
Rival dan Mila pergi meninggalkan kantor Polisi. Rival mengantarkan Mila ke rumahnya, sedangkan Rival, memacu mobil dinasnya menuju kantor Perkebunan. Surat dinasnya disimpannya di ruang kerjanya.
Sepeninggalan Yasir, Rili kembali memasuki ruangan khusus yang berisi foto dirinya. Dia kembali memutar video dirinya dan juga Yasir.
Lagi-lagi Dia menangis.
"Kenapa tidak dari awal, Abang menceritakan semuanya. Apa yang harus kulakukan. Sampai saat ini, Aku masih sangat mencintaimu, Abang Yasir. Mengetahui semua fakta ini, membuat hatiku tambah sakit. Aku merasa menjadi wanita yang jahat, tidak merasakan cintamu yang sangat besar itu." Gumam Rili dalam hati.
Rili kembali menonton videonya saat bekerja di kantor. Ternyata Yasir, sering memvideo Rili. Tiba-tiba Rili ketawa, Disaat video yang diputar menayangkan Rili, sedang membuang ingus dihalaman kantor. Saat itu Rili flu berat. Ekspresi wajah Rili di video itu sangat lucu. Ingus yang dikeluarkannya nyangkut dekat bibirnya. dengan cepat Rili ngelapnya dengan lengan trisepnya yang ditutupi oleh baju dinasnya dan Rili tidak membawa tisu dan sapu tangan. Saat itu, baru selesai apel pagi.
"Abang Yasir, belum menjelaskan, Setelah 3 bulan Dia menepati janjinya kepada Ayahnya. Kenapa Dia tidak menghubungiku." Ucap Rili. Dia pun mematikan layar monitor dan masuk ke kamar mandi.
Setelah mandi, Rili memakai piyama lengan pendek, serta celananya pendek juga. Dia Melihat-melihat pantulan dirinya dicermin. "Ini piyama, terlalu sexy." Gumam Rili. Dia pun akhirnya memakai dress yang panjangnya pas di lutut warna toska, dengan lengan sampai siku. Dia memoles wajshanya dengan peralatan make up yang dibelikan Yasir.
Rili turun ke lantai satu, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Rili menyamperin Bi Siti yang sedang membersihkan dapur setelah selesai memasak.
"Eehhhh.. Nyonya. Cantik banget Nyonya sore ini." Bi Siti, tersenyum kepada Rili. Disaat Rili datang menghampirinya. Rili pun membalas senyum pembantu Yasir itu.
"Berapa kali, Rili bilang. Jangan panggil Nyonya Bi." Ucapnya sambil berniat membantu Bi Siti menaruh piring ke rak.
"Biarkan Bibi saja Non Rili." Ucap Bi Siti, Dia meraih piring dari genggaman Rili.
" Tadi manggil Nyonya, sekarang Nona." Ucap Rili dengan sedikit memanyunkan Bibirnya.
"Aduhh... bingung BiBi, mau manggil apa jadinya." Bibi Siti tersenyum. Dia merasa Rili sangat baik dan rendah hati.
__ADS_1
"Panggil nama aja Bi. Atau Anak, putriku juga boleh." Ucap Rili. Dia berjalan ke arah belakang. Sudah dua hari di rumah Yasir, Dia baru tahu kalau di rumah itu ada kolam renangnya.
Dia berjalan masih sedikit pincang. Karena telapak kakinya belum sembuh. Dia menikmati suasana sore hari dengan pemandangan yang menyegarkan mata. Sungguh taman dibelakang rumah Yasir, tertata dan sangat asri.
Dia mendudukkan bokongnya di ayunan yang terdapat di taman tersebut dekat kolam renang.
"Harusnya, tadi pagi. Abang Rival sudah pulang. Bagaimana kabarnya sekarang." Gumam Rili. Air mata menetes tanpa permisi dari mata indahnya. "Apakah Abang Rival, akan mencariku?" Rili melamun, sambil menggerakkan tubuhnya, sehingga ayunan bergoyang-goyang.
"Apakah, Aku menelpon Ibu saja. Tapi, Aku belum siap dengan pertanyaan-pertanyaan dari Ibu. Ya Tuhan, kenapa jadi begini perjalanan hidupku? Aku istri seseorang. Tapi, Aku terperangkap bersama pria yang sangat ku cintai. Beri jalan keluar yang terbaik kepadaku, Ya Allah." Gumam Rili. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, yang berpangku di lututnya tersebut.
Saat Rili menurunkan kedua tangannya yang mengusap wajahnya dengan kasar. Dia pun mendesah, karena dadanya begitu sesak. Ternyata Yasir, sudah berjongkok dihadapannya dengan terseyum.
Dug....dug....dug.... dentuman jantungnya kembali tidak teratur. Dia malu diperhatikan oleh Yasir.
