Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Uangmu tidak usah dikasih Sama istrimu.


__ADS_3

Jelas saja, ada dua orang yang mukanya sekarang seperti setan bertanduk yang siap menyeruduk Rili yang tak lain adalah Bou dan Eda nya Rili.


Kebiasaan di kampung Rival, yang menganggap suatu hal tabu memamerkan kemesraan didepan orang dianggap tidak bermoral dan tidak sopan. Sikap Rival terhadap istrinya malam ini, semakin menambah kebencian mertuanya terhadap Rili.


Merasa ketakutan dengan tatapan tajam Ibu mertuanya membuat Rili permisi ingin ke kamar mandi.


"Aaa...kuu... pamit ke kamar mandi sebentar." Ucap Rili dengan gemetar, Dia kemudian berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari pintu dapur sebelah samping.


Setelah kepergian Rili ke kamar mandi, maka Ayah, Suami Mila dan anak kembarnya juga pergi meninggalkan ruang dapur.


Kini hanya ada Rival, ibu nya dan adik nya Mila di dapur tersebut.


"Kamu apa-apaan sih nak? sikapnya yang sopanlah, gak malu apa dilihat kemenakanmu, Ayah dan adik mu juga." Ucap Ibu nya Rival menegur sikap Rival yang sok romantis.


"Aduh Bu, masak hal seperti itu dipermasalahkan. Yang memalukan itu, kita melakukan perzinahan Bu." Ucap Rival pelan sambil meneguk air dari gelasnya.


"Mulai dari sekarang Ibu ingatkan, jangan bermesraan di depan umum. Nanti keluarga kita diperbincangkan orang kampung." Ucap Ibu Rival sambil memindahkan piring kotor ke ember plastik warna hitam. Yang mana piring kotor tersebut akan dicuci Mila di belakang rumah.


"Iya Bu," jawab Rival dan hendak mengangkat bokongnya dari tempat duduknya, tapi tidak jadi.


"Biasanya habis mendodos kamu kasih uang nak sama ibu?" ucap Ibunya Rival dengan tersenyum kepada putra nya. Dia juga masih duduk di atas tikar plastik.


"Iya Bu, tapi kali ini. Penghasilanku semua mau Rival kasih sama Rili Bu."


"Koq seperti itu nak?" tanya Ibu Rival sedikit sedih. wajahnya nampak kecewa.


"Karena Rival sudah menikah Bu. Ibu juga tetap akan Rival kasih uang belanja Bu, tapi kali ini Rival ingin menyetor semua uang yang Rival dapat. Tadi pasti uang Rili banyak habis untuk makan malam kita ini.


"Untuk bagian Ibu, kan besok Ibu ke pasar jualkan sayur kita. Ya udah, itu nanti sama Ibu uangnya semua." Ucap Rival tersenyum memberi pengertian pada Ibu nya dan sekali-kali Rival memijat jari dan telapak kakinya dengan tangan kirinya dimana Dia masih dalam posisi duduk bersila.


"Bang, kak Rili kan PNS tentu Dia juga punya uang yang banyak. Dia kan punya gaji." Ucap Mila yang datang nyelonong dari belakang Rumah habis mencuci piring.


Rival terkejut mendengar prinsip kedua wanita yang disayangi itu. Dia pun menggeleng pelan.


"Salah satu tugas dan kewajiban seorang suami adalah memberi nafkah kepada istri dan anaknya. Hal itu sudah ditegaskan oleh Al-Quran Al-Karim dan juga sunnah nabawiyah.


"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain, dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka… (QS. An-Nisa : 34)

__ADS_1


"Bahkan meski istrinya itu kaya raya dan punya penghasilan sendiri. Secara dasar hukum, kewajiban suami tidak pernah gugur. Kecuali hanya bila ada kerelaan dari istri untuk tidak diberi nafkah bahkan bila dia rela untuk menafkahi suaminya."


Rival mencoba memberi pengertian pada Ibu dan Adik Perempuannya. Ya, Rival tahu sedikit hukum fiqih dalam ajaran Islam. Karena memang Dia tamat Madrasah Aliyah. Dia pun sering membaca-baca Buku Fiqih.


Bahkan di kampung ini Dia sering dipercaya menyampaikan khutbah di Mesjid.


Tubuh Rili gemetar mendengar percakapan antara suami, Mertua dan adik iparnya tersebut. Rili yang bersandar di dinding dapur saat ini, merasa kakinya seperti lumpuh. Darahnya seolah berhenti mengalir yang membuat Rili seperti tidak bertenaga. Tadinya Dia ingin masuk ke dapur. Tapi, mendengar seperti ada percakapan serius, Dia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dapur.


Dia tidak habis pikir akan terjebak di dalam pernikahan, dimana Suami nya begitu baik dan Sholeh, tetapi Ibu nya. Nauzubillah.


Kenapa bertolak belakang belakang sekali dengan pepatah Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.


Tak terasa air mata jatuh dipipinya. Rili melapnya sambil Dia pun berjalan ke balai-balai yang terdapat di halaman Rumah Rival.


Sementara di dapur Rival, Ibu dan adik nya masih saling beradu argument.


