Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Budak cintamu


__ADS_3

Rival menjalani aktifitasnya tidak semangat hari ini. Padahal tadi pagi sebelum mendapat telepon dari Adiknya itu, Dia begitu semangat nya. Wajah Rili masih menari-nari dipikirannya. Entahlah, semakin berusaha melupakannya, rasanya semakin susah saja.


"Kenapa dengan diriku? kenapa begitu susah melupakan nya? harusnya Aku sekarang bisa legah, karena sudah melepasnya. Dia pasti sudah bahagia bersama Yasir sekarang. Setelah Aku menceraikan nya, pasti mereka langsung menikah." Gumamnya dalam hati dengan perasaan yang gundah gulana. Rival pun menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya. Mengusap wajahnya kasar. Mencoba membuang bayangan Rili dari pikirannya.


Rival mengingat kejadian dimana Yasir sempat memintanya menceraikan Rili. Tapi, karena merasa memiliki. Dia menolaknya, walau pada akhirnya Dia menceraikan Rili.


Setelah lama merenung, kembali mencoba mengubur dalam kenangan bersama Rili. Rival pun bangkit dari kursi kerjanya. Meraih tas selempang nya, keluar ruangan dengan perasaan kacau berjalan gontai menuju basment.


❤️❤️❤️


Di rumah baru mereka, Mely nampak belajar memasak kepada ART mereka yang baru. Ada tiga ART yang bertanggung jawab untuk menyiapkan makanan untuk mereka.


Setelah selesai memasak, Mely membersihkan tubuhnya memakai dres yang sedikit minim bahan, serta menyemprotkan parfum keseluruh tubuhnya. Yang membuat tubuhnya wangi semerbak.


Dia akan membuat Rival klepek-klepek. Dia akan memanjakan Rival. Baik itu urusan dapur, kasur maupun sumur. Seperti ucapan Sari yang sedang mempromosikan dirinya untuk jadi istri kedua Rival.


"Ternyata, Aku cantik juga kalau pakai dres terus pakai make up natural." Ucapnya memuji diri sendiri, memperhatikan pantulannya di cermin. Mely pun berputar-putar yang membuat dres bagian bawahnya mengembang. Dia bahagia sekali.


Ceklek.


Mely menoleh ke pintu kamarnya, Dia tersenyum melihat suaminya itu yang kini masih berdiri di ambang pintu dengan ekspresi senyuman terpaksa.


"Sayang," ucap Mely dan berjalan menghampiri Rival yang juga berjalan ke arahnya. Rival tersenyum Tapi, hatinya sedang gerimis. Mendengar nama Rili disebut Adiknya Sekar. Merusak mood nya.


"Adek cantik sekali." Walau hati gundah gulana, Dia tetap mengeluarkan kata-kata yang manis untuk Mely. Karena Dia melihat Mely berpenampilan sangat berbeda dari biasanya. Rival menjulurkan tangannya. Mely pun mencium punggung tangan suaminya itu, senyuman Mely mengembang sempurna. Mendengar Dia dipuji suaminya.


"Apa Abang suka Adek berpenampilan seperti ini?" ucap Mely memegangi pinggir dresnya bagian bawah dan bergoyang-goyang. Mely seperti anak SD saja, yang baru dapat baju baru dari orang tuanya.


"Suka, tapi kalua keluar kamar jangan pakai dres can see begini." Ucap Rival datar, Dia berjalan ke arah meja belajar Mely. Meletakkan tas selempang nya di meja itu.


Mely mengekori Rival. Sehingga disaat Rival berbalik, mereka berhadap-hadapan. Mely memperhatikan wajah suaminya itu, yang seolah tidak semangat.


"Abang lelah?" ucapnya lembut membantu Rival melepas kancing bajunya dengan tersenyum. Rival mengangguk, membiarkan Mely melepas pakaian bagian atasnya.


"Abang tunggu disini, Adek akan siapkan air hangat di bathup." Ucap Mely langsung berlari ke dalam kamar mandi. Dia mengabaikan Rival yang melarangnya.


Dengan berjalan gontai, Rival pun memasuki kamar mandi. Mely tersenyum kepadanya di sisi bathtup.


"Apa mau dimandiin?" tanya Mely tersenyum mesum. Rival melihat Mely dengan tidak berselera. Sehingga senyuman Mely itu pun memudar.


