Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Intermission


__ADS_3

"Bagaimana saksi?"


"Tunggu.......!" terdengar suara teriakan seorang wanita yang menggema di ruang ijab kabul tersebut, yang membuat semua mata penghuni ruangan itu tertuju kepada sosok wanita cantik yang mengenakan kebaya bahan brokat warna maroon dengan kain songket warna senada. Rambut wanita itu disanggul kepang dengan make up glamour dan tak lupa selendang tersemat dipundak wanita itu yang membuat penampilannya menyita perhatian di ruangan itu


Tak....tak....tak..... Suara hels wanita tersebut, terdengar nyaring karena, suasana tiba-tiba berubah menjadi hening.


"Ayah, Mama?" gumam Yasir dalam hati, dengan perasaan dongkol dan geram sekali. Bisa-bisa mamanya membuat intermision acara ijab Kabulnya. Yasir melototkan matanya kepada Mamanya yang kini berjalan ke arahnya.


Rili yang melihat Mama melati dan Pak Sultan Jalaluddin berjalan ke arah mereka dibuat jantungan. Apakah kali ini Dia akan batal menikah? "Kenapa Mamanya Abang Yasir, menghentikan prosesi yang sakral ini?" gumam Rili dalam hati, Dia pun melirik Yasir disebelahnya dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa tidak mengabari Mama kalau kamu akan menikah?" Mamanya Yasir menangis tersedu-sedu sambil memeluk Yasir. Sedangkan Ayahnya Yasir memilih duduk disebelah Asisten Jef.


"Hanya kamu anak Mama, kenapa acaranya sesederhana ini? kenapa begitu mendadak? harusnya ini dibicarakan dulu, berapa maharnya dan lain sebagainya." Mamanya Yasir terus saja mengeluarkan uneg-uneg dihatinya, masih dalam keadaan memeluk Yasir. Sedangkan Yasir membalas pelukan Mamanya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Mamanya Rili dan para teman kerja Rili yaitu Ibu Rita, dan Ibu Mawar yang ikut menyaksikan acara yang sakral itu, saling bertukar pandang. Hati mereka bertanya-tanya melihat wanita cantik yang masih muda dan mengaku sebagai Mamanya Yasir. Tapi, mereka tidak berani bersuara. Mereka dalam kebingungannya menyaksikan adegan yang disuguhkan Mamanya Yasir.


"Sudah Ma, jangan menangis lagi. Yasir sedang Ijab Kabul Ma, tidak seharusnya Mama menghentikan acara yang sakral ini." Yasir mengurai pelukan Mama penggantinya itu.


"Nyonya, silahkan duduk disebelah sana." Ucap Pak penghulu, tangannya bergerak ke arah Mamanya Rili yang duduk bersama Ibu Rita dan Ibu Mawar. Akhirnya Mama Melati yang tak lain Mamanya Yasir ikut bergabung duduk disebelah besannya. Dia memberikan senyum yang sangat ramah dan tulus kepada besannya itu.


"Baiklah, acara ijab Kabul nya kita ulangi lagi ya. Bagaimana nak Yasir dan pak Ridwan sudah siap?" tanya Pak KUA.


"Siap Pak." Jawab Yasir dengan tegas dan melirik ke arah Rili dengan tersenyum. Sedangkan Rili saat ini sangat tegang. Kejadian ini sangat mendadak dan sikap Mama Melati membuat perasaan Rili semakin was-was.


Sedangkan Ayahnya Rili hanya menganggukkan kepalanya, pertanda beliau juga sudah siap.


"Bismillahirrahmanirrahim," Ucap Ayah Rili. Dia pun menarik nafas dalam dan menghembuskannya pelan.


"Saya nikahkan engkau Yasir Kurnia bin Sultan Jalaluddin dengan putri kami Rili Askana binti Ridwan Askan dengan mas kawin seperangkat alat sholat, satu set perhiasan dan uang 16 Milyar rupiah dibayar, tunai!"


"Saya,..."


"Stop jangan dulu dilanjutkan Nak!" ucap Mama melati yang membuat Rival menghentikan ucapannya, Sungguh Dia sangat geram dengan mamanya kali ini. Matanya melotot penuh dengan giginya saling bergesekan didalam mulutnya yang terkunci.


"Tunggu sebentar Pak Ridwan." Mama Melati menatap ke arah Ayahnya Rili dengan wajah memelas, Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Yasir. "Nak, kenapa maharnya nanggung gitu, Mama akan menambahi maharnya jadi digenapkan saja menjadi 20 Milyar ya Nak?" ucap Mama Melati, tanpa merasa bersalah. Dia tidak tahu betapa Yasir sudah sangat nervouse tingkat dewa. Ditambah tingkah Mamanya yang konyol kali ini, membuat kesabaran Rival habis.


