
"Ayo Bang, kita ke kantor polisi. Tolong, bebaskan Ibu!" ucap Mila, Dia menarik tangan Rival, yang lagi tercengang, mencerna kalimat yang dilontarkan Adiknya Tersebut.
"Ayo bang Rival!"
Rival menghempaskan tangan Mila, yang menarik lengannya.
Dug...dug....dug.... Dentuman jantung Rival, berubah tak beraturan. Sesuatu hal ganjal menurutnya sedang terjadi. "Bukannya Ibu, menyusul Ayah ke kampung? Kenapa sekarang kamu mengatakan Ibu di penjara? Apa yang kalian sembunyikan? Dimana Rili, dimana istriku?" Rival berteriak dengan sangat kuat, sehingga urat-urat dilehernya menonjol, seperti varises.
Mila diam mematung dalam keadaan berdiri dihadapan saudaranya itu.
"Hati kecilku mengatakan, istri Abang tidak akan lari dengan selingkuhannya. Apa sebenarnya yang terjadi. Tolong ceritakan kepada Abang.
"Kenapa kalian keluargaku, tidak pernah mendukungku. Selama ini, apa yang tidak kulakukan kepada kalian. Aku rela banting tulang. Menjadi tulang punggung dikeluarga ini. Sejak kecil, Abang sudah ikut mencari nafkah.
"Apa kalian merasa bahagia melihat Abang hidup sebatang kara, tanpa istri dan anak. Sehingga kalian selalu mencoba memusuhi istri Abang. Kadang, Abang merasa. Aku bukan anggota dikeluarga ini. Abang ini bukan anak dari Ayah dan Ibu. Abang ini bukan saudaramu. Tapi, itu semua Abang tepis. Kita adalah keluarga." Kesabaran Rival, sudah habis. Dia menumpahkan uneg-uneg dihatinya kepada Mila Adiknya.
Mila pun akhirnya bingung. Tidak tepat momentnya, Abang Rival menjadi melankolis seperti itu.
"Bang, kenapa Abang berpikiran seperti itu. Abang ini saudara kami. Abang kami yang penuh dengan tanggung jawab. Bang, Ayo kita urus Ibu dulu. Nanti disana bisa kita tanyakan dengan detail kepada Ibu." Ucap Mila. Dia pun pergi ke dapur untuk mengambil air minum. "Abang minum dulu, biar tenang." Mila menyodorkan satu gelas air putih.
"Abang tidak haus, kamu pergilah urus masalah Ibu. Abang ingin mencari keberadaan istri Abang." Ucap Yasir. Entah kenapa kali ini, Dia sangat kecewa kepada Ibunya. Yang membohonginya dengan menulis surat yang mengatakan Rili selingkuh.
"Tadi, pihak aparat penegak hukum menelpon. Abang juga ikut menjadi tersangka. Selama dua hari ini, Abang menjadi DPO( Daftar pencarian Orang)." Ucap Mila dengan wajah pucat pasi.
"Kenapa Abang menjadi tersangka. Apa sebenarnya yang terjadi?" Rival melototkan matanya kepada Mila. Yang membuat Mila ketakutan.
"Maka dari itu, Ayo kita ke kantor polisi. Mila juga kurang tahu kejadian persisnya bang." Mila sekarang sudah sangat panik dan takut. Keringat bercucuran dari keningnya.
Akhirnya dengan perasaan campur aduk. Rasa kecewa, kesal dan penasaran. Rival pun mengiyakan keinginan Mila untuk datang ke kantor polisi. Mereka sampai sekitar pukul setengah tiga.
Rival dan Mila pun menemui pihak yang berwajib. "Masukkan Bapak ini ke dalam sel tahanan" Ucap Pak Polisi yang bertugas menangani kasusnya Rili.
Rival langsung dijebloskan ke sel tahanan sementara. Dia berontak, tapi tidak ditanggapi. "Pak, kenapa saya ditahan? Aku melakukan kesalahan apa?" tanya Rival kepada Pak polisi dengan penuh emosi.
"Kamu menjadi tersangka, karena kasus KDRT dan perampokan istrimu." Ucap Pak Polisi.
__ADS_1
"Tunggu Pak, jangan main masukin ke sel sembarangan. Aku juga punya hak membela diri. Aku bisa buktikan kalau tuduhan itu semua tidak benar. Tolong lepaskan Aku. Interogasi sesuai aturan." Ucap Rival tegas dan garang. Entah kenapa Pak Polisi menuruti kata-kata Rival. Rival seolah punya karisma yang mematikan. Sehingga ucapannya, bisa membuat orang Manut.
