
"Assalamualaikum... Ma..!" Rival menjawab telepon Mama Maryam dengan tidak tenangnya. Dia masih saja muter-muter mondar-mandir di sekitar Danau Toba tepatnya dihadapan rumah makan yang berjejer dipinggir jalan, mencari nama Rumah Makan yang dikatakan Yasir. Dia yang tidak hapal lokasi kota Parapat ini, akhirnya bingung untuk mencari Mely kemana.
"Cepat kamu bergerak ke arah Pelabuhan penyeberangan. Sepertinya Mely akan kesitu." Ucap Mama Maryam dengan paniknya. Mereka sedang di mobil menuju alamat rumah kontrakan Mely.
"Oohh Iya Ma." Rival yang masih setia dengan pakaian baju Koko dan sarungnya. Bergegas masuk ke dalam mobilnya. Memacu mobilnya dengan cepat. Menuju pelabuhan penyeberangan.
Sedangkan Mama Maryam dan Yasir beserta istrinya Rili. Mereka sudah sampai di kontrakannya Firman. Mama Maryam sempat menangis dan buat keributan, saat sampai di kontrakan itu. Karena pintu yang digedor-gedor tidak kunjung ada yang membuka. Sehingga tetangga Mely yang merasa keberatan dengan kegaduhan yang terjadi menyamperin Mama Maryam.
"Bu, Dek Anisah dan Ayahnya baru saja berangkat. Katanya mau ke pulau Tuk-tuk. Si Anisahnya mau lahiran." Ucap Tetangganya Mely dengan sedikit kesal, karena Mamanya ribut sekali, sehingga anaknya yang sedang tertidur terbangun.
"Ayo Nak Yasir, Rili kita ke pelabuhan penyeberangan Tiga Raja." Ucap Mama Maryam panik. Yasir langsung menggandeng tangan Rili, mengekori Mama Maryam menuju mobil yang terparkir di depan gang. Mereka memasuki mobil, Yasir duduk dibelakang kemudi, Rili duduk di kursi depan disebelah Yasir dan Mama Maryam duduk di kursi barisan kedua.
Ponsel Rival kembali berdering di saat Dia sampai di pelabuhan penyeberangan Ajibata. Dia masih berada didalam mobilnya dan sedang mencari tempat parkir.
"Iya Ma, Aku baru sampai di Pelabuhan penyeberangan Ajibata." Jawab Rival langsung, dalam sambungan telepon Mama Maryam.
"Sepertinya mereka tidak menunggu kapal di pelabuhan itu. Tapi, di Pelabuhan penyeberangan Tiga Raja. Kamu secepatnya meluncur ke Pelabuhan Tiga Raja. Mama dan Yasir akan menyusul kesana." Mama Maryam langsung mematikan teleponnya.
Kalau pun mereka tidak menemukan Mely di pelabuhan. Mama Maryam akan menyusul Mely ke pulau Tuk-tuk.
Rival yang tidak hapal dimana pelabuhan penyeberangan Tiga Raja, akhirnya harus bertanya kepada orang yang kebetulan sedang melintas didekat mobilnya yang berhenti.
Rival melajukan mobilnya menuju petunjuk pria yang ditanyainnya, dengan perasaan tidak tenang, Rival yang mengemudikan mobilnya berdoa dalam hati, semoga Dia bisa menemukan istrinya hari ini.
__ADS_1
Sesampainya di pelabuhan Penyeberangan Tiga Raja. Rival memarkirkan mobilnya. Keluar dari mobil itu berjalan cepat ke arah pelabuhan yang kebetulan saat ini sedang banyak penumpang, karena banyak masyarakat yang hendak menyeberang untuk pulang ke pulau Samosir atau Pulau Tuk-tuk.
Yasir, Rili dan Mama Maryam juga sudah sampai di pelabuhan penyeberangan Tiga Raja. Mama Maryam dan Rili keluar duluan dari mobil, karena mereka melihat Rival berlari ke suatu tempat orang berkerumum di depan sebuah ruko yang kosong. Sedangkan Yasir mencari lokasi untuk memarkirkan mobilnya.
"Nak Rival....." Teriak Mama Maryam. Rival yang mendengar namanya dipanggil, menoleh ke asal suara, Dia berhenti menunggu kedatangan Mama Maryam.
"Aduuhh kasihan sekali wanita itu, mau melahirkan tidak ada yang bisa membantu." Ucap seorang Ibu-ibu. Yang melintas didekat Rival. Rival yang mendengar ocehan Ibu-ibu itu langsung berdebar hatinya karena takut. Dia tidak bisa membayangkan kalau yang dikatakan Ibu-ibu yang melintas itu adalah istrinya Mely.
Tanpa menunggu Mama Maryam menghampirinya. Rival berlari secepatnya, menuju tempat orang yang berkerumun itu. Mama Maryam dan Rili yang melihat Rival berlari ke kerumunan itu. Mengikuti langkah Rival.
"Tolong.... tolong... antarkan kami ke rumah sakit." Teriak Pak Firman, sambil memegang tangan dan merangkul Mely dari samping. Mely sudah tidak bisa berjalan lagi. Dia merasa bagian bawahnya sudah seperti disumpal dan tulang punggung serta tulang ekornya rasanya mau patah.
