
Berkas melayang ke udara dan tergeletak di lantai kamar. Suasana berubah menjadi hening, sunyi senyap. Mulut keduanya terbungkam, dengan perasaan yang tidak tenang. Tentu saja perasaan Rival paling hancur. Orang lain, memaksanya menceraikan istrinya. Walau sebenarnya Pak Ali adalah mertuanya juga dimata Rival.
Pak Ali hanya tertunduk, akhirnya yang dikhawatirkannya terjadi. Rival pasti tidak mau melakukannya. Melihat Pak Ali yang menunduk, memalingkan wajah, Rival merasa kelakuannya cukup kasar. Tidak seharusnya Dia melempar berkas-berkas itu. Seharusnya Dia bisa menolaknya dengan perkataan yang baik. Tapi, Rival yang merasa hidupnya yang begitu kacau, sehingga jiwanya tertekan.
“Maaf Pak, Aku telah bersikap kasar.” Ucap Rival menatap ke arah Pak Ali. Pak Ali pun menoleh lagi ke arah Rival.
“Iya Nak, kamu wajar melakukan itu. Ayah sangat memahami perasaanmu sekarang. Ayah hanya ingin membantumu keluar dari masalah yang sebenarnya kamu tidak bisa hadapi. Tapi, kalau kamu tidak mau. Ayah tidak bisa memaksa. Tapi, pikirkan kebahagiaanmu, kebahagiaan istrimu.” Ucap Pak Ali dengan intonasi suara teduh.
“Istri yang mana Ayah maksud? Kebahgiaan Mely? Ayah, Mely bukan istriku. Ayah sendiri yang bilang hanya pernikahan bohongan. Wali Mely saja kemarin wali hakim, bukan Ayah.” Ucap Rival, Dia mencoba mengorek maksud Ayahnya.
Pak Ali diam, Kemudian Dia menatap mata Rival. “Sampai kapanpun, Rili istrimu tidak akan bisa mencintaimu. Ayah sudah dapat informasi banyak mengenai Rili dan Nak Yasir. Yasir itu orang kaya. Dan mereka sudah saling mencintai mulai dari remaja. Bukan Mely maksud Ayah. Kalau kamu tidak mau menganggap Mely istri tidak apa-apa. Ayah hanya ingin kamu tegas ambil keputusan untuk hidupmu. Orang yang saling mencintai dalam kurung waktu yang lama, apa kamu yakin masih ada dirimu di hati Rili? Tidak ada, Dia hanya kasihan padamu Nak Rival. Lepaskan Dia, biarkan Dia bahagia.” Ucap Pak Ali tegas, menatap mata Rival sambil memegang tangannya yang sudah mengepal. Perkataan Pak Ali, membuat Rival sedih.
“Ayah akan bantu semuanya, kamu juga jangan khawatir. Ayah akan selalu bersamamu, kalau kamu mau, kamu bisa ikut kerja dengan Ayah. Kalau kamu tidak suka Mely, tidak apa-apa, anggap saja Dia adikmu. Tapi, kalau kamu mau menjadikan Mely istrimu yang sesunguhnya Ayah akan sangat senang dan mendukungmu. Pikirkanlah, Besok Ayah harus dapat jawabannya. Ingat, jangan kekang Rili. Kalau kamu memang mencintainya, biarkan Dia bahagia dengan pria yang dicintainya.
“Kalau kamu tetap paksa rili denganmu. Dia tidak akan bisa bahagia. Perlakuan Ibu mertuanya tidak akan pernah hilang dari ingatannya. Itu akan selalu mengganggu pikirannya. Pikirkanlah, masih banyak wanita.” Pak Ali keluar dari kamar Rival, sambil memugut berkas yang berserakan. Rival merasa bersalah telah berbuat kasar kepada Pak Ali.
