Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Ikut Pak Firman


__ADS_3

PoV Mely


Flashback on


"Bapak Firman," ucapku tersenyum, Aku mendudukkan bokongku di kursi yang ada dihadapannya. Bapak Firman membalas senyumanku dengan canggung.


"Maaf mengganggu Nak Mely. Bapak malah memaksa harus berjumpa." Ucapnya masih dengan sungkannya.


"Iya Pak, Aku yang seharusnya minta maaf. Telah membuat Bapak lama menunggu. Sebenarnya dari dulu Aku dan suamiku ingin sekali mencari keberadaan Bapak. Tapi, karena sesuatu hal, kami tidak jadi berkunjung ke tempat Bapak. Ayo kita masuk ke dalam aja Pak." Tawarku dengan ramahnya. Aku senang sekali Pak Firman datang ke rumah ini. Tapi, untuk apa Dia datang kesini dan dari mana Dia tahu alamatku.


"Tidak usah Nak. Kita disini saja ngobrolnya. Bapak hanya sebentar." Ucapnya dengan nada sungkan. Pak Firman nampak mulai tidak tenang. Dia mengambil sesuatu dari tas selempang miliknya. Bisa ku lihat itu seperti foto. Dia menyodorkan foto itu kepadaku, dengan penasarannya Aku meraihnya.


"Ini foto siapa ya Pak?" tanyaku dengan bingung sekaligus memperhatikan foto itu dengan seksama. Setelah lama ku melihat foto yang sudah hampir buram itu. Wajah wanita yang ada di foto itu pun akhirnya ku kenal.


Dia Mamaku, Mama Maryam. Kenapa fotonya sewaktu gadis ada sama Bapak ini? di foto itu Mama berdiri di depan sebuah gereja.


"Ini Mama, kenapa Foto Mama ada sama Bapak?" tanyaku dengan bingung dan penasarannya. Aku tidak sabar menunggu jawaban dari Pak Firman yang tiba-tiba membisu dan matanya berkaca-kaca. Dia sedang menahan diri untuk tidak menangis.


Apa Pak Firman adalah Ayahku? Pak Firman yang tidak kunjung membuka suara, membuat rasa penasaranku semakin menjadi-jadi saja.


"Apa Bapak adalah Ayah kandungku?" Aku langsung bertanya kepada topik yang ada dipikiranku.


Tanpa banyak cerita, Pria paruh baya yang ada di depanku mengangguk. Dia sepertinya tidak percaya diri mengakuinya. Ku lihat wajah cemas sekaligus ketakutan yang ditampilkannya. Dia mungkin takut, Aku tidak percaya atau apalah itu, yang jelas Pak Firman tidak berani menatapku.


Melihatnya hanya diam dan tangannya yang saling bertautan itu gemetar. Aku bangkit dari tempat dudukku, berjalan pelan ke arah Pak Firman. Aku berlutut dihadapannya, meraih tangan yang gemetaran itu.


"Apa Bapak benar adalah Ayahku?" aku bertanya lagi, mendongak untuk melihat wajah pak Firman yang sedikit menunduk.


"Iya," jawabnya lirih.


Aku langsung memeluknya yang masih duduk di kursi itu. Aku tidak perlu penjelasan panjang kali lebar lagi. Kenapa Dia baru muncul sekarang. Dia datang mencari anaknya saja, hatiku sudah sangat senang.


"Bapak tidak menyangka, kamu akan langsung menerima Bapak seperti ini. Tadinya Bapak berfikir kamu akan marah dan mengusir Bapak." Ucapnya dengan suara gemetar, membalas pelukanku.


Aku mengurai pelukan kami, menarik kursi tempat ku tadi duduk mendekat ke Pak Firman.

__ADS_1


"Mely sangat senang, Bapak datang mencariku. Aku selalu bertanya kepada Mama, dimana Ayah kandungku? Tapi Mama tidak pernah mau menceritakannya. Aku baru tahu dua bulan yang lalu kalau Aku ini bukan anaknya Pak Ali. Tentunya saat itu hatiku rasanya hancur. Tapi, sekarang Aku sudah lega. Ayahku berada dihadapanku." Ucap ku tersenyum kembali berhambur memeluknya.


Kebahagiaan jelas terlihat dari wajah Pak Firman.


"Kenapa Ayah dan Mama tidak bersama dan malah Ayah Ali yang menikah dengan Mama?" tanyaku menilik wajah Pak Firman, yang sedikit terkejut dengan pertanyaanku.


Pak Firman, menghela napas dalam. Dia menatapku sendu. Dia pun mulai bercerita. Cerita kisah Mama dan Pak Firman lumayan rumit. Aku sampai menitikkan air mata dan kasihan terhadap pria paruh baya dihadapanku.


Aku mengelus lengan Pak Firman, memberinya semangat. Bahwa Aku putrinya masih bangga kepadanya. Walau Dia pernah jadi mantan mafia. Cerita hidupnya Pak Firman benar-benar tragis. Dimana segala bentuk kejahatan yang dilakukan tidak akan mendatangkan kebahagiaan.


Lama kami bercerita, Aku pun menceritakan tentang rumah tanggaku. Beliau memintaku untuk bersabar. Karena ini mungkin ujian dalam rumah tangga. Aku merasa lega, bisa bertukar pikiran dengan Ayah kandungku. Dia benar-benar mempunyai jiwa kebapakan dan dewasa.