"Baiklah, Adek keluar. Adek becanda koq tadi. Mana mungkin Adek mau mandiin Abang. Adek saja sudah rapi begini." Ucapnya canggung dan meninggalkan kamar mandi dengan perasaan sedikit kecewa. Dia merasa ada yang tidak beres dengan suaminya itu.


Mely menyiapkan pakaian ganti Rival di atas ranjang mereka. Kemudian Dia duduk di kursi meja belajarnya. Mulai menekan tombol on di laptopnya. Dia pun kembali mengerjakan skripsinya yang sudah direvisi oleh dosen pembimbing nya. Tak berselang lama Rival keluar dari kamar mandi. Tentunya dengan handuk yang membelit di pinggangnya dan satu handuk kecil berada ditangan Rival. Dia baru saja mengeringkan rambutnya.


Bau sabun dan sampo yang dikeluarkan tubuh Rival menyeruak di indera penciuman Mely. Yang membuat hormonnya terangsang. Dia bangkit dari kursinya, berjalan mengekori Rival dan menghentikan langkahnya yang hendak ke ruang ganti.


"Abang mau kemana?" ucapnya menahan lengan Rival. Rival menoleh ke wajah Mely dan pandangan nya Kemudian beralih ke tangan yang ditahan oleh istrinya itu.


"Mau ke ruang ganti. Mau pakai baju." Jawab Rival dengan tersenyum. Mely menarik tangan Rival yang dipegangnya. Sehingga mau tak mau Rival mengikuti langkah Mely ke tempat tidur Mereka.


"Adek sudah siapkan baju ganti Abang. Pakailah," ucapnya mengambil tumpukan pakaian Rival yang terlipat rapi.


"Eehhmmmm.... Terimakasih banyak ya Dek. Tapi Abang mesti ke ruang ganti juga dong memakainya."


"Pakai disini saja." Mely tersenyum. Sambil menggoyang-goyangkan badannya. Tingkah Mely sungguh bisa menggelitik hati Rival yang gundah gulana.

__ADS_1


Dia sepertinya berusaha jadi istri yang baik, meninggalkan semua Hobby nya, dan lihatlah bagaimana tingkahnya agar Aku menyukainya. Rival membathin dan menatap lekat wajah Mely yang sedang tersenyum. Entahlah, Rival tidak tega untuk bersikap dingin kepada istrinya ini. Walau saat ini Rili masih berlari-lari dipikirannya.


Rival pun memakai pakaiannya dihadapan Mely. Dengan senyam-senyum, Mely memperhatikan nya sambil duduk manis di atas ranjang.


Kenapa ada pria sesempurna ini. Tubuhnya begitu kokoh, otot-ototnya begitu liat. Wajahnya tampan dan babypes. Hatinya juga begitu baik. Aku yakin jika kamu keturunan konglomerat, Aku tidak akan percaya diri untuk mendampingi mu. Gumam Mely dalam hati, sambil memperhatikan Rival memakai bajunya.


"Dek, Dek... Sayang, Haloo....!" Rival berusaha menyadarkan Mely dari ketercengangannya. Tapi tidak berhasil juga. Mely terlalu jauh mengkhayal, sehingga suara disekitarnya tidak didengarnya.


"Mely....!" Rival memegang bahu istrinya itu. Akhirnya Mely terperanjat dan tersadar dari khayalannya. Membayangkan dirinya dipuja-puja oleh Rival.


"Aaapa... Ada apa Bang?" jawabnya dengan gugupnya. Dia salah tingkah dan tiba-tiba menjauhkan pandangannya tidak berani menatap suaminya itu.


"Adek melamun?" Rival menyelidik.


"Tidak," Mely masih belum berani menatap Rival. Entah kenapa Dia jadi malu sekali.


"Terus?" Rival meraih dagu Mely, sehingga Mely pun menatap wajah suaminya yang begitu tampan itu. Apalagi setelah selesai mandi.


"Hanya mengkhayal." Jawabnya lirih.


"Mengkhayal?" Rival masih menatap wajah Mely. Yang dijawab anggukan istrinya itu.


"Mengkhayal tentang apa?" Rival menaikkan dagunya.


"Mengkhayal Abang mengejar-ngejarku, memuja-muja dan menjadi budak cintaku." Jawabnya polos. Sungguh Mely tidak bisa menahan apa yang ada dipikirannya.


Ucapan istrinya itu sontak membuat Rival terkejut, sungguh Mely wanita yang tidak bisa menahan apa yang dirasakannya. Sesaat Rival merasa takut, jika keinginan istrinya itu tidak bisa terpenuhi nya.