"Bagaimana kalau kata-kata mu Mila tadi dilakukan Amrin terhadapmu? kamu tidak diberi nafkah. Kamu pasti marah kan?" ucap Rival sambil menatap tajam kepada Adik nya itu yang sedang memberhentikan kegiatannya menyusun piring ke rak piring. Dia menatap mata Rival.


"Ya, Aku kan tidak PNS bang."


"Ini nih prinsip di kampung kita ini harus di ubah. Kakak Ipar mu itu orang asing yang masuk kekeluarga kita. Dia sendirian. Sedangkan kita disini banyak. Jangan Dia saja harus mengambil hati untuk orang-orang penghuni Rumah ini. Marilah saling mengambil hati.


"Bu, Dia wanita berpendidikan Bu. Dia itu bisa membaca situasi. Walaupun Dia salah mungkin memang karena Dia tidak tahu. Tugas kitalah menjelaskan dengan baik adat dan kebiasaan di kampung kita ini." Ucap Rival kepada Ibu nya yang masih duduk di lantai beralaskan tikar.


"Tapi bang, Kak Rili nampak sombong." Ucap Mila sambil menaikkan bibirnya sebelah kiri.


"Dia tidak sombong, Dia itu serba salah dengan sikap kalian yang selalu menyudutkannya, terutama Ibu." Ucap Rival yang nampak sedikit emosi.


"Eehhmmmm.... sepertinya Abang sudah kena guna-guna. Udah yuk Bu?!" ucap Mila. Akhirnya Mila dan Ibu nya beranjak dari duduknya.


Saat mereka keluar dari pintu depan. Rili melihat ke arah Mertua dan adik ipar nya itu dengan tersenyum. Tapi, senyuman Rili tidak dibalas. Malah Ibu dan Anak itu melewati Rili tanpa basa-basi.


Rili yang takut kena sembur, akhirnya diam saja melihat kepergian Mertua dan Adik ipar nya itu.


Rili menatap bulan purnama duduk bersila di balai-balai.


Ketika bulan purnama tiba dan langitpun cerah, disanalah malam-malam terindah, Ketika malam purnama itulah malam yang paling romantis, pemandangan langit ciptaan Allah yang sangat menabjubkan nan indah apalagi miliaran bintang yang selalu menemaninya.

__ADS_1


Kedipan bintang kejora dan gerakan pelan awan membuat malam lebih syahdu. Kalau cuaca sedang cerah, sempatkanlah melihat purnama apa lagi kalau sapaannya angin menyentuh kita, udara sejuk diiringi nyanyian jangkrik menjadi pengiring syahdunya malam yang sangat indah.


Rili mengingat moment romantis, saat bersama Yasir saat bulan purnama. Saat itu malam Minggu. Yasir mengajaknya makan malam di pinggir pantai, yang Yasir rancang begitu romantisnya.


"kalau kamu merindukan Aku, lihatlah bulan, biarpun terpisah ruang dan waktu, namun bulan yang kita pandang tetaplah sama, jadi akan serasa dekat. Dimanapun kita berada, mau di hutan, gunung, laut maupun kota, bulan yang kita pandang tetaplah bulan yang sama dialah satelit bumi yang tulus memancarkan cahaya lembutnya." Rili teringat dengan ucapan Yasir. Dia sangat merindukannya.


"Eehhmmmm....!" tidak Rili sadari ternyata Rival sudah duduk disebelah kiri Rili. Dehemaan Rival membuyarkan lamunan Rili.


Rili memutar kepalanya melihat siapa yang disebelahnya. "Eehhh.. Abang, Maaf bukan maksud mencueki, tapi Aku tidak tahu Abang datang." Ucap nya sambil menggosok-gosokkan pergelangan tangannya sebelah kiri, ke pahanya yang gatal karena digigit nyamuk.


"Indah ya dek, bulan purnama nya?" ucap Rival yang ikut memandang ke atas, melihat kerlap-kerlip bintang.


"Iya bang." Jawabannya singkat.


"Tapi, lebih indah wanita yang disamping Abang." Rival mencoba menggombal istrinya. Dia ingin mengakrabkan Diri. Dia ingin Rili merasa nyaman dulu terhadap dirinya, setelah Rili merasa nyaman. Maka Dia akan meminta hak nya sebagai suami.


Rili diam saja, tidak merespon gombalan suaminya.


Rili teringat lagi perbincangannya dengan Mamanya tadi siang saat bertelepon, yang menanyakan apakah ada hal yang disampaikan suaminya kepada Dia setelah suaminya selesai bertelepon dengan Mama nya Rili.


"Oohh ya bang? kemarin saat teleponan dengan Mama. Apa ada sesuatu yang Mama sampaikan?" tanya Rili penuh selidiki, Dia nampak menunggu jawaban dari Rival dengan melihat wajah Rival.


"Tidak ada dek. Kami hanya bicara sebentar. Dan kemudian seperti ada tamu yang datang. Terus Ibu membuka pintu Rumah."


"Tamu?"


"Iya dek. Saat membuka pintu, Abang mendengar suara Ibu seperti terkejut. Kaaammuuuuu....? Abang mendengar suara Ibu sepertinya terputus-putus saat mengetahui siapa yang datang."


Bersambung..


Mohon beri like, coment positif, vote, rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.


Author akan sangat senang dan semangat menulis jika dapat Vote.


Dan gabung ke group chat author ya kakak2 Tersayang. Di group kita bisa saling sharing.


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2