Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Gelang kaki


__ADS_3

Jenazah Ibu Durjanna sudah dimakamkan. Tentunya yang menjadi imam sholatnya adalah Rival. Karena Dia memang bisa menjadi imam. Firman sebagai anak kandung Ibu Durjanna tidak bisa jadi imam. Jangankan untuk jadi Imam sholat janazah. Sholat Fardhu nya saja, seringan bolong.


Rumah duka sudah mulai sunyi, hanya keluarga inti yang masih berkumpul. Rival nampak merenung di gazebo yang ada di taman belakang rumah.


Rival sudah membangun rumah yang megah buat Ibu Durjanna. Balai-balai yang biasanya ada di halaman depan dan belakang rumah yang terbuat dari bambu sudah tidak ada lagi. Sudah digantikan dengan gazebo bagus dan kokoh yang bentuk atapnya seperti rumah adat.


Mata Rival nampak memerah, dengan air mata yang sudah mengenang. Dia mengingat perjalanan hidupnya yang sangat sulit dan penuh dengan penderitaan.


Bahkan dulu mereka pernah tidak makan nasi selama tiga hari, syukur ada singkong yang sudah bisa dipanen di kebun yang mereka sewa.


Sekarang hidupnya berubah 180 derajat. Penderitaan yang dialaminya seolah terganti dengan kemewahan. Tapi, Dia tidak merasa bahagia. Apalagi saat ini, istrinya tidak mempercayainya dan selalu cari kesalahan, dari hidupnya di masa lalu.


Rival merasa lelah hati dan pikiran. Kenapa Dia tidak bisa bersama dengan Rili. Walau tetap miskin, Dia akan memilih kehidupan itu asalkan bersama Rili. Wanita yang sabar dan penuh pengertian. Inilah kelemahan Rival, terlalu mengagumi Rili. Walau Rili sebenarnya bukan wanita pertama yang pernah singgah di hatinya. Rili seolah tidak punya cacat di matanya, terlalu sempurna.


Dia punya cinta monyet sewaktu sekolah, bahkan mereka dekat sampai Rival lulus MA (Madrasah Aliyah ) Kekasihnya itu dipaksa menikah saat tamat sekolah dengan keluarga kaya.


Sekarang Dia punya harta yang berlimpah. Tapi punya istri yang selalu buat emosi jiwa seperti sedang bermain roolchuster saja. Emosi Rival naik turun dibuat Mely.


Itulah hidup, tidak semua yang kita inginkan terwujud. Sehingga marilah kita bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang, agar bisa merasakan bahagia.


"Abang Rival, Bang Rival...!" Sekar menggoyang bahu Rival berulang kali. Ternyata Rival sudah tertidur selama empat jam di gazebo itu.


Jelas saja Dia kantuk. Semalaman Dia tidak tidur, ditambah mereka pulang kampung. Walau Rival tidak menyetir, ada supir yang mengenderai mobil mereka. Tapi, diperjalanan Dia tidak bisa memejamkan mata.


Rival terbangun dari tidur lelapnya, karena tubuhnya terasa digoyang. Dia membuka mata, menyesuaikan cahaya matahari yang masih cerah, walau waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 Wib. Itu artinya waktu sholat Ashar sudah hampir habis.


Dia terduduk dan menguap beberapa kali menatap Sekar yang berdiri di sisi gazebo.


"Ada apa Dek?" tanya nya masih dengan muka bantal. Bahkan pipih Rival nampak berbentuk garis-garis, Dia terlalu lama tertidur beralaskan tikar plastik.


"Ponsel kak bunyi terus dari tadi. Aku capek nyariin kakak. Eehhh ternyata disini asyik tidur rupanya." Ucap Sekar, memberikan ponsel Rival. Dengan malas Rival meraih ponselnya dari tangan Adeknya itu. Dia masih kantuk sekali.


"Panggilannya sudah mati, Abang telpon balik aja." Ucap Sekar, Dia melihat Rival nampak bingung menatap layar ponselnya yang tidak berdering itu.