"Ibumu dan gadis bernama Rayati sudah kami interogasi. Dia akhirnya mengakui kesalahannya. Setelah visum istri anda keluar. Ini bukti yang sangat kuat, atas tindak kejahatan yang kalian lakukan.
Pak Polisi menyodorkan foto-foto Rili hasil visum. Rival melihat foto wajah Rili yang babak belur. lebam di pipi kanan dan kiri. Kening dan pelipis yang bengkak dan terluka. Serta telapak kaki yang koyak. Tangannya gemetar melihat foto tersebut. Dia merasa menjadi sebagai suami yang jahat dan gagal, karena tidak bisa melindungi istrinya sendiri.
Dengan mata berkaca-kaca, Dia teringat isi surat Ibunya. "Kenapa Ibu melakukan ini kepadaku. Ibu tega, menganiaya wanita sebaik Dia. Dia bahkan, memintaku memberikan semua uang yang ku miliki kepada Ibu. Asalkan Ibu bahagia. Sehari sebelum keberangkatan ku, Dia mencurahkan isi hatinya, kalau Ibu tidak menyukainya." Gumam Rival dalam hati. Tak terasa, kabut hitam yang menyelimuti matanya, akhirnya berubah juga menjadi air mata yang sangat memilukan.
"Saya bisa membuktikan bahwa diri saya, tidak bersalah. Saya tidak tahu kejadian ini Pak Polisi. Saya juga sangat mengkhawatirkan istri saya selama dua hari ini. Karena, tidak bisa dihubungi. Saya akan bawakan surat dinas saya." Ucap Rival dengan sikap yang dibuat tenang. Padahal jantungnya berdegup kencang. Dia sangat takut, Polisi tidak mempercayai ucapannya.
"Tapi, anda tetap kami proses. Karena anda, masuk dalam tindak pidana penelantaran istri." Ucap Pak polisi, yang duduk tegap disinggahsananya.
"Tolong, ketemukan saya kepada pihak pelapor. Saya juga akan memuat pengaduan. Tentang istri saya yang hilang. Berarti pelapor itu mengetahui keberadaan istri saya." Ucap Rival dengan tegas. Kedua tangannya nampak saling bertautan di atas meja.
"Jangan karena saya tidak orang kaya, Bapak sepele. Tolong objektif, jangan hanya orang yang berduit, yang didengarkan. Bapak sebagai penegak hukum Harus benar menegakkan hukum. Jangan mentang-mentang kami miskin. Pihak berwajib semena-mena.
"Tolong, catat laporan saya. Saya mau melaporkan istri saya yang hilang." Rival menghela napas, Dia beristighfar dalam hati. Dia yang tidak melakukan kesalahan. Malah langsung di vonis bersalah.
Pak Polisi bingung. "Bapak disini sebagai tersangka. Kenapa pula Bapak membuat laporan." Ucap Pak Polisi.
"Tolong tegakkan keadilan, Aku ingin berjumpa pihak pelapor." Ucap Rival dengan menahan amarah dihatinya. Dia harus bersikap tenang. Agar masalah tidak semakin runyam
"Baiklah, kami akan menghubungi pihak pelapor." Entah kenapa Pak Polisi yang menangani masalah Rili, bisa diajak kerja sama. Dia akan mendengarkan penjelasan kedua belah pihak. Karena Dia merasa ada kejanggalan. Kalau benar, suaminya ini jahat. Kenapa Dia malah datang ke kantor Polisi menyerahkan diri.
"Pak, boleh kah saya berjumpa dengan Ibu saya?"
"Boleh. Pak Joko, Anatar kan Bapak ini ke ruang besok." Ucap Pak Polisi yang menangani kasus Rili.
Dengan perasaan yang berkecamuk, serta rasa kecewa yang begitu besar kepada Ibunya. Rival, masih berusaha menenangkan dirinya. Sikap Ibunya selama ini yang menurutnya memang tidak wajar, masih bisa ditolerirnya. Karena Dia mengganggap begitulah karakter Ibunya yang frontal. Tapi, perbuatan Ibunya kali ini sudah melanggar hak azasi manusia.
Rival yang duduk dikursi, menatap tajam ke arah Ibu dan Rayati yang datang menghampirinya. Melihat Ibunya yang sudah berumur hampir 60 tahun itu, dalam kondisi yang memprihatinkan. Membuat hatinya menangis. Mana mungkin Dia tega, melihat Ibunya mendekam dipenjara.