Pak Firman tidak sanggup menggendong Mely, karena Pak Firman lagi sakit dan Dia merasa kakinya seolah tidak bertenaga. Saat turun dari angkutan umum. Baru berjalan kira-kira sepuluh langkah, menuju pelabuhan, Mely merasakan sakit yang luar biasa. Dia bahkan tidak bisa berjalan lagi. Sehingga mereka berteduh di teras ruko kosong.
Rival yang mendengar teriakan Pak Firman menerobos orang yang berkerumun, begitu juga dengan Mama Maryam dan Rili. Hingga jantung Rival bergetar hebat, melihat istrinya sedang terduduk lemah dalam keadaan mengangkang di dekapan Pak Firman.
Mely tidak menyadari kedatangan Rival. Karena Dia tidak fokus lagi. Karena menahan sakit yang luar biasa yang sakitnya tidak datang berjeda lagi. Tidak ada lagi Dia merasakan yang namanya His atau kontraksi berjeda. Tapi saat ini yang Dia rasakan sakit terus menerus yang tidak bisa dijelaskan. Anehnya lagi, tidak ada tanda-tanda akan lahir yang keluar dari bagian bawahnya. Dia hanya merasakan sakit.
"Mely.... istriku...!" teriak Rival dengan mata berkaca-kaca. Mely pun akhirnya menoleh ke arah suara yang memanggilnya yang suaranya sangat Dia kenali. Begitu juga dengan orang yang mengerumuni Mely, perhatiannya langsung tertuju kepada Rival.
Rival langsung mendekat kepada Mely. "Maafkan Mas!?" Ucapnya, Dia melirik Pak Firman. Pak Firman melepas rangkulannya.
"Mely..." teriak Mama Maryam sambil menangis. Mely menoleh kepada Mamanya dan melihat Rili ikut berjongkok disebelah Rival.
__ADS_1
Melihat Rili dan Rival berdampingan, membuat hati Mely sakit. Rasa sakit yang dirasakannya jadi bertambah 100 kali lipat. Sudah organ reprodu*ksinya sakit luar biasa. Hatinya juga sangat sakit saat ini. Melihat suaminya kembali kepada mantan istrinya.
"Kalian berdua,..!" ucap Mely dengan menangis sambil memegangi perutnya yang semakin sakit. Dia merasa tidak berdaya lagi, karena melihat Rival dan Rili dihadapannya. Dimata Mely saat ini Rili begitu cantik. Sangat berbeda dengan yang dilihatnya difoto.
"Lepaskan Aku...!" teriak Mely, memberontak dari rangkulan Rival. Dia kesal bukan main. Kenapa Dia membawa wanita itu kesini.
Pak Firman yang memang tidak bertenaga lagi, akhirnya pingsan duluan. Melihat Mely yang berontak kepada Rival.
"Ayo pak, angkat istrinya bawa ke rumah sakit." Ucap Ibu-ibu yang tadinya memang berniat menolong Mely. Tapi, karena mereka belum mendapatkan becak dan mobil yang bersedia mengangkut Mely. Jadilah mereka menunggu angkutan dapat dulu.
"Oohh iya Bu." Jawab Rival panik dan kalut. Saking paniknya Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dia seperti orang bodoh-bodoh.
Rili juga sangat bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Karena Dia juga sedang kurang fit Karena ngidam. Sedangkan Mama Maryam, langsung mendekat kepada Pak Firman. Bagaimana pun juga, laki-laki itu adalah Ayah dari putrinya. Dia harus menolongnya.
"Ayo diangkat Pak istrinya. Sepertinya anaknya sudah mau lahir itu." Teriak seorang Ibu kesal kepada Rival yang seperti orang bodoh-bodoh itu. Ya, Rival memang bingung harus berbuat apa. Karena suara-suara sumbang yang mengasihi Mely membuatnya merasa sangat bersalah.
"Disini tidak ada yang berani menolong, harus dibawa ke praktek Bidan atau rumah sakit." Ucap Ibu itu lagi. "Cepat angkat Pak..!" Ibu itu teriak.
Rival yang lagi kalut itu pun, berusaha untuk tenang karena teriakan Ibu-ibu dihadapannya. Akhirnya Dia menggendong Mely. Tapi, pada saat Dia hendak berdiri. Dia tidak sadar bahwa sarungnya terpijak seorang bapak-bapak yang berdiri dibelakangnya. Jadilah sarung yang dikenakan Rival melorot karena disaat Dia berdiri sarung tertahan oleh kaki bapak-bapak itu.
Dia pun tidak punya waktu lagi untuk membenahi sarungnya.
Akhirnya Rival berlari menggendong Mely menuju mobilnya terparkir dengan keadaan bagian bawahnya yang hanya tertutupi kolor warna hijau. Dia tidak memperdulikan itu lagi. Yang dipikirannya saat ini adalah cepat membawa Mely ke rumah sakit.
__ADS_1
Yasir yang sudah sampai di TKP langsung mengeksekusi Pak Firman dengan membopongnya juga ke mobil yang diikuti oleh Mama Maryam dan Rili.