
Sebelum membaca, mohon beri like dan favoritkan ya kak.,🤗
"Kenapa Aku harus cemburu tidak jelas tadi. Harusnya Aku nyamperin mereka. Ini malah Aku cari tempat pelarian." Gumam Rili dalam hati. Dia pun kembali lagi ke Hotel. Sesampainya di Hotel. Dia tidak melihat suaminya lagi di tempat itu.
"Apa Abang Yasir kembali ke kamar?" ucap Rili, Dia pun berjalan menuju lift khusus ke kamarnya. Sesampainya di kamar, Rili juga tidak melihat suaminya. Dia mencari keberadaan Yasir ke ruang kerja dan kamar mandi, tapi tidak ada juga.
"Mungkin mereka ada kesibukan dengan Asisten Jef dan wanita itu." Gumam Rili. Dia meraih tas jinjingnya yang tergeletak di meja dekat tempat tidur. Dia merogohnya untuk mengambil ponselnya. Dia menekan tombol buka kunci. Matanya membulat, sudah ada 97 panggilan tak terjawab dari Yasir. Rili pun akhirnya mengubah pengaturan panggilan menjadi dering dan bergetar.
Rili mencoba menghubungi no ponsel Yasir, ternyata no Yasir sedang sibuk. Jelas saja sibuk, mereka sama-sama melakukan panggilan. Ada lima kali Rili menelpon Yasir dengan jawaban yang sama. Dan daya baterai Rili pun habis dan ponselnya mati. Dia lalu menchargernya.
"Aku harus berpikiran positif, mungkin Abang Yasir sedang sibuk dengan Asisten Jef. Tapi Aku lapar sekali. Tidak mungkin Aku makan sendirian kan?" ucapnya, Rili naik ke ranjang. Dia menselencorkan kakinya dan kepalanya bersandar di dashboard tempat tidur.
Lama Dia melamun, Mata Rili berkaca-kaca mengingat semua perjalanan hidupnya yang kebanyakan pahitnya. Kemudian sudut bibirnya terangkat, Dia tersenyum. Dia tidak menyangka akan bersatu dengan Yasir. Cara bertemu mereka pun tergolong manis. Mereka sewaktu remaja bertemu di pantai, dan Yasir melamarnya pun di pantai yang sama.
Lama melamun, Rili melirik sebuah buku yang tergeletak di meja samping tempat tidur. Dia meraihnya. Dia pun membaca buku itu. Buku panduan malam pertama yang pernah dibaca Yasir.
Rili tersenyum membaca buku itu. Dia merasa beruntung mendapatkan cinta yang begitu besar dari Yasir. Yasir selalu membuatnya puas dalam hal ranjang. Yasir sangat mengagumi tubuh Rili. Sikap Yasir itu membuat Rili selalu percaya diri sekarang dengan bentuk tubuhnya.
Di tempat lain.
Yasir yang sedang mengemudi itu, berulang kali mengusap wajahnya. Dia sedang kalut dan merasa takut. Dia tidak menginginkan Rili kecewa kepadanya. Dia hanya ingin membuat Rili bahagia.
"Kamu di mana sayang? Di rumah Ayah pun kamu tidak ada. Ponselmu pun sekarang tidak aktif." Ucapnya panik, Yasir sedang mengemudi menuju Hotel.
Sesampainya di Hotel, Yasir menghubungi asistennya itu. Menanyakan tentang istrinya. Tapi, dari jawaban Asistennya itu membuat Yasir semakin panik saja.
Yasir tidak tahu, Jef dan Maura bukannya mencari Rili. Tapi, mereka sedang berjalan-jalan di pinggir pantai, ditemani angin dan desiran ombak.
"Kamu lucu juga ya." Ucap Maura kepada Asisten Jef dengan tersenyum.
__ADS_1
"Tidak juga Nona Maura. Hanya saja saya sedang berusaha." Ucapnya dengan tingkah malu-maluin. Yang membuat Maura ingin tertawa lagi. Bagaimana tidak tertawa, tingkah Asisten Jef seperti penari ular. Melenggak-lenggok, seperti waria tapi kelihatan lucu.
"Usaha apa?" tanya Maura bingung.
"Usaha untuk senangin hati kamu." Ucap Jef dengan tegas. Tiba-tiba saja sikapnya berubah jadi pria berwibawa.
"Dasar kamu bunglon." Ucap Maura tertawa. Jef juga ikut tertawa.
"Kalau tahu Yasir, kita tidak bantuin Dia cari Istrinya. Bisa habis kamu." Ucap Maura.
"Alahhh.... itu Bos terlalu lebay. Mana mungkin Kak Rili menghilang." Ucapnya santai, kini mereka duduk dibangku beton yang terdapat di bawah pohon Cemara.
"Masuk ke dalam Hotel aja yuk! Anginnya kencang, dingin lagi." Ucap Maura dengan menggigil dan merangkul tubuhnya dengan kedua tangannya.