Rival diam seribu bahasa, tapi matanya berbicara. Betapa kecewanya Dia kepada Ibunya tersebut. Matanya sudah mulai panas. Karena menahan air mata yang hendak jatuh. Dua wanita yang sangat dicintainya. Dalam kondisi memprihatinkan. Rili yang tidak Dia ketahui keberadaannya. Ibunya yang harus mempertanggungjawabkan kejahatan yang dilakukannya.
"Nak, akhirnya kamu datang juga untuk menolong Ibu. Tolong keluarkan Ibu nak. Ibu tidak bersalah. Wanita gampangan itu yang menjebak Ibu nak.!"
__ADS_1
"Stooopppp.... Hentikan Bu!" ucapan Ibunya kali ini, sukses memancing amarah Rival yang sudah Dia redam dari semalam. Ibunya dan Rayati terkejut melihat kemarahan Rival. Saking emosinya Rival sampai menggebrak meja, yang menjadi pemisah diantara mereka.
"Pak, sabar. Jangan membuat keributan." Ucap Pak Polisi bernama Joko.
Ibu Rival menangis begitu juga dengan Rayati. Tubuh kedua wanita berhati iblis itu bergetar. Mereka begitu ketakutan melihat kemarahan Rival.
"Tindakan kalian sudah membahayakan nyawa Rili. Dan Ibu masih mau berkilah dan membelah diri?" Tidak pernah Rival sekeras ini kepada Ibunya. Tapi, kali ini Dia sungguh sangat kecewa kepada Ibunya.
"Kamu, kamu memang benar wanita iblis. Yang tidak punya otak. Dari awal, saya sudah mengatakan bahwa saya tidak suka kepadamu. Tapi, otak mu itu tidak kamu pakai. Kalau kamu manusia bukan setan. Dari bahasa tubuh orang saja, kita bisa menilai bahwa orang itu tidak menyukai kita. Dan kita akan mundur dan tidak mengganggu orang tersebut. Tapi kamu, benar-benar bebal." Rival menumpahkan uneg-uneg nya semua kepada Rayati. Rayati yang melihat kemarahan Rival, menjadi pucat pasi. Keringat nampak bercucuran dikeningnya. Jantungnya berdegup kencang. Karena ketakutan.
"Bu, ceritakan sejujurnya. Jangan berkilah lagi. Aku hanya ingin mendengar kejujuran dari Ibu." Ucap Rival Dia memandang lembut, Ibunya yang sudah ketakutan tersebut.
Akhirnya Ibu Rival pun menceritakan semuanya. Dengan berurai air mata dan tubuh yang bergetar. Ibu Rival Mulai bercerita dari pertengkaran di sawah. Hingga berlanjut malamnya. Dia juga menceritakan bahwa Rayati membawa kabur Tas Rili.
"Astaghfirullah.....! Bu, kenapa Ibu tega melakukan itu kepada menantu Ibu sendiri?" Ucap Rival, Dia mengelus dadanya yang terasa sesak itu. Dia berusaha menenangkan dirinya. Dia pun pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Dia menjumpai Pak Polisi. "Kalau berkas belum masuk ke meja persidangan. Aku mohon, dijumpakan dengan pihak pelapor. Aku ingin minta tolong, masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan. Bolehkah Pak?" Ucap Rival dengan sikap tenang.
"Baiklah. Kami akan menghubungi pihak pelapor. Kami akan mencoba memediasi. Tapi, keputusan ada di pihak pelapor. Mereka sudah mempunyai bukti yang sangat kuat.
"Berikan alamatnya kepada saya pak. Saya akan mencoba berbicara dengan pihak pelapor."
"Bapak tunjukkan dulu buktinya kalau Bapak, tidak ikut serta dalam kasus ini."
"Aku ingin bertemu dengan istriku. Itu yang membuat laporan siapa? istriku kah atau orang lain. Kalau istriku. Dia tahu betul. Kalau saya lagi di luar kota. Kalau begitu, beri saya waktu setengah jam untuk menjemput surat dinas saya." Ucap Rival.
"Baiklah Pak Rival, kami percaya kepada Bapak. Bapak tunjukkan dulu surat dinas bapak. Maka saya akan memberi alamat pelapor." Ucap Pak Polisi yang ternyata punya hati yang baik.
Bersambung
Mohon beri like, coment positif. Rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.
Jangan lupa VOTE nya kak!
Terima kasih.
__ADS_1