
Kapal sudah sampai di Dermaga dan menepi. Para penumpang berhamburan keluar dari kapal. Suara bising dari para penumpang dan deru mesin kenderaan membuat telinga Rival yang santai itu sedikit terganggu, Rival memilih untuk sabar tetap duduk dikursinya, Dia tidak suka berdesak-desakan dengan penumpang lainnya.
Sedangkan Mely yang masih dongkol itu, memilih keluar dan berdesak-desakan dengan penumpang lainnya. Sehingga Dia pun terjatuh, karena kesenggol penumpang pria berbadan tegap. Mely marah-marah kepada pria yang menyenggolnya, masih dalam posisi terduduk dan hampir terpijak-terpijak orang yang ingin keluar dari kapal. Sedangkan penumpang yang menyenggol Mely tidak ambil pusing, Dia keluar cepat meninggalkan Mely yang menggerutu.
Rival yang melihatnya tidak tega, Dia pun mendekati istrinya itu dan mengangkat tubuh Mely agar berdiri. Sesaat tatapan keduanya bertemu. Deg deg deg.... Jantung Mely berdetak dua kali lebih cepat, disaat Rival dengan begitu lekatnya menatap bola matanya Mely. Mely tiba-tiba saja grogi. Dia pun memalingkan wajahnya.
"Lain kali lebih hati-hati lagi. Kenapa harus berdesak-desakan, kan bisa sabar menunggu penumpang semua keluar, baru kamu keluar. Kalau tadi kamu terinjak-injak bagaimana?" ucap Rival dengan khawatirnya. Dia sampai merapikan rambut Mely yang berantakan karena angin kencang.
Mely sangat senang dengan rasa khawatir yang ditunjukkan suaminya itu. Seketika rasa dongkolnya berangsur luruh. Tapi, Mely yang masih bersikap keras itu. Malah tidak mau disalahkan.
"Ini semua gara-gara Ayah. Kita kan bisa menyebrang pakai kapal pariwisata yang isinya hanya kita saja. Atau naik spedboot." Ucap Mely dengan kesalnya. Dia merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan.
Dasar bocah keras kepala, dibilangin ada saja jawabannya. Rival mendengus kesal, kesalahan apa yang diperbuatnya, sehingga mempunyai istri yang aneh begini. Kadang baik, kadang manja, kadang marah-marah, kadang mesum tingkat dewa. Rival bingung, sungguh Dia jadi tidak tertarik dengan istrinya ini. Kalau bukan karena Pak Ali yang begitu baiknya. Dia tidak akan mau menjalani hubungan ini.
"Kamu dengar sendiri kan alasan Ayah ingin kita naik kapal Fery ini apa. Ayah ingin menikmati liburan rakyat jelata." Ucap Rival datar, Dia berjalan keluar kapal meninggalkan Mely.
"Dasar pria dingin, main tinggal aja. Rangkul kek, peluk kek, gandeng kek. Seperti pasangan yang tadi yang duduk di hadapanku." Mely bermonolog sambil menghentakkan kakinya. Dia pun mengekori suaminya itu.
Keluar dari kapal, Mely sudah melihat orang tuanya yang begitu mesra, dimana Mamanya melingkarkan tangannya di pinggang Pak Ali. Sedangkan Rival yang juga berdiri di sebuah Pak Ali nampak berbicara dengan Sari. Sedangkan Pak Budi. Matanya sibuk menyoroti Danau Toba yang luas.
__ADS_1
Apa sih maksud pembantu satu ini, dari tadi sepertinya Dia cari-cari kesempatan untuk dekat dengan suamiku. Sepertinya Dia tahu, kalau kami lagi perang dingin.
"Awas... Minggir kamu Sari." Ucap Mely menjauhkan Sari dari Rival. Dia pun berdiri disebelah Rival. Rival bersikap biasa saja, padahal Mely berharap Rival merangkulnya, seperti yang dilakukan Ayahnya kini kepada Mamanya. Disaat mereka berjalan masuk ke Tomok untuk cuci mata ataupun belanja
Mereka pun berlima pun berjalan menuju pusat keramaian wisata di Desa Tomok. Hanya Pak Budi yang tidak ikut, karena Pak Budi bertugas mengurus mobil yang akan dikeluarkan dari kapal.
Berjejer kios-kios yang menawarkan cinderamata bertuliskan Lake Toba. Pakaian, aksesoris, dan dekorasi, lengkap tersedia di pusat pasar Tomok ini. Cukup ramai juga suasana di Desa Tomok saat ini. Mungkin karena esok hari akan diadakannya Festival Danau Toba.
Hilir mudik para wisatawan terjadi dalam kejapan mata. Perlahan namun pasti Pak Ali dan istrinya dan Rival serta Mely menyusup di antara kerumunan di jalanan yang menanjak. Sedangkan Sari berjalan sendirian, karena Mely sudah menggandeng tangan Rival dan menjauhkan Sari darinya. Melihat Nona mudanya seolah tidak memberi kesempatan kepadanya untuk menempel bersama mereka. Akhirnya Sari mengekori langkah majikannya saja. Yaitu Pak Ali dan istrinya.