__ADS_1
Sepeninggalan Pak Ali, Rival benar-benr dilema dan frustasi. Dia terus saja memijat keningnya yang sakit itu karena banyak berfikir. Haruskah Dia melepaskan Rili? Ucapan Pak Ali terus saja terngiang-ngiang di pikiranya. “Lepaskan Rili, Dia tidak mencintaimu.” Kalimat itu saja yang terputar di otaknya. Sehngga Dia kesusahan memejam matanya.
****
Keesokan harinya, Mely nampak memasuki kamar Rival. Setelah perawat memeriksa dan membersihkan tubuh Rival. Dia sudah bisa duduk. Dengan tersenyum, Mely mendudukkan bokongnya di kursi yang ada di sebelah ranjang.
“Coba kakak izinkan Mely yang ngelap badan dan makaikan baju kak. Pasti dijamin kak cepat sembuh.” Ucap Mely dengan tertawa kecil. Dia selalu saja menggoda Rival.
“Koq bisa begitu? Kalau benar bisa begitu mulai besok kamu saja dech yang merawat kakak.” Ucap Rival tak mau kalah dengan gurauan Mely.
“Ya, karena kalau Aku yang membersihkan tubuh Abang. Aku akan kasih sentuhan plus-plus.” Ucap Mely dengan membayangkan mencumbui tubuh Rival sambil melapnya.
Ya, Mely akhirnya sangat menyukai Rival. Padahal sewaktu nikah di kantor Polisi Dia masih ilfeel sama Rival. Tapi, sekarang entah kenapa Dia ingin selalu bersama Rival. Apalagi setelah Rival mengajarinya sholat dan mengaji. Dia merasa Rival sudah benar-benar jadi suaminya.
“Plus-plus..?” tanya Rival dengan menaikkan kedua alisnya naik turun. Mely mengangguk.
__ADS_1
Melihat tatapan mely, Rival sadar bahwa Mely sudah menyukainya. Kalau kamu lakukan itu, Abang tidak akan ajarin kamu sholat dan mengaji lagi.” Ucap Rival dengan nada datar, Dia menarik buku PR Mely. Membukanya dan memeriksa tugas Mely.
“Aku istrimu. Kalau Abang tidak mengajari Mely lagi. Nanti Abang akan masuk penjara. Karena tidak membimbing istrinya dengan baik." Ucap Mely dengan nada serius dan memandang lekat netra Rival. Rival pun memalingkan wajahnya, Dia tidak mau ditatap seperti itu oleh Mely. Rival kembali memeriksa tulisan aksara arab Mely yang sudah lumayan bagus dan rapi itu.
“EEMMmm…. Tulisanmu sudah bagus dan rapi. Kamu anak pintar.” Rival mengalihkan pembicaraan mengembalikan buku PR Mely, tapi Mely tidak meraihnya dari tangan Rival. Akhirnya Rival meletakkannya disisinya, dipinggir ranjangnya.
“Kenapa mengalihkan pembicaraan?” tanya mely dengan masih terus saja menatap Rival, yang membuat Rival tidak nyaman dengan tatapan Mely. Rival diam, dan tidak mau melihat ke arah Mely.
Sikap Rival yang dingin membuat Mely merasa tertantang, belum pernah Dia sesuka ini kepada pria. Padahal awalnya pria idamannya adalah pria yang Bad Boy gitu. Tapi, sekarang seleranya berubah sejak sering bersama dengan Rival. Mungkin hatinya sedang dicondongkan Sang Prncipta untuk Rival.
“Abang tidak mengalihkan pembicaraan, tapi ucapanmu seperti lelucon saja. Pernikahan dikantor Polisi itu adalah sandiwara. Apa kamu tidak malu mengakui kamu istri Abang. Ingat ya, Abang sudah punya is…” Belum sempat Rival melanjutkan kata-katanya. Mely langsung menyambar bibir Rival, dengan ganasnya. Dia sampai memegangi kepala Rival agar tidak berontak.
TBC
Mampir juga ke novel ku yang berjudul
__ADS_1
Dipaksa menikahi Pariban