Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Bertemu mantan


__ADS_3

"Itulah Non, kemarin kan Aku hanya sekilas melihat Dia. Saat itu juga kan Aku ke Rumah sakit, temanin Non Rili istri nya Pak Yasir." Ucap Febri dengan raut wajah terkagum-kagum. Dia mengingat moment Yasir yang begitu mengkhawatirkan Istrinya itu.


"Aku iri lihat kemesraan pasangan Tuan Yasir dan Nona Rili. Ya ampun, Tuan Yasir sayang banget kepada Nona Rili. Jadi pingin dapat suami seperti itu." Ucap Febri dengan menautkan kedua tangannya, tatapan menerawang membayangkan punya suami kaya dan penuh kasih sayang seperti Yasir.


Ucapan Febri membuat hati kecil Mely menangis. Terluka, seperti disayat-sayat. Mely mengelus dadanya yang terasa sesak itu. Dia juga ingin dicintai oleh suaminya. Seperti Yasir yang begitu mencintai Rili. Tapi, itu mungkin hanya tinggal harapan. Karena sampai kapanpun suaminya itu tidak akan pernah mencintainya. Suaminya itu hanya mencintai Rili mantan istrinya. Betapa beruntung Rili dicintai dua pria dengan begitu besarnya.


Tak terasa cairan bening menetes di pipinya yang putih dan mulus itu. Selalu ingin kuat, menerima kenyataan bahwa suaminya tidak pernah mencintainya. Tapi, Dia tidak sanggup. Dia juga ingin dicintai oleh suaminya itu.


Memang pernah mulut manis suaminya Rival mengatakan mencintainya. Tapi, sosok mantan istrinya masih bertahta dihatinya. Kalau sekarang suaminya itu mengatakan cinta kepadanya, mungkin karena ada anak diantara mereka.


"Non, Non Mely kenapa menangis?" Febri mendekat kepada Mely yang sudah berbaring miring ke arahnya.


"Tidak apa-apa. Aku juga pingin seperti Rili. Dicintai oleh pasangan nya." Ucap Mely polos, menyeka air matanya dengan jemarinya. Masih dalam posisi miring ke kiri menghadap Febri.


Ucapan Mely membuat Febri heran dan bingung. Kenapa majikannya ini mengatakan seperti itu? apa Tuan Rival tidak mencintai Non Mely? Pertanyaan itu, terus berputar di otak Febri. Sejak kedatangan nya ke rumah ini. Dia merasa memang ada yang aneh dengan hubungan suami-isteri itu. Nampak tidak harmonis.


Febri mengurungkan niatnya untuk curhat atau pun bertukar pikiran mengenai Ary cinta dunia Maya nya. Karena Febri melihat majikannya itu jadi sedih. Febri berjalan menghampiri Ririn yang lagi menggendong Raina di balkon kamar itu. Dia tidak punya hak menanyakan masalah keluarga majikannya. Dia takut dianggap lancang dan akhir nya kena pecat.


Bisa rugi dia. Secara sandang, pangan dan papan sudah ditanggung majikannya ditambah gaji lumayan gede, untuk mengurus satu orang anak.


💔💔💔


Di kota G. Tepatnya di sebuah pondok yang di depannya terbentang Danau yang luas dan indah alami karena belum banyak sentuhan tangan manusia yang memolesnya jadi objek wisata.

__ADS_1


Dua manusia yang berbeda jenis kelamin sedang duduk bersebelahan dengan jarak sekitar lima puluh centimeter dengan mode canggung. Dia adalah Rival dan Jelita.


Jelita adalah cinta pertama Rival yang bersemi sewaktu mereka masih duduk di bangku MA(Madrasah Aliyah). Jelita dipaksa menikah dengan keluarga kaya dan diboyong ke kota M, sembilan belas tahun yang lalu. Saat mereka baru saja lulus sekolah.


"Aku tidak menyangka kalau kamu tadi adalah Rival." Ucap Jelita membuka pembicaraan, karena sudah lebih dari lima menit mereka duduk di pondok itu. Tapi, tidak ada yang mengeluarkan suara.


Rival menoleh ke arah Jelita, setelah satu gigitan tahu goreng masuk ke mulut nya.


"Kamu masih nampak muda dan tetap tampan seperti dulu." Jelita tersenyum menatap Rival yang kini tatapan keduanya bertemu.