"Baiklah." Ucap Jef. Mereka pun berjalan bersebelahan menuju Hotel.
Yasir dengan tidak tenangnya masuk ke lift, setelah Dia kembali mencari keberadaan Rili di beranda Hotel dan Restauran. Tapi, Dia tidak menemukan istrinya itu.
Yasir pun membuka pintu kamar dengan tidak sabaran, Dia sangat berharap istrinya memang masih ada di kamar itu. Benar saja, Dia melihat Rili sedang duduk di tempat tidur dan tersenyum kepadanya.
Dia santai-santai disini, dan tersenyum lagi. Apa Dia tidak tahu, Aku hampir gila karena mencarinya. Yasir membatin, sambil berjalan pelan ke arah Rili yang masih duduk di atas tempat tidurnya.
Melihat tatapan suaminya yang tak biasa itu, membuat Rili sedikit takut dan penasaran. Soalnya tatapan mata Yasir itu seperti tatapan yang begitu merindukan, tapi ada kesedihan. Jelas itu nampak dari mata Yasir yang berkaca-kaca.
Rili turun dari ranjang, Dia memperhatikan suaminya itu yang berjalan pelan ke arahnya, dan brughh.... Yasir langsung memeluk tubuh Rili dengan posesifnya. Dia takut wanita itu akan meninggalkannya lagi.
"Kamu kemana saja sayang? Abang sudah capek mencarimu." Ucap Yasir dengan sedihnya, pelukannya semakin erat saja.
Rili diam, Dia mengelus punggung suaminya memberikan ketenangan dan kenyamanan. Dia tahu suaminya itu sepertinya sangat mengkhawatirkannya, terbukti dari panggilan tak terjawab yang jumlahnya hampir 100 kali.
__ADS_1
"Kalau mau pergi itu dibilang. Jangan mau pergi gitu aja. Apa Adek tidak tahu, Abang sangat takut Adek meninggalkan Abang." Ucap Yasir masih memeluk erat tubuh Rili.
"Maaf, kalau Adek membuat Abang khawatir. Adek tidak kemana-mana. Adek tadi jalan-jalan sebentar dipinggir pantai." Ucapnya dan mengurai pelukan Yasir. Tapi Yasir tidak mau melepas pelukannya.
"Benarkah? tapi, tadi Abang cariin dipinggir pantai tidak ada."
"Benarkah? mungkin tadi saat Abang cariin. Adek sedang membuntuti pasangan remaja ke tempat sepi." Ucap Rili. Mendengar ucapan Rili. Yasir penasaran. Dia pun melepas pelukannya dan mencium kening Rili. Tapi, kedua tangan Yasir masih membelit pinggang Rili. Hanya wajah mereka saja yang berjarak.
"Ngapain buntutin orang sayang?" tanya Yasir lembut dan mulai mengecup-ngecup bibir Rili. Yang membuat Rili susah untuk bicara.
"Penasaran saja, melihat mereka berjalan ke tempat sepi dan gelap. Ternyata mereka hampir saja melakukan Make love." Jawab Rili dan menjauhkan bibir Yasir dengan tangannya.
"Apaan sih? kenapa bibir Abang di dorong?" Yasir kesal dan langsung meluma*t bibir Rili dengan rakusnya, yang membuat Rili susah bernapas. Rili sampai memukul-mukul bahu Yasir, agar melepas pangutan bibir itu.
"Abang mau bunuh Adek ya?" Ucap Rili setelah Yasir menghentikan aksinya.
"Pertanyaan apa itu? mau membunuh. Abang sedang mengajari Adek, cara menghirup udara saat bibir saling berpangutan. Sini, ulangi lagi. Jangan ngintip orang pacaran aja Adek tahunya." Ucap Yasir gemes, Dia pun kembali melum*at bibir Rili, sambil mengajari Rili bernafas saat berciuman.
"Make love yuk sayang?" Ucap Yasir genit, pandangannya benar-benar mendamba.
"Adek lapar." Ucap Rili. Dia pun mendorong Yasir kuat. Sehingga pelukan mereka lepas. Rili berlari meninggalkan Yasir keluar kamar, Dia sangat lapar. Yasir langsung menyusul Rili. Dan merangkulnya. Di dalam Lift, Yasir yang merangkul Rili, terus saja mengecup kepala Rili, yang membuat Rili, merasa di sayang.
Cinta dan nafsu bak dua sisi koin. Selalu berdampingan di manapun, di mana ada cinta disitulah nafsu yang bergelora.
TBC.
Mohon beri vote hadiah dan vote rekomendasi dong kak! 🤗😊😍. Untuk dapat memberi vote hadiah dan vote rekomendasi. Kakak-kakak cantik, harus update NT/MT terbaru.
Ramaikan juga novel baru ku yang tak kalah serunya say, yang berjudul Dipaksa menikahi Pariban.
__ADS_1