Salah satu cara untuk menjalin hubungan dengan orang adalah dengan menjaga komunikasi yang terbuka. Apalagi hubungan suami-istri.


Katanya dengan komunikasi yang baik dan saling jujur satu sama lain, hubungan kita dengan orang lain akan bertahan lama dan semakin erat.


Tapi terkadang, tidak semua hal harus diungkapkan.


"Abang kenapa diam? Apa permintaan ku tidak bisa Abang terima?" tanya Mely dengan sendunya. Dia menatap lekat netra Rival yang nampak berkaca-kaca itu.


"Mari kita lakukan yang terbaik untuk hubungan pernikahan kita ini. Permintaan Adek, sangat wajar dan sangat manusiawi. Semua orang pasti ingin dicintai, dipuja-puja. Abang juga menginginkan hal seperti itu. Tapi, kita harus siap menerima kenyataan nya kelak. Bahwa orang yang kita harapkan tidak bisa melakukannya." Ucap Rival dengan nada lembut. Dia mengelus rambut Mely dengan sayangnya.


"Abang tidak bisa menjanjikan itu, tapi Abang akan berusaha menjadi pemuja mu. Jikalau itu hak yang akan membuat Adek bahagia. Tapi, jikalau suatu saat itu tidak bisa Abang lakukan. Adek jangan kecewa. Kita hanya manusia biasa. Yang terkadang hati dan perasaannya bisa berubah." Ucap Rival dengan penuh penghayatan.


Mely langsung bangkit dari duduknya, memeluk suaminya erat.


"Jangan takut, jangan takut kepadaku. Kalau Abang tidak bisa memenuhinya. Aku tidak akan marah. Maaf, Aku tadi seperti nya salah bicara." Ucapnya sendu. Rival pun membalas pelukan istrinya itu.


"Iya Dek, kita sama-sama berusaha ya. Kalau Abang cuek atau tidak semangat. Adek harus bisa mengerti. Karena, perasaan itu ada banyak bentuknya, entah kecewa, senang, marah, sayang, cemburu, sakit hati, dan lain sebagainya.


"Bagusnya sih apa yang kita rasa harus kita sampaikan. Apa tujuan kita menyampaikan apa yang kita rasa? Bisa macam-macam, seperti agar tidak ada yang mengganjal di hati, orang lain dapat memahami perasaan kita, dan lain sebagainya. Hanya saja, realitas yang terjadi bisa berbeda dengan ekspetasi yang kita harapkan.


"Syukur-syukur kalau orang tersebut bisa mendengar apa yang kita rasa dan menerimanya dengan lapang dada. Tapi, bagaimana kalau yang terjadi sebaliknya?" Ucap Rival, kini Rival mengurai pelukannya. Memegangi kedua bahu istrinya itu.


"Jadi, Abang tidak bisa menerima apa yang Adek ungkapkan tadi?" Ucap Mely sendu. Dia pun merajuk, membaringkan tubuhnya di ranjang, kemudian membelakangi Rival yang masih duduk dibibir ranjang tersebut.


"Abang bisa menerima, semoga Abang bisa melakukannya, menjadi budak cintamu." Jawabnya dan ikut berbaring di sebelah Mely yang membelakangi nya.


Mely yang mendengar ucapan Rival, riang tak terkira. Kedua bibirnya tertarik simpul, membentuk senyuman indah yang tidak bisa dilihat suaminya itu.

__ADS_1


"Hai gadis ku, apa kamu mendengar nya. Aku akan jadi budak cintamu...!" ucap Rival sedikit keras di daun telinga Mely. Yang membuat Mely langsung menutup telinganya dan berbalik badan.


"Dasar gombal." Ucap Mely memukul pelan dada Rival yang bidang berulang kali. Yang membuat Rival menangkap tangan istrinya itu.


"Kenapa ini tangan jahat sekali. Minta dihukum ya!" seru Rival Dia pun menciumi tangan Mely yang memukul-mukul dadanya Tersebut.


"Abang habis pandai sekarang menggombal." Rajuk Mely.


"Tapi, Adek suka kan?" Rival tersenyum genit.


"Gak." Jawab Mely cepat dan kembali membelakangi Rival.


"Ellleoo...elllleoo... merajuk, pasti kalau sudah Abang terkam, tidak akan merajuk lagi." Rival pun mulai menjalankan aksinya di sore hari menjelang magrib itu.