"Ma, sikap apa yang Mama tunjukkan ini. Jangan membuatnya jadi berantakan Ma!" Suara Yasir terdengar meninggi, sungguh Dia sangat kesal dengan kehadiran Mamanya yang memperlambat acara.

__ADS_1


"Ini peristiwa yang akan terjadi sekali seumur hidupmu kan Nak? jadi, berikanlah mahar yang banyak." Ucap Mama Melati dengan terseyum. Kemudian Dia memandang ke arah Rili yang menunduk, karena Dia sudah malu dengan tingkah calon Ibu mertuanya, yang seolah-olah ingin mengacaukan acara ijab Kabul ini.


"Nak Rili, kamu kenapa meminta terlalu sedikit maharnya?" ucapan Mama Melati, membuat Rili tercengang. Dia pun akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Mama Melati dengan mata yang sudah berair dan memerah.


"Yasir banyak sekali hartanya, 16 M itu terlalu sedikit. Apa kata dunia kalau menantuku mas kawinnya hanya 16 M, satu set perhiasan dan seperangkat alat sholat?" sepertinya Mama Melati kesambet setan, sehingga Dia tidak sadar tingkahnya saat ini sangat mengganggu prosesi ijab kabul.


"Aku tidak pernah meminta itu semua. Aku pun tidak tahu bahwa Mas kawinku segitu nominalnya." Ucap Rili, air mata sudah jatuh dipipinya. Dia pun mencoba menenangkan dirinya yang dadanya sudah terasa sesak.


"Ini prosesi yang sakral, memang seharusnya dibicarakan antara kedua keluarga terlebih dahulu. Aku tidak mau mendengar perdebatan mas kawin lagi. Aku putuskan Mas kawin yang ku terima adalah seperangkat alat sholat." Ucap Rili dengan nada datar, pandangannya hampa lurus kedepan.


Sikap Mama Melati, membuat Rili menjadi salah tanggap. Padahal Mama Melati menginginkan yang terbaik pada calon menantunya.


"Apa yang kamu ucapkan Dek?" Yasir meraih jemari Rili yang berada di atas pahanya. Dia menatap wajah Rili yang menatap lurus kedepan. Entah kenapa, suasana hati Rili seketika berubah menjadi tidak percaya diri.


"Proses ijab kabul ini dilanjutkan, atau ditunda?" Pak KUA juga nampak kesal. Baru kali ini Dia menangani kasus pernikahan yang meributkan mas kawin.


"Lanjut Pak!" ucap Yasir tegas.


"Kalau lanjut, mas kawinnya seperti yang kukatakan tadi." Timpal Rili dengan masih ekspresi wajah datar dan tidak mau menatap ke arah Yasir.


"Baiklah, tolong menjaga sikap semuanya. Dan Ibu berkebaya warna maroon. Tolong diam dan saksikan saja. Berdoalah agar anakmu, bisa sekali ucap ijabnya, jangan sampai disuruh berwudhu, karena salah terus." Pak Kua memperingati Ibu Melati.


"Pak Ridwan, Ayo dimulai!" seru Pak KUA.


"Bismillahirrahmanirrahim," Ucap Ayah Rili dalam hati, Dia pun berdoa agar prosesi ijab kabul ini berjalan lancar dan Putrinya bahagia.


"Saya nikahkan engkau Yasir Kurnia bin Sultan Jalaluddin dengan putri kami Rili Askana binti Ridwan Askan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar, tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Rili Askana binti Ridwan Askan dengan mas kawin tersebut dibayar, tunai!" ucap Yasir dengan tegas dan lantang. Tapi, ada perasaan sedih dihatinya, pasalnya Dia melihat kesedihan di wajah Rili.


"Bagaimana saksi?"


"SAAHH......!"


"Barakallahu laka wa baraka alaika wa jama’a bainakuma fi khoiir." Ucap orang-orang disana secara bersamaan.


Yasir menghela nafas, Dia pun memutar tubuhnya menghadap Rili. Rili masih dalam ekspresi wajah yang sama, Pandangannya lurus kedepan dan kosong. Yasir yang sudah bergerak-gerak disebelahnya tidak digubrisnya.

__ADS_1


"Dek," Yasir meraih kedua pundak wanita yang sangat dicintainya itu, sehingga mau tak mau, keduanya bersitatap. Air mata sudah membasahi pipi putihnya Rili . Dia menangis dalam diam. Entah kenapa, suasana hatinya berubah menjadi melow dan tidak semangat, padahal impiannya untuk bersanding dengan Yasir sudah terwujud.