Rival mengangguk, Dia pun membuka kunci ponselnya. Ingin memastikan saat ini sudah pukul berapa. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 17.35 Wib.

__ADS_1


Rival turun dari gazebo, berlari menuju rumah mereka, masuk ke kamar mandi yang ada di dapur. Dia berwudhu, masih menyempatkan sholat Ashar.


Malam pun tiba, Rival seolah lupa untuk menelpon balik kepada Mely. Karena tadi siang yang berkali-kali menghubunginya adalah Mely istrinya. Setelah habis takziah, Dia langsung tepar tertidur.


❤️❤️❤️


Di salah satu ruangan jenis pentahouse di Hotel berbintang lima milik Yasir. Rili sedang menunggu suaminya di kamar. Dia nampak memakai pakai sexy lingerie warna merah cabe menyalah, yang kontras dengan kulitnya yang putih.


Rili dikehamilannya yang sudah lima bulan ini, nampak semakin cantik dan rajin berhias. Tak jarang orang mengatakan Dia akan melahirkan anak perempuan. Tapi nyatanya saat di USG Dokter mengatakan Dia mengandung anak laki-laki.


Ucapan Yasir di mobil tadi pagi, selalu terngiang-ngiang di telinganya. Dia menyimpulkan, maksud dari ucapan Yasir yang mendoakan anaknya agar dapat istri yang bisa berciuman lama dan memuaskan di ranjang, adalah curahan hatinya Yasir.


Jadi, malam ini Dia akan memuaskan Yasir dengan segala cara dan tenaga yang dimilikinya.


Memang diakui Rili, sejak mereka menikah. Rili tidak pernah meminta duluan. Selalu Yasir yang memulainya. Gimana mau minta duluan? orang Yasir selalu nyosor duluan.


Rili memandangi wajahnya di depan cermin dengan hati yang berdebar-debar. Penampilan nya kali ini terlalu berani dan menantang. Dia tidak percaya diri, menggoda Yasir duluan. Karena selama ini Yasir terus yang menggodanya.


Rili meraih ponsel yang ada di atas meja rias itu. Dia pun melakukan panggilan kepada suaminya Yasir.


Sekali panggilan, langsung dijawab Yasir.


"Walaikumsayang..!" ucap Rili menggoda. Yasir yang mendengar nya mengerutkan keningnya. Kenapa istrinya itu menjawab salam tidak becus. Biasanya juga bagus.


"Koq jawab salamnya begitu?" tanya Yasir, Dia meminta izin kepada rekan kerjanya, pamit untuk bertelepon. Sehingga Yasir memilih tempat dipojokan ruang pertemuan khusus itu.


"Kalau Abang sudah selesai dan mau ke kamar jangan lupa kabari Adek ya Sayang?" ucapnya lembut dan centil, yang membuat Yasir terpengaruh. Ingin cepat pulang menghampiri istrinya itu.


"Eehhmm.. Emang ada apa sayang?" tanya Yasir penasaran. Kenapa pula harus dikabari kalau mau masuk kamar.


"Tidak apa-apa. Pokoknya kalau sudah mau masuk lift, hubungi Adek." Rili langsung mematikan ponselnya. Meletakkan ponsel itu di atas meja riasnya. Kemudian kembali menatap wajahnya di pantulan cermin.


Dia memegangi dadanya yang bergemuruh. Baru kali ini Dia memakai lingerie disaat perutnya sudah membesar. Dia takut Yasir tidak menyukainya dan menertawakan penampilannya.


Yasir berjalan menghampiri rekan kerjanya, setelah selesai bertelepon dengan istrinya itu. "Ada apa dengan Rili? tidak biasanya menghubungiku lebih dari tiga kali dalam sehari. Tadi siang pun selalu menelpon. Menanyakan hal yang tidak penting. Sekarang juga begitu." Gamamnya dalam hati, senyuman terus saja menghiasi wajah tampannya. Dia senang mendapat telepon dari istrinya itu.

__ADS_1


Rili kembali berdiri dihadapan cermin, memperhatikan penampilannya. Mengelus-elus perutnya dengan lembut. Mengajak anaknya bicara.