Rival melakukan semua perintah Mely dalam permainan mereka. Tentu saja Rival mau melakukannya. Karena Dia juga sangat menyukainya.


Suara desisan erangan menggema di dalam kamar yang luas dan kedap suara itu. Ranjang yang besar menjadi kusut, karena gerakan pasangan suami istri itu, yang sedang bergerak bersama dalam posisi paling erotis.


Wanita yang tergerai rambut hitamnya itu nampak sedang berada di atas tubuh kokoh dan kekar lelakinya. Bibirnya nampak liar dan panas mendaratkan ciuman di dada bidang suaminya yang dihiasi oleh hamparan bulu-bulu erotis dan menambah kesan kejantanan suaminya itu.


Bokongnya yang berada tepat di tengah pria tersebut yang keras, tampak bergoyang-goyang mengikuti irama. Lenguhan serak lolos dari bibir sexynya Mely, yang digigit-gigitnya merasakan tongkat saktinya Rival, saat dirinya menari-nari di atas tubuhnya Rival.


Rival yang merasa akan adanya ledakan gunung berapi di pusat intinya, mengerang penuh nikmat. Sesaat bayangan Rili yang kesakitan terlintas di pikiran nya. Sehingga Dia hendak menyebut nama mantan istrinya itu. Tapi dengan cepat Dia pun tersadar. Membuka mata, melihat istrinya yang lagi berusaha keras mendulang kenikmatan di atas tubuh kekarnya.


Sesaat konsentrasi Rival buyar. Dia merasa menjadi suami yang jahat terhadap istrinya itu. Sepertinya Dia tidak akan bisa memenuhi permintaan Mely, yang ingin menjadikannya budak cinta.


Rival kembali konsentrasi, membayangkan istrinya saja. Sehingga acara bercocok tanam pun sukses dilakukan mereka. Sehingga kedua nya tumbang, setelah melakukan tiga kali cocok tanam.


Keduanya pun memasuki kamar mandi Setelah selesai menanam benih.


Malam pun tiba, kini pasangan suami istri itu sudah bersiap-siap untuk mengistirahatkan tubuhnya. Tiba-tiba saja ponsel Rival berdering di atas meja riasnya Mely.


Rival yang sudah menkantuk sekali, meminta Mely mengambil ponselnya tersebut. Karena posisinya Mely lebih dekat ke meja rias.


Mely pun melepas pelukannya dari tubuh suaminya itu. Dia menggerakkan badannya agar bisa menjangkau ponsel suaminya itu.


Dia pun membuka ponsel yang berdering satu kali itu dan kemudian disusul satu SMS dari Adiknya Rival yaitu Sekar.


"Assalamualaikum Abang. Besok Sekar akan ke kota P. Kartu kak Rili, Sekar simpan di lemari pakaian yang ada di kamar Abang." Isi SMS Sekar di ponsel Rival.


Tangan Mely bergetar disaat membaca SMS itu. Kenapa suaminya masih membahas mantan istrinya itu dengan Adiknya. Dada Mely langsung terasa sesak, mendapati kenyataan bahwa belum melupakan mantan istrinya itu.


Sesaat Mely teringat kegiatan bercocok tanam yang mereka lakukan tadi. Mely seperti mendengar suaminya itu hendak mengucapkan kata RI, tapi langsung diralatnya dengan Mely.


"Siapa yang SMS?" tanya Rival, karena Dia mendegar notifikasi SMS masuk.


"Eeuummm... dari provider." Ucap Mely kesal, menahan rasa cemburunya. Dia langsung menyeka air matanya yang jatuh di pipi putihnya.


Rival tidak menyahut, ternyata pria itu langsung tertidur. Ingin rasanya Mely menghubunginya Sekar. Menanyakan maksud SMS itu. Tapi, Mely merasa belum sanggup mendengar jawaban dari Sekar nantinya. Sehingga Dia pun menghapus pesan Sekar. Meletakkan ponsel itu kembali di atas meja riasnya. Dan membaringkan tubuhnya menghadap Rival yang sudah tertidur pulas itu.


Mely memandangi Rival yang tertidur pulas dengan berderai air mata. Dia sangat yakin, suaminya itu belum bisa melupakan mantan istrinya dan Dirinya belum ada di hati suaminya itu.


TBC


Vote ya say.🤗❤️

__ADS_1


__ADS_2