Yasir melap air mata Rili dengan jemari kanannya. Dia mencium lembut kening Rili, yang membuat air mata Rili semakin membanjir di pipinya.


Kemudian Yasir memegang ubun-ubun dengan tangan kanan dan membaca Doa didalam hati


"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih.”


Yasir kembali mencium kening Rili, ekspresi Rili tetap sama, Dia semakin merasa tidak pantas untuk Yasir. Harusnya Yasir menikah dengan wanita yang sederajat, Mas kawin yang fantastis, resepsi yang megah. Sehingga keluarganya Yasir bangga dengan pernikahan putranya. Tapi, nyatanya acara ijab kabul kali ini. Jauh dari kata sederhana. Malah sangattttt sederhana sekali.


"Huuuuuaaaaa...." Akhirnya tangisan Rili pecah. Yasir langsung memeluk Rili, sebagian orang yang melihat tontonan yang ditampilkan pengantin baru itu, ikut menitikkan air mata.


Mama Melati langsung memeluk besannya yang duduk disebelahnya. Tangis keduanya pun pecah. Sedangkan Pak KUA pergi meninggalkan ruangan itu, Dia merasa acara ijab kabul kali ini terlalu didramatis.


"Jangan menangis sayang, kalau Adek seperti ini, Abang jadi merasa bersalah. Abang juga jadi merasa jahat kepada Adek. Adek, kenapa jadi murung? Adek bahagiakan menikah dengan Abang?" ucap Yasir dengan perasaan tidak tenang, Dia melepas pelukannya dari Rili. Yasir kembali memandangi wajah Rili yang masih terisak-isak itu yang sesekali air matanya Rili dilap dengan jemarinya.


Rili mengangguk, setelah Dia menumpahkan tangisnya. Ada sedikit rasa legah dihatinya. Tapi, tubuhnya masih bergetar karena menangis. Dadanya juga masih berdetak kencang.


"Abang pakaikan cincinya ya dek?" Yasir meraih jemari kanan Rili, Dia pun menyematkan cincin emas putih polos tersebut di jari manisnya Rili. Hal yang sama juga dilakukan Rili. Dia menyematkan cincin dijari manis tangan kanannya Yasir. Dan keduanya pun kembali berpelukan. Tentunya Pak cameraman tak pernah lupa mengabadikan setiap moment yang terjadi di acara yang sakral itu.


Setelah Rili merasa baikan, Dia berdiri yang dibantu oleh Yasir. Entah kenapa Dia menjadi lemas dan tidak bertenaga. Jelas saja tidak bertenaga, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, tapi Rili belum makan malam. Dia juga kehausan. Sepertinya Dia dehidrasi.


"Ayah, Putrimu ini minta restu. Mohon Doanya Ayah!" Rili terisak sambil memeluk Ayahnya.


"Iya Nak, semoga kalian Samawa. Berbakti kepada suamimu ya Nak. Karena sekarang, Dialah pemimpinmu." Ayah Rili juga ikut menitikkan air mata dan melepaskan pelukan putrinya.


"Ayah, Yasir minta maaf. Yasir banyak salah. Mohon Doa restunya Ayah!" Yasir memeluk Ayah mertuanya dan mengelus pelan punggung pria tua itu.


"Iya Nak Yasir. Ayah percayakan putri Ayah kepadamu. Bimbinglah Dia dengan cinta dan kasih sayangmu." Ucap Ayah Rili dan membalas pelukan Yasir dengan hangat.


"Huuaaaaa.... Mama.... Maafkan putrimu ini yang selalu membuat Mama sedih. Doakan Rili Ma!" Tangisan Rili kali ini sangat kencang, Dia meraung-raung. Ternyata, perjalanan hidupnya Rili mulai dari kecil sampai menjadi status janda, melintas dipikirannya. Hal itu membuat Rili semakin melankolis.


"Sudah, kamu itu tidak pernah membuat Mama sedih. Kamu putri Mama yang sangat baik. Jangan menangis lagi." Ucap Mamanya Rili, Dia mengelus pelan punggung putrinya itu.


Dia ingin mengurai pelukannya dari Rili, tapi Mamanya Rili merasa sedikit berat untuk menarik lengan Rili. Rili diam saja dan tidak ada respon. Mamanya Rili menarik Rili dari tubuhnya dan Rili hampir terjatuh dan langsung ditahan oleh Yasir. Rili pingsan.


Bersambung.

__ADS_1


Mohon beri like, coment positif, rate 🌟 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit


Tetap votenya kuharapkan kakak2 cantik.🤗🤩


__ADS_2