"Sayang, anak Mama. Kamu sehat selalu ya sayang. Mama sudah tidak sabar menunggumu lahir ke dunia." Ucapnya dengan perasaan yang bahagia tiada Tara. Dia pun mengambil ponselnya, mulai berselfi Ria. Rili jadi kecanduan memoto dirinya sendiri. Dia akan senang melihat fotonya, disaat ekspresinya lucu.


"Tidak sia-sia Aku meminta pelayan, mencarikan lingerie ini. Bagus juga pilihannya, kalau Abang Yasir suka dan mengatakan puas dengan pelayanan ku malam ini. Aku akan kasih tips lagi kepada pelayan itu." Ucap Rili, masih memandangi wajahnya di cermin.


"Ini rambut Bagusnya di gerai atau diikat?" ucapnya, mencoba mengikat rambutnya dan melepasnya kembali. Sehingga Dia memutuskan untuk mengikatnya dan digulung, sehingga leher jenjang putihnya terekspos sempurna.


Itu dilakukannya, karena Dia sangat menyukai Yasir berlama-lama bermain di leher itu. Rasanya memang menyulut birahi, dan selalu ingin lebih dan tidak ingin berhenti. Sampai Yasir membuat lehernya berubah warna seperti habis di kerok pakai koin.


ponsel Rili berdering, disaat Rili melamun membayangkan percintaan mereka sebelumnya. Karena Yasir selalu membuatnya puas. Entahlah, Rili tidak pernah pula menanyakan apakah suaminya itu puas atau tidak. Sepertinya suaminya tidak puas akan dirinya. Terbukti tadi, Yasir curhat kepada anaknya yang masih dalam kandungan.


Dia menekan tanda panggilan masuk.


"Richay, Abang sudah di lift." Suara Yasir sukses membuat Rili kembali jantungan. Ada apa ini? kenapa Aku jadi nervous. Rili membathin.


"Iya sayang." Jawabnya lembut. Dan mematikan ponsel. Dia berlari menuju pintu, bersembunyi dibalik pintu yang sudah dibuka oleh Yasir. Disaat Yasir menutup pintu Dia pun mengejutkan suaminya itu.


"Taaara--!" ucapnya dengan wajah ceria, tapi masih nampak malu.


Yasir sangat terkejut, apalagi melihat penampilan Rili yang menggoda. Tapi, Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia juga akan menguji niat istrinya itu, sekaligus mengerjainya.


Yasir menampilkan ekspresi wajah datar, seolah tidak tertarik dengan Rili. Padahal Dia sangat menyukai kejutan istrinya ini. Dia berjalan menuju sofa dekat jendela menghadap ranjang mereka, mendudukkan bokong disitu.


Mengambil ponselnya dari tas kerjanya. Memainkannya, seolah Rili tidak menarik buatnya.


"Sayang," Ucap Rili berdiri dihadapannya. Dia menggoyang-goyangkan badannya. Menunggu pujian dari suaminya itu. Tapi, Yasir hanya menoleh sebentar dan kembali fokus ke layar ponselnya.


Sikap Yasir membuat Rili kecewa sekaligus malu. Ternyata Dia, tidak direspon oleh Yasir. Tapi, Dia tidak menyerah.


Dia menaikkan kaki jenjangnya di sofa, tepat dihadapan kedua bola mata Yasir. Yasir menoleh, masih bingung dengan sikap Rili yang nampak sedang menggodanya.


Rili ternyata memakai gelang kaki. Dia menghentakkan kakinya guna mencari perhatian Yasir. Jelas saja, saat Rili menghentakkan kakinya, Yasir menoleh. Matanya membelalak melihat aksi Rili yang menggoda, menyingkap perlahan lingerie yang digunakannya. Sehingga betis dan paha mulus terekspos sempurna yang membuat Yasir gelagapan.


Yasir heran dengan tingkah istrinya itu. Kesambet apa istrinya itu.

__ADS_1


Tinggalkan jejak dengan like coment positif.


Ditunggu kehadirannya di Novel ❤️ Dipaksa menikahi Pariban


__ADS_2