"Adek cantik banget sore ini. Wangi lagi, Abang suka." Ucap Yasir, Dia mendudukkan tubuhnya disebelah Rili yang membuat ayunan bergoyang.
"Apaan sich?" ucap Rili, Dia menjauhkan wajah Yasir yang mulai seperti kucing, yang diminta disayang-sayang.
"Kasar banget!" Ucap Yasir kesal.
Rili bangkit dari tempat duduknya, Dia harus menjaga jarak dari Yasir. Sungguh Yasir, tidak peduli bahwa Rili itu sudah menjadi milik orang lain.
"Biarin," Rili memutar tubuhnya kembali hingga menghadap Yasir, setelah Dia turun dari ayunan besi tersebut. Belum sempat melangkahkan kakinya. Yasir langsung menarik lengan kanan Rili dan tangannya satu lagi merengkuh pinggang Rili. Yang membuat Rili terjatuh di pelukan Yasir.
Yasir langsung merengkuh tubuh Rili, sedangkan kaki Rili masih berpijak dilantai tanam. Rili mendongak, Dia melihat Yasir tersenyum. Yasir pun mengangkat sedikit tubuhnya Rili, dengan menempatkan kedua tangannya dipangkal lengan Rili, tepatnya diketiaknya.
__ADS_1
"Uuhhh..!" terdengar lenguhan Yasir, yang merasa tubuh Rili berat. Karena Rili menahan tubuhnya agar tidak bisa di angkat Yasir. Rili yang tidak mau diangkat oleh Yasir tersebut. Membuat ayunan bergoyang-goyang.
Ternyata, sepasang mata sudah melihat kegiatan Yasir dan Rili di atas ayunan. Bahkan dres yang digunakan Rili, tersingkap bagian belakang. Sehingga paha Rili terekspos sempurna. Sedangkan Lengan Yasir bersentuhan dengan buah d*ada Rili. Melihat pemandangan dihadapannya, membuat sepasang mata itu, berkaca-kaca. Sungguh pemandangan yang ada dihadapannya sangat menyesakkan dada.
Sepasang mata itu adalah milik Rival. Rival langsung mendatangi rumah Yasir. Disaat, orang yang disuruh Yasir mengurus kasus Rili. Datang ke kantor polisi. Sesuai dengan permintaan Rival. Untuk mempertemukannya dengan pihak pelapor.
Saat Rival datang ke kantor polisi, membawa bukti surat dinasnya. Maka saat itulah pelapor dan terlapor bertemu. Betapa terkejutnya pelapor dan Rival. Bahwa pelapor itu adalah masih bawahan Rival di perusahaan.
"Pak Rival, ada perlu apa ke kantor Polisi? bukannya Bapak, lagi sakit? Bos Yasir, tadi memerintahkan saya, mengurusi pekerjaan Pak Rival, setelah rapat dengan komisaris Independen." Ucap Pak Yanto. Yang masih duduk disalah satu kursi ruang tunggu ruangan mediasi. Rival juga sedang duduk di salah satu kursi diruangan tersebut.
"Saya lagi ada urusan disini Pak Yanto. Kalau Bapak, ada perlu apa kesini?" ucap Rival. Dia pun mendekat dan duduk disebelah kanan Pak Yanto. Obrolan keduanya pun berhenti, disaat Pak Polisi memasuki ruangan mediasi.
"Bagiamana Apa sudah bisa kita mulai mediasinya? mengingat pihak pelapor dan terlapor sudah lengkap." Ucap Pak Polisi, dengan tegas. Pak Polisi dengan dua rekannya. Duduk dihadapan Rival dan Pak Yanto.
Rival dan Pak Yanto, saling pandang.
"Pak Rival, sesuai dengan permintaan Bapak. Kami mengusahakan mendatangkan pihak pelapor untuk mediasi. Ternyata Pak Yanto, sebagai pihak pelapor tidak bisa memutuskan, apakah permintaan Bapak diterimanya atau tidak. Karena, tadi Pak Yanto mengatakan. Semua keputusan ada ditangan Bos Pak Yanto. Untuk itu, kalian bisa berembuk, bagaimana baiknya.
"Baiklah Pak Yanto dan Pak Rival. Silahkan dibicarakan dulu. Saya tunggu kabar secepatnya sampai besok pagi. Dan Pak Rival, sudah bebas dari tuduhan tersangka. Karena, beliau bisa membuktikan, kalau Pak Rival sedang diluar kota saat kejadian." Ucap Pak Polisi, Mereka pun meninggalkan Pak Yanto dan Rival diruangan tersebut.
Bersambung
Mohon beri like, coment positif. Rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.
Jangan lupa VOTE nya kak!
__ADS_1
Terima kasih.