Rival membalas senyuman Jelita. Tangannya masih memegang tahu goreng yang tinggal sekali gigitan lagi. "Masakan mu selalu enak ya?" Rival mencari topik lain. Kemudian memasukkan sisa tahu goreng ke mulut nya dan menggigit cabe rawit yang diambilnya dari wadah dibatas nampan.


"Malah semakin enak." Rival kembali mengambil tahu isi dari nampan.


"Iya, saat kita sekolah dulu. Daganganmu laris manis di kantin sekolah." Ucap Rival mengingat kenangan manis mereka saat di sekolah. Walau Jelita anak kost. Dia masih menyempatkan cari uang tambahan dengan bangun cepat, untuk memasak gorengan untuk dijualnya di kantin sekolah.


"Kamu kenapa disini? bukannya sejak menikah kamu diboyong suamimu ke kota M?" tanya Rival menatap Jelita yang kini juga menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Suamiku meninggal setengah tahun Lalu. Kami bangkrut. Sampai sepersen pun tidak tersisa. Bahkan suami masih punya hutang di bank." Ucapnya dengan menahan air mata yang hendak jatuh dengan mendongak dan membuang pandangan ke arah Danau.


Rival terdiam, Dia mengingat kejadian 19 tahun yang lalu saat mengetahui Jelita akan menikah. Dia rela pulang kampung saat baru saja merantau. Hanya untuk mencegah pujaan hatinya tidak menikah dengan pria lain. Tapi, nyatanya Dia yang miskin tidak bisa mencegahnya.


"Koq bisa? bukannya suami mu bergerak dalam usaha textile? bahkan karyawan perusahaan kalian banyak orang kampung kita." Tanya Rival yang kini hanya menatap Jelita dari samping. Walau Jelita berpenampilan sederhana. Dia masih tetap nampak cantik. Apalagi sekarang Dia memakai hijab.

__ADS_1


"Iya. Pabrik kami terbakar. Bahkan banyak memakan korban. Dan anehnya suami saya salah satu korbannya." Ucapnya mulai terisak dan menyeka air matanya dengan jemarinya.


Rival tertarik dengan cerita mantan kekasihnya itu. Dia mengangkat kedua kakinya yang mengatung dan duduk bersila.


"Koq bisa?" tanya Rival penasaran. Kenapa sampai pemilik perusahaan ikut terbakar.


"Entahlah, sepertinya permainan orang yang ingin menguasai harta suami saya." Ucapnya kembali menangis.


Rival terdiam, menunggu Jelita bercerita. "Aku yang tidak pernah ikut campur dalam urusan perusahaan tidak tahu menahu. Sehingga Aku pun tidak bisa bertindak. Tiba-tiba saja semua harta suami disita bank." Jelita masih terisak menceritakan nasibnya yang sekarang jadi gembel.


"Apa tanggapan keluarga besar suamimu. Kenapa tidak ada yang menolong?" tanya Rival, merasa heran dengan cerita Jelita.


Jelita menyeka air matanya, menarik napas panjang. "Adiknya suamiku yang mencampakkan kami. Sepertinya ini siasat Dia. Setelah Ayah mertua meninggal. Percekcokan suami dan Adiknya selalu terjadi.


"Oohh.. Kamu yang sabar. Begitulah hidup, cobaan selalu ada. Kita harus bisa bersyukur masih berada dijalan-NYA." Ucap Rival terseyum, memberi semangat kepada Jelita. Wanita Yang pernah spesial di hatinya.


"Iya, terimakasih. Aku juga sudah dengar semua tentang kamu. Ternyata kamu anak orang kaya ya?" tanya Jelita mencoba tersenyum setelah selesai menangisi hidupnya yang menyedihkan.


Rival tersenyum. "Jauh sekali kamu jualan disini?" tanya Rival mengalihkan topik pembicaraan.


"Aku tinggal disini, tidak tinggal di kampung kita. Rasanya lebih nyaman tinggal disini, daripada di kampung. Apalagi, sekarang kondisinya saya sudah jatuh miskin. Lebih baik menjauh dari keluarga besar. Takut menyusahkan." Ucapnya dengan menghela napas dalam.


Sifat Jelita yang dewasa dan tenanglah, yang membuat Rival dulu menyukainya. Jelita juga mandiri. Sifat dan karakter nya hampir sama dengan Rili dan bertolak belakang dengan karakter istrinya Mely.

__ADS_1


__ADS_2