
Rival mendudukkan bokongnya di bangku panjang Stainles di koridor rumah sakit itu. Dia mengusap wajahnya kasar. Melampiaskan kekesalan hatinya. Dengan memukul bangku kosong disebelahnya. Kenapa begitu banyak masalah yang sulit untuk dipecahkan. Masalah datang secara beruntun. Jikalau pun dijelaskan, tetap akan sulit menerima kenyataan.
Hatinya bertanya-tanya, apa sebenarnya penyakit yang membuat Mely kembali masuk rumah sakit. Sungguh Dia sangat penasaran.
Dia nampak tidak tenang, sehingga Dia berulang kali duduk berdiri, duduk lagi dan berdiri kembali. Dia juga hilir mudik di lorong itu, sesekali mengintip dari kaca jendela. Melihat Mely yang masih terbaring. Apa seserius itu, hingga suara ribut Mama Maryam, tidak mengusik tidurnya.
Rival sungguh tidak bisa tenang. Dia sudah tidak sabar menjelaskan semuanya.
Saat Dia berjalan mondar-mandir di lorong kamar rawat inapnya Mely. Pak Firman pun keluar dari ruangan itu. Menyadari keberadaan Pak Firman. Rival berjalan cepat menghampiri pria itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi Pak? Mely mengidap penyakit apa? kata Febri keadaanya kritis?" tanya Rival menatap sendu Pak Firman yang menampilkan ekspresi wajah kesal.
Rival tahu, Pak Firman sedang marah kepadanya. Semua orang juga akan membencinya. Karena video itu. Dia sadar itu.
"Sebaiknya kita sholat shubuh dulu. Setelah itu, aku ingin mendengar penjelasan darimu. Mengatakan kejujuran walau itu pahit." Ucap Firman, berjalan menuju Mushollah di Rumah sakit itu, yang diekori oleh Rival.
Firman tidak boleh terbawa emosi, seperti yang dilakukan Mama Maryam, Dia harus lebih bijak dan dewasa menyikapi masalah ini.
Setelah sholat shubuh, Rival merasa pikiran sedikit tenang. Mungkin efek dari berserah diri kepada Sang Khalik.
Firman yang lebih dulu menyelesaikan sholat nya, sudah duduk bersila di teras Mesjid. Dia sedang menunggu Rival selesai sholat shubuh.
Kini Rival sudah duduk bersila juga di sebelah kanan Pak Firman, Dia menyandarkan punggungnya di dinding Mesjid itu.
Menarik napas panjang dan menghembuskannya. Belum berani bicara terlebih dahulu.
"Apa kau ingin membela dirimu, atas video mesummu itu?" Pak Firman langsung to the point. Ya saat ini, akar permasalahannya adalah video itu.
Walau sebenarnya awal mula masalah Mely dan Rival adalah. Disaat Rival menjumpai Rili. Setelah Dia tahu, Rili tidak menikah dengan Yasir.
__ADS_1
Rival menoleh kepada Firman dengan tatapan mata penuh penyesalan. Ya, Dia lah yang salah dari awal. Walau Mely terkadang terlalu berlebihan menanggapi semua masalah yang datang menghampiri kehidupan mereka. Tapi, sebagai seorang suami, harusnya Dia bisa memahami dan membimbing istrinya itu. Apalagi usai mereka terpaut jauh lima belas tahun.
"Aku serba salah. Aku ingin memungkirinya. Tapi tidak mungkin. Karena di video itu jelas terlihat, Aku pemerannya." Ucap Rival dengan menghela napas kasar. Dia membuang pandangannya ke taman mushollah.
Tatapan Mata Firman, sungguh mematikan. Dia tidak sanggup melihat tatapan penuh kebencian itu.
"Jadi kau mengakui, bahwa benar adanya kamu di video itu?" Pak Firman ingin jawaban yang pasti dari Rival. Dia memutar sedikit posisinya sehingga kini Dia menghadap Rival, agar lebih jelas bisa menatap kedua manik mata Rival. Mencari kebenaran di mata itu.
"Iya." Jawabnya pelan. Dan sedikit menunduk.
Bugghh...
Satu tinju mendarat di pipi Rival sebelah kanan. Saking kerasnya tinju tersebut, membuat Sudut bibir Rival berdarah.
Pak Firman merasa Rival tidak becus menjadi seorang suami. Saat hamil Mely juga menderita dalam pelariannya. Bahkan Mely tidak pernah memeriksa kandungannya. Karena keterbatasan biaya. Dia hanya sipeksi ke bidan desa. Tanpa memeriksa bagaimana keadaan janinnya. Sehingga timbullah masalah plasenta lengket.