Aku mengira Dia menikah lagi setelah Mama meninggalkannya. Tapi ternyata sampai saat ini Ayah yang dihadapanku masih melajang. Astaghfirullah... Aku benar-benar anak haram.


Aku anak dari hasil pemerkosaan. Sungguh kisah percintaan Ayah dan Mama sangat rumit.


"Bolehkah Aku ikut denganmu?" pintaku menatap sendu Pak Firman.


"Kenapa kamu ingin meninggalkan suamimu?" tanyanya dengan bingung dan khawatirnya. Dia mungkin tidak ingin Aku menderita, apalagi Aku sedang hamil lima bulan.


"Banyak pasangan yang tidak saling mencintai. Tapi mereka tetap bertahan. Kamu sabar, jangan ada niat untuk berpisah." Ucap Ayah, mulai khawatir dengan keputusanku.


"Aku sudah lelah Ayah. Mungkin merelakannya Kembali kepada mantannya. Akan membuatnya bahagia." Jawabku sendu, menyeka sendiri air mata yang jatuh di pipiku.


"Jangan mengambil keputusan yang akan kamu sesali nanti. Hidupmu sudah enak Nak. Kamu serba kecukupan. Kalau kamu ikut Ayah. Kamu akan hidup susah. Ayah orang miskin." Ucap Ayah, menolak keinginanku.


"Aku sudah memikirkan ini dari dulu Ayah. Mungkin ini yang terbaik. Aku sudah biasa hidup di alam bebas. Aku pasti bisa. Aku ikut dengan Ayah ya?" Pintu ku memegang kedua tangannya.


"Tidak, Ayah tidak mau kamu ikut dengan Ayah." Ucapnya memutus kontak mata kami.


"Ayah juga tidak menginginkanku. Suamiku juga tidak menginginkanku. Betapa malang nasibku di dunia ini. Tidak ada yang menginginkanku." Ucapku mulai terisak menahan sakit di dalam dada.


"Bukan seperti itu, Ayah tidak ingin kamu berpisah dengan suamimu." Ucap Ayah meyakinkanku. Kalau keputusanku itu salah.


"Dia tidak mencintaiku Ayah. Aku ingin hidup tenang tanpa harus merasakan cemburu. Aku bosan mendengar nama wanita yang dicintainya keluar dari mulutnya." Ucapku dengan berurai air mata. Mungkin dengan pergi dari hidupnya, akan membuatnya bahagia.

__ADS_1


"Ayah tidak mau kamu salah ambil keputusan. Masalah yang kamu alami ini, tidak masalah berat. Sabarlah Nak." Ucap Ayah mengelus lenganku.


"Ini masalah berat Ayah. Dia tidak pernah menghargaiku sedikitpun. Dia memang baik, tapi sepertinya Dia tidak baik untuk kehidupanku." Jawabku masih terisak.


"Kamu lagi hamil, sabarlah." Ucap Ayah menatapku dengan ibahnya. Bisa-bisanya baru dipertemuan pertama sebagai status Ayah dan Anak. Aku sudah membebani pikirannya seperti saat ini.


Aku terdiam sambil menyeka air mata yang jatuh tanpa permisi itu. Aku tidak mau bersamanya lagi. Biarlah Aku hidup sendiri. Toh semua perlakuannya hanya palsu belaka.


"Iya Ayah. Aku tidak akan pergi. Tapi, bolehkah Aku ikut dengan Ayah ke kampung Ayah?" tanyaku penuh harap. Aku ingin menyendiri, memikirkan nasibku kedepannya.


"Boleh, tapi kamu izinlah dulu sama Nak Rival." Jawab Ayah datar. Sepertinya Dia tidak suka, Aku pergi dari rumah.


"Iya Ayah." Jawabku tersenyum getir.


"Ayah, ayo kita masuk dulu. Kita makan dulu." Tawarku.


"Ayah sudah makan tadi." Tolaknya lembut.


"Aku minta no ponsel Ayah." Pintaku.


Dia pun merogoh saku celananya.


"Ayah catat nomor ponselku ya, nanti Ayah miscall. Ponselku lagi di kamar." Ucapku tersenyum. Ayah pun melakukan apa yang ku katakan.


Tak berselang lama Ayah pamit pulang. Dia bahkan menolak tawaranku untuk mengajaknya menginap di rumah.


Setelah kepergian Ayah. Aku kembali masuk ke kamar. Satu jam merenung dan bertempur bathin. Haruskah Aku pergi dari hidupnya Mas Rival? Akhirnya Aku memutuskan pergi dari hidupnya. Menyusul Ayah ke Danau Toba hanya berselang satu jam.


Diperjalanan Aku selalu menelponnya, memintanya turun dari bus yang ditumpanginya dan memintanya menyusulku ke tempat perkumpulan geng motorku.


Sesampainya Ayah di tempatku mangkal. Kami pun berangkat ke Parapat dengan merental mobil. Tentunya sebelum Aku pergi. Ketua geng motorku. Sudah ku ancam, agar jangan memberitahukan keberadaanku.


Kehidupan baru pun ku mulai di Parapat bersama Ayah. Kami menjalankan usaha tambak ikan kecil-kecilan. Karena saat Aku meninggalkan rumah. Aku tidak bawa uang banyak.


Ayah selalu memintaku untuk pulang, tapi Aku tidak mau. Aku malu untuk kembali.

__ADS_1


Flashback off


__ADS_2