Kini langkah kedua pasangan suami istri itu terhenti ketika melihat boneka Sigale-gale yang menari-nari. Dengan semangatnya dan perasaan senang, Rival menikmati tontonan itu.
Mely sih tidak terlalu suka menyaksikan boneka kayu Sigale-gale yang menari-nari itu. Dia lebih suka menikmati pemandangan alam misalnya Hiking. Tapi melihat Rival begitu menikmati pertunjukan itu, Dia pun harus sabar menunggu Rival selesai menonton pertunjukan.
Dasar udik suamiku ini. Berfoto dengan patung.
Mely mendongkol seperti itu, karena Rival tidak mengajaknya foto bareng. Dia juga ingin berfoto bersama dengan Rival. Bukan karena patungnya, tapi karena memang mereka belum pernah berfoto bersama.
Puas memikmati tarian patung Sigale-gale, kini Rival mengajak Mely untuk menikmati pemandangan Danau Toba dari Makam Raja Sidabutar, yang dulunya menguasai daerah Tomok dan sekitarnya. Suasana hati Mely sudah mulai membaik. Baru disadarinya, ternyata suaminya itu tidak peka dengan dirinya yang merajuk.
__ADS_1
Mungkin karena Rival belum mencintainya. Sehingga Mely pun akhirnya memutuskan untuk sabar. Karena kalau Dia pun merajuk, tidak ada gunanya. Toh Rival malah akan mendiamkannya. Tapi, sampai kapan, Dia kan tahan bersikap seperti itu. Merajuk tidak dibujuk dan harus berdamai sendiri dengan hatinya.
Rival yang sedang asyik menatap si biru, disapa oleh Pak Situmorang, seorang penunggu Makam Raja Sidabutar yang murah senyum. Percakapan dan senda gurau mengalir dengan Bapak yang berusia lebih dari 70 tahun ini. Ada kisah menarik dibalik simbol yang terpajang banyak di bangunan-bangunan di Tomok, yaitu gambar atau pahatan pay*udara dan cicak.
Rival yang duduk disebelah Pak Situmorang di atas bangku beton mulai menanyakan maksud pahatan itu. Mely juga ikut nimbrung dengan kedua pria Batak ini.
Saat berkenalan dengan Pak Situmorang Rival mengatakan Dia suku Batak dengan Marga Siregar.
Pak Situmorang pun bercerita. "Gambar pay*udara bermakna bahwa pria Batak menyukai wanita yang subur untuk melanjutkan garis keturunan patriarki yang lekat di dalam adat Batak. Menurut ceritanya, salah satu ciri kesuburan wanita adalah yang memiliki pinggul dan buah dada besar. Nah, kata Tomok sebenarnya memiliki makna yang sama dengan ‘semok’ atau ‘montok’." Jelas Pak Situmorang, yang membuat Rival sedikit tersenyum dengan penjelasan Pak Situmorang. Dimana-mana orang pasti suka yang suburlah. Agar benih yang ditanam bisa jadi. Ya namanya juga mau bercocok tanam.
"Beda lagi dengan simbol berbentuk cicak yang dimaksudkan agar orang Batak bisa hidup seperti cicak. Mampu bertahan hidup di manapun ia berada. Hmm, mungkin itu salah satu alasan banyak orang Batak yang sukses di perantauan." Jelas Pak Situmorang mengakhiri ceritanya.
Mendengar penjelasan Pak Situmorang, Mely jadi risau dan sedikit gamang dan tidak percaya diri.
Dia yang mengetahui Rival adalah suku Batak, tentunya pria Batak menyukai wanita seperti yang diceritakan Pak Situmorang. Dia menolah ke arah Dadanya, yang tergolong biasa saja.
"Apa suamiku ini tidak agresif, karena gunungku tidak montok? dari kemarin-kemarin sepertinya Aku terus yang mesum kepadanya." Gumam Mely dalam hati. Dia melirik Rival yang masih duduk disebelah nya menikmati hamparan danau yang luas. Kemudian Dia melihat ke arah dadanya. Deg, Dia jadi was-was dan takut akan benar-benar ditinggalkan Rival.
Apalagi sekarang Sari selalu ingin dekat dengan Rival. Sari yang punya bentuk tubuh yang bak gitar spanyol dan gunung kembar yang montok. Membuat Mely sekarang gigit jari. Apalagi Rival sekarang dingin kepadanya. Mely benar-benar tidak sadar, Rival seperti itu, karena Dia takut salah sikap. Karena Mely tiba-tiba dingin.
__ADS_1
TBC
Mohon beri like coment positif dan Vote ya kak. ❤️🤗