Rival memegangi pipi kanannya yang kini sudah memar dan berdarah. Rasanya sakit luar biasa. Tapi, sakitnya tidak sebanding dengan masalah yang dihadapinya saat ini. Dia menatap kesal Firman yang meninjunya dengan keras.
"Sebaiknya kamu tinggalkan Mely. Dia tidak baik untuk kehidupanmu dan untuk kehidupannya." Ucap Firman, masih menatap Rival yang memegangi pipinya yang memar dengan tatapan nanar.
Enak sekali bibir Firman yang bicara itu, sudah main jotos. Mau usir segala. Dia siapa berani ingin memisahkan Rival dengan istrinya
Dia saja, Ayah yang tidak berguna yang menelantarkan wanita yang dihamilinya. Begitulah penilaian Rival kepada Firman saat ini.
Rival diam, Dia tidak akan mengikuti saran Ayah Biologis Mely itu.
"Apa kamu mau disuruh meninggalkan keluargamu?" tanya Rival, Dia mulai kesal. Hingga Pak Firman dipanggil dengan kata ganti kamu.
Firman melongo mendengar ucapan Rival. Yang dikatakan Rival ada benarnya. Suami mana yang ingin berpisah dengan keluarganya. Tentu itu tidak ada.
__ADS_1
"Tidak-- kan? begitu juga dengan Aku." Rival beranjak dari duduknya. Dia merasa Pak Firman, bukan orang yang tepat untuk bertukar pikiran. Terlalu cepat menyimpulkan, bahwa Dia tidak bisa membahagiakanmu Mely.
"Aku baru tahu, kamu kan belum menikah. Mana mungkin punya keluarga." Ucap Rival tertawa sinis. Dia sedang menyindir mertuanya itu. Dia pun berjalan meninggalkan Firman. Rival merasa tidak akan ada yang mendukung nya, untuk menyelesaikan masalahnya.
Terkadang manusia yang kita harapkan sebagai perantara untuk penyelesaian masalah, malah akan menambah masalah baru. Sepertinya Rival harus berusaha sendiri dan tidak lupa meminta pertolongan dari Allah.
Firman mengejar Rival, menarik bahunya Rival. Hingga Rival berbalik badan.
"Kamu mau kemana?" tanya Firman.
"Ke kamarnya Mely." Jawab Rival singkat menyingkirkan lengan Firman di bahu Rival.
"Kamu jangan menemuinya dulu. Keadaannya sangat kritis. Jikalau kalian berjumpa, tentu akan membuat dirinya akan semakin tertekan. Itu bisa membahayakan nyawanya." Ucap Firman penuh kekhawatiran. Dia tidak mau lagi, putrinya itu, mengalami pendarahan hebat, karena setres.
"Tidak Pak, ini harus cepat diselesaikan. Aku akan berkata sejujurnya. Dan meminta maaf. Aku tidak mau nantinya Mely mengira, aku tidak peduli kepadanya." Rival, kembali menepis tangan Firman yang berusaha menahan lengannya. Dia tidak mau menerima saran apak Firman lagi. Menunda-nunda penjelasan darinya.
Firman mengejar Rival, sambil berdecak kesal.
"Jangan sekarang, tunggulah Dia menanyakan keberadaanmu. Nanti, disaat itu. Aku akan mengatakan bahwa kamu sudah lama disini." Ucap Firman, kini mereka berhadap-hadapan.
Perkataan Rival tadi membuatnya sadar. Dia harus membantu putrinya itu bersatu dengan Rival suaminya.
"Kalau Dia tidak menanyakan keberadaanku, bagaimana? Aku tidak mau menunggu lagi. Aku tidak salah, ini masalah hadir karena kesalahpahaman." Ucap Rival, kembali melanjutkan langkahnya.
Firman mensejajarkan langkahnya denga Rival.
"Setidaknya tunggu Dia sadar, batu kamu temui. Jangan ganggu istirahatnya." Ucap Pak Firman.
Rival terdiam, apa yang dikatakan Ayah mertuanya itu ada benarnya juga. Tapi, Dia ingin mendampingi Mely saat ini.
__ADS_1
"Iya, Aku tidak akan membangunkannya. Aku hanya akan duduk di sebelahnya. Menjaganya." Ucap Rival, berjalan menuju ruangan tempat Mely dirawat. Saat itu juga ponsel yang berada di saku celananya berdering. Dia mengabaikannya, tapi ponsel itu kembali lagi berdering.