Ini Mama buat ke 36 tahun." Ucap Mely menimpali ucapan Rival. Dia langsung mengandeng tangan Rival dengan manjanya.


"Masak sih? Ayah, yang bilang sama Mama bahwa hari ini Abang Rival ulang tahun. Iya kan Ayah?" tanya Mama Maryam kepada suaminya itu dengan bingungnya.


Pak Ali nampak tak kalah bingung, was-was dan takut. Dia lupa, bahwa tanggal, bulan dan tahun lahirnya Rival tidak sama dengan data Rival yang ada di kantornya. Pak Ali hanya ingat bahwa hari ini adalah kelahiran putra nya itu. Pak Ali tidak akan pernah melupakan tanggal dan bulan kelahiran Anaknya. Karena setiap tahunnya Dia merayakannya dengan berbagi rezeki ke panti asuhan.


"Aduuhh... Ayah kurang memperhatikannya saat Ayah pernah baca CV Rival yang buat lamaran di kantor kita." Ucap Pak Ali mencari alasan.


"Ya sudah, acara hari ini kita ganti saja, menjadi acara perayaan penyambutan kalian berdua." Ucap Pak Ali merangkul Rival dan Mely, sehingga posisi Pak Ali ada di tengah keduanya.

__ADS_1


"Acara penyambutan?" tanya Mely bingung.


"Iya, penyambutan sekaligus acara syukuran kecil-kecilan. Untuk kalian yang akan menempati rumah baru." Ucap Pak Ali dengan terseyum dan bahagia. Sedangkan Rival masih bingung Dengan semua ini. Tadinya acara ultah, sekarang tiba-tiba jadi acara syukuran memasuki rumah baru.


"Terimakasih Ayah." Mely memeluk Ayahnya dengan bahagianya.


"Sayang, ucapkan terimakasih kepada Ayah." Ucap Mely mengedipkan sebelah matanya kepada Rival yang masih berdiri di sebelah Pak Ali.


Rival yang masih bingung, serta merasa tidak percaya diri itu. Hanya diam dan bengong. Dia pun kembali dikejutkan oleh Mely. Untuk berterima kasih kepada Ayah mereka.


"Terimakasih Ayah, tapi Aku tidak bisa menerima rumah sebesar ini. Aku merasa tidak pantas untuk tinggal di sini." Rival nampak sedih, Dia sungguh tidak merasa enak hati, menerima semua kebaikan Pak Ali.


"Sayang, kenapa bicara seperti itu. Ini hadiah dari Ayah untuk kita." Ucap Mely melotot, sungguh Dia tidak suka cara Rival menolak hadiah dari Ayahnya. Kalau Ayahnya membatalkan, kan Dia jadi rugi.


"Jangan buat Ayah sedih, karena kamu tidak mau menerima hadiah ini. Anggap saja, rumah ini hadiah Ayah untuk Mely." Pak Ali menatap wajah Rival yang kusut itu. Dia tahu, anaknya ini sekarang sedang merasa rendah diri.


"Karena itulah Ayah alasannya. Aku malu kepada diriku yang miskin ini, harusnya Aku sendiri yang bangun atau membeli rumah untuk keluarga kecilku. Ayah tidak perlu membelikan kami rumah yang megah ini. Aku merasa jadi tidak berguna sebagai suami." Ucap Rival dengan sedikit menunduk. Sungguh kebaikan Pak Ali membuat Rival jadi tidak enak hati.


"Itulah untungnya Abang mendapatkan Aku, tanpa kerja keras dikasih rumah gedong. Iya gak Ma?" ucap Mely dengan terseyum. Dia tidak tahu ucapannya itu malah membuat hati kecil Rival menciut. Dia sekarang merasa seperti dibeli oleh keluarga Mely yang kaya.


Mendengar ucapan putrinya yang asbun (asal bunyi) itu. Mama Mely langsung meletakkan jari telunjuknya dibibirnya. Dia berharap putrinya itu, diam saja. Daripada berucap, tapi membuat orang sakit hati.

__ADS_1


"Sudah, kita jangan permasalahkan lagi mengenai rumah ini. Dan kamu harus tahu ya Mely. Rumah ini Ayah buat atas nama Rival. Dan semua harta Ayah juga sudah atas nama Rival. Jadi, yang seharusnya berterima kasih itu adalah kamu, karena Rival mau menikah denganmu." Ucap Pak Ali, Dia menatap Putrinya itu dengan sorot mata yang tegas.


Mely terkejut dengan ucapan Ayahnya.


"Putri Ayah itu kan Aku. Kenapa semua jadi milik Abang Rival." Ucapnya kesal, Dia menatap ke Ayahnya, kemudian beralih menatap Rival yang masih berdiri tak kalah terkejutnya, mengetahui fakta. Bahwa Pak Ali serius dengan ucapannya Minggu lalu.


"Karena sekarang Rival adalah milikmu, jadi yang menjadi miliknya tentu sudah menjadi milikmu." Jawab Pak Ali, menatap Rival putra nya dengan tersenyum. Rival hanya bisa diam, Dia benar-benar tidak menyangka Pak Ali begitu percaya dengannya.


Mely tidak bisa berbuat banyak, ternyata apa yang dikatakan Ibunya seminggu yang lalu adalah benar. Bahwa Ayahnya sudah mewariskan semua hartanya kepada Rival. Aneh memang, tapi begitulah kenyataannya.


Mely merasa posisinya sekarang jadi terancam.


"Kamu harus bersikap baik kepada suamimu, jangan banyak tingkah. Kalau kamu masih buat masalah. Ayah akan meminta Rival menikah lagi." Ucap Pak Ali menatap lekat kedua bola mata putrinya itu yang kini hampir copot dari tempatnya. bisa-bisanya Ayahnya mengatakan itu didepan semua anggota keluarga mereka.


Jelas saja ucapan Pak Ali, membuat semuanya tercengang. Ini kedua kalinya Pak Ali mengatakan itu. Yang pertama saat di dermaga Tomok. Sepertinya Pak Ali serius dengan ucapannya.


Diantara semua orang yang ada di ruangan itu, hanya Sari yang begitu bahagia dan semangat nya menanggapi ucapan Pak Ali, yang mengatakan ingin menikahkan Rival lagi. Jikalau Mely banyak tingkah dan buat masalah.


"Eehhmmmm.... Tuan, bolehkah saya jadi istri kedua Abang Rival?" ucap Sari dengan sedikit ragu, tapi Dia begitu percaya diri.


Sungguh perkataan Sari, membuat semua penghuni ruangan itu kembali terkejut. Sampai-sampai mulut Mama Maryam dan Mely menganga dalam waktu yang lama.

__ADS_1


"Tadikan tuan bilang akan mencarikan lagi istri untuk Abang Rival. Saya bersedia jadi yang kedua tuan. Saya berjanji akan patuh dan taat kepada Abang Rival. Melayaninya dengan baik. Baik itu urusan di dapur, kasur maupun sumur." Ucap Sari dengan bangganya, Dia sedang mempromosikan dirinya, bahwa Dia pantas untuk mendampingi Rival.


TBC


__ADS_2